Dimadu Dalam Perjodohan

Dimadu Dalam Perjodohan
Perasaan Dimas


__ADS_3

Kami sampai setelah kurang lebih dua jam berkendara, sepertinya Bibi menunggu kami karena saat kami baru melihat rumah dia juga langsung berlari keluar membukakan pagar. Aku sangat merindukan keberadaan Bibi di rumah hanya dialah yang bisa menjadi penyejuk di rumah itu.


"Ajeng, anak Bibi semakin cantik saja" Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya.


"Dimas!" Bibi berteriak kepada Mas Dimas yang mencoba berjalan ke rumah meninggalkan ku, aku merasa semakin sedih melihat semua perlakuannya terhadap ku.


"Masuk bersama istrimu Nak, kalian bertengkar yah?" Bibi terlihat khawatir, dia pasti sudah mengetahui semuanya dengan melihat ekspresi wajah kami, hanya dari ekspresi tidak suka Mas Dimas saja bahkan sudah dapat diketahui, padahal aku ingin menyembunyikan semuanya tapi Mas Dimas dengan sangat jelas memperlihatkan hubungan kami yang sedang tidak baik, lelaki itu tidak bisa dipercaya.


Mas Dimas tidak menjawab apa-apa, aku juga hanya bisa diam. Bukankah seharusnya dia yang memberikan penjelasan? Mas Dimas hanya diam dengan ekspresi tidak sukanya, setidak suka itukah dia padaku? Meski tidak melihat ku, aku tau ekspresi itu diperuntukkan dan disebabkan oleh ku.


"Dimas, Ibu sedang sakit kamu harus berbuat baik dengan istrimu, jangan tunjukkan ada yang salah diantara kalian berdua, yah?" Aku menganggukkan kepala ku mengerti sedangkan Mas Dimas masih tetap diam di tempatnya.


"Bawakan koper istrimu ini, masa kamu biarkan dia membawanya sendiri" Bibi mengambil koper dari tangan ku dan memberikannya kepada Mas Dimas, aku tidak bisa melihat ekspresi Mas Dimas, aku hanya bisa menundukkan kepala karena merasa tidak enak.


"Ayo kita masuk Nak, Ibu dan Ayah mertuamu sudah menunggumu di dalam" Bibi menarik ku masuk dan aku mengikutinya.


Kami masuk kedalam rumah tidak terlihat siapapun disana mungkin karena Ibu dirawat di dalam kamarnya, Bibi mengajak ku ke kamar Ibu, kamar Ibu berada di bawah sepertinya agar Ibu tidak kesulitan. Kami menikah di rumah ini karena Bibi harus beristirahat cukup, Bunda menginginkan kami agar menikah di desa tapi Ayah melarangnya karena melihat kondisi Ibu.


Hari itu Ibu menyaksikan ijab kabul kami, dia menggunakan kursi roda, dia sangat lemah hari itu tapi dia terlihat tersenyum dan bahagia menyaksikan pernikahan kami.


Mas Dimas memeluk Ibunya begitu erat dia memang adalah seorang anak yang sangat menyayangi Ibunya.


Aku menyalim Ayah dia mengelus kepala ku lembut, aku kemudian mengarah ke arah Ibu, dia tersenyum padaku dan aku membalasnya. Aku mencium tangan Ibu, dia mengelus tanganku lembut.

__ADS_1


Ibu menarik salah satu tangan Mas Dimas lalu membuatnya menggenggam tangan ku, aku tidak tau apa yang Ibu ingin coba lakukan tapi Mas Dimas melakukannya dengan tidak ada penolakan jadi aku juga membiarkannya saja, aku senang melihat Ibu senang.


"Sayangi istrimu" Ibu berbicara dengan lemah, kalimat itu membuat ku ingin meneteskan air mata, aku sangat terharu mendengarnya.


*****


Setelah makan malam, Bibi mengajak ku pergi ke kamar milik Mas Dimas. Kami menaiki tangga bersama, Bibi mengelus tanganku lembut dan tersenyum hangat padaku, aku membalas senyuman itu dengan perasaan sangat baik.


Sampai di kamar terlihat Mas Dimas yang sedang bersandar di sofa, lelaki itu benar-benar menawan membuat hatiku sekarang kehilangan arah, aku hanya bisa menatapinya dengan bodoh. Bibi melihat ku kemudian membuat ku duduk di atas ranjang.


"Apa suami kamu benar-benar melakukan perintah Bibi? Dia tidak meninggalkan kamu setelah Bibi pergi kan?"


"Nggak Bi" Aku menggelengkan kepalaku.


"Nggak apa? Dia tidak melakukan perintah Bibi?"


"Dimas kamu jaga istri kamu, sayangi dia, kamu tidak bisa hanya memberikan cintamu kepada perempuan itu, Bibi tidak akan terima jika kamu berbuat tidak adil terhadap Ajeng" Mas Dimas tidak menjawab pernyataan Bibi.


"Dimas? Kamu dengar Bibi bicara?" aku sangat sedih melihat Mas Dimas yang acuh seperti itu.


"Iya Bi" akhirnya Mas Dimas melihat ke arah Bibi.


"Bibi ingin berbicara serius, kita tidak tau sampai kapan Kakak ipar akan bertahan, Ayahmu setuju agar kalian segera memberikan cucu. Dimas satu-satunya anak di rumah ini, Bibi harap kalian berdua mau melakukannya,

__ADS_1


Ajeng, kamu mau kan memberikan Bibi cucu?" aku tidak tau harus mengatakan apa.


"Yah?" Bibi terlihat sangat berharap membuat ku semakin merasa tidak enak.


"Baik Bi" aku sangat terkejut mendengar Mas Dimas mengiyakan permintaan tersebut, apa dia mau melakukannya dengan ku?


"Kalau begitu Bibi keluar yah"


"Iya Bi"


Setelah kepergian Bibi suasana menjadi canggung kembali, aku tidak tau mau melakukan apa. Mas Dimas berjalan menuju ranjang, apa dia akan tidur? Mas Dimas berbaring di ranjang. Aku ikut berbaring setelah menunggu beberapa detik, dia tepat berbaring di sebelahku, rasanya sudah lama sekali aku tidak merasakan udara ini.


Aku tidak bisa tertidur akibat keinginan yang tidak masuk akal di dalam hatiku, aku ingin memeluknya. Apa aku diperbolehkan? Tidak tau dia akan membuat anak dengan siapa, sepertinya tidak mungkin jika dia akan melakukannya dengan ku, apakah itu mungkin? Dia bahkan tidak berbicara padaku. Atau mungkin dia akan melakukannya dengan Sarah? Hah, tentu saja dia akan melakukannya dengan perempuan itu, dia mencintainya.


Aku cukup mengantuk mungkin karena aku kekurangan tidur kemarin malam, aku mencoba menahan mataku agar tidak tertutup, tetapi aku tidak bisa menahannya dan akhirnya aku bernafas nyaman dalam mimpi.


~Author POV~


Ajeng sudah tertidur terdengar dari suara nafas kecilnya yang seperti orang tertidur biasanya, sementara Dimas yang tertidur membelakangi tubuh Ajeng masih membuka matanya lebar-lebar, ada perasaan yang tidak bisa dia ungkapkan. Dimas berbalik untuk melihat istrinya itu, Ajeng benar-benar sudah tertidur pulas seperti tidak ada yang akan bisa membangunkannya meski dia diciumi oleh suaminya sendiri, seperti saat dalam perjalanan tadi.


Dimas mengelus wajah itu, ada sedikit rasa ingin memiliki dihatinya. Dimas merindukan perempuan di dekatnya, dia lekat-lekat melihat perempuan yang sedang nyenyak tertidur itu, Dimas mencoba memeluk dan menghirupi tubuh yang beraroma sangat harum itu. Mencium kening, mata, hidung, pipi, hingga bibir merah mudanya, rasanya dia ingin menciumi seluruh tubuh perempuan yang dia sedang genggam erat sekarang.


"Sayang, Mas rindu sama kamu" Dimas memeluk Ajeng membuat tubuh itu menghadap dirinya, Dimas mengecup bibir merah muda itu lagi terlihat bibir itu mengatup, Dimas tersenyum melihatnya. Dia berharap perempuan di hadapannya itu adalah miliknya, perempuan itu memang miliknya secara hubungan yang mereka ikat tapi tidak dengan hatinya.

__ADS_1


Dimas berharap jika dialah lelaki satu-satunya dihati Ajeng, dia akan sangat mencintainya. Kedua mata Dimas sangat basah mengingat semua yang dia lakukan dengan perempuan itu hingga perasaan itu tumbuh dan sekarang dia harus merelakan perempuan itu meski sudah sangat menginginkannya, dia kembali menciumi perempuan itu dengan perasaan yang sudah tidak tergambarkan.


Bersambung...


__ADS_2