
Ajeng terbangun dari tidurnya dan bergegas masuk ke kamar mandi melihat jam di dinding yang sudah kesiangan. Ajeng segera membasuh seluruh tubuhnya dengan air dingin yang mengalir deras dan segera mengambil air wudhu untuk salat.
Keluar dari kamar mandi Ajeng melihat Dimas yang masih tertidur pulas, meski ada niat untuk membangunkan lelaki itu tetapi Ajeng akhirnya mengurungkan niatnya dan lanjut melaksanakan salat nya.
Saat Ajeng di tengah ibadah Dimas mulai membuka matanya setelah merasakan kasur disebelahnya kosong. Dimas duduk di kasur menunggu perempuan di depan nya menyelesaikan ibadah nya.
"Kenapa nggak bangunin Mas" tanya Dimas setelah melihat Ajeng menyelesaikan ibadah nya.
"Mas, tadi aku mau bangunin Mas tapi Mas lagi pulas" jawab Ajeng pelan.
"Ya udah, Mas salat sendiri aja"
"Mas" panggil Ajeng dan segera menghampiri Dimas yang sudah berdiri berjalan ke arah kamar mandi.
"Kenapa?" tanya Dimas langsung berbalik menghadap Ajeng.
"Besok kita salat bareng, aku bakalan bangunin Mas" ucap Ajeng khawatir Dimas marah pada nya.
"Iya" Dimas menjawab dengan senyum menenangkan rasa khawatir Ajeng.
Ajeng menghela nafas melihat senyum tenang yang di tunjukkan oleh Dimas.
Ajeng segera turun ke bawah untuk memasak sarapan pagi. Saat memotong sayuran hijau segar Ajeng tiba-tiba memikirkan tentang Sarah, sudah beberapa hari ini Sarah tidak di rumah dia berpikir ingin bertanya lagi kapan Sarah akan pulang pada Dimas.
Selesai menyelesaikan masakan nya Ajeng langsung menghidangkan hidangan yang masih hangat itu di wadah. Aroma dari hidangan itu berhasil menarik perhatian Dimas yang terlihat buru-buru turun dari atas membuat Ajeng bingung.
"Mas lagi buru-buru? Aku bikinin bekal?"
"Nggak, Mas cuma nggak tahan nyium baunya"
"Oh gitu Mas" mendengarnya, Ajeng segera menghidangkan sarapan untuk suaminya itu.
Saat di tengah-tengah sarapan Ajeng ingin mengeluarkan suaranya tetapi kemudian membatalkan niatnya setelah melihat wajah serius Dimas.
"Jika tidak ada halangan, Sarah akan pulang nanti sore" Ajeng segera menatap Dimas saat mendengar suaminya itu mengeluarkan kata-katanya.
"Iya Mas" jawab Ajeng.
Dimas segera berdiri setelah menyelesaikan sarapan nya diikuti oleh Ajeng yang juga ikut berdiri menghampiri nya. Ajeng mencium tangan suaminya sebagai bentuk hormat nya dan dibalas ciuman di dahinya oleh Dimas.
"Assalamualaikum" salam Dimas.
__ADS_1
"Waalaikum'salam Mas" jawab Ajeng.
Dimas sudah pergi bekerja dan Ajeng mulai membersihkan meja makan.
Ajeng masuk ke kamarnya setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, dia teringat dengan kata-kata Bibi yang memintanya sudah harus hamil dalam dua bulan ini sedangkan dia belum melakukan apa-apa dengan Dimas.
Dia merasa takut jika tidak bisa memberikan apa yang Bibi minta, Ajeng merasa sedikit malu jika harus membicarakan nya dengan Dimas. Dia sendiri tidak masalah jika bahkan tidak memiliki anak namun ini Bibi yang meminta nya.
Ajeng merasa kesepian berada sendiri di rumah, dia sudah tidak bekerja di hari sabtu sekarang karena pembagian waktu kerja.
Karena merasa bosan Ajeng mengambil gawainya dari laci dan segera menggunakan nya. Dia melihat unggahan Dinda bersama Amar di beranda akun salah satu media sosialnya, dia lagi-lagi merasa tidak percaya jika kedua manusia itu sekarang bersama kembali dan bahkan sudah menjadi sepasang suami istri.
Dia teringat saat dia bertahun-tahun tidak bisa melupakan lelaki itu, lelaki yang merupakan cinta pertamanya. Tapi dia sadar waktu itu sudah sangat lama berlalu, sekarang dia memiliki Dimas sebagai suaminya dan dia juga sudah kehilangan rasa itu terhadap Amar, sudah seharusnya dia melupakan masa lalu meski merindukan masa-masa indah itu dimana dia masih begitu polos.
Ajeng melihat-lihat profil teman-temannya dulu melihat perkembangan hidup mereka sekarang, Ajeng melakukan nya karena merasa rindu.
Namun seketika dia berhenti setelah melihat pesan-pesan yang terkirim begitu cepat dari salah satu grup pesan tidak dikenal di salah satu aplikasi pesan.
Ajeng merasa penasaran karena namanya disebut-sebut di beberapa pesan yang terkirim, dia lalu membuka aplikasi itu melihat pesan teratas, dia yakin itu merupakn grup alumni sekolah mereka dari nama grup yang dia baca, Ajeng segera membuka pesan dan mengikuti obrolan teman-temannya.
Ajeng begitu senang bisa kembali berhubungan dengan teman-temannya, bagaimanapun juga dia tidak akan bisa melupakan mereka dan kenangan indah yang mereka sama-sama buat masa itu.
...****************...
Ajeng segera turun melihat siapa yang datang, sepertinya Ajeng tau betul siapa yang datang dari ekspresi wajahnya.
"Kakak sudah pulang" tanya Ajeng lembut.
"Iya Jeng" jawab Sarah yang terlihat kelelahan sambil membawa tas yang terlihat lumayan berat, Ajeng bergegas menghampiri Sarah dan membantu nya membawa tas itu yang ternyata tidak sebegitu berat dari kelihatannya cara Sarah membawanya.
"Kak Sarah duduk dulu" ucap Ajeng melihat Sarah yang benar-benar terlihat kelelahan.
Sarah duduk di meja makan dan segera meminum air putih dengan haus nya.
"Mas Dimas makan teratur kan Jeng?" tanya Sarah yang sudah mulai terlihat baik.
"Iya Kak"
"Ya udah, kamu udah makan siang?"
"Belum Kak"
__ADS_1
"Kita makan siang ya, aku udah lapar"
"Iya Kak" Ajeng dan Sarah segera makan siang bersama dan sedikit berbincang tentang suami mereka.
"Jeng, kamu rawat Mas Dimas dengan baik kan? Baru beberapa hari aku pergi, aku udah rindu banget sama dia, mungkin karena banyak pikiran jadi kerasa lama" ungkap Sarah khawatir.
"Mas Dimas baik-baik aja kok Kak"
"Syukur kalau begitu, makasih ya Jeng udah mau jaga Mas Dimas"
"I-iya Kak" jawab Ajeng sedikit kikuk.
"Kalau gitu aku istirahat duluan ya Jeng"
"Iya Kak" jawab Ajeng membalas senyuman Sarah.
Ajeng kembali ke kamarnya dan kemudian mengambil gawainya melihat pesan-pesan yang belum dia baca. Ada banyak pesan terkirim dari grup alumni, Ajeng segera membaca pesan-pesan yang terkirim agar tidak ketinggalan obrolan dan sambil membuang rasa bosannya.
Ajeng teringat saat Sarah berterima kasih padanya karena telah menjaga Dimas untuk beberapa hari ini, apakah Sarah akan selalu berterima kasih padanya untuk menjaga suaminya sendiri.
Ajeng membuang semua perasaan aneh di hatinya, mencoba menenangkan pikirannya, dia tidak boleh terlalu terbawa perasaan hanya untuk hal itu, dia merasa Sarah memang lebih berhak darinya dalam segala hal dan juga tidak masalah jika dia berterima kasih untuk menjaga Dimas bukan? Mungkin mereka memang begitu sangat mencintai satu sama lain.
Ajeng meletakkan gawainya di meja dan kembali berbaring di kasur, dia mencoba kembali tidur karena tidak tau ingin melakukan apa lagi.
...****************...
Pukul empat sore Ajeng turun ke bawah mencoba mencari bahan apa saja yang bisa dia masak untuk makan malam hari ini.
Sarah turun ikut membantu Ajeng, keduanya setuju untuk memasak ayam kecap dan sayur asem melihat ada beberapa buah jagung di dalam lemari es.
"Jeng, susu bubuk masih ada?"
"Masih ada Kak"
"Kamu bisa buat bubur kacang ijo, Mas Dimas suka bubur kacang ijo tapi aku belum pernah buat"
"Bisa Kak, tapi bahan-bahan nya nggak ada di rumah"
"Biar aku beli di luar, kamu tunggu disini ya"
"Iya Kak"
__ADS_1
Sementara Sarah pergi untuk berbelanja, Ajeng sendiri membersihkan ayam di dapur untuk masakan ayam kecap nya.
Bersambung...