Dimadu Dalam Perjodohan

Dimadu Dalam Perjodohan
Perubahan sikap


__ADS_3

Aku kembali ke rumah lalu pergi ke kamar sepertinya saat makan malam aku akan makan lebih awal. Mas Dimas akan tidur bersama Sarah aku akan kembali hidup seperti awal mula datang ke rumah ini. Aku belum makan siang aku sudah terlambat aku akan turun untuk makan siang setelah itu aku akan masak hidangan untuk makan malam.


~Author POV~


Ajeng selesai memasak hidangan makan malam pada pukul empat sore kemudian dia pergi melaksanakan ibadah wajibnya. Dia beristirahat di kamar sambil menunggu waktu untuk makan malam, Ajeng berencana akan makan malam pada pukul setengah enam karena Dimas sepertinya akan pulang pukul enam sore.


Melihat waktu yang sepertinya sudah pas Ajeng kemudian pergi untuk makan malam dia sendiri lagi di meja makan. Ajeng berpikir jika selamanya dia akan hidup seperti ini, serasa dia merasa sakit di dada.


Saat dia sedang mengunyah makanan di mulutnya tiba-tiba air mata keluar dari kedua matanya dia menangis tanpa mengeluarkan suara dia mencoba menghapus air mata itu tapi air mata itu jatuh lebih deras. Ajeng cepat-cepat menyelesaikan makan malamnya dia pergi mencuci piring kotornya lalu bergegas naik ke kamar.


*****


Dimas pulang pukul enam sore, Sarah yang sudah menunggu beberapa menit di meja makan datang menyambut suaminya itu. Sarah berlari memeluk Dimas yang masih berdiri di pintu dia tidak bergerak ketika Sarah memeluknya dan membalas pelukan istrinya itu.


"Kamu sudah pulang Mas"


"Iya Sayang"


"Aku sudah nyiapin baju ganti kamu di kamar"


"Aku bakalan ganti baju di kamar Ajeng"


"Kita ke kamar saja yah Mas"


Akhirnya Dimas memutuskan untuk berganti pakaiannya di kamar miliknya dan Sarah. Sarah mengikuti Dimas menuju kamar dan membantunya berganti pakaian. Selesai berganti pakaian Dimas dan Sarah keluar dari kamar kemudian turun ke bawah menuju meja makan.


Sesampainya di meja makan Sarah langsung menyiapkan makanan untuk Dimas yang masih berdiri melihat ke arah atas seperti sedang mencari sesuatu. Dimas penasaran kenapa Ajeng tidak turun untuk makan malam bersama.


"Ajeng mana?"

__ADS_1


"Sudah Mas, mungkin dia lagi ada sesuatu kita makan duluan aja yah?"


Dimas tau jika Bibinya tidak jadi datang karena merawat sang Ibu di rumah karena itu dia tidak mempertanyakan mengenai Bibi sama sekali. Dimas mempunyai perasaan sedikit tidak enak dengan tidak adanya Ajeng bersama mereka di meja makan tapi dia tidak tau betul apa yang membuatnya merasa seperti itu.


"Mas, hari ini kamu tidur sama aku yah?"


"Mas nggak bisa, Mas masih beberapa hari tidur bersama Ajeng"


"Kan sudah nggak ada Bibi Mas"


"Meski nggak ada Bibi, Mas harus adil"


Mendengar itu Sarah tidak lagi melanjutkan pembicaraan yang dia mulai itu. Dia merasa tidak akan bisa memaksa kehendaknya yang lebih lagi pada Dimas jadi dia akan membiarkan saja. Tapi dia sudah terlanjur memprovokasi Ajeng tadi dia mengatakan jika Mas Dimas setuju dengan rencananya dan malam ini Dimas akan tetap tidur dengan Ajeng, Sarah berpikir keras apa yang akan dia katakan pada Ajeng.


Sebenarnya dia tidak ingin seperti ini tapi dia terlalu begitu haus dengan cinta Dimas. Dia juga berpikir jika Ajeng dan Dimas tidak punya perasaan untuk satu sama lain apalagi untuk menyukai satu sama lain.


Sarah berpikir untuk membiarkannya saja lagipula sepertinya tidak akan ada yang terjadi antara suaminya dan Ajeng dia sangat yakin dengan pikirannya. Selesai makan malam Dimas meminta Sarah untuk pergi terlebih dahulu ke kamar dan memintanya untuk tidak terlalu berpikir tentang banyak hal dan juga mengatakan jika dia akan tidur kembali bersamanya beberapa hari lagi.


Sarah pergi ke kamarnya dan Dimas juga bergegas pergi ke kamar Ajeng. Dimas menaiki anak tangga kemudian berjalan menuju kamar dia membuka pintu pelan dia melihat Ajeng yang sudah tertidur pulas terlebih dahulu di kasur. Dimas berjalan masuk sambil menatap Ajeng yang tertidur dia duduk di kasur sambil melihat wajah Ajeng yang benar-benar sudah tertidur kemudian dia putuskan untuk tidur juga. Dia menarik selimut lalu menyelimuti tubuhnya juga Ajeng dan lanjut tidur sambil memeluk Ajeng dari belakang.


Dimas memeluk Ajeng begitu kencang dia merasa nyaman berada di sekitar istrinya itu apalagi bersentuhan dengannya. Dimas sangat suka dengan aroma tubuh Ajeng dia menghirup aroma itu dalam-dalam dan makin mempererat pelukannya dia menaruh dagunya di kepala Ajeng lalu ikut terlelap.


*****


Pagi hari Ajeng terbangun dari tidurnya dia merasa sangat nyaman dan hangat seperti ada seseorang yang memeluknya begitu erat dia merasa susah bergerak pelan-pelan dia melihat sekeliling dia melihat ada tangan di perutnya dia merasa heran kemudian dia melepaskan tangan itu dan melihat ke belakangnya dia terkejut melihat Dimas yang sedang tertidur lelap.


Ajeng kemudian berusaha untuk bangun dia duduk di kasur melihat lelaki disampingnya dia benar-benar bingung kenapa pria itu tidur dengannya. Ajeng turun dan pergi menuju kamar mandi dia membuka pakaiannya, dia menatap dirinya dikaca kemudian mencuci wajahnya dia berjalan naik ke dalam bak mandi dan merendam tubuhnya dengan air yang telah dia hangatkan dia terdiam beberapa saat sambil berpikir keras.


Selesai berwudhu Ajeng melaksanakan salat wajibnya

__ADS_1


selesai salat dia pergi ke bawah setelah melihat Dimas yang masih tertidur. Ajeng menyiapkan sarapan pagi ini


dia bergerak cepat ingin cepat-cepat menyelesaikannya.


Saat dia sedang menumis Sarah datang dan ikut memasak. Ajeng berusaha untuk diam dan tidak memperdulikan kedatangan Sarah, Sarah merasa aneh melihat tingkah Ajeng yang tiba-tiba mengacuhkannya.


Ajeng berpikir untuk ikut sarapan saja lagipula ini juga adalah rumahnya dia sudah dinikahi dan dia merasa memiliki hak yang sama. Ajeng menyelesaikan masakannya dan menghidangkannya di meja makan


Sarah melihat Ajeng dengan bingung tapi dia tetap melanjutkan pekerjaannya.


Dimas turun sambil melihat kedua istrinya, Sarah ikut melihat ke arah Dimas dengan senyumnya yang manis Dimas tersenyum melihatnya. Kemudian dia melihat ke arah Ajeng yang acuh tak acuh, istrinya itu hanya diam duduk di meja makan Sarah juga ikut melihat ke arah tatapan Dimas dan melihat Ajeng yang sedang mengoles selai di rotinya dengan sikap acuh.


Dimas bergegas turun lalu duduk di kursi miliknya


dia menatap Ajeng sedikit khawatir dan bertanya-tanya.


Sarah segera menyiapkan sarapan untuk suaminya itu


dia melihat Dimas yang masih melihat ke arah Ajeng dia sedikit tidak suka melihatnya.


"Ajeng, semalam kamu udah makan" tanya Dimas sambil menatap lekat Ajeng yang terlihat sangat fokus dengan sarapannya.


"Iya Mas" Ajeng menjawab acuh tanpa melihat ke arah Dimas membuat Dimas semakin bingung apa yang terjadi dengan istrinya itu.


Selesai sarapan Dimas segera berdiri untuk berangkat ke kantor tidak lupa Sarah mencium tangan suaminya itu sedangkan Ajeng masih tetap diam memakan sarapannya. Keduanya melihat ke arah Ajeng tapi sekarang hanya Dimas yang terlihat bingung.


"Sudah Mas, kamu hati-hati yah di jalan" Sarah berusaha mengalihkan perhatian Dimas dan memintanya segera berangkat sehingga Ajeng benar-benar tidak memberi salam untuk suaminya itu dan berpikir jika dia memang tidak diinginkan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2