
Ajeng duduk di ranjangnya, merangkul kedua kakinya dengan dua tangannya. Menunggu lelaki yang akan datang membuka pintu kamarnya, ada rasa khawatir jika lelaki itu tidak akan datang tapi kemudian Ajeng meyakinkan kembali jika lelaki itu pasti akan datang karena dia sendiri yang mengatakannya.
Dia melihat ponselnya, pesan-pesan itu dikirim sekitar tiga puluh menit yang lalu. Bukankah seharusnya dia akan kembali sekitar lima belas sampai dua puluh menit lagi setelah menyampaikan pesannya? Ajeng berpikir jika Dimas mengirim pesan-pesan itu saat akan kembali ke rumah. Karena merasa kecewa akan kesedihannya, Ajeng tidak mengingat kapan suaminya keluar dari rumah, Ajeng hanya menyesuaikan pikirannya dengan waktu dari pesan-pesan itu dikirim.
Ajeng kembali menangis karena sudah benar-benar mengira jika Dimas tidak akan jadi kembali malam ini dan melupakan kata-kata yang dia kirimkan. Ajeng menangis pilu karena merasa tidak dipedulikan oleh Dimas, rasanya dia ingin lenyap dari tempat ini dan mengulangi hidupnya kembali.
Sementara Ajeng menangis sendiri di ranjangnya, Dimas sampai di rumah, dia berjalan cepat menuju kamar Ajeng, takut perempuan itu merasa kesepian sendirian di rumah ini.
"Sayang" Dimas membuka pintu, dia melihat Ajeng yang menunduk merangkul kedua kakinya duduk di ranjang sedang menangis. Dia tidak tau apa yang sekarang dia rasakan, dia bertanya-tanya, heran, kaget, sekaligus kasihan melihat perempuan yang terlihat sangat kesepian itu yang tidak lain adalah istrinya sendiri.
"Mas, Mas pulang?" Ajeng langsung mendongak saat mendengar Dimas memanggilnya dengan sebutan itu. Matanya merah berair, dia tidak ingat jika dia baru saja menangis parah hingga tetap berani menunjukkan wajahnya di depan Dimas suaminya.
"Kamu kenapa?" Kenapa menangis?" Dimas mendekat ingin memeluk wanitanya itu.
"Kamu kesepian sendirian disini sayang? Hmm? Kenapa menangis?" Dimas memeluk Ajeng kuat mencoba menenangkan perempuan itu, dia ingin membuat Ajeng tetap tersenyum, dia selalu ingin melihat perempuan cantik itu tersenyum.
"Mas, kamu pulang" Ajeng membalas pelukan Dimas.
"Jangan menangis lagi"
Dimas bertanya-tanya apa yang sedang Ajeng pikirkan hingga berkata demikian. Ajeng mulai tenang, dia pelan-pelan mulai terlelap di dada bidang Dimas.
"Kamu udah mau tidur sayang?" Ajeng menganggukkan kepalanya pelan lalu kembali dengan kenyamanannya.
"Mas usap air mata Ajeng pakai kain basah yah? Biar matanya nggak perih waktu bangun dan tidurnya nanti lebih nyaman" Ajeng menganggukkan kepalanya setuju lagi.
Dimas membaringkan tubuh Ajeng di kasur, lalu pergi mengambil kain bersih kemudian membasahinya. Dimas mengusap wajah yang berderai air mata itu dengan pelan, hingga Ajeng kembali merasakan sejuk di wajahnya. Dimas ikut berbaring di sebelah Ajeng setelah selesai mengusap wajah istrinya dengan kain basah. Dimas merangkul Ajeng erat, kemudian ikut tertidur.
*****
Dimas terbangun dari tidurnya setelah merasakan ada tubuh yang mencoba lepas dari genggamannya, Dimas menatap Ajeng aneh karena mungkin baru saja terbangun dari tidurnya.
"Mau kemana?"
"Mau mandi Mas"
"Disini dulu"
"Mau ngapain Mas?"
"Kamu kenapa semalam? Hmm?" Dimas mulai kembali menarik Ajeng ke dalam pelukannya, Ajeng tanpa ada sedikit pun penolakan ikut membalas pelukan Dimas.
__ADS_1
"Nggak apa-apa Mas"
"Kamu jujur sama Mas, kamu kenapa semalam?"
"Aku cuma nunggu Mas pulang, aku pikir Mas nggak pulang"
"Kenapa kamu berpikir kayak gitu?"
"Nggak apa-apa Mas" Ajeng menggelengkan kepalanya dengan wajah yang tidak meyakinkan Dimas sama sekali.
"Kamu kerja hari ini?"
"Iya Mas"
"Kamu nggak mau ambil cuti?"
"Buat apa Mas? Aku kan nggak boleh kerja seenaknya aja"
"Ya udah, Mas antarin kamu nanti, mau mandi duluan?" Ajeng bingung ingin menjawab apa.
"I-iya Mas" Ajeng lalu menjawab setelah memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi.
Ajeng berpikir keras apa yang sebenarnya yang benar-benar dia inginkan untuk hidupnya, dia berpikir jika hidup bersama Dimas sudah menjadi sesuatu yang harus dia syukuri dan tidak perlu meminta lebih lagi.
"Ajeng kamu lagi lamunin apa?" Putri mengacaukan lamunan Ajeng bertanya-tanya apa yang sedang sahabatnya itu pikirkan.
"Nggak, nggak apa-apa, kamu mau makan siang?"
"Iya, ayo!" Ajeng menganggukkan kepalanya pelan.
"Bagaimana hubungan kamu sama suami kamu Jeng?" Putri bertanya setelah keduanya duduk di kursi kantin perusahaan.
"Kita baik, kamu gimana sama suami kamu?"
"Kita juga baik"
"Alhamdulillah"
"Akhir-akhir ini kalian nggak ada masalah?"
"Nggak Put, nggak ada"
__ADS_1
"Ooo gitu" Putri tau tidak perlu untuk melanjutkan pembicaraan ini setelah Ajeng berkata demikian.
"Aku udah jelaskan semuanya sama Adrian jadi kamu nggak perlu khawatir lagi"
"Makasih Put, makasih banyak"
"Iya, nggak masalah, lagipula aku yang dekatin kalian berdua lagi. Seharusnya aku nggak sebodoh itu, kamu masih punya suami tapi aku udah main jodoh-jodohin haha" Ajeng dan Putri tertawa bersama mendengar kata-kata itu.
"Kamu ada teman perempuan yang bisa kamu kenalin sama Adrian?"
"Hmm, nggak tau sih, tapi coba nanti aku cariin"
"Iya, makasih yah Put?"
"Iya sayang manis ku"
"Emangnya aku manis?"
"Iya, nggak cuma cantik kamu juga manis ternyata setelah dilihat-lihat, mungkin karena kamu udah nikah yah sekarang?"
"Apaan sih kamu Put?!" Keduanya kembali tertawa.
"Dimas ternyata membawa hormon kebahagiaan juga sama kamu ya?"
"Kamu ada-ada aja Put"
*****
Ajeng menyelesaikan pekerjaannya seperti biasa, dia langsung beranjak pulang setelahnya. Saat dia sampai di tempat parkir, dia langsung melihat mobil milik suaminya yang terparkir rapi dengan kendaraan-kendaraan lainnya. Ajeng tidak melihat Dimas karena Dimas berada di dalam mobil, meski begitu dia sangat yakin jika itu adalah mobil milik suaminya sendiri.
Ajeng berjalan menuju mobil tersebut mencari-cari wajah yang dia lihat tadi pagi, ada sekitar tiga langkah lagi menuju mobil berwarna hitam gelap itu tapi Ajeng belum juga menemukan tampang lelaki itu. Seketika Ajeng menjadi ragu. Dia bertanya-tanya, apakah mungkin Dimas tidak langsung menemuinya atau paling tidak menyapanya dari dalam mobil ketika melihat istrinya sendiri menghampirinya setelah lelah bekerja.
"Ini mobil Mas Dimas kan?" Ajeng bertanya kepada dirinya sendiri, dan sampai saat ini masih tidak ada juga angin dari kendaraan beroda empat itu.
Ajeng memberanikan dirinya menghampiri mobil berwarna hitam itu, meski pelan tapi dia yakin dan tetap berjalan melaksanakan keputusan dari pikirannya yang berdebat.
"Mas" Ajeng merenggangkan kaki dan tubuhnya agar bisa melihat ke dalam.
"Haaa!!" Ajeng kaget saat lelaki yang dia cari keberadaannya sekarang berada di belakangnya, lelaki itu mencoba membuatnya mendapatkan serangan jantung ringan sepertinya. Dimas sekarang tepat berdiri di depannya menunjukkan wajah seperti seseorang yang tidak mempunyai salah sama sekali.
Bersambung...
__ADS_1