
"Dia madu kamu Sar?" wanita itu bertanya sambil menatap ku tajam, aku hanya bisa pura-pura tidak mendengar dan kembali dengan pekerjaan ku.
"Iya Kak"
"Kasihan kamu yah, aku pikir Dimas itu setia. Tapi dia sama saja dengan lelaki lainnya" aku tidak yakin apa yang dia maksud tapi dia terus menatap ku tajam, seperti dia adalah musuh bebuyutan ku saja, aku tidak punya salah padanya. Aku tau alasan dia menatap ku seperti itu, tapi harusnya itu bukanlah urusannya.
Karena tidak tahan ditatap seperti itu terus-menerus, aku putuskan untuk kembali ke garasi halaman depan saja. Tidak ada orang disini, mereka semua berada di halaman belakang. Aku melihati bunga-bunga yang belum ditempatkan, aku menyentuh daunan tanaman hias daun yang bentuknya cukup besar.
"Kamu disini" tiba-tiba suara lantang terdengar mengarah padaku, aku sangat kaget saat melihat wanita itu datang menghampiri ku dengan wajah tidak suka.
"Iya Kak"
"Kamu tidak punya malu sekali, merusak hubungan orang. Kamu tidak tau kalau Sarah itu sangat mencintai Dimas, dan kamu datang sebagai orang ketiga, merusak lalu mengambil sesuatu yang seharusnya bukan milikmu" aku hanya bisa diam menatapnya tanpa ekspresi.
"Kamu tidak sadar dengan kejahatan kamu, kamu juga wanita harusnya kamu tau bagaimana perasaan Sarah, kamu mengambil Dimas dari dia, tega kamu!" aku berpikir jika sebenarnya dia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, sepertinya semua orang hanya mengetahui ku sebagai seorang perusak hubungan dan orang ketiga di antara Sarah dan Mas Dimas.
Aku sangat malu diteriaki seperti itu, sepertinya dia tidak hanya kenalan Sarah, dia terlihat lebih dari itu.
Saat dia akan meneriaki ku lagi, terlihat mobil Mas Dimas yang datang. Mas Dimas terlihat melihat kami berdua dengan aneh, aku tidak tau apa yang dia pikirkan.
"Kak Rika ngapain disini?"
"Sarah mesan sama Kakak"
"Oh, Ajeng nggak apa-apa" Mas Dimas terlihat menatap ku aneh, aku menggelengkan kepala pelan menyatakan kalau aku tidak apa-apa.
"Kamu kok cepat banget pulangnya?"
"Kerjaan di kantor udah selesai Kak, juga mau cepat-cepat pulang"
"Oh gitu, mau ketemu Sarah yah" aku melihat Mas Dimas yang melihat ku dengan tatapan tidak enak. Aku tidak suka ditatap seperti itu apalagi oleh Mas Dimas, aku merasa seperti seseorang yang tidak dia kenal.
"Kita masuk ke dalam yah" Mas Dimas menunjuk ke dalam rumah, Mas Dimas melihat ku kemudian menggenggam tangan ku, menarik ku masuk. Wanita itu melihat ku semakin tajam, aku tau saat ini pikirannya semakin buruk terhadap ku.
~Author POV~
Saat pulang ke rumah Dimas melihat dua wanita di garasi rumahnya, wajah yang jelas dia lihat adalah Rika, sepupu dari istrinya Sarah yang terlihat sedang berteriak marah, menghardik wanita yang berdiri di depannya, Dimas yakin wanita yang dilabrak oleh sepupu istri keduanya itu adalah Ajeng istri pertamanya.
__ADS_1
Dimas cepat-cepat turun dari mobil dan menghampiri keduanya, berniat untuk menghentikan tindakan sepupu istri keduanya itu. Dimas merasa sangat bersalah kepada istri pertamanya yang harus menerima kata-kata kasar dari keluarga istri keduanya, bahkan mungkin selamanya perempuan berkerudung itu akan mendapatkan makian dari semua orang di lingkungan ini, Dimas tentu saja tidak ingin itu terjadi.
Daripada harus menjelaskan pada orang-orang, lebih baik dia menjauhkan istrinya dari lingkungan masyarakat sekitar, itu adalah hal yang dipikirkan oleh Dimas saat ini. Dia menarik Ajeng masuk ke dalam rumah setelah berhasil menghentikan makian dari sepupu Sarah kepada istri pertamanya Ajeng, Dimas membawa istrinya ke atas. Dimas meminta Ajeng untuk tetap di dalam kamar saja.
"Mas, kok kita masuk ke kamar"
"Kamu di kamar aja"
"Kan aku harus bantu-bantu di bawah"
"Kamu bantuin Mas aja ganti baju, Mas mandi dulu.
Kamu tunggu disini, atau kamu mau ikut?"
"Aku udah mandi Mas"
"Kalau gitu kamu mandiin aku aja"
Karena mendapat desakan dari Dimas, Ajeng terpaksa ikut masuk ke kamar mandi dan membantu sang suami untuk membersihkan diri. Dimas meminta Ajeng untuk membuka pakaiannya, dan akhirnya Ajeng melakukannya. Tapi karena merasa tindakan tersebut tidak terlalu pantas, Ajeng mengatakan pada Dimas jika dia hanya mau membukakan pakaiannya tapi tidak akan mau memandikannya.
Sementara suaminya sedang membersihkan diri di kamar mandi, Ajeng segera membuka lemari lalu mencari pakaian untuk suaminya itu, tapi karena tidak yakin apa yang suaminya ingin pakai, dia akhirnya memutuskan untuk bertanya agar hasilnya sesuai yang diinginkan oleh Dimas. Selesai membersihkan diri, Dimas memakai pakaian yang disiapkan oleh Ajeng. Selesai memakai pakaian, Dimas menarik istrinya ke kasur dan memintanya untuk tidur siang saja.
"Mereka di bawah gimana Mas?"
"Udah nggak apa-apa, kamu temanin Mas tidur aja"
Dimas tidur di kasurnya, karena mendapatkan desakan lagi akhirnya Ajeng memutuskan untuk ikut tidur. Baru beberapa detik tubuhnya berbaring di kasur, tangan Dimas sudah berada di pinggangnya. Dia melihat lelaki yang matanya sudah tertutup itu lekat-lekat, dan membalas pelukannya. Kadang Ajeng berpikir dia sudah sangat dekat dengan Dimas tapi kadang dia merasa seperti seseorang yang tidak dikenal oleh suaminya itu.
Ajeng melamun memikirkan apa sebenarnya status dirinya di hati suaminya itu.
"Kamu lamunin apa sayang" Dimas menghentikan lamunan Ajeng dengan cara bicaranya yang lembut.
"Hmm? Nggak, nggak apa-apa Mas"
"Kamu serius? Mas lihat kamu kayaknya banyak pikiran, kamu mikirin apa? Hmm? Ceritain sama Mas" Dimas berbicara lembut sedikit berbisik.
"Nggak Mas" Ajeng menggelengkan kepalanya pelan sedikit menunjukkan senyumnya.
__ADS_1
"Beneran nggak ada apa-apa? Hmm?" Dimas mulai menciumi wajah istrinya itu sedikit bergumam"
"Mas, udah Mas" Ajeng mencoba menghentikan ciuman yang Dimas berikan hampir di seluruh wajahnya dengan tidak henti.
"Kenapa? Kamu nggak suka" sebenarnya Ajeng menyukainya, saat Dimas tadi menciumi wajahnya dari yang pertama hingga ketiga kalinya dia menyunggingkan senyum senang. Tapi setelah merasa ciuman itu tidak berhenti, dia merasa itu sedikit berlebihan dan aneh.
"Aku suka Mas, tapi terlalu banyak"
"terlalu banyak? Apa yang banyak?" Dimas terlihat tertawa kecil mendengar perkataan polos istrinya.
"Nggak" Ajeng terlihat sedikit cemberut karena merasa ditertawai oleh Dimas.
"Kok cemberut"
"Nggak Mas, Mas nggak jadi tidur? Kita tidur yah?"
"Iya" Dimas mulai menarik pinggang kecil Ajeng lagi, memastikan pelukannya tetap kencang.
Dimas dan Ajeng tertidur. Mereka terlihat sangat serasi,
siapapun pasti akan sangat iri melihatnya. Sarah masih menyusun pot-pot yang berisi bunga di halaman belakangnya, hanya beberapa pot lagi yang tersisa, Sarah dibantu oleh Rika dan para pekerjanya. Dia tidak akan mampu melakukannya secepat itu tanpa bantuan yang Rika berikan.
"Perempuan itu dimana? Kok dia nggak ikut bantu-bantu" dia tau jika saat ini Dimas sedang bersama dengan Ajeng.
"Mungkin dia lagi di kamar Kak"
"Kamu panggil dulu sana"
"Kenapa Kak? Lagipula ini tinggal sedikit lagi"
"Suami kamu mana? Kamu bodoh yah, sana kamu lihat mereka lagi ngapain, masa kamu biarkan begitu saja"
"Mas Dimas udah pulang?"
"Dia udah lama pulang, tapi dia sama sekali nggak nemuin kamu" Mendengar itu Sarah cepat-cepat berlari dari halaman belakang menuju tangga, dia sedikit berlari, berlalu menuju kamar Ajeng.
Bersambung...
__ADS_1