Dimadu Dalam Perjodohan

Dimadu Dalam Perjodohan
Akan jadi kenangan


__ADS_3

*****


Pagi hari Dimas dan Sarah sudah berada di dapur, Dimas sepertinya ingin memastikan jika Ajeng tidak pergi dengan perut kosong, sedangkan Ajeng dia berlama-lama di kamar karena tidak ingin bangun duluan. Ajeng pergi ke dapur pada pukul setengah enam pagi, jantungnya berdetak kencang saat melihat ada Dimas sudah duduk di sofa ruang tengah.


Ajeng berusaha tidak mengeluarkan suara sekecil apapun, dia berjalan ke dapur melihati Sarah yang sedang memasak, dia takut jika Sarah akan bereaksi tidak baik terhadapnya. Namun tidak seperti dugaannya, Sarah berbalik dan tersenyum manis kepadanya.


"Ayo Jeng, kita sama-sama masak" Ajeng menganggukkan kepalanya, dia berpikir jika Dimas sudah memberitahukan semuanya pada Sarah karena itu Sarah bersikap baik padanya. Karena sekarang perempuan itu sudah tidak memiliki saingan lagi, dan lagipula dari awal semua perhatian itu hanyalah pura-pura atau mungkin dia melakukannya karena rasa kasihan, Ajeng semakin sedih dengan semua pikirannya.


Ajeng membantu Sarah menyiapkan meja makan, Sarah memanggil Dimas untuk ikut sarapan. Ajeng menatap Dimas berjalan tapi lelaki itu sama sekali tidak membalas tatapannya. Ketiganya duduk di kursi masing-masing, Sarah menghidangkan sarapan untuk suaminya, Ajeng melihat perubahan sikap dari Dimas.


Lelaki itu sekarang mengacuhkannya, Ajeng sekarang bertanya-tanya apakah mungkin lelaki yang terlihat tulus seperti itu dapat berpura-pura, kemudian dia berpikir lagi, jika pun memang dia tidak berpura-pura seperti yang dia katakan, Ajeng akan tetap dengan tujuan awalnya, dia akan menjauh meski harus memendam perasaannya.


Dia menyukai lelaki itu atau mungkin dia sudah mulai mencintainya, tapi dia sadar jika dia tidak akan pernah mendapatkan cinta dari lelaki itu, perasannya tidaklah lebih penting dari lelaki itu. Ajeng lanjut menyelesaikan sarapannya, dia melihat jam di tangannya tapi Dimas belum berdiri juga dari kursinya, Ajeng berpikir untuk pergi terlebih dulu saja, karena sekarang dia juga tidak perlu harus memikirkan perasaan siapapun di rumah ini.


Ajeng berdiri dan mengambil piring bekas makannya membersihkannya sebentar lalu meletakkannya di rak piring, kemudian dia bergegas keluar dari rumah. Hari ini Ajeng memesan jasa ojek, jadi dia berangkat ke perusahaan dengan menggunakan jasa angkutan daring tersebut.

__ADS_1


Dimas berdiri dari duduknya setelah Ajeng menutup pintu, dia keluar dari rumah saat Ajeng sudah pergi. Dimas ingin memastikan apakah istrinya itu benar-benar sedang bekerja atau dia hanya berusaha keluar dari rumah. Dimas mengikuti Ajeng, perempuan itu tidak menyadarinya karena dia saat ini juga sedang banyak pikiran, dia tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain.


Ajeng sampai di tempat kerjanya, Dimas juga menghentikan mobilnya sedikit jauh dari pandangan Ajeng, dia melihat istrinya saat ini sedang bersama perempuan yang juga bersamanya saat dia kabur dari rumah dulu. Dimas pergi setelah memastikan apa yang dilakukan Ajeng di luar rumah.


"Adrian nanti bakalan datang, kamu mau yah Jeng, nanti suami aku datang jemput aku, kamu dijemput sama Adrian. Mau yah Jeng?" Ajeng menganggukkan kepalanya setuju, sekarang mungkin dia bisa memberi harapan kepada Adrian. Walau dia tidak mempunyai perasaan terhadap lelaki itu tetapi dia akan tetap berusaha memberikannya, dia tidak perlu memberikan perasaannya kepada seseorang yang tidak membalasnya.


Ajeng berpikir sebaiknya memang seperti itu, Adrian adalah lelaki yang mau menerimanya apa adanya. Dia tidak akan menyia-nyiakan lelaki seperti itu, sekarang dia akan berusaha serius dengan Adrian. Pukul lima sore Ajeng menyelesaikan pekerjaannya, Putri sudah menunggunya di depan gedung perusahaan bersama suaminya dan Adrian.


Ajeng melihat Adrian, pria itu masih sama seperti saat dulu. Itu yang Ajeng pikirkan tapi sekarang dia sudah tidak berada di saat-saat itu, semua hal sudah berubah.


Dimas sudah menunggu Ajeng keluar dari gedung itu hampir dua puluh menit, dia tau jam kerja perusahaan tersebut karena dia merupakan salah satu kolega kerja dari perusahaan itu, dia mengatakan jika istrinya bekerja disana kemudian dia menanyakan masalah jam kerja, mereka merupakan kolega yang cukup dekat untuk berbicara hal-hal seperti itu.


Dimas melihat perempuan yang merupakan sahabat istrinya itu dan juga dua lelaki disekitarnya, tapi dia tidak banyak berpikir soal itu karena dia tidak tau siapa mereka. Namun setelah melihat Ajeng berjalan menuju salah satu lelaki itu dia jadi sedikit berpikir tentang kata-kata Ajeng kemarin, dia bertanya-tanya apakah mungkin itu lelaki yang istrinya itu maksud, lelaki yang dia cintai?


Dimas sangat kecewa, dia melihat lelaki itu membawa Ajeng bersamanya. Apakah selama ini Ajeng melakukan semua itu dibelakangnya? Apakah perempuan itu tidak merasakan apa-apa saat dia mulai menyentuhnya selama ini? Dimas menarik rambutnya kasar, dia memukul-mukul kepalanya, sepertinya hubungannya dengan perempuan itu memang tidak ada sedari awal.

__ADS_1


Wanita polos yang dia lihat selama ini, yang dia coba berikan cintanya, perempuan itu sekarang benar-benar sudah bukan miliknya lagi. Bagaimanapun juga dia akan sangat merindukan perempuan itu, aroma tubuhnya, nafas, dan setiap sentuhan yang mereka lakukan meski mungkin itu terlihat seperti bukan apa-apa dengan apa yang dia pernah lakukan bersama Sarah, semua itu merupakan perasaan sederhana dan polos seperti Ajeng.


Dimata Dimas Ajeng tidak pernah buruk, mungkin seharusnya sedari awal dia tidak memberikan perasaannya, dia akan menarik semua perasaan itu kembali meski akan sangat sulit karena dia akan melihat perempuan itu setiap hari. Dimas menghela nafas panjang lalu pergi meninggalkan bayang perempuan itu, dia mengemudikan mobil begitu cepat.


*****


Ajeng pulang ke rumah pada pukul sembilan malam, hari ini dia lebih cepat karena merasa tidak ada yang perlu dihindari di rumah itu. Saat masuk dia tidak melihat siapapun, dia berpikir jika mereka mungkin sudah tidur. Ajeng memasuki kamarnya, dia mengistirahatkan semua tubuhnya yang kelelahan dengan berbaring di ranjang.


Ajeng kembali melihat wajah Dimas saat dia menutup kedua matanya, kemudian dia membuka matanya kembali dan bergegas ke kamar mandi, Ajeng merendam tubuhnya di air hangat, dia tanpa sadar mengingat Dimas lagi. Akhir-akhir ini dia sangat sering memikirkan tentang lelaki itu, apakah mungkin karena dia merindukannya, tapi ini terlalu cepat.


Ajeng membuang semua pikirannya, sekarang dia sudah tidak merasa aneh lagi jika mulai mengingat lelaki itu, dia berusaha menerima hatinya. Walau tidak akan pernah menunjukkannya dia mungkin akan tetap mencintai lelaki itu hingga perasaan itu akan hilang dengan sendirinya. Dia menyadari jika perasaannya sudah begitu dalam terhadap lelaki itu.


Ajeng menyelesaikan berendamnya kemudian dia memakai pakaiannya, dia berusaha untuk tidur dan melupakan seaat semuanya tetapi dia malah semakin mengingatnya dan tidak bisa tertidur. Dia mengingatkan dirinya tentang apa yang akan terjadi selanjutnya bagaimana dia akan segera diceraikan oleh lelaki itu, memikirkannya membuat Ajeng menangis.


Dia masih tidak percaya jika lelaki itu segera akan berada jauh darinya, saat itu mungkin lelaki itu akan melupakannya dan tidak mengingatnya lagi, dia bahkan mungkin tidak akan pernah bertemu dengannya lagi, Ajeng sering mengalami itu ketika harus jauh dari sahabat-sahabatnya, kita akan memiliki kesibukan masing-masing, kita tidak akan punya waktu untuk memikirkan satu sama lain. Ajeng menangis kuat tapi dia berusaha menahan suara tangisannya, hingga dia mulai terdengar sesenggukan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2