Dimadu Dalam Perjodohan

Dimadu Dalam Perjodohan
Dibalas


__ADS_3

Dimas dan Ajeng sampai di rumah disambut Sarah dan Aliya. Aliya terlihat benar-benar khawatir, dia langsung menghampiri Ajeng sesampainya di rumah. Aliya berpikir yang tidak-tidak tentang kepergian Ajeng, dia berpikir jika semua ini adalah ulah Dimas dan Sarah, dia melihat Ajeng seperti ingin menjaga perempuan berkerudung itu dari dua orang jahat di sekitarnya.


"Ajeng! Kamu dari mana saja?" Aliya langsung memeluk adik iparnya itu.


"Kenapa kamu pergi tidak minta izin sama Kakak, Kakak ini Kakak kamu juga. Kakak merasa kamu tidak menganggap Kakak"


"Bukan gitu Kak"


"Jadi gimana? Mereka berdua mengusir kamu? Mereka ngapain kamu?


"Nggak Kak, aku cuma mau keluar aja" Dimas menangkap alasan Ajeng yang tidak masuk akal dan semakin penasaran dengan yang sebenarnya terjadi.


"Kalau begitu kenapa tidak minta izin?"


"Sudah Kak, biarkan Ajeng istirahat dulu" lanjut Dimas.


"Mereka ngapain kamu aja Ajeng, bilang sama Kakak"


"Mas Dimas baik Kak, Sarah juga baik, mereka nggak ngapa-ngapain"


"Lalu kenapa keluar tanpa izin" Aliya mengulang pertanyaan yang tidak mendapatkan jawaban.


"Sudah Kak, kita masuk dulu saja" Dimas menimpali karena merasa udara cukup dingin diluar.


Mereka berempat kemudian memutuskan untuk masuk ke rumah milik Dimas. Sarah menggandeng tangan Dimas dan Aliya merangkul adik iparnya, menjaganya dari Dimas dan Sarah. Aliya berpikir untuk lebih berhati-hati lagi mengenai Ajeng, dia takut hal-hal seperti ini akan terjadi lagi, dia terkadang merasa sangat kasihan dengan takdir Ajeng yang harus berbagi suaminya dan tidak diberikan cinta olehnya.


Mereka duduk bersama di ruang tengah, Aliya sampai sekarang masih merangkul bahu Ajeng. Dimas dan Sarah melihat bagaimana tatapan tidak suka Aliya kepada mereka berdua. Dimas menerimanya dengan tenang sedangkan Sarah terlihat sedikit takut sehingga dia saat ini masih menggenggam erat tangan suaminya itu.


Aliya memulai pembicaraan dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi kepada Ajeng tapi Ajeng tak kunjung menjawabnya. Mereka menyelesaikan pembicaraan dengan Aliya yang masih khawatir, Dimas meminta agar Ajeng istirahat terlebih dahulu dan akhirnya Aliya mengiyakannya.


Dimas meminta Sarah agar tidur lebih dulu lalu dia mengajak Ajeng untuk pergi ke kamar. Dimas merangkul pinggang Ajeng sambil melihat Ajeng yang berjalan menunduk. Dimas sangat ingin tau alasan istrinya yang berusaha pergi dari rumah tanpa izin.


Dimas naik ke atas ranjang dan bersandar di sandaran kasur, dia menatap Ajeng yang masih berdiri menatapnya.


"Sini" Dimas menepuk sandaran di sampingnya, dengan ragu-ragu Ajeng tetap naik ke atas ranjang dan ikut bersandar.


Ajeng diam menunduk, Dimas menatapnya tidak berkutik. Karena merasa ada sedikit jarak, Dimas mendekat dan merangkul pinggang kecil Ajeng. Dimas akhir-akhir ini mulai terhipnotis dengan keindahan tubuh istrinya itu, sedangkan Ajeng hanya diam membiarkannya.


"Kamu kenapa menjauh dari Mas" Dimas mulai bertanya rasa penasarannya.


"Bukannya Mas yang nggak mau anggap aku sebagai istri?"

__ADS_1


"Kapan Mas bilang gitu" Ajeng mulai bertanya-tanya kebenaran pernyataan yang Sarah berikan.


"Jadi Mas anggap aku sebagai istrinya?"


"Iya dong, kamu dari mana berpikiran seperti itu?"


"Nggak, nggak apa-apa"


"Mas aku boleh kerja nggak?" Ajeng mengalihkan pembicaraan sekaligus ingin meminta izin pada Dimas.


"Kerja?"


"Iya, aku udah diterima Mas, minggu depan aku kerja. Boleh yah? Mas?"


"Kerja apa?"


"Aku kerja di perusahaan teman aku kerja, teman aku yang tadi Mas"


"Kamu bisa?"


"Iya Mas"


"Kamu kan nggak punya pengalaman"


"Iya udah"


"Makasih Mas"


"Hmm"


Setelah menyelesaikan pembicaraan, Dimas masih bingung tapi akhirnya dia berusaha untuk tidak memikirkannya lagi karena hubungannya dengan Ajeng juga sudah membaik. Mereka berdua memutuskan untuk tidur, Dimas memeluk Ajeng seperti biasa dan Ajeng membiarkannya begitu saja. Sebenarnya dia juga merasa nyaman dengan semua sentuhan yang Dimas berikan karena itu tidak ada penolakan darinya.


Mata keduanya tertutup tapi tidak dengan jiwanya.


Ajeng ingin membalas pelukan itu tapi dia tidak ada keberanian untuk melakukannya, dia menunggu beberapa saat, dia menyimpulkan jika Dimas sudah tertidur jadi dia membalikkan tubuhnya dan membalas pelukan Dimas. Ajeng menyandarkan kepalanya nyaman di dada bidang Dimas, Dimas membuka matanya heran kemudian menatap istrinya yang sedang nyamannya memeluk dan bersandar di dadanya, Dimas tersenyum melihat tingkah istrinya itu dan kemudian mengeraskan pelukannya.


Ajeng terkejut saat tangan di pinggangnya semakin memeluknya erat, dia menyadari pergerakan itu kemudian menatap suaminya, dia semakin terkejut ketika melihat Dimas yang juga sedang menatapnya.


Ajeng menjadi malu dan kemudian melepaskan pelukannya, tapi tentu saja Dimas tidak akan membiarkannya, Dimas menarik kembali tubuh Ajeng untuk memeluknya.


Ajeng tersenyum di dada bidang Dimas lalu menutup kedua matanya. Dimas menghirup keras aroma rambut milik wanita yang bersandar di dadanya dan menciumnya. Ajeng yang sudah menutup kedua matanya hanya diam di tempat menikmatinya, setelah berhenti Dimas ikut menutup kedua matanya dan tertidur. Mereka berdua tertidur dengan posisi seperti pasangan yang saling mencintai dan menginginkan satu sama lain tetapi keduanya tidak akan menyadari itu.

__ADS_1


*****


Ajeng terbangun dari tidurnya pada pukul lima pagi, posisi mereka tidak berubah sama sekali. Ajeng diam sejenak menatap wajah tampan di depannya, kemudian dia melepaskan pelan-pelan tangan yang merangkul pinggangnya erat. Tubuh pemilik tangan itu bergerak dan membuka matanya pelan-pelan, Ajeng menatap mata yang akan segera terbangun itu. Dimas menatap Ajeng datar seperti tatapan orang yang baru saja bangun tidur.


"Udah bangun" Ajeng tersenyum menatap suaminya.


"Iya, kamu mau salat?" Dimas berbicara dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul.


"Hmm, kita salat yah Mas?"


"Hmm"


Ajeng mencoba bangkit dan duduk di kasur empuknya, dia menatap Dimas yang masih dengan tubuh telentang menatapnya juga. Dimas memberikan tangannya kemudian Ajeng mencoba menariknya untuk bangkit.


Sekarang sepertinya nyawa Dimas sudah benar-benar terkumpul, mereka berdua kemudian bangun dan mulai bingung. Siapa yang akan lebih dulu pergi ke kamar mandi.


"Kamu duluan aja Mas"


"Kita sama-sama aja"


"Nggak bisa"


"Kenapa nggak bisa?"


"Aku mau mandi"


"Aku juga mau mandi, kita sama-sama aja"


"Kita kan mau salat"


"Nggak apa-apa, aku nggak bakalan makan kamu di dalam" Ajeng menciut seketika mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Dimas.


"Beneran yah, nanti salatnya nggak sah" seperti tau saja yang akan terjadi, Ajeng pun berusaha mengingatkan Dimas.


"Iya sayang" terlihat senyum nakal dari kedua sisi bibir Dimas yang melengkung.


Akhirnya Dimas dan Ajeng sama-sama masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh mereka. Ajeng yang masih belum jernih berpikir hanya diam tidak tau ingin melakukan apa sedangkan Dimas telah membuka kemeja kaosnya, Ajeng melihat dada bidang yang berotot itu sambil melotot membuat jantungnya berdetak kencang tidak karuan.


"Kamu nggak mau buka pakaian" tanya Dimas pada Ajeng yang masih diam di tempatnya.


"Kamu duluan aja Mas" Ajeng kemudian mencoba berjalan keluar tapi dia terlalu lambat hingga tangan Dimas sudah menariknya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Mau kemana?"


Bersambung...


__ADS_2