
~Ajeng POV~
Mas Dimas banyak berubah hari ini aku benar-benar tidak pernah berpikir akan menerima perlakuan ini.
Mas Dimas adalah lelaki yang perhatian, Sarah sangat beruntung menjadi wanita yang dicintai Mas Dimas
untukku Mas Dimas memberi perhatian saja aku sudah sangat bersyukur aku tidak akan meminta lebih.
Mas Dimas mengatakan akan mengajakku jalan-jalan dan sekaligus mengunjungimu Nenek. Mas Dimas mengendara dengan pelan sehingga aku bisa dengan nyaman memandangi jalanan dan pemandangan sudah lama sekali aku tidak menghirup angin berkendara seperti ini begitu menenangkan. Aku sekali-kali menatap ke arah Mas Dimas dia begitu fokus jadi aku memilih menikmati pemandangan lagi aku sangat senang hari ini.
Mas Dimas memberi tahuku jika Nenek tinggal di Jakarta bersama Bibi dan Pamannya. Mereka adalah yang tertua jadi mereka yang merawat Nenek setelah Kakek wafat. Mas Dimas sepertinya sangat sayang pada Neneknya terlihat bagaimana dia membicarakan tentang Nenek. Aku jadi ikut bersemangat menemui Nenek.
Mas Dimas mengajakku menikmati banyak jajanan kaki lima dan sekarang sudah pukul empat sore kami putuskan untuk pergi mengunjungi Nenek. Mas Dimas mengendarai mobil ke perumahan tempat tinggal Paman, angin disini terasa lebih sejuk dari angin di perkotaan terasa sangat nyaman. Kami tiba di rumah Paman setelah hampir setengah jam yang ternyata cukup jauh dari perumahan. Rumah Paman berdiri sendiri dengan perkebunan stroberi yang begitu luas di sekitarnya.
Sepertinya sangat nyaman tinggal di tempat seperti ini saat kita sudah jadi tua. Aku juga ingin tinggal di tempat seperti ini aku jadi rindu Ayah dan Bunda didesa. Mas Dimas turun dari mobil dan mengambil bingkisan di belakang aku juga ikut turun dan menunggu Mas Dimas untuk masuk bersama.
"Ayo" Mas Dimas mengajakku masuk setelah mengambil bingkisan.
Rumah Paman tidak terlalu jauh dari bangunan pagar yang terbuka lebar saat kami masuk terlihat Nenek di teras rumah yang sedang duduk dengan tehnya di bangku kayu dia seketika berdiri ketika melihat kami.
Mas Dimas terlihat tersenyum aku juga ikut tersenyum senang melihat Nenek.
"Putu ku Dimas kamu datang Nak?" Logat Jawa Nenek terdengar kental sangat nyaman mendengarkannya bicara.
"Iya Eyang" Mas Dimas langsung mencium tangan Nenek. Nenek melihatku kemudian aku juga menciumnya.
"Istri kamu cantik sekali" Aku hanya bisa tersenyum menatap Nenek.
__ADS_1
Nenek begitu lembut dan penyayang mungkin karena mendengar suara berisik dari depan Paman dan Bibi keluar dari dalam mengajak kami masuk. Keluarga Mas Dimas begitu ramah memebuatku betah berlama-lama.
Nenek menarikku lembut duduk di sampingnya sementara Paman duduk dengan Mas Dimas. Mas Dimas memberikan bingkisan yang dia bawa kepada Bibi.
Bibi terlihat pergi dan kembali membawakan hidangan membuatku jadi tidak enak namun Nenek langsung mengalihkanku, kami berbincang-bincang banyak. Nenek sepertinya sangat penyayang aku sangat nyaman dengan beliau.
"Bagaimana Dimas apa dia jahat?" Paman bertanya padaku aku seketika tersenyum mendengarnya itu terdengar lucu di telingaku.
"Iya dia jahat sama kamu?" Bibi menimpali membuatku sepertinya harus menjawab.
"Mas Dimas baik orangnya Bi"
"Hmm Bibi kurang yakin" Bibi sepertinya sedang menyindir Mas Dimas membuat semuanya tertawa.
"Kamu dikasih makan sama dia?" tanya Nenek juga sedikit menyindir.
"Apa cucu Eyang ini terlihat seperti orang jahat?" tanya Mas Dimas sedikit tidak percaya dengan semua serangan yang dia terima.
"Eyang tidak tau,, tapi Eyang ingat Putri Eyang sering marah-marah karena putra satu-satunyu itu" menunjuk Mas Dimas namun melihat ke arahku. Aku ingin tertawa mendengarnya.
"Itukan sudah lama Nek" Semua orang tertawa mendengar pembelaan yang Mas Dimas buat.
Selesai mengunjungi Nenek kami pergi pulang dengan membawa sekantong stroberi. Kami pulang pukul setengah enam sesampainya di rumah aku langsung menghidangkan makanan yang kami beli di rumah makan tadi. Selesai menghidangkannya aku pergi kekamar untuk mandi, aku menunggu Mas Dimas sambil menyiapkan pakaianku juga sekalian pakaian Mas Dimas.
Aku bertanya pakaian yang ingin Mas Dimas pakai dan mengambilkannya. Lucunya pakaian Mas ada di dua lemari, lemari kamarnya dengan Sarah juga dikamar ini
aku tertawa memikirkan keadaan ini. Mungkin menyakitkan tapi jika dijalani dengan sabar semuanya akan biasa saja.
__ADS_1
Mas Dimas keluar dari kamar mandi dia terlihat sangat tampan siapapun akan jatuh hati padanya bahkan aku sudah jatuh hati padanya. Aku akui itu, aku akan memberikan cintaku dan dia hanya perlu memberikan perhatiannya. Semoga ini bukan mimpi dan tidak akan berubah tiba-tiba. Aku kemudian bergegas masuk dengan baju ganti ku, aku berendam di bak mandi membersihkan seluruh tubuhku dengan rambut diikat agar tidak basah.
Selesai mandi aku memakai pakaian dan kerudungku saat aku keluar masih ada Mas Dimas disana sedang merapikan rambutnya. Aku bergegas keluar namun tanganku tiba-tiba terasa digenggam aku melihat Mas Dimas disampingku aku menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya tapi dia bersikap biasa saja kemudian menarikku keluar bersama.
Mungkin sedikit berlebihan jika harus bergandengan tangan hanya untuk pergi ke dapur tapi aku merasa senang ada tangan hanya yang menggenggam tanganku. Mas Dimas membuatku semakin nyaman aku harap ini tidak untuk sementara. Aku rela berbagi perhatian Mas Dimas dengan Sarah sebenarnya aku bertanya-tanya apakah Sarah rela berbagi perhatian Mas Dimas denganku aku merasa bersalah untuknya.
Tapi sepertinya perhatian Mas Dimas akan murni hanya untuk Sarah aku akan menerima meski hanya sebagian dari perhatian itu. Aku akan menerima apapun asalkan Mas Dimas masih mau berbicara denganku. Aku segera menyiapkan meja makan dan makan bersama dengan Mas Dimas aku masih merasa semua ini tidak nyata namun terasa begitu nyaman membuatku tidak ingin berpaling.
Semoga aku tidak akan menjadi serakah karena semua perhatian dan kenyamanan ini. Aku melihat Mas Dimas yang sedang makan sepertinya aku sedang termenung dan Mas Dimas terlihat heran melihatku dia terlihat tersenyum melihat kebodohan ku.
"Kenapa?" Aku langsung kaget dan malu.
"Ng Nggak" Aku sangat malu aku hanya bisa menunduk malu.
"Kenapa lihat aku kayak gitu?"
"Nggak Mas aku cuma.." aku tidak tau harus mengatakan apa-apa aku hanya bisa meringis malu.
"Sarah nggak pulang Mas?" Aku memberanikan diri bertanya meski perasaanku mengatakan tidak.
"Kenapa? Kamu udah nggak betah tinggal berdua aja?"
"Bukan gitu Mas" Aku sekali lagi hanya bisa meringis malu mengatupkan bibir. Sepertinya aku salah bertanya.
"Sarah bakalan pulang beberapa hari lagi"
"Ooh" Aku menganggukkan kepala mengerti. Sepertinya kenyamanan ini akan segera pergi beberapa hari lagi. Tapi tidak apa-apa aku harus tetap menjalaninya lagipula mungkin kami akan hidup seperti ini untuk seterusnya jadi lebih baik segera membiasakannya. Sarah adalah maduku aku harus mengakrabkan diri dengannya aku akan berusaha menganggapnya sebagai saudaraku.
__ADS_1
Bersambung...