Dimadu Dalam Perjodohan

Dimadu Dalam Perjodohan
Mental yang rapuh


__ADS_3

"Apakah Mas Dimas bisa berubah semudah ini? Haruskah aku meminta penjelasan darinya? Bukankah aku seharusnya mulai berkomunikasi yang baik dengannya, aku tidak bisa terus-terusan bungkam seperti ini"


Ajeng tidak menginginkan hal-hal seperti ini tapi bagaimana dia bisa menganalisir agar hal-hal seperti ini tidak terjadi, dia tidak mampu akan semua hal yang sekarang dia hadapi. Ajeng melihat Dimas yang masih diam di kursinya, dia menatap lelaki itu dengan tatapan meminta ingin ditatap juga, tapi lelaki itu sepertinya sedang tidak berada di mana dia saat ini.


"Mas Dimas sama sekali tidak menatap ku, apa yang sedang dia pikirkan, apa dia tidak menghiraukan keberadaan ku saat ini?"


Tut.. Tut.. Tut.. tiba-tiba terdengar suara dering ponsel membuat Ajeng sedikit bingung, Dimas mengangkat ponselnya kemudian pergi keluar dari rumah setelah melihat siapa yang menelepon, Ajeng jadi begitu sedih melihat Dimas yang pergi tanpa memperhatikannya.


"Siapa yang menelepon? Apa Sarah yang menelepon? Aku ingin menangis sekarang hiks, apa Mas Dimas harus berbicara dengan Sarah dibelakang ku?"


Tidak lama setelah Dimas meninggalkan Ajeng sendiri di meja makan terdengar suara mobil yang biasa digunakan oleh Dimas, lelaki itu benar-benar pergi meninggalkan istrinya sendiri tanpa pamit padanya terlebih dahulu.


"Apa Mas Dimas meninggalkan ku?" Ajeng kaget saat mendengar suara mobil Dimas, dia melirik ke arah pintu sesaat suara itu baru terdengar, dia benar-benar akan menangis.


"Hiks hiks Mas Dimas benar-benar meninggalkan ku sendiri disini, dia sama sekali tidak menghiraukan keberadaan ku, apakah dia sudah benar-benar menganggap ku sebagai istrinya, jika tidak, dia tidak perlu memaksakannya hiks hiks"


"Dia mudah sekali berubah, apakah dia melihat ku seperti seseorang yang tidak perlu diseriusi? Dia sepertinya tidak pernah serius saat itu mengenai diriku hiks hiks tapi dia langsung menanggapi Sarah dan melakukan semua yang Sarah inginkan, aku benar-benar tidak pernah berhak, aku mungkin tidak akan pernah berhak baginya"


Ajeng mengusap air matanya, mata itu masih sangat merah, meski dia sudah coba untuk tidak menangis lagi tetapi air mata terus mengalir tanpa dia minta. Ajeng menggigit bibirnya kuat memukul dadanya keras, Ajeng memiliki kebiasaan buruk ini sejak dia masih remaja. Disaat dia baru-baru menerima emosi yang sebenarnya dan tidak tau bagaimana menahannya karena merasakan sakit yang mungkin tidak bisa dia terima dengan baik dan kontrol sendiri.


Ajeng tidak pernah memberi tau siapapun masalah sakit mental yang dia derita ini karena dia tidak begitu sering mengalaminya, ada cerita gelap yang dia tidak bisa bagi dengan siapapun. Gadis kecil umur belasan tahun yang duduk di sekolah menengah menerima hal seperti itu tentu akan berpengaruh buruk untuk masa depannya.

__ADS_1


Ajeng tidak ingin mengingat-ingat masa kelam itu apalagi gadis yang tidak berdosa itu, dia ingin melupakan itu semua, kejadian itu sudah menjadi masa lalu dan dia sekarang sudah jauh dari itu semua.


Ajeng mencoba melupakannya tapi dia menjadi semakin memikirkannya, dia jadi takut sendirian di rumah. Ajeng segera berlari ke kamarnya setelah membersihkan piring kotor, dia melihati pintu dan jendela takut-takut jika ada orang yang mengintip, dia sering merasa cemas saat sendiri apalagi sedari awal dia tidak merasakan perasaan yang baik.


"Aku tidak ingin mengkhianatimu ya Tuhan, aku sangat berdosa karena sudah meragukan mu, aku, aku akan beribadah sekarang, aku tidak bisa menjadi bodoh dan ditakuti oleh itu semua, ampunilah aku ya Tuhan, hanya padamu-lah hamba berserah"


Sebenarnya banyak yang menjadi penyebab Ajeng mengalami gangguan kecemasan seperti ini seperti jarangnya berinteraksi dengan orang-orang, jika Dimas sampai sekarang tidak menerima Ajeng sebagai istrinya mungkin perempuan itu akan selamanya sendiri terkurung di kamarnya.


Ajeng membutuhkan interaksi sosial seperti manusia pada umumnya, sangat sulit jika dia menjalaninya seorang diri, Ajeng tidak pernah berpikir jika gangguan kecemasannya separah itu, dia pikir jika semua itu adalah hal biasa dan akan berakhir setelah dia merasa baikan, dia membutuhkan bantuan ahli untuk gangguan yang dia derita.


Ajeng segera pergi ke kamar mandi miliknya dia berusaha kuat membuang perasaan takut dipikirannya tapi kemudian pikiran itu beralih dia mengingat tentang Dimas, dia semakin sedih dibuatnya. Ajeng menunggu sebentar berusaha menghentikan tangisnya kemudian mengambil wudhu dan berusaha mengingat nama Tuhan.


Ajeng terkejut saat melihat dua panggilan tak terjawab dari Dimas dan beberapa pesan yang lelaki itu kirim. Pesan itu berada di bawah pesan-pesan grup yang dia ikuti, Ajeng segera membaca pesan-pesan itu.


'Sayang, maafin Mas tadi nggak pamit dulu'


'Sarah tadi telpon, sepupunya kecelakaan dan lagi dirujuk di rumah sakit, Mas bakalan pulang sebentar lagi, kamu tunggu Mas yah?"


'Tunggu Mas, jangan takut' Ajeng menangis membaca pesan itu, dia benar-benar sudah berpikir yang tidak-tidak tentang suaminya sendiri. Ajeng segera mengusap air matanya dia merasa sedikit lega setelah membaca pesan dari Dimas.


Dimas mengirimkan pesan itu sekitar sepuluh menit yang lalu dan itu benar-benar disaat Ajeng merasakan takut dan cemas dari gangguan yang diterimanya. Tanpa disadari oleh keduanya mereka saling merasakan perasaan satu sama lain, Dimas merasa khawatir jika Ajeng akan ketakutan sendirian di rumah karena itu dia mengirimkan pesan itu.

__ADS_1


Dia mengkhawatirkan Ajeng, Dimas benar-benar khawatir saat dia berada di perjalanan tadi, dia memaki dirinya sendiri setelah menyadari jika dia telah meninggalkan istrinya sendirian di rumah, Dimas berusaha secepat mungkin sampai di rumah sakit tujuannya menemui Sarah dan keluarga besar istri keduanya itu.


"Sayang kamu datang!" Sarah berlari memeluk Dimas yang baru tiba.


"Iya, kamu masih mau disini?"


"Iya Mas, aku harus ikut temanin Bibi dan Ibu jaga Salwa"


"Kalau gitu Mas pulang duluan, Ajeng sendirian di rumah"


"Mas nggak ke rumah Ayah aja?"


"Mas nggak bisa, Mas udah tinggalin Ajeng sendiri di rumah, nanti dia takut kalau Mas nggak kunjung pulang"


"Kamu jaga diri yah? Mas pergi dulu" Sarah mengangguk kemudian mendapatkan kecupan di kening dan bibirnya dari Dimas, Sarah memberikan senyuman manisnya kepada Dimas, lelaki itu menatapnya lekat sambil menggenggam wajah manis itu.


"Mas pulang"


"Iya Mas" Sarah melambaikan tangannya belum berhenti memberikan senyuman manisnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2