Dipaksa Menikah Season 2

Dipaksa Menikah Season 2
Memiliki pasangan masing masing


__ADS_3

"Dari tatapan mata kamu, gerak gerik kamu, sepertinya memang kamu suka dengan nya. Iyakan kamu suka dengan nya, atau dia pacar kamu sebelumnya, yang putus karena perjodohan," tanya Elena.


Dika benar-benar mati kutu dibuat Elena, apa yang Elena katakan benar semua, bagaimana mungkin bisa Elena tau dengan hanya melihat gerak gerik.


"Kamu tau dari mana," tanya Dika.


"Apakah itu penting, dia juga suka dengan mu, kalian berdua sama sama memendam rasa agar tidak saling menyakiti," jawab Elena.


"Oke kamu benar, tapi aku sedang berusaha untuk melupakannya, aku janji perasaan ku padanya tidak akan mempengaruhi apapun dalam pernikahan kita," ucap Dika.


"Aku tau itu," kata Elena.


"Kamu indigo ya," tanya Dika.


"Tidak, aku hanya bisa membaca apa yang orang pikirkan dan rasakan dari gerak gerik tubuh nya, sesimpel itu, tapi belum tentu yang aku baca itu benar," jawab Elena.


"Psikolog, ternyata di balik sikap tidak bisa diam mu ini kau memiliki sebuah kemampuan," kata Dika.


Dika akan menikah dengan seseorang yang memiliki kemampuan lebih, dalam hal ini Dika sudah dipastikan tidak bisa berbohong pada Elena, hal itu cukup membuat Dika takut apalagi kalau sampai Elena langsung mengadu pada ayahnya.


"Elena masalah tadi jangan sampai ada yang tau ya, cukup aku dan kamu yang tau," ucap Dika.


"Hahaha iya aku tau mas, hubungan kalian jelas terlarang, aku mengerti aku sudah biasa menjaga rahasia orang lain," kata Elena.


Dika menggenggam tangan Elena. "Terima kasih, aku akan berusaha melupakannya dan akan berusaha untuk mencintaimu."


Elena dapat menilai Dika masih terombang-ambing dalam menentukan pilihan hidupnya, ia belum bisa menemukan kemana dirinya akan pergi dan bersama siapa hatinya akan berlabuh. Tetapi bukan berarti Dika pria yang tidak bisa dipercaya, dari apa yang Dika ucapkan, Elena rasa ucapan itu cukup tulus.


Tak lama makanan yang mereka pesan datang, beberapa jajanan pinggir jalan dan satu mangkuk es krim.


Segera mereka berdua menyantap makanan itu. Dika sedang asik memakan makanan yang belum pernah ia makan sebelumnya, Elena sendiri terpanah dengan ketampanan yang Dika memiliki, tangan nya seketika berhenti menyendok es krim karena dirinya terfokus dengan ketampanan Dika.


"Dia benar-benar tampan sekali," batin Elena.


"Elena.."


"Eh iya, ada, apa," tanya Elena yang tersadar dengan lamunannya.


"Es krim itu," ucap Dika.


"Aduh meleleh, maaf mas maaf.." Elena segera membersihkan beberapa lelehan es krim itu menggunakan tisu.

__ADS_1


"Ikut pulang bersama ku," ucap Dika.


"Ayah ku bagaimana," tanya Elena.


"Nanti aku akan menghubunginya, kita bahas konsep pernikahan kita," jawab Dika.


"Iya.." Siapa yang tidak mau di ajak pulang seorang pangeran seperti Dika.


Setelah jalan jalan Dika langsung membawa Elena pulang ke rumahnya, sebelum itu tadi ia sudah meminta izin pada Rico, Rico percaya dengan Dika dan memperbolehkan Dika membawa Elena ke rumahnya.


Sesampainya di rumah mereka berdua duduk di ruang keluarga, Dika mengambil iPadnya untuk membahas konsep apa yang ia inginkan di pernikahannya nanti. Intan yang sadar dengan kedatangan calon menantunya langsung membuatkan sesuatu untuk Elena.


"Siapa sayang," tanya Justin.


"Anak mu membawa Elena pulang, sudah berani dia ya," jawab Intan.


"Hahaha kamu seperti tidak tau Dika saja, dia ingin mengurus pernikahannya sendiri, mungkin dia ingin membahas pernikahannya dengan Elena langsung. Dika itu mandiri tidak seperti Adit," ucap Justin.


"Sana sayang kamu bantu dia," kata Intan.


"Jangan di ganggu dong sayang, mereka masih membangun kedekatan, kalau aku di sana mereka berdua akan canggung," ucap Justin.


"Oh begitu ya, kamu memang paling bisa, kemarin Adit, sekarang Dika."


"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, kamu saja begitu tidak mungkin Adit tidak seperti itu, mana Adit mewarisi 100 persen dirimu," ucap Intan.


"Ayo buat anak, walaupun tidak akan jadi, yang penting buat saja," kata Justin.


Karena Justin melarang dirinya membuat sesuatu untuk Elena, ya mau bagaimana lagi melayani suaminya menjadi kewajiban bagi Intan.


"Bagaimana kamu suka," tanya Dika.


"Ya aku suka, kamu sangat pintar ya," jawab Elena.


"Hahaha makasih, aku tidak sepintar yang kamu pikirkan," ucap Dika.


Tema yang Dika pilih sudah pasti modern, ia tidak ingin yang terlalu ribet yang akan membuatnya dan Elena repot. Pernikahan mereka berdua pilih di sebuah Vila pinggir pantai. Dekorasi pernikahan mereka akan memakai warna putih dan juga cream dan undangan yang tersebar tidak lebih dari 50 orang. Acara berlangsung dari pukul 7 malam sampai dengan 11 malam, setelah itu langsung istirahat,tidak ada after party seperti do pernikahan Adit dan Serena.


Itu hanya sebagiannya saja, detail detail kecil lainnya akan ia urus sendiri. Dika tidak mau membuat ayahnya repot, ayahnya pasti sudah sangat lelah mengurus pernikahan Adit yang sangat mewah dan pasti sudah menghabiskan puluhan M. Dika tidak ingin membuat ayahnya menghabiskan waktu dan banyak uang lagi untuk pernikahannya.


"Kamu ngantuk," tanya Dika.

__ADS_1


"Iya," jawab Elena.


"Terlihat kalau kamu ngantuk, biasanya ada saus yang kamu kerjakan, kalau mengantuk kamu terlihat diam. Mau aku antar kan pulang atau tidur dengan ku," tanya Dika.


"Pulang," jawab Elena.


"Ya sudah ayo." Karena memang rumah mereka berdua tidak terlalu jauh, Dika tidak masalah mengantarkan Elena pulang, lagi pula ia yang mengajak Elena ke rumah, tidak mungkin ia tidak bertanggungjawab mengantarkan Elena kembali ke rumahnya.


Berbeda dengan Dika yang masih proses perencanaan. Cilla sendiri sudah sampai ke proses yang lebih serius lagi, ia hanya tinggal menunggu beberapa hari lagi untuk melepaskan masa gadis nya bersama dengan Zyan. Sebenarnya Cilla cukup senang mendapatkan Zyan. Walaupun ia belum memiliki perasaan apa apa pada Zyan, tetapi Cilla sudah dapat menilai Zyan pria yang bertanggungjawab.


"Sayang kamu tidak papa kan, kenapa kamu dari tadi hanya diam," tanya Zyan.


"Iya tidak papa, kita pulang yuk, kamu besok bekerja, nanti kalau tidur terlalu malam kamu akan bangun terlambat," ucap Cilla.


"Ya sudah ayo aku antar kan, besok terakhir aku bekerja sebelum mengambil cuti," kata Zyan.


"Untuk mempersiapkan pernikahan kita," tanya Cilla.


"Iya sayang, aku harus segera mempersiapkannya, sekalian ambil cuti untuk honeymoon," jawab Zyan.


"Kemana sayang," tanya Cilla.


"Tidak jauh jauh sih, bali saja cukup, aku tidak bisa ambil cuti lama lama," jawab Zyan.


"Oh iya tidak papa, kemana saja yang kamu rencanakan aku tidak masalah."


Cilla jadi ingat jika ia dengan Dika juga ingin honeymoon di Bali setelah mereka menikah, ia akan tetap ke Bali tetapi dengan lelaki yang berbeda, bukan dengan Dika.


Setelah mengantarkan Elena pulang, karena sudah malam Dika langsung kembali ke rumah, baru sehari Adit menikah Dika sudah merasa kesepian, biasanya ada saja yang ia lakukan bersama dengan Adit malam malam begini, apalagi kalau tidak bisa tidur begini, mereka pasti akan bergadang sampai pagi.


Dika berjalan ke kamar Adit untuk meminta Adit menemaninya, dari pintu kamar yang tidak terkunci Dika pikir Adit masih bersantai.


"Pelan Adit..."


Baru ingin membuka pintu kamar itu, Dika sudah mendengar suara aneh, sudah pasti Adit sedang tidak bersantai dan Dika tidak mau menganggu, ia langsung pergi meninggalkan tempat itu.


"Seperti ada yang lewat," kata Adit.


"Makannya kamu tutup dulu itu pintu," ucap Serena.


"Iya ya, nanti ada yang mengintip bagaimana." Segera Adit berjalan menuju pintu kamar untuk menutupnya, sejenak Serena bisa bernafas lega, hari ini saja Adit sudah 2 kali meminta jatah padanya, sungguh sangat melelahkan, tetapi Serena sendiri suka dan merasa ingin lagi dan lagi kalau Adit sudah memulainya, sepertinya bukan hanya Adit yang kecanduan tetapi Serena juga kecanduan milik Adit, keduanya sama sama saling menguntungkan satu sama lain.

__ADS_1


"Lagi sayang, coba belakang," ucap Adit.


"Kalau begini saja panggil sayang," kata Serena.


__ADS_2