Dipaksa Menikah Season 2

Dipaksa Menikah Season 2
Pernikahan


__ADS_3

Sementara itu di kamar Dika sudah bangun dari tidur nya, ia duduk di depan jendela kamar yang menatap langsung ke arah pantai dan lautan lepas, ia merasa sangat keren sekali setelah membuat istri nya KO.


"Itu Adit, sudah sampai bawa saja dia," ucap Dika.


Dika memakai handuk setengah badan, setelah itu ia berjalan ke arah balkon kamar.


"Adit," teriak Dika.


"Eh itu dia, baru saja di omongin," kata Adit.


Adit melambaikan tangan nya pada Dika.


"Turun woy, betah amat di kamar," ucap Adit.


"Malas, dingin. Kau gila pagi pagi sudah sampai pantai."


"Dingin atau dingin, aku tau Dika." Adit hanya tertawa mendengar alasan Dika.


Dika kembali masuk ke dalam kamar untuk membangunkan sang istri, ini sudah hampir siang juga, tidak bagus kalau tidur sampai siang.


"Sayang bangun, sudah siang loh."


"Hmmm aku sangat mengantuk sayang.." Elena tidak ingin bangun dari tidur nya, bukannya hanya karena ia sangat mengantuk tetapi karena ia juga sangat lelah karena permainan tadi malam.


"Sayang ayo bangun dong," ucap Dika.


"Kalau aku bangun mau kamu kasih apa," tanya Elena.


"Jatah bagaimana," tanya Dika sambil mengedipkan matanya.


"Itu mau aku yang memberikan nya, bukan kamu, kamu bagaimana sih," jawab Elena.


"Hahaha kan aku juga ingin memberikan hadiah itu pada mu." Dika hanya tertawa.


"Hadiah apa, itu mah bukan hadiah." Elena kembali memejamkan matanya.


"Aku turun ke bawah ya, kamu istirahat lah dulu," ucap Dika.


"Iya sayang, jangan lupa belikan aku sesuatu, aku menginginkan sesuatu."


"Makanan," tanya Dika.


"Iya, seafood enak sayang, kalau kamu ingin aku cepat hamil kan, nah kamu harus banyak makan kerang karena dapat mempercepat gerak benih mu masuk ke dalam sana."


Dika menganggukkan kepalanya, ia langsung bersemangat sekali, segera Dika memakai pakaian dan langsung keluar dari dalam kamar.


"Sayang kamu sudah bangun, mamah membuat banyak makanan untuk mu," ucap Intan.


"Mamah masak, aku ingin makan seafood mah."


"Ah tenang saja, mamah memang masak seafood, cepat ambil sana, nanti kalau Adit sudah kembali pasti akan habis dengan nya."


"Eh iya juga ya." Segera Dika langsung berlari ke ruang makan.


Umur Dika dan Adit memang masih 20 tahun menuju 21 tahun, tetapi postur tubuh mereka berdua memang terlihat besar seperti ayahnya, bisa di katakan mereka berdua sudah seperti pria berusia 25 tahun, biasanya yang terlihat tua dari usianya wajahnya akan seperti itu saja sampai beberapa orang tahun ke depan. Seperti bule bule di luar negeri, ya walaupun mereka berdua memiliki keturunan bule dari sang ayah Justin. Kakek Justin tentara dari Ekuador, itu yang membuat anu nya Justin begitu besar.


Dengan semangat Dika mengambil berbagai Kagami makanan yang ada, ia harus lebih cepat sebelum Adit kembali ke rumah, kalau sudah ada Adit semua nya pasti akan habis.


"Dika, jangan kau habiskan." Adit berlari mendekati Dika.


"Makan sisa dari ku Adit." Dika berlari pergi dari sana.


Adit melihat makanan yang mamanya masak sudah tinggal sisa dari Dika, sudah pasti ia sangat kesal karena dia membeli bahan-bahan makanan tadi ia dan Serena, ya walaupun sang mamah berkata ingin memaksakan Dika dan istrinya. Tetapi tidak bisa begini juga, karena ia yang membeli bahan-bahan makanan ini, Kenapa ia mendapatkan sisa dari Dika.


Serena berjalan mendekati Adit, sebelum pulang tadi wajah Adit terlihat sangat senang, tetapi sekarang kenapa terlihat sangat kecut. Apa yang sudah terjadi pada suaminya.


"Sayang ada apa, kenapa kamu terlihat sedih begitu," tanya Serena.


"Sayang lihat ini, bahan-bahan makanan tadi kita beli hanya tersisa seperti ini, siapa yang tidak sedih," jawab Adit.


"Lah kan memang mamah meminta kita membeli bahan-bahan makanan untuk mamah memasakkan Dika. Bukan memasakkan kita, jadi ya untuk apa kamu marah."


"Tapi tidak begini juga sayang, kan aku juga anak mamah, kenapa mamah sangat spesial kan Dika," kata Adit yang masih tidak Terima.


"Itu menurutmu saja sayang, Dulu saat kita menikah mamah juga memasakkan sesuatu yang spesial untuk kita, dan apakah Dika sepertimu tidak kan jadi ya sekarang gantian dia."


Seperti biasanya ketika Serena membela Dika wajah Adit terlihat tidak suka, padahal memang apa yang dikatakan serena itu benar. Adit saja yang memang sedikit cemburuan.


Dika berjalan masuk ke dalam kamar dengan ? 3?!membawa nampan berisi berbagai macam makanan olahan sang mamah, ada seafood, sayur dan juga hidangan penutup. Siapa yang tidak semangat jika mendapatkan sarapan seperti itu.


"Wah kamu cepat sekali sayang, Padahal aku baru saja memintamu untuk mencari makanan itu, Eh kamu sudah mendapatkannya, Kamu beli dimana emang."


"Sambil tersenyum jika meletakkan nampan itu di atas meja," tanya Elena.


"Ternyata mamah sudah memasakkan berbagai macam makanan untuk kita, lihat dari seafood, sayur, dan juga hidangan penutup yang terlihat sangat lezat dan sudah pasti bergizi."


"Wah aku sangat beruntung memiliki mertua seperti mamah kamu, sudah baik, perhatian, dan juga sangat pandai memasak," kata Elena.


"Oh iya sayang kamu tahu tidak kalau mamah sedang hamil," tanya Dika.


"Hah mamah hamil, aku baru tau. Kenapa kamu baru memberitahuku sekarang." Elena benar-benar terkejut mamah mertua nya sedang hamil.


"Hahaha aku juga lupa memberitahumu, Sekarang sih sudah masuk ke 3 bulan, memang perut mamah terlihat belum membesar, berbeda dengan serena yang sudah sangat membesar."


"Aku yakin rumah kita pasti akan sangat ramai, nanti anak Serena lahir, setelah itu anak mamah lahir, setelah itu anak kita. Kamu bayangkan betapa rumah kita nanti, Apalagi jarak antara kehamilan satu dengan lainnya tidak terlalu jauh," kata Elena.


"Iya sayang, Semoga kita bisa segera menyusul," ucap Dika.


"Pasti bisa dong, kata kamu kuat hahaha."


"Aku memang sangat kuat sayang, buktinya tadi malam kamu KO, berapa kosong sayang," tanya Dika.


"Tidak kosong dong sayang, kan kamu juga keluar, bagaimana sih kamu."


''Hahaha iya juga ya sayang, kamu benar. Ya semoga apa yang, kita inginkan segera terwujud," kata Dika.


Merea berdua pun memasakkan Intan , memang kalau rasa tidak bisa di ragukan lagi, mereka berdua benar benar sangat suka sekali.


"Rasa nya benar benar sangat enak sayang, mamah memasak dengan sangat baik," kata Elena.


"Memang mamah sangat pintar memasak, ayah sangat beruntung bukan bisa menikah dengan mamah, mamah sama sekali tidak memiliki kekurangan sedikitpun," ucap Dika.


"Memang harus di akui, memang mamah kamu tidak memiliki kekurangan sedikit pun."


Di ruang makan, Adit dan Serena memakan sisa makanan yang Dika tinggalkan, sampai sekarang Dika masih marah dengan orang di sekitarnya, pada Serena dan mamahnya yang membela Dika dan juga pada Dika yang membuat kedua wanita yang ia sayang tidak membelanya.


"Kamu mau makan apa, siang ini kamu mamah masakan."


"Tidak ada," ucap Adit.


"Dia sedang marah mah, biasa dia itu sangat cemburuan,"ujar Serena.


"Oh anak mamah yang tampan ini ternyata cemburuan ya, sayang mamah sangat sayang pada Adit, mamah masakan ada spesial untuk Adit ya."

__ADS_1


"Hmmm," gumam Adit.


"Hahaha mau juga dia mah."


"Ya sudah kalian jangan di sini agar mamah bisa lebih fokus memasak," ucap Adit.


Adit dan Serena pergi meninggalkan tempat itu, Adit masih terlihat ngambek pada sang istri, memang kebiasaan nya seperti itu. Serena masih membiarkan Adit seperti itu, toh nanti kalau sudah mendapatkan jatah Adit tida akan ngambek lagi.


Mereka berdua masuk ke dalam kamar yang bersebelahan dengan kamar Dika. Keduanya berbaring di atas ranjang tanpa mengobrol sedikitpun. Serena yang merasa sudah tidak nyaman, memutuskan untuk mulai menggoda suami nya.


"Sayang liat ini anak kita bergerak," ucap Serena.


"Mana." Segera Adit mendekati perut istri nya, memang ada terasa sedikit getaran dari dalam sana.


"Sayang," ucap Adit yang sangat senang sekali, ini pertama kalinya ia merasakan gerakan dari anaknya.


"Dia sudah tumbuh menjadi lebih besar," kata Adit.


"Iya lah, tidak mungkin dia seperti itu saja." Serena mengusap perut nya yang semakin membuncit saja. Kandungannya sudah masuk ke 5 bulan sekarang ini, memang tidak berasa sama sekali.


"Jatah..."


"Kamu mau jatah, bukanya kamu ngambek pada ku."


"Hehehe tidak ah, aku sudah tidak ngambek lagi kok," ucap Adit


Memang kalau sudah berbicara jatah tidak ada lagi kata ngambek lagi, jatah number one.


Mereka semua lebih dari seminggu di Bali, bukan hanya di Vila saja, sudah pasti jalan jalan mengelilingi pulau Bali, ini memang kesempatan besar untuk Dika membuat anak, kalau sudah kembali ke rumah tidak akan bisa seperti ini karena ia akan bekerja dengan sang ayah, tabungannya sudah habis jadi ia harus segera mengisinya kembali.


Setelah seminggu lama nya mereka semua pun kembali ke rumah. Justin memiliki rencana untuk pindah ke rumah baru yang lebih besar dan mewah dari rumah yang sekarang ini. Ia sedang mencari rumah terstrategis agar mempermudah semua kegiatan nya. Rumah nya sekarang akan di pakai oleh Mark yang memang sedang mencari rumah baru juga. Rumah dua lantai milik Mark sudah tidak muat lagi untuk anak anaknya.


"Serius kau mendapatkan nya," tanya Justin.


"Serius dong, rumah itu bergaya modern seperti yang kau inginkan. Di atasnya bisa untuk mendaratkan sebuah helikopter. Rumah itu berlantai 5, dengan bioskop mini, kolam renang luas, taman yang sangat luas, kebun belakang rumah yang lengkap, belasan kamar tidur, ruang gym dan kerja, ruang santai bersama keluarga, dan masih banyak lagi."


"Aku beli, asalkan semuanya sudah lengkap, aku tidak mau datang ke rumah itu kalau rumah itu kosong."


"Harga nya," ucap Mark.


"Berapa harganya," tanya Justin.


"500."


"Serius??"


"Ya iya, teknologi di rumah itu juga tidak main main."


"250 gitu," ucap Justin.


"Tidak bisa lah, halah 500 m untuk mu bukan hal yang banyak."


"Mata mu bukan yang banyak, aku benar-benar sudah banyak menghabiskan uang ku. Biaya berobat Adit dan Dika, pernikahan mereka berdua, semua menghabiskan uang seharga rumah ku sekarang."


"Sudah demi kenyamanan kenapa tidak, satu proyek besar selesai kembali uang mu," kata Mark.


"Ya aku ambil, aku lihat dulu besok," ucap Justin.


"Komisi 25," kata Mark.


"Sial, kau minta bagian juga dari ku," tanya Justin.


"Ya iya lah, kau pikir cari rumah tidak memerlukan tenaga dan waktu, jika aku bekerja sudah dapat berapa banyak uang," jawab Mark.


"Hahaha memang harus seperti itu Justin," kata Mark sambil tertawa. Mereka sudah lebih dari 30 tahun bersama, ya sudah biasa hai seperti itu, walaupun tidak memiliki ikatan darah, mereka berdua sudah sangat dekat sekali.


Malam hari nya, Justin memanggil Dika dan Adit duduk bersama di ruang keluarga. Justin ingin membahas tentang rumah baru yang akan segera mereka tempati, rencana untuk pindah memang belum ada di bahas langsung dengan keluarga nya, ia sengaja tidak membahas nya sebelum mendapatkan rumah, sekarang rumah sudah dapat dan baru bisa di bahas.


"Dika mana sih, kata sebentar," ucap Adit.


"Panggil sana, kalau dia lagi enak enak rekam," kata Justin.


"Nah benar itu, hahaha sementang baru menikah langsung ingin gas tancap."


"Halah kayak kata tidak saja, kalian berdua sama saja," ucap Justin.


"Hahahaha sama seperti ayah juga, kan kami anak ayah."


"Sial ada saja yang kau ucapkan ya," ucap Justin yang seperti terkena batunya sendiri, memang apa yang Adit katakan benar.


''Sayang sudah dong, aku sangat lelah. Ayah sudah menunggu mu di luar."


"Tidak sayang, ini tanggung sekali, 1 menit lagi aku akan keluar." Dika terus memacu dirinya sampai ia benar benar puas.


Adit berjalan mendekati kamar Dika, semenjak Dika menikah ia tidak pernah ke kamar itu lagi, ia sudah sangat malas sekali ke kamar itu kerena sudah pasti Dika akan mengusirnya, mereka benar benar sudah memiliki kehidupan masing masing.


"Dika..."


"Duar...'' Ledakan besar terjadi dan Dika langsung lemas seketika.


Mereka berdua berusaha mengatur nafas mereka masing masing, tetapi karena Adit sudah memanggil Dika segera memakai handuk dan berjalan keluar kamar.


"Ada apa sih," tanya Dika.


"Kau ya, kalau sudah nganu lupa apa yang aku katakan tadi."


"Aku sedang tidur, aku lupa," kata Dika.


"Hahaha tidur dari mana, kau berbohong Dika, lihat tubuh mu berkeringat dan kau pasti lagu nganu kan, ayah sudah menunggu mu, kenapa kau lama sekali."


"Sok tau, iya aku ke bawah sekarang, begitu saja kau repot," ucap Dika.


Tangan Adit menarik handuk yang melekat di tubuh Dika karena ia benar benar sangat kesal sekali.


"Adit..."


"Hahaha kecil sekali, apa puas istri mu kecil begitu," tanya Adit.


"Kau memang ya, awas saja kau Adit," Dika benar benar sangat kesal sekali.


"Bodoh amat, burung kecil banyak gaya." Adit pergi meninggalkan tempat itu.


Dengan kesal Dika kembali masuk ke dalam kamar, ia langsung ke kamar mandi untuk memberikan dirinya.


Adit sendiri kembali ke bawah dengan wajah yang kesal, sudah lama lama di tunggu eh malah asik enak enakan, siapa yang tidak kesal coba.


"Ada apa? kenapa wajah mu kesal begitu," tanya Justin.


"Ayah tau, Dika malah enak enakan dengan istrinya, kita sudah lama menunggu dia di sini," kata Adit.


''Mana burung nya kecil lagi, hahah lucu sekali milik Dika," ucap Adit,


"Ha... Mana mungkin kecil sayang, ayah saja besar kok, kamu juga besar kan, mana mungkin milik Dika kecil."

__ADS_1


"Hehehe aku juga tidak tau yah, mungkin karena habis di pakai jadi kecil, aku dan Dika tumbuh bersama, aku dan dia tau apapun dari kami berdua, sampai lubang pipisnya pun aku tau," kata Adit.


''Kalian memang lah lah, jadi begini ya punya anak kembar, untung anak ayah semuanya mirip dengan ayah," ucap Justin.


Dika berjalan mendekati mereka berdua, ia masih sangat kesal dengan Adit yang sembarangan menarik handuknya, anunya kecil karena habis digunakan.


"Adit..."


"Apa?"


"Stop jangan bertengkar kalian di depan ayah, mau ayah hukum."


"Ampun." Mereka berdua langsung diam seketika, memang kalau Justin sudah marah tidak ada yang berani bersuara.


"Oke karena kalian sudah ada di sini, ada yang ingin ayah katakan pada kalian berdua, minggu depan kita pindah rumah yang lebih besar."


"Yes.." Adit dan Dika benar-benar sangat senang.


"Kalian senang? tidak ada penolakan, ayah pikir kalian akan menolak karena kalian sudah dari kecil tinggal di rumah ini."


"Kau sedih," tanya Dika.


"Tidak ah, aku malah bosan di rumah ini mana kolam renang sudah tidak enak, taman rusak karena pesta," jawab Adit.


"Nah itu aku juga, aku sudah bosan di rumah ini yah, aku ingin suasana baru yang mantap," ucap Dika.


"Ya sudah satu orang 100 M, jadi ayah tidak perlu mengeluarkan banyak uang"


"Eh tidak bisa, kami berdua miskin," ucap Dika.


"Hahaha Dika benar yah, kami berdua miskin," kata Adit.


"Ya ya ya, kalian berdua memang miskin," ucap Justin yang mengakui hal itu, bagaimana tidak miskin orang bekerja saja jarang, hanya Dika ya bekerja tetapi itu pun jarang Adit sendiri hanya mengandalkan uang jatah harian, mingguan dan bulan dari sang ayah dan sang kakek yang tidak kalah kaya rayanya dengan mereka.


"Dimana rumah baru kita yah, kapan ayah bangun nya," tanya Dika.


"Di kompleks atas, satu komplek dengan rumah nya Elena."


"Ah ya aku tau, rumah di sana memang mewah semua, kata Elena harga rumah nya saja lebih dari 500," kata Dika.


"Tapi ayah belum bertemu dengan pemilik komplek rumah itu, semoga saja bisa nego lah."


"Jangan buat malu Ayah, masa beli rumah saja menego," kata Dika.


"Kau Adit, tidak membantu tetapi banyak tingkah.Iya ayah, nanti aku akan membantu ayah dengan bertanya dengan ayah mertuaku," kata Dika.


"Nah begitu dong, itu namanya baru anak ayah, tetapi tidak nanti sekarang tanyakan," ucap Justin.


Dika mengambil handphonenya dari kantong dan langsung menghubungi sang ayah mertua, Ayah mertuanya sangat kaya raya mana tahu bisa membantunya untuk meringankan harga rumah yang akan dibeli oleh keluarganya.


"Halo Dika, Iya ada apa."


"Ayah aku boleh minta tolong tidak," tanya Dika.


Rico mengerut dahinya, tumben sekali Dika meminta tolong padanya, karena selama ini memang Dika tidak pernah meminta tidak tolong kepadanya.


"Kok ayah diam, tidak boleh ya," tanya Dika.


"Hahaha kau ada-ada saja, sejak kapan kau tidak boleh minta tolong pada ayah, Ayo katakan apa yang bisa ayah bantu?"


"Hehehe Ayah memang yang terbaik, aku dan keluargaku ingin pindah rumah ke komplek perumahan ayah. Nah apakah Ayah tau pemilik Kompleks itu," tanya Dika.


"Oh kalian ingin pindah ke sini, ya sudah pindah saja pilih rumah yang kalian inginkan," kata Rico dengan enteng nya seperti tidak ada beban.


"Maksud ayah bagaimana, kami saja belum tahu pemilik Kompleks perumahan itu," ucap Dika.


"Kalau Ayah pemiliknya kau percaya, dari tanah sampai semua bangunan yang ada di Kompleks ini sebelum dibeli oleh mereka Ayah yang punya, ya sekarang ada sekitar 20 rumah yang kosong pilihlah salah satunya," kata Rico.


"Lah jadi ayah yang punya, aku boleh minta satu," tanya Dika yang cukup terkejut mendengar nya, bahkan Justin dan Adit juga terkejut, apalagi Dika langsung memintanya satu seperti meminta sebuah permen.


"Ambil, kalau mau melihatnya langsung bertemu dengan ayah saja di rumah, kalau lewat manajer ayah akan diproses lebih lama," jawab Rico.


"Siapa yah, terima kasih ayah yang terbaik," ucap Dika.


Dika tersenyum lebar mendapatkan rumah gratis dari sang ayah. Memang sangat menyenangkan memiliki ayah mertua yang benar-benar rich.


"Kau gila Dika," ucap Adit.


"Kenapa aku gila, Kau yang gila Adit," kata Dika.


"Kau mau minta rumah seperti meminta permen," ucap Adit.


Dika hanya tertawa, memang apa yang Adit katakan itu benar, ia meminta rumah seperti meminta permen seribuan.


"Hahaha kenapa emangnya, dia memberikannya padaku dia kan sayang padaku," ucap Dika.


"Bagus Dika uang Ayah tidak jadi berkurang karena mu. Beruntung Kau menikah dengan Elena," ujar Justin yang malah sangat senang sekali.


"Sial.. Kenapa kau mendapatkan ayah mertua yang sangat Royal seperti ini."


"Itu karena kebaikan dan kesabaran ku Adit, sudah kau syukuri saja apa yang kau dapatkan sekarang" kata Dika.


Adit cukup iri dengan Dika.


"Adit Jangan kau anggap remeh Akbar, ya memang dia tidak sekaya kita dan ayahnya Elena tetapi kau juga bisa memanfaatkannya dengan baik, bukan meminta-minta ya. Dia memiliki usaha kapal pesiar yang cukup sukses, jika ingin liburan menggunakan kapal pesiar bisa gratis."


"Oh begitu ya yah, aku sih tidak dekat dengan ayah mertuaku sendiri, kami juga jarang bertemu, berbeda dengan Dika yang sangat lengket dengan ayah mertuanya," kata Adit.


"Hahaha ya iya dong, kau lihat hasilnya sekarang, mungkin apa saja yang aku inginkan bisa Ayahku Mertuaku wujudkan."


"Nah kau contoh itu Dika sekarang kau dekati Ayah mertuamu agar kau bisa seperti Dika, Jangan mau anaknya saja orang tuanya tidak kau dekati dan kau perhatikan," ujar Justin.


"Hehehe iya iya aku akan mulai mendekatinya," ucap Adit.


Setelah membahas tentang perpindahan rumah, mereka kembali masuk ke dalam kamar masing-masing, Justin juga ingin membahas hal ini dengan sang istri, Intan sudah tau mereka akan pindah rumah, tetapi Intan belum tau ke mana mereka akan pindah. Justin belum memberitahu istrinya, sekarang ia sudah tau akan pindah ke mana dan sudah waktunya untuk memberitahu kan hal ini dengan istrinya.


"Apa!! dekat dengan mertuanya Dika, kamu tidak merepotkan mereka kan," tanya Intan.


"Hahaha ya tidak dong sayang, Mana mungkin aku merepotkan mereka, hanya saja anakmu yang merepotkan mereka, kamu tahu sendiri kan bagaimana Dika dengan ayah mertuanya. Dia sangat dekat sekali, dan kebetulan rumah yang aku inginkan berada di sana, dan kebetulan lagi ternyata pemilik rumah itu ayah mertuanya Dika. Mungkin karena Rico terlalu sayang pada Dika ia memberikan rumah itu gratis untuk kita, karena Dika yang memintanya."


"Anak itu memang pintar mengambil hati seseorang, Dia sangat disayangi ayah mertuanya," kata Intan.


"Sama sepertiku aku juga disayangi oleh ayah mertuaku," ucap Justin tidak tau malu, padahal dirinya dengan ayah mertua tidak akur sama sekali, hubungan mereka memang sangat jelek sekali.


"Coba kamu katakan sekali lagi, disayangi oleh ayah mertuamu. Emangnya kamu dekat dengan ayah mertua mu, kamu saja tidak tahu sekarang dia berada di mana."


"Hahaha kamu benar, kamu sendiri tahu keberadaan ayahmu," kata Justin.


"Tidak juga, semenjak Ia mendapatkan uang yang banyak itu dia sudah entah ke mana," ucap Intan yang memang sudah tidak mau tau dengan orang tuanya.


"Tapi sayang kata Dika, ia sempat bertemu dengan kakek neneknya beberapa kali. Dan mereka menganggap Dika sebagai cucu kalau Adit sendiri sih tidak mau bertemu dengan mereka setelah mendengar semua cerita dariku."


Dika memang berbeda dengan Adit, Dika memiliki sudut pandang tersendiri untuk menilai seseorang. Memang hubungan mamah dan kakek nenek nya tidak baik, tetapi apakah hubungan mereka juga ikut tidak baik, apalagi sang mamah tidak pernah memintanya untuk membenci neneknya, kalau Adit sendiri musuh keluarga nya musuh nya juga.

__ADS_1


__ADS_2