Dipaksa Menikah Season 2

Dipaksa Menikah Season 2
Sadar


__ADS_3

Hari ini Serena memutuskan untuk pulang ke rumah sejenak, ia ingin mengambil beberapa barang keperluan yang ada di rumah. Karena ia tidak ingin Adit di tinggal sendiri, ia meminta ayah mertuanya untuk menemani Adit. Agar jika Adit tiba-tiba bangun ada orang yang ada di sampingnya.


"Kamu pulang dengan siapa Serena," tanya Justin.


"Dengan supir, aku sudah memintanya agar menjemput ku," jawab Serena.


"Oh ya sudah, Hati-hati ya, kalau kamu ingin istirahat di rumah juga tidak papa, ayah yang akan mengunggu Adit."


"Tidak yah, aku hanya sebentar saja kok," ucap Serena.


Karena supir sudah menunggu didepan, ia pun pergi meninggalkan ruangan itu.


Justin mengusap wajah Adit, menurut dokter perkembangan Adit lebih baik dari pada Dika. Kalau terus begini bisa di jamin tidaknya lama lagi Adit pasti akan segera bangun. Permasalahan Adit dan Dika sebenarnya sama yaitu benturan keras di kepala mereka. Namun kondisi lebih buruk di alami oleh Dika karena ia mengalami luka parah di anggota tubuh lainnya, mungkin karena posisinya Dika yang menyetir yang membuatnya lebih parah dari yang lainnya.


"Kapan kamu sadar sayang, setidaknya diantara kalian berdua ada yang sadar," ucap Justin.


Sambil menunggu Adit, Justin menghubungi orang orang sekitar untuk mencari informasi dokter yang belum pernah mereka panggil, selagi kedua anaknya belum sadar, Justin akan terus mencari dokter yang bisa menyembuhkan kedua anaknya.


"Sore tuan Justin," ucap Dokter yang akan memeriksa perkembangan Adit.


"Sore, mau di periksa ya," tanya Justin.


"Iya tuan.."


"Ya sudah saya keluar, saya ingin ke ruangan anak saya yang satunya," ucap Justin.


"Silahkan tuan..." Memeng saat sedang pemeriksaan tidak boleh orang lain ada di dalam ruangan itu, jadi Justin memutuskan untuk ke ruangan Dika saja.


"Sayang." Justin mendekati Intan.


"Iya, kamu datang sejak kapan," tanya Intan.


"Sejak tadi, bagaimana dengan Dika, tadi Adit baru diperiksa."


"Dika belum ada perubahan sama sekali sayang, kata dokter mustahil dalam waktu dekat dia akan sadar."


Justin benar-benar terpukul mendengar hal itu, ia ingin sekali Dika dan Adit segera sadar dari tidur panjangnya. Tetapi di depan Intan ia tidak mungkin menunjukan wajah sedihnya, ia harus tetap kuat untuk kebaikan semuanya.


"Adit sendiri ada kemungkinan bangun kan," tanya Intan.


"Dua hari sebelumnya kata dokter Kondisi Adit sudah lebih baik, ya ada kemungkinan untuk bangun, sekarang ini Adit sedang di periksa kembali," jawab Justin.


"Syukurlah, setidaknya salah satu dari mereka ada yang bangun. Aku yakin kalau Adit bangun ia bisa membantu Dika untuk melewati masa sulit ini, ikatan saudara kembar sangat kuat sayang," ucap Intan.


"Semoga saja." Justin mengecup dahi sang istri.


Setelah cukup lama berada di sana, Justin kembali ke ruangan Adit, ia yakin dokter sudah selesai memeriksa Adit. Saat membuka pintu ruangan itu betapa terkejutnya Justin melihat Adit yang sudah tidak ada di atas tempat tidurnya.


"Adit," ucap Justin.


Justin langsung mencari ke sana sini, karena memang tidak ada di dalam ruangan itu, Justin memutuskan keluar dari dalam sana untuk bertanya pada dokter ataupun suster yang ada.


"Dok dok, anak saya hilang," ucap Adit.

__ADS_1


"Hilang?"


"Iya dok, namanya Adit, ruang ICU nomor 12."


Segera dokter mengkonfirmasi pihak terkait, dan ternyata Adit bukan hilang tetapi di pindahkan ke ruang rawat inap.


"Maaf tuan, maaf telah membuat anda khawatir,, Pasien atas nama Adit ruang ICU nomor 13 sudah di pindahkan ke ruang rawat inap," ucap dokter.


"Ha!! itu berarti," tanya Justin.


"Kalau sudah di pindah berarti kondisinya sudah jauh lebih baik," jawab Dokter.


"Syukurlah.." Justin merasa lega seketika, ia sangat senang akhirnya Adit dapat pindah juga dari ruangan itu.


Justin pun bertemu dengan dokter yang menangani Adit, ia ingin tau bagaimana kondisi Adit sekarang ini.


"Dia sudah melewati masa sulitnya, tidak lama lagi pasti dia akan bangun," ucap Dokter.


"Syukurlah, memang semuanya perlu waktu dan kesabaran," kata Justin.


"Benar tuan, anda jangan pernah menyerah. Semuanya pasti bisa seperti semula."


"Terimakasih dok, saya sangat puas dengan kinerja anda."


Serena sudah kembali ke rumah sakit, ia kebingungan melihat ruangan Adit yang sudah tidak ada orang termasuk Adit sendiri. Segera Serena menghubungi ayah mertuanya, ia takut ada terjadi hal yang tidak diinginkan pada Adit.


"Iya Serena, suaminya sudah pindah ke ruang rawat inap, nah kamu bisa bawa barang barang kamu ke sana, ruangan nomor 17 satu lantai ke atas dari lantai sebelumnya," ucap Justin.


Justin sudah tiba di sana lebih dahulu dari Serena, ia melihat Adit sudah tidak memakai alat alat pada tubuh nya seperti di ruangan sebelumnya, ia hanya menggunakan infus saja di bagian tangannya. Hal itu benar-benar membuat Justin sangat senang sekali.


"Sayang kamu sudah hampir sembuh, ayo bangun," ucap Justin.


Justin memeriksa bekas operasi di kepala Adit, ia ingin tau apakah meninggalkan bekas yang berarti atau tidak dan ternyata cukup berbekas, tetapi akan tertutup rambut pada saat rambut Adit kembali lebat seperti sebelumnya.


Tangan Adit juga sudah tidak ada luka lagi, hanya saja tangannya masih tidak tau apakah bisa di gerakan tidak bebas atau tidak, karena sebelumnya memang tangan Adit patah. Menurut Dokter kemungkinan besar bisa kembali seperti semula, tetapi memang beberapa bekas luka pasca kecelakaan akan lama untuk kembali seperti semula.


"Ayah bagaimana dengannya," tanya Serena.


"Sudah lebih baik, sekarang dia sudah tidak perlu menggunakan alat alat lagi, dia akan segera sadar," jawab Justin.


"Syukurlah.." Serena benar-benar sangat senang sekali, ia sudah tidak sabar menunggu Adit sadari dari tidur panjangnya.


"Sayang, terimakasih sudah bertahan, aku sangat mencintai mu," ucap Serena sambil mencium dahi Adit.


JUstin memberikan waktu mereka berdua bersama, Adit sudah lebih baik jadi ia tidak terlalu khawatir lagi, sekarang ia sudah bisa fokus dengan Dika yang memang belum menunjukan perubahan sedikitpun.


Tidak lupa Justin memberitahu kabar bai ini pada keluarga besarnya, tetapi ia melarang mereka berkunjung ke rumah sakit, ia takut jika banyak orang yang datang akan mempengaruhi keadaan Adit. Lebih baik mereka datang saat Adit sudah benar benar sadar dari tidur panjangnya.


Malam harinya, saat Serena sedang berada di dalam kamar mandi, Adit membuka matanya secara perlahan, ia mengedipkan beberapa kali mata nya untuk menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Setelah di rasa nyaman Adit membuka matanya dengan lebar, kepalanya terasa sangat pusing, ia juga merasa sangat haus sekali.


''Sayang," ucap Adit dengan suara seraknya.


''Sayang..." Serena langsung berlari mendekati Adit saat melihat Adit sudah membuka kedua matanya.

__ADS_1


"Air..." Adit benar benar sangat kehausan.


Segera Serena memberikan Adit air mineral, setelah itu ia mengusap wajah Adit yang sedikit terkena air.


"Sayang kamu benar benar sudah bangun..."


"Kenapa dengan ku," tanya Adit.


Adit masih tidak tau apa yang terjadi padanya, ia sama sekali tidak mengingatnya.


"Kamu koma sudah sebulan lebih sayang," ucap Serena.


"Apa!! Karena apa," tanya Adit.


"Kamu tidak ingat kamu kenapa, apa yang kamu rasakan sekarang," tanya Serena.


"Aku tidak mengingat apa apa sayang, sekarang yang aku rasakan, kepala ku terasa pusing dan tubuh ku terasa sangat berat sekali."


"Kamu kecelakaan dengan Dika dan Elena, kamu sampai koma, mungkin itu efek karena kamu koma terlalu lama," ucap Serena.


Adit sulit mengerti apa yang Serena jelaskan, sebelum bangun tadi Adit bermimpi jika ia bersama sama dengan Dika dan semuanya baik baik saja, ia hanya terjatuh dan langsung terbangun dari tidur panjangnya.


Serena paham Adit memerlukan penjelasan secara perlahan agar ia mengerti, ia memanggil ayah dan mamah mertuanya ke ruangan ini. Ia memberitahu pada mereka jika Adit sudah bangun dari tidur panjangnya.


"Sayang.." Intan langsung memeluk Adit, ia tidak kuasa menahan tangisnya melihat Adit yang sudah sadar.


"Mamah kenapa menangis, aku baik baik saja mah, jangan menangis mah," ucap Adit.


"Terimakasih sudah bangun sayang, mamah menangis karena sangat senang dan bersyukur kamu sudah bangun," kata Intan.


Kerena masih kebingungan dengan semuanya, Justin menjelaskan semuanya dengan perlahan agar Adit paham.


Dan pada akhirnya Adit mengerti apa yang sedang terjadi, ia juga mengingat saat saat terakhir saat ia masih dalam kondisi sadar.


''Waktu itu aku tenga tertidur, tiba tiba mobil bergerak ke sembarang arah dan aku mendengar beberapa kali teriakan Dika. Aku ingat setelah teriakan itu mobil terasa terjun bebas dan berguling guling tidak tentu arah dan berhenti setelah benturan besar, benturan itu membuat ku terlempar ke depan, anggota tubuh ku sangat sakit sekali, kepala ku pusing aku tidak bisa melihat dengan jelas, tangan ku tidak bisa bergerak, aku berusaha keluar dari dalam mobil tetapi aku terjatuh ke bawah dan aku tidak mengingat apa apa lagi,'' jelas Adit.


Justin dan yang lainnya tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang mereka semua rasakan waktu itu. Intan sampai memeluk Adit dengan erat saat mendengar semua cerita Adit.


"Dika.. Aku mendengar suara Dika memanggil nama ku, ya aku ingat," ucap Adit.


''Dimana Dika sekarang? dia baik baik saja kan," tanya Adit.


"Iya dia baik baik saja, kau jangan khawatir, hanya saja kalian berdua belum bisa bertemu," jawab Justin berbohong, ia sengaja mengatakan hal itu pada Adit agar Adit tidak memikirkan Dika, yang terpenting Adit benar benar pulih dulu, setelah sudah pulih Justin akan memberitahu semuanya pada Adit.


"Maafkan aku, aku membuat kalian semua khawatir, aku tidur terlalu lama," ucap Adit.


''Tidak sayang, jangan minta maaf," kata Intan.


Mata Adit tertuju pada perut Serena yang sudah membuncit walaupun tidak terlalu besar.


"Sayang kamu..."


"Iya aku hamil," ucap Serena.

__ADS_1


__ADS_2