
Bulan kedua sejak kepergian Dika dan Justin. beberapa kali intan sudah mendapatkan kabar dari justin, ia mendapatkan kabar karena mengancam justin agar memberikan kabar setidaknya sekali seminggu, kalau tidak saat pulang nanti tak ada jatah selama satu bulan lama nya, sudah pasti Justin tidak mau karena ia sudah menahan 2 bulan lebih eh sekarang malah mau di tambah Sebulan lagi, mana mungkin ia kuat untuk tidak melakukannya dengan sang istri.
"Ayo Dika," ucap Justin.
"Iya yah, aku sudah tidak sabar untuk kembali pulang," jawab Dika.
Jangankan dika dirinya saja sudah sangat merindukanmu rumah, ia sudah sangat bosan jauh dari rumah, secepat mungkin ia ingin kembali masuk ke dalam rumah dengan membawa Dika yang sudah kembali seperti sedia kala.
"Sayang aku sangat senang hari ini dika kembali ke rumah."
"Kamu tahu dari mana apakah ayahmu sudah memberitahu mu, sudah sangat lama sih memang sudah waktunya dia untuk pulang," ucap Serena.
"Iya ayah memberitahuku tadi, ini pertama kalinya ayah menghubungi ku dan meminta ku untuk menunggu mereka berdua di rumah," kata Adit.
"Syukurlah aku juga ikut senang mendengarnya, akhirnya keluarga ini kembali bisa berkumpul dan dika bisa melanjutkan pernikahannya dengan elena."
"Iya sayang, bukan hanya aku keluarga besar juga sudah pada tau dan mereka akan datang besok untuk merayakan kembalinya dika."
"Wah sangat asik, akan ramai besok aku sudah tak sabar. Apakah anda yang hamil juga sepertiku. Kalau ada aku bisa sharing pada mereka," kata Serena.
"Ada beberapa termasuk cilla."
"Kalau cilla mah aku sudah sudah menghubunginya, kami juga sering saling bertukar pengalaman hamil anak pertama. Emang sangat seru untung saja dia menikah tidak jauh dariku. Jadi jarak kehamilan kami tidak terlalu jauh," kata Serena.
Intan mempersiapkan semuanya dengan sangat baik, sebagai macam makanan yang sangat justin dika suka iya masak secara khusus, ia mengerjakannya dari pagi sampai siang karena mereka berdua kan tiba siang menyerang sore. Intan sudah tidak sabar menunggu kedatangan anak dalam suaminya yang sudah sangat ia rindukan.
Adit berjalan mendekati sang ibu, kali ini ia berniat membantu ibunya membuat berbagai macam makanan, ia sudah sangat lama tidak membantu sang ibu untuk melakukan hal seperti ini, dulu saat dirinya masih kecil ia sering membantu sang ibu bersama dengan dika membuat masakan yang sangat lezat. Kali ini ia ingin membuat masakan itu lagi sebagai hadiah untuk Dika yang telah kembali.
"Emangnya kamu ingat resepnya sayang, mamah saja sudah lupa," tanya Intan.
__ADS_1
Intan sengaja memancing adit, ia penasaran apakah adit masi ingat atau tidak resep makanan itu, resep itu mudah diingat karena memang sangat simple sekali.
"Aku ingat dong mah, mana mungkin aku melupakannya dulu aku dengan dika sering membuatnya," ucap Adit.
"Oh masih ingat baguslah berarti kau mengingat apa yang mamah ajarkan padamu dulu, sekarang ayo kita buat."
"Intan dan adit benar-benar menghabiskan waktu di dapur dengan membuat berbagai macam makanan kesukaan Justin dan Dika. Walaupun memang menghabiskan banyak waktu tidak ada wajah lelah yang terlihat di wajah mereka berdua.
"Akhirnya siap juga." Adit menghirup nafas panjang.
"Iya sayang Terima makasih telah membantu mamah. Oh yah dari tadi mamah tidak melihat istrimu di mana dia."
"Dia sedang istirahat mah benar-benar kelelahan karena ku," ucap Adit.
"Kamu memangnya, jangan terlalu ganas adit, ingat dia sedang mengandung anakmu dalam sampai anakmu terkena apa-apa."
"Iyah mah mama tenang saja," ucap Adit.
Jika dan justru telah sampai di bandara, mereka berdua kembali menggunakan mobilnya sudah menunggu mereka sejak tadi, goyangan mobil membuat dika sedikit trauma dengan kecelakaan yang menimpa dirinya, iya memejamkan matanya agar dirinya tidak terlalu takut.
"Tidak papa itu hal yang wajar."
"Aku sedikit takut yah, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, nafasku terasa sedikit sesak," ucap Dika.
"Sudah pejamkan saja matamu, semoga semakin lama kau semakin terbiasa, makanya waktu di sana ayah ajak naik mobil mau sekarang di sini seperti itu kan."
"Aku pikir tidak akan seperti ini, ternyata rasanya sangat tidak enak," ucap Adit.
"Oh iya yah jadi pernikahan ku tetap akan lanjut atau tidak."
__ADS_1
"Baru juga pulang sudah membahas pernikahan nanti saja banyak hal yang harus kulakukan di rumah," kata Justin.
Dika mengganggu kan kepalanya, memang iya terlalu cepat ia menanyakan tentang pernikahannya.
Perjalanan dari bandara menuju rumah, sekitar 30 menit saja. Sesampainya di rumah mereka berdua langsung turun dan berjalan masuk ke dalam, aroma masakan yang enak menusuk hidung mereka yang membuat mereka langsung lapar seketika.
"Aku sudah sangat lapar."
"Sabar sayang yang masak saja belum kelihatan kau sudah ingin makan saja," kata Justin.
"Hehehe iya yah di mana mereka yah," tanya Dika.
Dari kejauhan adit, intan dan serena jalan mendekati mereka berdua. Tatapan mereka benar-benar tajam ke arah mereka berdua, dan sudah pasti sambil berkaca-kaca, yang terlihat jelas berkaca-kaca adalah Adit.
Dengan cepat adit berlari mendekati dika dan langsung memeluk ke depan erat. Ia menangis seperti anak kecil di dalam pelukan itu, rasa rindu khawatir dan lain sebagainya melebur menjadi satu. Bukan hanya adit di kampung balas pelukan itu, ia merasakan hal yang sama yang seperti adit rasakan.
"Aku sangat merindukanmu kau sudah sembuh kan? jangan bilang kau belum sembuh, kalau kau belum sembuh aku akan membuatmu sembuh, entah apa yang adit katakan."
"Hey hey apa yang kau katakan, kau lihat sekarang aku sudah sembuh maafkan aku tidak ada memberikanmu kabar, kau pasti sangat merindukanku kan, kau pasti sangat mengkhawatirkan ku kan, aku juga merasakan apa yang kau rasakan. Di sana aku benar-benar fokus untuk sembuh, tidak ada handphone tidak ada apapun aku lakukan hanya berobat agar aku bisa kembali ke rumah dengan cepat, ya walaupun juga menghabiskan waktu yang sangat lama," ucap Dika.
"Sudah jangan katakan apa pun lagi, aku sangat bersyukur kau sudah ada di sini. Sekarang semuanya sudah kembali seperti sedia kala."
Pertama-tama sudah pasti intan memeluk sang suami, selain Dika ia juga sangat merindukan sang suami, selama mereka berdua menikah pada k tidak pernah berpisah selama ini. Ini pertama kalinya mereka melakukan hal ini, dana rasanya
Benar benar tidak enak.
"Aku sangat merindukanmu sayang sangat sangat sangat sangat sangat sangat merindukan mu." Justin memeluk Serena dengan erat.
Sudah tau begitu jarang memberiku kabar, kamu tahu mas kamu sangat menyebalkan sekali. Kamu tidak tahu aku di sini benda-benda khawatir denganmu dan Dika," ucap intan.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang pertama aku memang ingin memberikanmu kejutan, kedua memang aku tidak bisa bermain handphone, aku benar-benar fokus dengan dika, karena sesampainya di sana kondisi dika langsung membaik, dan satu minggu dirawat ia sadar dari tidur panjang nya. Dan kamu tahu dia mengalami gegar otak ringan, yang artinya dika melupakan orang-orang di sekitarnya, walaupun hanya sesaat aku memiliki tugas untuk membuatnya mengingat semuanya, karena itulah aku tidak bisa bermain handphone untuk memberikan kamu kabar."
Intan sudah menduga jika memang ada problem di sana, beruntung semuanya dapat diselesaikan sebelum mereka kembali ke sini.