
"Ada apa," tanya Dika.
"Tidak ada." Elena memandang ke arah lain agar Dika tida melihat wajahnya yang kembali memerah, rasanya tidak enak jika ia terus salah tingkah dengan perlakuan Dika pada nya.
Setelah cocok dan meminta memperbaiki beberapa kekurangan, Dika memutuskan langsung membayar semuanya, ia tidak ingin menunda-nunda lagi, lebih baik di bayar di awal agar tidak menjadi beban pikirannya.
"Mahal sekali, mas Dika mengeluarkan biaya yang tidak sedikit," batin Elena.
"Elena kamu kok jadi diam setelah dari sana, kamu tidak papa kan," tanya Dika.
"Mas biaya sewanya mahal sekali, kami tidak kehabisan tabungan? belum lagi persiapan lainnya, aku bisa meminta ayah ku untuk membantu mu mas."
"Ha? untuk apa kamu memikirkan biaya pernikahan kita, semuanya menjadi tanggungjawab ku, ya walaupun Uangnya juga dari ayahku, tapi kamu tenang saja, harta keluarga ku tidak akan berkurang. Memang biaya sewanya mahal, ya sebanding dengan tempat dan fasilitas yang luar biasa. Sayang ini momen seumur hidup kita, jadi tidak masalah jika mengeluarkan lebih banyak uang," ucap Dika.
Walaupun sudah mendengar penjelasan Dika, tetap saja Elena merasa tidak enak. Ia ingin sekali membantu Dika tetapi pasti Dika tidak akan menerima bantuan darinya.
"Sudah jangan kamu pikirkan." Dika mengecup dahi Elena untuk membuat Elena tenang, memang tidak ada yang harus dipikirkan.
Di rumah Adit dengan Serena masih tertidur dengan lelap karena bergadang semalaman, mereka berdua terlihat kompak tanpa menggunakan apa apa, semua ini keinginan Serena sendiri, ia benar benar berubah tidak seperti Serena sebelumnya.
Serena terbangun lebih dulu dari Adit, ia tersenyum puas karena masih memeluk Adit sampai pagi hari, aroma tubuh Adit membuat Serena tergila gila.
"Sayang bangun," ucap Serena.
"Hmmmm." Adit hanya bergumam tetapi tidak membuka kedua matanya.
"Sayang kamu masih tidur, ayo bangun sayang," ucap Serena.
''Iya aku sudah bangun, apa yang kamu mau ayo katakan pada ku," tanya Adit.
"Mau makan bakso," jawab Serena.
"Ya sudah pesan saja online kenapa harus ribet," kata Adit.
"Sayang, aku mau makan di luar dengan kamu," ucap Serena.
"Malas mandi sayang, itu di bawah ku ada bakso dua," kata Adit.
"Oh jadi kamu mau aku makan itu, oke aku potong dan aku makan ya.."
__ADS_1
"Eh jangan dong sayang, kamu bagaimana sih, bisa habis kalau kamu makan," ucap Adit.
"Biar saja, biar kamu tidak bisa punya anak."
"Ya sudah ayo kita mandi setelah itu kita keluar untuk makan bakso," ucap Adit.
"Nah begitu dong sayang, kan tidak perlu ribut dulu," kata Serena.
Mereka berdua pun mulai bersiap siap. Adit tidak tau apa yang membuat Serena seperti ini, yang jelas ia sangat lelah dengan sikap Serena seperti ini, tetapi mau bagaimana lagi namanya juga istri, ayahnya sudah berpesan harus menuruti apa saja yang istrinya inginkan.
Setelah bersiap siap mereka berdua pun pergi meninggalkan rumah, keduanya langsung menuju tukang bakso pinggir jalan sesuai dengan keinginan Serena, ia tidak mau makan bakso elit, ia ingin menikmati betapa segar nya makan bakso di pinggir jalan.
"Dua ya bang, tidak terlalu pedas," ucap Adit.
"Sayang bakso yang besar mau dua," kata Serena.
"Satu saja belum tentu kamu habis."
"Ya aku mau dua," ucap Serena.
"Ya sudah iya dua, dua bang," kata Adit.
"Sayang pelan," ucap Adit.
"Panas.."
"Hahaha ya makannya pelan," ucap Adit.
"Hehehe enak sayang.."
Yang awalnya saling tidak suka, sekarang sudah berubah menjadi rasa saling suka dan perhatian, hal ini membuktikan jika cinta memang datang dengan seiring berjalannya waktu dengan syarat keduanya bisa saling membuka hati.
Walaupun rasanya sangat enak Serena hanya memakan beberapa bakso saja, dua bakso besar sama sekali tidak ia sentuh, ia merasa sangat kenyang sekali, padahal awalnya Serena sangat ingin makan bakso dengan sangat banyak, sekarang malah kebalikan nya, ia mual melihat bakso yang masih banyak di depan matanya.
"Sayang habiskan ini," ucap Serena sambil memindahkan bakso dari mangkuknya ke mangkuk milik Adit.
Adit mengerutkan dahinya, ia saja merasa sudah kami sangat kenyang, eh malah si wanita di samping memindahkan beberapa bakso besar ke dalam mangkuk.
"Habiskan aku tidak mau ada yang tersisa," ucap Serena.
__ADS_1
"Tidak ah aku sudah sangat kenyang," tolak Adit.
"Hey kamu tidak boleh buang buang makanan, tidak baik tau, kata mau cepat punya anak, kamu harus bersikap lebih baik agar aku segera hamil."
"Apa hubungannya," tanya Adit.
"Sudah cepat habiskan, atau aku tidak mau pulang.
"Aku sudah kenyang, bukannya baik malah bisa muntah aku, dari pada aku habiskan sekarang lebih baik di bungkus, bisa di makan untuk nanti sore," ucap Adit.
"Nah itu kamu benar, ya sudah bungkus lah. Aku menunggu kamu di dalam mobil," kata Serena sambil berkala meninggalkan Adit.
Adit hanya bisa menggelengkan kepalanya, gaya tomboi Serena sudah tidak ada lagi, sekarang Serena sudah seperti wanita pada umumnya, wanita yang manja pada seorang pria.
Setelah membungkus dan membayar semuanya, Adit pun masuk ke dalam mobil, ia ingin ke sebuah toko untuk membeli sesuatu, nah sebelum itu Adit ingin bertanya pada Serena, apa yang ingin Serena inginkan sebelum mereka kembali jalan.
"Aku ingin buah yang sudah di potong, kita ke mall," ucap Serena.
"Aku belum memberikan mu pertanyaan, sekalian saja lah, aku juga mau cari lingerie untuk mu" kata Adit.
"Untuk apa itu," tanya Serena.
"Pakaian haram, kamu akan sangat seksi jika memakai pakaian seperti itu."
"Hmmm aku mau memakainya," ucap Serena dengan semangat.
Hari ini mereka berdua menghabiskan waktu di luar rumah tidak seperti biasanya yang hanya di dalam kamar saja.
Justin dan Intan sudah berada di rumah sakit untuk melepaskan KB yang Intan pakai, nah sebelumnya mereka sudah konsultasi pada dokter yang menangani kehamilan Intan dulu dan dokter tidak masalah jika Intan hamil kembali, hal itu membuat Justin tersenyum lebar.
"Sakit," ucap Intan.
"Sudah kok, selamat mencetak anak tuan Justin."
"Akhirnya bisa punya anak lagi," ucap Justin yang bernafas lega.
Setelah melepaskan KB yang Intan pakai, Intan diberikan suplemen untuk menunjang keberhasilan mereka membuat anak, bukan hanya Intan Justin pun diberikan agar benih yang Justin keluarkan lebih berkualitas.
"Makan makanan yang bergizi dan sehat ya tuan Justin, seperti sebelumnya, kalau dapat anak kembar lagi kan bagus tuan."
__ADS_1
"Tidak, kali ini cukup satu saja," ucap Justin. Ia seperti trauma mempunyai dua anak sekaligus