
"Wah keren ya, aku liat mereka berdua benar-benar pasangan yang penuh dengan cinta, aku tidak menyangka kalau mereka tidak saling mencintai saat awal pernikahan," kata Elena.
"Ayah ku dulu di minta untuk menikah oleh neneknya, nah dia bingung harus menikah dengan siapa karena dia tidak dekat dengan siapa siapa. Kata ayah, dia bertemu dengan mamah tidak sengaja karena mamah menabrak mobil ayah, ntah apa yang terjadi ayah memaksa mamah untuk menikah dengannya, dan menikah sampai jadi aku dan Adit." Jelas Dika.
Hanya itu yang Dika ketahui, memang tidak semua cerita orang tuanya dulu Dika ketahui, ada beberapa hal yang Intan dan Justin rahasiakan pada Dika dan Adit.
"Dan sekarang anak anaknya juga akan seperti itu," kata Elena.
"Nah benar, ayah berani menjodohkan aku dengan kamu dan Adit dengan istrinya karena ayah sudah. pernah melalui ini semua, kamu lihat sekarang Adit yang sangat lengket dengan istrinya," ucap Dika.
"Ayah sangat tau apa yang anaknya butuhkan, sepertinya ia sudah sangat memahami karakter dari kedua anaknya," kata Elena.
"Kamu benar, ya sudah ini sudah sangat malam, kita harus istirahat karena besok kita harus ke Vila itu," ucap Dika.
Malam ini mereka berdua kembali tidur bersama dan sepetinya akan selalu seperti ini. Dika tidak akan melakukan hal hal di luar batas, ia tidak mau mengecewakan ayahnya dan juga ayah dari Elena.
Keesokan harinya, hari ini seperti yang sudah di rencanakan mereka berdua akan pergi ke Vila yang akan menjadi lokasi pernikahan merek berdua, sebelum berangkat keduanya menyempatkan sarapan roti di dapur agar tidak kelaparan, sudah tidak ada waktu jika mereka berdua mampir ke restoran.
"Kamu pakai apa," tanya Elena.
"Selai kacang saja, aku tidak suka rasa rasa lain," jawab Dika.
Saat sedang makan berdua, pasangan lain yang ada di Vila ini bergabung, siapa lagi jika bukan Cilla dan juga suaminya Zyan, mereka berdua juga sudah rapi.
"Pagi," sapa Zyan dan Cilla.
"Pagi," balas Elena dan Dika.
"Kalian mau kemana," tanya Dika.
"Pantai," jawab Cilla.
"Sudah dapat tempatnya Dik," tanya Zyan.
"Sudah, ini kami mau ke sana, mau lihat langsung tempatnya bagaimana," jawab Dika.
"Kapan kalian akan menikah," tanya Cilla.
"Dua minggu lagi, semuanya sudah siap hanya tinggal tempat saja, mungkin kami berdua akan pulang lebih dulu dari kelian, ada beberapa persiapan kecil yang harus segera di selesaikan," jawab Dika.
"Ya sudah kalian berdua hat hati, kami juga sangat lama di sini, mungkin sebulanan lah. Cilla sangat betah di sini," kata Zyan.
__ADS_1
"Oh begitu, bulan madu terus dong," ujar Dika.
"Hahaha ya begitulah."
"Ayo mas, sudah siang nanti kita terlambat," kata Cilla.
"Ya sudah kami pergi dulu, kalian hati hati," ucap Zyan.
"Iya kalian juga hati hati."
"Mari Elena," ucap Cilla.
''Iya.." Elena tersenyum pada Cilla.
Sekarang Dika sudah biasa melihat kedekatan Zyan dan juga Cilla, sepertinya perasaanya pada Cilla perlahan lahan mulai menghilang, ini yang sangat Dika inginkan, kerena ia ingin segera membuka hatinya untuk Elena.
Setelah selesai sarapan mereka berdua juga pergi meninggalkan Vila.
"Mas kamu janjian jam berapa sih," tanya Elena.
"Jam 10."
"Hahaha maaf maaf, aku tidak sengaja tau, aku pikir tadi aku bangun masih jam 7 jadi nya aku santai santai, eh ternyata malah sudah jam 9."
"Lain kali jangan seperti ini dong, kita kan tidak bisa lebih santai," kata Elena.
"Iya Ely, maafkan aku.." Dika mengusap rambut Elena.
Elena tersenyum malu rambutnya di usap oleh Dika, walaupun ini bukan yang pertama kalinya tetap saja rasa nya sangat spesial.
"Tu pipih sudah seperti udang rebus, merah amat."
''Tidak ah.." Elena langsung memalingkan wajahnya.
Dika tersenyum tipis melihat Elena yang salah tingkah, bukannya ia sombong ia memang sangat mudah membuat wanita salah tingkah.
Sesampainya di Vila meraka berdua langsung bertemu dengan pemilik Vila, Sebelum mereka berdua berkeliling Vila, Dika meminta pemilik Vila menjelaskan tentang Vila ini, dengan begitu akan mempermudah dirinya saat berkeliling nanti, dan ia tidak mau ada yang masalah saat acara pernikahannya nanti.
"Oh ya sudah, semua jelas dan saya siap keliling dengan calon istri saya," ucap Dika.
''Silahkan tuan, ada bebas berkeliling kemana saja, semua pintu sudah terbuka."
__ADS_1
Dika berkeliling Vila hanya dengan Elena, ia tidak mau pemilik Vila ikut, yang terpenting Dika sudah cukup jelas dengan Vila ini.
"Ke lantai atas dulu mas, kita cari kamar untuk kita," ucap Elena.
"Untuk malam pertama kita ya," tanya Dika.
''Menurut kamu," jawab Elena.
Dika hany tertawa mendengar jawaban dari Elena. Elena menjawab dengan salah tingkah, bagaimana ia tidak tertawa.
"Elena katanya yang di ujung kamar utama, view nya paling bagus," kata Dika.
"Ayo masuk, aku ingin tau," ucap Elena.
Di dalam kamar Elena dan Dika sama sama suka dengan kamar itu, kamar yang sangat luas dan ranjang yang sangat lebar, belum lagi perlengkapan yang benar benar sangat lengkap sekali, dan satu lagi pemandangannya memang tidak main main, sangat indah sekali.
''Bagaimana kamu suka," tanya Dika.
"Sangat suka sekali mas, aku mau lah kamar ini," jawab Elena.
"Oke kita ambil kamar yang ini, aku juga sangat suka sekali," ucap Dika.
Setelah melihat kamar, mereka berdua turun ke lantai bawah, tempat yang cukup penting setelah lokasi pernikahan.
Semuanya tidak ada masalah, Dika dan Elena sangat cocok dengan Vila ini, mungkin beberapa detail kecil yang bisa di ganti. Lokasi pernikahan juga sangat indah, pemandangan langsung ke pantai pasir hitam, hal yang paling Dika inginkan, tempatnya juga sangat luas masih lebih jika menampung 200 tamu undangan sekaligus.
"Paling yang kita undang 70 orang," kata Dika.
''Jangan begitu mas, aku yakin pasti lebih dari perkiraan kamu, malah bisa 3 kali lipat," ucap Elena,
''Kamu jangan undang banyak orang dong, aku saja hanya teman dekat dan keluarga besar saja."
"Mas keluarga besar kamu sangat banyak, belum keluarga besar ku," ucap Elena.
"Iya ya kamu benar, lebih baik mempersiapkan lebih dari pada nanti kurang dan bisa jadi kacau."
"Nah itu kamu tau mas, jangan sampai kurang pokonya," Kata Elena.
''Iya sayang, makasih ya, kamu yang terbaik," ucap Dika.
"Saa.. sayang." Elena terkejut Dika mengatakan kata sayang, ntah ini yang pertama atau bukan yang jelas rasanya sangat berbeda sekali, seperti ada sesuatu yang meledak di hati Elena.
__ADS_1