Dipaksa Menikah Season 2

Dipaksa Menikah Season 2
Rencana pernikahan


__ADS_3

Setelah membahas masalah itu acara pun dilanjutkan dengan makan malam dan ngobrol santai seperti biasanya, keluarga besar Dika datang semua untuk menyambut kepulangan di Dika Justin. Mereka semua sangat senang akhirnya keluarga ini kembali lengkap, Adit dan Dika sudah sembuh kecelakaan yang menimpa mereka beberapa bulan lalu.


Selain itu mereka juga menggelar doa bersama agar hal ini tidak terjadi lagi, Dika juga meminta maaf pada mereka semua karena telah membuat khawatir semua orang, karena memang kecelakaan yang menimpa mereka bertiga murni kesalahan Dika sendiri ia berjanji tidak akan terlanjur lagi agar tidak membahayakan nyawanya dan nyawa orang lain.


Karena tidak ingin larut dalam kesedihan, Adit mulai mengeluarkan kegilaannya Hal itu membuat mereka semua tertawa, mereka semua sudah tahu bagaimana sifat Adit yang memang tidak bisa diam dan lebih gila dari sang Abang. Dika membiarkan keluarga besarnya menikmati acara ini, yang membawa Elena ke kamarnya untuk memberikannya sedikit hadiah.


"Aku sangat mencintaimu Sayang, terima kasih mau menikah denganku."


Kata cinta mulai Terukir di mulut Dika, Elena senang mendengar kata itu, tetapi ia juga takut karena dika membawanya masuk kamar. Otaknya sudah ke mana-mana apalagi wajah Dika yang terlihat lebih mesum dari sebelumnya.


"Aku juga sangat mencintaimu mas, tapi kenapa kamu membawaku ke dalam kama,r kamu membuatku takut Mas, kita belum menikah Jangan melakukan hal yang aneh-aneh dong."


Dika yang mendengar itu hanya tertawa, ia memang tidak ada memiliki buruk pada Elena, Ia hanya ingin memberikan sesuatu pada Elena, sebuah cincin berlian yang ia beli di luar negeri senilai puluhan M. Sangat besar sekali nilainya, semua itu menghabiskan seluruh tabungan yang Dika miliki. Dika menghabiskan seluruh tabungannya karena ingin membuktikan Jika ia memang sangat mencintai Elena, ia rela menghabiskan semua uangnya demi Elena.


Elena tahu jika barang ini bukan barang yang murah, beberapa kali sang ayah pernah mengajaknya untuk melihat-lihat sebuah pameran berlian di luar negeri dan ia sempat melihat cincin yang sama seperti yang diberikan padanya, ia sedikit tidak enak jika Dika memberikan barang semewah ini padanya, Padahal mereka berdua Belum menikah.


"Sayang aku tahu harga cincin ini, cincin ini sangat mahal sekali, kamu yakin memberikannya padaku jika ini uang dari ayahmu jangan," kata Elena.


"Enak saja uang dari ayahku, uang yang aku gunakan uang ku sendiri, uang tabunganku dari bekerja dengan ayah, aku menghabiskan semuanya demi cincin ini, kamu tahu kenapa aku menghabiskan semuanya? Karena aku ingin membuktikan jika aku sangat mencintaimu, selain keluargaku saat aku berobat di luar negeri aku selalu memikirkan mu dan hal itulah yang membuatku yakin jika aku sangat mencintaimu."


Elena memeluk Dika dengan sangat erat, ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, ia pikir dika belum memiliki perasaan cinta padanya, ternyata perasaan cinta Dika lebih besar dari pada rasa cinta nya pada Dika. Elena merasa tidak sia-sia menunggu Dika begitu lama, apalagi beberapa bulan Dika sama sekali tidak ada kabar, sebagai wanita normal Elena sempat sangat takut, ternyata ketakutannya hanya sebuah ketakutan biasa saja.


Hubungan Dika dan Elena hampir masuk ke hubungan yang serius, hanya tinggal beberapa minggu lagi mereka akan menjadi sepasang suami istri, Dika Belum berani melakukan hal apapun pada Elena, Ia tidak akan mengecewakan kepercayaan semua orang pada nya.


Sementara itu Adit dan Serena sedang bersama pasangan Zyan dan Cilla, mereka membahas tentang kehamilan Serena dan Cilla, Ternyata apa yang Serena alami tidak sama dengan yang Cilla alami, karena Serena sendiri sama sekali tidak merasakan yang namanya ngidam atau memang dirinya yang tidak sadar. Berbeda dengan Cilla, Ia merasakan apa yang namanya ngidam, banyak hal yang membuatnya mengerti ternyata menjadi seorang ibu bukanlah hal yang mudah, karena ngidam yang cilla rasakan benar-benar sangat berat. Bukan hanya itu ia jadi memiliki kepribadian yang berbeda dari sebelumnya, beruntung sang suami dapat mengatasi hal ini dan tidak mempermasalahkan kepribadian istrinya yang sempat berubah-ubah.


"Oh jadi setiap kehamilan tuh memang tidak sama Ya kan."


"Iya memang tidak sama Kata siapa Sama, kau ada-ada saja Adit," kata Zyan.


"Bagaimana denganmu Zyan, Apakah jatah aman," tanya Adit.


"Tidak aman sama sekali, dari pertama kali kami tau Cilla hamil sampai sekarang aku sama sekali tidak mendapatkannya, dan sepertinya sampai istriku melahirkan Aku tidak akan mendapatkannya, jangankan jatah aku sama sekali sulit untuk mendekatinya Jika ia sedang memiliki mood yang baik, mood-nya bisa berubah-ubah setiap detiknya, kau bayangkan bila bagaimana rasanya jadi aku."


"Hahaha sudah pasti aku tidak akan membayangkannya, Untung saja istriku tidak seperti itu," ucap Adit.


"Nah keberuntungan kalau kau jadi aku Pasti kau sudah tidak kuat," kata Zyan.


Acara berlangsung sangat lama, sekitar sampai jam 02.00 pagi, tetapi tidak semuanya sampai jam 02.00 pagi beberapa orang memilih untuk Langsung istirahat atau pulang ke rumah, hanya beberapa orang saja yang kuat bergadang termasuk Dika dan Adit, apalagi dikasih sendiri masih mengalami yang namanya jet lag.


Dika mendapatkan panggilan dari Elena, Elena yakin jika Dika pasti belum tidur, hal itu membuatnya langsung menghubungi Dika agar Dika segera tidur. Iya tidak mau kesehatan calon suaminya terganggu karena begadang seperti ini.


"Halo Sayang ada apa, kamu belum tidur," tanya Dika.


"Aku tadi sudah tidur, tetapi aku memiliki firasat yang tidak baik pasti kamu belum tidur kan, sekarang kamu tidur jangan membuat kesehatanmu memburuk."


Dika mengurutkan dahinya bagaimana bisa Elena tahu jika dirinya belum tidur, Apa memang firasat orang yang dicintai begitu kuat, entahlah karena mendapat panggilan itu Dika langsung menuju ke kamarnya, ia tidak mau mencari masalah apapun pada Elena.


Walaupun sebenarnya ia belum mengantuk, yang terpenting dirinya sudah berada di dalam kamar.


"Sudah aku sudah di dalam kamar, sekarang kamu tidurlah," kata Adit.


"Iya kamu jangan lupa tidur juga, ingat 3 minggu lagi Sayang."


"Iya aku selalu mengingatnya kok mas selamat malam," ucap Dika.


"Malam" Elena mematikan sambungan telepon itu dan kembali tidur.


Begitu indahnya percintaan mereka berdua, ini baru tahap awal memang begitu indah. Jika sudah berumah tangga nanti mungkin berbeda.


Waktu cepat berlalu Minggu demi Minggu pun berlalu, hari pernikahan Dika dan Elena sudah semakin dekat, hari ini sehari sebelum pernikahan mereka berdua, keluarga besar sudah berada di villa tempat mereka akan menikah, Begitu juga dengan mereka berdua. Semua persiapan berjalan dengan sangat lancar, semuanya sudah 100% selesai, sekarang ini hanya tinggal menunggu waktunya saja.


Sudah tidak ada lagi masalah yang menimpa mereka berdua, Dika dan Elena sudah siap untuk menikah. Hari ini sehari sebelum mereka menikah, mereka berdua melakukan perawatan di sebuah klinik dan tak jauh dari villa, awalnya Dika tidak mau tetapi karena ayahnya memaksa mau bagaimana lagi akhirnya pun Dika mau untuk melakukan perawatan.


Adit hanya bisa menertawakan Dika karena sebelumnya Ia juga perawatan seperti yang Dika lakukan sekarang, dan Dika juga menertawakannya dan sekarang ia membalasnya. Karena kasihan dengan Dika Serena menarik Adit dan membawanya masuk ke dalam kamar.


"Sayang kenapa kamu menarik ku ke dalam kamar, aku kan sedang menertawakan Dika, dulu saat kita menikah dia juga menertawakan ku Sekarang gantian dong."


"Tidak boleh begitu, Kamu bagaimana sih, mereka kan akan menikah, kalau kamu udah begitu Dika jadi tidak bersemangat," kata Serena.


"Kamu mau membelanya, Ya sudahlah kalau begitu aku mau tidur saja."


Adit merebahkan dirinya ke atas ranjang, Ia sangat kesal dengan istrinya yang malah membela Dika. Melihat wajah Dika seperti itu Serena hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia sudah biasa dengan tingkah Adit yang semakin aneh saja.


Di klinik Dika dan Elena sedang menjalani perawatan, Dika sendiri hanya menjalani perawatan sederhana berbeda dengan Elena yang sangat lengkap paket pengantin. Keduanya sama-sama menikmati perawatan ini, termasuk Dika yang sebelumnya menolak dan pada akhirnya menikmati.


Setelah melakukan perawatan keduanya langsung dijemput untuk kembali ke Villa, tidak boleh kemana-mana karena besok mereka berdua akan menikah, takutnya jika kemana-mana terjadi hal tidak diinginkan seperti waktu itu.


"Sudah perawatannya," tanya Adit.


"Sudah dong, aku sangat menikmati nya, rasanya sangat enak aku malah ingin lagi."


"Enakan, dulu kau malah mengejekku sekarang kau menikmatinya," kata Adit. .


"Hahaha maafkan aku. Dulu aku memang tidak tau jika perawatan itu enak."


"Oh iya Dika, ada mantan yang datang," tanya Adit.


"Tidak ada, aku tidak memiliki mantan, Emang sepertimu yang memiliki banyak mantan, kau kan buaya," jawab Dika.


"Hahaha kau bisa saja, berarti memang tamu yang ke undang tidak banyak."


"Kalau dari list ku hanya sekitar 70 orang tetapi tidak tau dari keluarga nya Elena tambah berapa," ucap Dika.


"Aku harap kamu lebih banyak agar acara ini ramai,"


"Jangan bodoh tempat ini hanya cukup sekitar 200 orang, jika lebih dari 200 orang mau kalian sempit-sempitan," kata Dika.


"Kau memilih tempat seperti ini, seperti tidak ada tempat lain saja."


"Bagaimana di sini kau suka tidak? pemandangannya sangat indah, tempat yang sangat strategis dan sudah pasti sangat nyaman dipakai untuk liburan."


"Iya sih aku akui tempat ini sangat luar biasa, tapi untuk menggelar acara pernikahan tempat ini terlalu kecil," kata Adit.


"Ah itu hanya menurutmu, untukku ini sudah sangat besar, dan sangat cukup untuk acara pernikahanku."

__ADS_1


"Ya ya ya, memang kita sangat berbeda," kata Adit.


Dika meletakkan kepala nya di atas paha Adit, ia sudah sangat lama tidak seperti ini, bahkan hampir tidak pernah lagi setelah kecelakaan itu karena mereka berdua sibuk dengan urusan masing-masing.


"Adit sayang..."


"Eh maksud mu bagaimana ini, Adit sayang.."


"Hahaha emangnya kenapa, kau saudara kembar ku," ucap Dika.


"Kembar, emang kita kembar, kita saja sering bertengkar."


"Hahaha namanya juga hidup Adit, tidak enak jika tidak ada pertengkaran."


"Ada apa? sepertinya ada yang ingin kau katakan," tanya Adit.


"Malam pertama mu bagaimana?"


"Ah kau mau tanya itu, malam pertama ku ya enak lah, kau mau tau cara malam pertamanya?"


"Ya bagaimana caranya, akan bingung harus mulai dari mana, bagaimana cara mengajak nya," tanya Dika.


"Aku juga tidak tau Dika, Serena menyerahkan dirinya pada ku, karena ayah memberikan ku sebuah obat, nah kata ayah berikan pada kau istri ku, setelah dia minum langsung ingin ehem pada ku, sampai sekarang dia ingin terus dengan ku."


"Ayah, jadi kunci nya pada ayah." Dika bangkit dari atas paha Adit, ia ingin meminta obat yang ayahnya berikan pada Adit.


"Eh jangan." Adit menarik Dika.


"Ha kenapa jangan."


"Elena dan Serena itu berbeda, sudah kau pasti bisa melakukan nya tanpa obat. Dia sangat bucin pada mu, pasti kau pancing sedikit dia langsung memberikan pada mu."


"Benar juga ya, ya sudah lah, aku percaya diri dengan diri ku," ucap Dika.


Hari itu cepat berlalu, dari malam sudah berubah ke esok hari, hari pernikahan Dika dan Elena sudah tiba. Hari yang paling Dika dan Elena tunggu, semuanya sudah siap, hanya tinggal mereka berdua yang sedang bersiap-siap. Sore ini mereka berdua sudah memakai pakaian pengantin yang sangat mewah dan bagus. Walaupun pembuatannya hanya beberapa minggu sebelum acara, Dika memakai tuxedo berwarna putih dengan celana warna hitam dan Elena memakai gaun berwarna krem sesuai dengan keinginannya.


Keduanya tidak berada di dalam kamar yang sama, mereka akan dipertemukan saat acara akad nanti sekitar pukul 06.30 malam. Sekarang keduanya senang dipercantik dan dipertampan oleh mua pilihan keluarga Elena.


"Bagaimana Ayah aku sudah tampan belum," tanya Dika.


"Kau sudah sangat tampan Dika, sama seperti Adikmu dulu saat menikah dengan Serena," jawab Justin.


"Ayah aku ya aku, Adit ya Adit ya walaupun kami sama sama tampan."


"Hahaha iya iya, ayah mempunyai sesuatu untukmu, ayah berikan juga pada adik mu pada saat dia menikah, sebagai sebagai hadiah."


"Ah aku tahu itu apa. Aku mau, tolong berikan padaku yah," kata Dika.


"Oh jadi kau sudah tahu, Ya sudah ini langsung ke kantongin nanti malam kau pakai."


"Siap aku akan memakainya terima kasih yah."


Pukul 06.15 Dika sudah dibawa pergi oleh Justin ke tempat akad, di sana sudah banyak tamu undangan yang akan menyaksikan pernikahannya dengan Elena, seperti dugaan Dika tamu undangan cukup banyak Mungkin dua kali lipat dari yang ia inginkan, beruntung tempat yang disediakan masih sangat cukup untuk mereka bergerak dengan bebas.


"Sabar Woi, kau tidak sabar sekali," kata Adit.


"Adit kau bisa diam tidak, saat kau menikah aku tidak sibuk sepertimu."


"Hahaha Maafkan aku Maafkan aku, aku hanya terlalu bersemangat lihat mu menikah."


Dika hanya menggerakkan kepalanya, ia sudah biasa dengan sikap Adit yang seperti itu.


Tak lama Elena datang dengan gaun yang sangat cantik sekali, ia terlihat begitu cantik dan seksi. Dika saja sampai terdiam sejenak melihat kecantikan calon istrinya.


Elena berjalan mendekati Dika dengan di dampingi keluarga, mereka berdua sama sama saling menatap dan saling tersenyum, keduanya saling mengagumi.


Setelah keduanya sudah bersama sama, baru lah mereka berdua duduk bersama untuk melaksanakan akad nikah. Mereka berdua terlihat sama sama tegang, beruntung Adit dan Justin membantu Dika untuk tenang.


Tidak harus butuh waktu lama mereka berdua sudah resmi menjadi sepasang suami-istri, keduanya terlihat sangat bahagia dengan senyuman lebar di wajah mereka berdua, memang kalau pernikahan karena cinta terlihat sangat berbeda, ada bagusnya juga pernikahan mereka berdua di tunda sampai mereka berdua saling mencintai.


Ucapan selamat pun datang dari keluarga dan tamu undangan, seperti saat pernikahan Adit dan Serena. Mereka berdua harus melihat melayani tamu undangan, dari bersalaman sampai dengan berfoto bersama sama.


"Bagaimana rasanya Dika," tanya Adit.


"Sangat lelah sekali, beruntung aku tidak mengundang banyak tamu."


"Hahaha iya kau beruntung tidak mengundang banyak orang, paling sebelum jam 10 acara selesai."


"Memang ini yang aku harapkan," ucap Dika.Pukul 10 malam, acara pun sudah selesai, sekarang hanya tinggal acara after party yang di buat keluarga Dika sendiri. Kalau Dika memutuskan untuk langsung istirahat dengan sang istri.


"Akhirnya kita resmi juga sayang."


Dika langsung memeluk Elena dengan erat, ia sangat senang sudah menikah secara resmi dengan Elena, wanita yang paling ia cintai.


"Sayang mau langsung punya anak atau tidak," tanya Dika.


"Aku sih terserah mas, mau kita punya anak cepat atau lama aku tidak masalah."


"Aku ingin langsung ah, kamu mandi gih, ini malam pertama kita," ucap Elena.


"Hahaha iya ini malam pertama kita mas, kita mau langsung mas," tanya Elena.


"Iya dong sayang," jawab Dika.


"Mas kalau aku sudah tidak perawan bagaimana," tanya Elena.


"Emang nya kamu sudah pernah melakukan hal ini dengan orang lain?"


"Tidak pernah lah, dulu aku pernah jatuh, dan bisa jadi kata dokter selaput darah ku pecah, karena memang keluar darah dari sana," kata Elena.


"Kalau itu masih perawan dong sayang, itu hanya jatuh tidak melakukan hal itu dengan orang lain. Aku tidak masalah sayang, ini tetap malam pertama kita."


Sesuai permintaan sang suami, Elena langsung mandi, ia tidak masalah mandi tengah malam demi kenyamanan malam pertama mereka berdua. Selagi Elena membersihkan dirinya, Dika memilih untuk mempersiapkan dirinya, ia ingat kata kata Adit tadi, ia harus tenang agar sang istri tidak takut dengan malam pertamanya.


"Oke kau sudah kembali berotot, kau pasti bisa, ya setidaknya 30 menit lah,) " ucap Dika.

__ADS_1


Dika berbaring di atas ranjang dengan hanya menggunakan celana pendek saja, ia menunggu sang istri selesai mandi. Dika lupa dengan obat yang ia ambil tadi dari ayahnya, ia tidak memberikan obat itu pada Elena, padahal itu dapat membantu Elena semakin kuat di ranjang.


Elena memakai beberapa wewangian di tubuhnya agar sang suami tertarik dengan nya, setelah itu ia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan pakaian yang cukup seksi, bukan lingerie karena tidak seksi lingerie.


"Sayang..."


"Iya sayang, ini mendekat pada ku."


"Sayang aku takut," ucap Elena sambil mendekati Dika.


"Kamu takut sayang, untuk apa takut, kan kita sudah menikah, jadi kamu tidak perlu takut, kalau kamu hamil kan sudah ada aku."


"Bukan begitu sayang, ih kamu tidak paham ah, aku takut sakit, kata Serena saat masuk ke dalam rasanya sangat sakit sekali, jadi aku takut sakit mas."


"Hahaha aku aja pelan pelan." Dika menarik Elena ke pelukan nya, perlahan ia mendekati bibir Elena dan mulai melahap nya, sebelum memulainya, Dika ingin memberikan kenyamanan pada istrinya, kalau istrinya sudah nyaman dan rileks pasti semuanya akan baik-baik saja.


Perlahan mereka berdua saling membalas ciuman itu, tangan Dika menyentuh bagian bagian sensitif sang istri yang membuat sang istri mulai terbawa suasana. Dengan cepat posisi mereka berdua sudah sangat intim sekali, Elena berada di atas tubuh Dika.


"Sayang buka ya," ucap Dika.


"Ini sedikit sulit, aku harus berdiri baru bisa membukanya."


"Ya sudah berdiri dong kamu, aku menunggu mu." Dika melepaskan Elena, ia membiarkan Elena melepaskan semuanya.


Jantung Elena berdetak dengan sangat cepat, ia bangkit dari atas kasur dan mulai melepaskan pakaiannya, mata Dika tertuju pada sesuatu yang sangat besar sekali, Dika saja sampai menelan air ludah nya dengan kasar beberapa kali. Walaupun masih terbungkus dengan tempat nya, tetap saja ini sangat luar biasa besar.


Elena kembali ke atas ranjang dan Dika langsung menerkam nya tanpa ampun, Semua hal yang ada di tubuh Elena Dika santap tanpa kira, ia tidak peduli dengan suara Elena yang terdengar kesakitan, tetapi lebih ke menikmati.


Sampai tiba pada waktunya, Dika sudah siap untuk melakukan nya. Mata Elena sudah fokus pada milik Dika yang susah di depan pintu masuk nya, dari ukuran saja sudah terlihat ukuran berbeda jauh. Elena yakin pasti rasanya akan sangat sakit sekali.


"Bagaimana rasanya sayang," tanya Dika.


"Belum masuk mas," jawab Elena.


"Besar tidak, atau kamu kurang suka dengan milik ku."


"Iya aku kurang suka, bentuknya bagus tapi ukuran terlalu besar, aku takut mas takut sekali," kata Elena dengan sangat jujur. Dika hanya tertawa mendengar hal itu.


"Sakit sayang," tanya Dika.


"Sakit banget mas," jawab Elena saat benda itu mulai masuk ke dalam.


Perlahan-lahan pertahan Elena mulai terhembus, Dika menggunakan pelumas alami agar miliknya lebih mudah masuk. Elena menyengir merasakan perih di bagian intinya, ia hampir menangis saat benda itu semakin masuk ke dalam.


"Sakit mas, cukup. perih sekali," kata Elena.


"Tahan sayang." Dika terus mendorong nya sampai semuanya masuk ke dalam, tidak seperti yang Elena katakan, Dika masih merasakan menembus dinding kesucian Elena, ia merasa sangat puas telah mengambil kesucian Elena yang sangat nikmat ini.


Elena hanya bisa menahan tangisan, rasanya memang sangat sakit sekali tetapi Elena masih bisa menahan nya. Ia mencengkram kuat punggung Dika saat Dika mulai bergerak maju mundur cantik.


"Sakit mas, pelan dong."


"Enak sayang," kata Dika.


"Iya itu kamu enak, kalau aku sangat sakit sekali, kamu tidak bisa pelan."


Elena menahan air matanya agar tidak menetes, sebisa mungkin Elena tidak ingin menangis.


Dika bergerak lebih pelan, ia sebenarnya ingin lebih cepat tetapi tidak tega dengan Elena, jadi ia memilih untuk bergerak lebih pelan saja. Nah karena itu membuat Elena cukup nyaman dan mulai dan mulai ikut dengan gerakan yang Dika lakukan, rasanya mulai terasa lebih nikmat.


"Hmmm enak mas, lebih dalam, aku siap," ucap Elena.


"Hahahah iya sayang."


Malam ini mereka berdua mencoba beberapa gaya, wala,belum masuk gaya yang hebat, hanya beberapa gaya dasar saja, itu semua agar mereka berdua bisa saling menikmati.


"Kamu lama sekali keluar nya," ucap Elena yang sudah tidak tahan, beberapa kali Elena sudah bergetar bukan main.


"Sebentar lagi sayang, di dalam ya, aku tidak akan menikmati jika di luar," kata Dika.


Dan Dika pun meledak di dalam sana, ia sangat puas di malam pertama nya ini, dan sudah pasti Dika ingin benih nya segera tumbuh agar ia bisa menyusul Adit yang sudah membuat istrinya hamil.


"Kamu puas," tanya Elena.


"Sangat puas sayang, terimakasih ya. Aku sangat mencintaimu sayang," jawab Dika.


Elena bernafas lega Dika puas dengan nya, hal itu benar-benar membuat Elena sangat senang, ia berhasil membuat sang suami puas di malam pertama nya, ia juga merasa puas bermain dengan Dika, Dika sangat luar biasa sekali malam ini.


Pagi harinya beberapa orang sudah bermain di pantai karena memang sila yang mereka tempati tidak jauh dari pantai, walaupun hari ini cukup dingin tak menyurutkan semangat mereka semua, termasuk pasangan adit dan Serena. Serena sendiri ingin memang sudah sangat lama ingin liburan seperti ini. Beruntung kembaran Adit menikah di tempat yang sangat indah ini.


"Kalau tidak karena Dika kita tidak akan liburan seperti ini," kata Serena.


"Hahaha tapi apa yang kamu katakan itu benar sayang, kita memang tidak akan liburan jika Dika tidak menikah di tempat ini."


"Kamu sih, asik buat anak terus," kata Serena.


"Eh salahkan aku pulak, kamu saja suka membuat anak dengan ku," ucap Adit.


"Hahaha iya juga sih, abang kamu masih tidur belum kelihatan sejak tadi."


"Hahaha ya iya lah sayang, malam pertama mereka berdua, kamu bagaimana sih," kata Adit.


"Langsung gas ya kan, seperti kita dulu. Aku hamil, mamah hamil dan Elena hamil, sudah akan ramai rumah kita."


"Bagus dong, ayah ku jadi tidak kesepian."


"Sayang ayahnya Elena kaya raya ya, sampai membeli Vila ini hanya untuk pernikahan anaknya," tanya Elena.


"Aku tidak tau pasti, tapi seperti nya sangat kaya raya. Kalau teman dekat ayah ku berarti memang dia sangat kaya raya, menurut informasi yang sekilas aku dengar pemilik sebuah perusahaan besar di luar negeri, makannya saat Elena kecelakaan ia langsung di bawa pergi ke luar negeri."


"Gila gila gila, keluarga kamu sudah tajir, tambah lagi keluarga Elena, anak Dika dan Elena benar-benar akan rich sekali, mana Elena anak pertama lagi," kata Serena.


"Iya ya, bagaimana anak mereka nanti, Dika anak pertama juga, kayaknya dia juga yang akan menyambung kekuasaan ayah ku, dia sangat pintar tidak seperti ku," kata Adit.


"Hahhaa kamu pengangguran saja kaya raya, jadi tenang saja lah sayang," ucap Serena.

__ADS_1


__ADS_2