
Malam harinya, Dika dan Elena sudah siap untuk pergi meninggalkan Vila, tadi sore sebelum Cilla dan Zyan keluar mereka berdua sudah berpamitan, jadi sekarang mereka hanya tinggal pergi saja.
Di perjalanan pulang, mereka manfaatkan untuk istirahat, perjalanan memang tidak akan lama, hanya beberapa jam saja walaupun begitu sudah cukup untuk mengisi energi mereka yang habis karena seharian jalan jalan.
Di rumah Adit dan Serena juga baru kembali ke rumah, mereka berdua benar-benar menghabiskan waktu di luar dengan segala keinginan Serena, baru kali ini Serena meminta untuk di luar seharian bersama dengan Adit, biasanya Serena tidak suka terlalu lama di luar rumah.
"Akhirnya kita kembali ke rumah," ucap Adit sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.
"Kamu lelah sayang," tanya Serena.
"Sangat lelah, pijat aku," jawab Adit.
"Oke.." Serena duduk di samping Adit dan mulai memijatnya, tenaga Serena yang memang kuat membuat Adit puas, pijatan Serena sangat terasa sekali, tidak seperti pijatan wanita pada umumnya yang lemah.
"Sayang kamu belum merasakan tanda tanda kehamilan," tanya Adit.
"Aku belum merasakan mual, belum mengalami tanda tanda kehamilan lainnya, jadi sepertinya aku memang belum hamil."
"Kenapa emang nya? kamu ingin aku segera hamil," tanya Serena
"Hmmm ya sudah tidak papa sih, kamu cepat hamil aku senang tidak juga ya tidak papa, selagi masih setahun pertama its oke, lagi pula ayah akan mempunyai anak, lebih baik mamah dulu yang hamil baru kamu, agar nanti anak kita tidak bingung."
"Nah itu maksudku, lebih baik memang mamah dulu saja, ya berbeda beberapa bulan gitu, jadi kita tidak terburu buru istilahnya. Aku lebih senang semua itu mengalir saja tanpa di buru buru dan tekanan," ucap Serena.
"Ya semoga saja apa yang kita inginkan terjadi," kata Adit.
"Semoga saja lah, kehamilan tidak ada yang tau, mau diberikan cepat ataupun lama kita harus bisa menerimanya," ucap Serena.
"Istri ku sangat pintar," kata Adit.
Pukul 12 malam Dika dan Elena mendarat di bandara dengan Selamat. Ia langsung menghubungi Adit untuk menjemput mereka berdua, hanya Adit yang Dika yakin masih bangun malam malam begini.
"Kamu menghubungi siapa," tanya Elena.
"Adit," jawab Dika.
"Mas aku ikut kamu pulang ya, tidak mungkin aku menghubungi ayah ku," kata Elena.
"Hahaha iya sayang, kamu tidak mungkin aku tinggalkan sendiri di sini," ucap Dika.
Di kamar memang Adit masih bangun, tetapi Adit sedang olahraga malam, ia mendengus kesal saat mendengar handphone nya berdering.
"Ahh memang lah, ada saja," kata Adit.
__ADS_1
"Sabar sayang.."
"Mana bisa sabar kalau sudah seperti ini," ucap Adit.
"Angkat dulu sayang mana tau penting, nanti lanjut lagi," kata Serena.
"Hmmm iya.." Adit beranjak dari atas ranjang dan langsung mengangkat panggilan di handphonenya.
"Dika," ucap Adit.
"Iya Dit, jumput abang mu di bandara," kata Dika.
"Ah kau ada ada saja, ini sudah malam," ucap Adit.
"Oh kau begitu ya, aku abang mu loh, jangan kurang ngajar kau pada ku."
"Hahaha iya iya, aku berangkat sekarang, dasar pengganggu," ucap Adit.
"Lagi apa kau malam malam begini masih bangun."
"Hahaha kau tidak seperti aku saja lah, sudah aku matikan aku pakai baju dulu," ucap Adit.
"Hmmma aku tunggu."
Dika mematikan sambungan telepon itu.
"Sudah sayang, kamu tenang saja, Adit tidak mungkin tidak mau menjemput kita," jawab Dika.
Adit langsung bersiap siap untuk menjemput abangnya, walaupun merasa sangat kesal karena kegiatannya di ganggu tetapi mau bagaimana lagi namanya juga abang, pasti ada saja hal yang membuat kesal.
"Dika meminta ku untuk menjemputnya, dia memang selalu bisa menganggu adik nya," kata Adit.
"Sabar sayang nanti bisa lanjut lagi," ucap Serena yang juga tidak bisa apa-apa, walaupun ia ingin lanjut terus tanpa henti tetapi kenyataannya tidak bisa.
"Ya memang harus sabar kalau mempunyai abang seperti dirinya."
Setelah selesai bersiap Adit langsung berangkat, kalau tidak pasti Dika akan terus meneror nya, lebih cepat di jemput lebih baik.
"Sayang aku berangkat ya," ucap Adit.
"Iya sayang kamu hati hati ya.." Serena mencium wajah sang suami.
Pukul 12:30 ia sampai di bandara, Adit langsung menuju tempat Dika menunggu nya. Ia semoga kebingungan karena tidak melihat mereka berdua, padahal kata Dika mereka sudah ada di dekat sana.
__ADS_1
"Itu dia mas," ucap Elena.
"Oh iya itu dia, Adit.."
"Makin bahagia saja dia," Adit berjalan mendekati mereka berdua.
"Halo apa kabar," tanya Adit.
"Gaya sekali kau tanya kabar," ucap Dika.
"Hahaha kenapa pulang tidak memberitahu ku?"
"Hahaha mamanya juga mendadak, segera urusan juga sudah selesai, mau ngapain lagi pula di sana."
"Buat anak," kata Adit.
"Itu mah diri mu," ucap Dika.
"Sudah ayo pulang, aku mau lanjut kegiatan tadi."
Adit membantu Elena membawa barang barang nya, sebagai pria tidak mungkin ia membiarkan Elena mengangkat semuanya sendiri, apalagi Elena akan menjadi kakak iparnya.
"Makasih Adit," ucap Elena.
"Jangan berterimakasih padanya, itu sudah menjadi kewajiban nya," kata Dika.
"Kau memang ya, ya tidak papa dia berterimakasih pada ku," ucap Adit.
"Tidak perlu," ujar Dika.
Karena Adit malas menyetir Dika memutuskan untuk yang menyetir mobil, sebenarnya ia sangat mengantuk tetapi mau bagaimana lagi, Adit juga keliatan lelah. Terbukti di kursi belakang ia langsung membaringkan tubuhnya dan tertidur.
Elena sendiri juga ketiduran di samping Dika, ia juga mengantuk karena tidur tadi kurang puas, saat ini hanya Dika yang masih terjaga, ia tidak mungkin ikut tidur, siapa yang akan menyetir mobil jika ia ikut tertidur.
"Ah kenapa jatuh," ucap Dika.
Dika mengambil botol air yang terjatuh ke bawah kakinya, ia berusaha untuk menggapainya sambil fokus dengan jalan, tetapi tidak menemukan botol yang ia cari.
Sejenak Dika melihat ke arah bawah agar dengan mudah menemukan botol aqua yang jatuh, pantas saja ia tidak bisa mengambil nya karena botol itu jatuh cukup jauh darinya, berusaha Dika mengambil botol itu, ia sudah sangat kehausan.
"Ah dapat," ucap Dika sambil kembali ke posisi awalnya.
Tiba-tiba dari arah depan sebuah mobil melaju cepat kearah mereka, itu karena Dika sudah keluar dari jalurnya, ia masuk ke dalam jalur orang lain
__ADS_1
"Ahkkk.." Dika berusaha untuk menghindari mobil itu, tetapi karena sudah terlalu dekat dengan mobil melaju dengan kencang, Dika hanya bisa membanting setir ke arah kanan sampai mobil yang ia bawa masuk ke dalam jurang
"Tidakkk." Dengan cepat mobil terguling guling, mobil bisa berhenti karena menabrak sebuah pohon besar.