
Hampir satu bulan kepergian Dika dan Justin, sampai sekarang mereka berdua belum memberi kabar apapun, Hal itu membuat Intan benar-benar sangat khawatir, tetapi seperti biasanya ia tidak menunjukkan pada Adit agar Adit tidak ikut khawatir seperti dirinya, sekarang saja ya sudah yakin Adit terus memikirkan Abang dan ayahnya itu, hanya saja Adit tidak mengatakan padanya.
"Bagaimana mah Apakah ada kabar," tanya Adit.
"Belum ada sayang, kamu jangan memikirkannya ya, nanti jika sudah ada kabar Mamah pasti akan segera memberitahumu, ingat sekarang fokus pada istrimu," jawab intan.
Kalau sudah mendapatkan jawaban seperti itu, Adit tidak berani mengatakan apa apa lagi.
"Oh iya bagaimana keadaan tangan mu? "
"Sudah baik mah sekarang sudah kembali seperti sedia kala."
"Syukurlah kalau begitu sekarang kamu sudah sembuh, lalu bagaimana kondisi kehamilan istrimu semuanya baik-baik saja kan," tanya Intan.
"Semuanya baik-baik saja mah, jalan anakku sehat dan tumbuh dengan baik, iya juga sangat gemuk. Mamahnya makanan sangat banyak, jadi anaknya cepat besar."
Berarti sama sepertimu dulu, saat kamu masih berada di dalam kandungan mamah kamu dan Dika juga gemuk seperti anakmu sekarang," kata Intan.
"Mamah baik-baik saja kan, bukan hanya pada tiga dan ayah aku juga khawatir dengan keadaan mamah," ucap Adit.
"Mamah baik-baik saja sayang, kamu lihat sekarang tidak ada yang berubah dari mamah."
"Hehehe iya tidak ada," Ucap adit berbohong padahal dia melihat perubahan yang besar pada mamahnya, bukan hanya dari fisik tetapi segala hal dalam diri Intan.
"Ya sudah kalau begitu, mamah masuk kamar dulu, makanan sudah ada jangan memesan makan dari rumah makan masukkan yang mamah masak," ucap Intan sambil pergi meninggalkan ruang makan itu.
"Siap laksanakan."
Intan berjalan pergi meninggalkan Adit, saat intan pergi Serena berjalan mendekati suaminya, sebenernya ia sejak tadi berada di dekat sana. Tadi ia tidak bergabung dengan mereka berdua sama temen memberikan waktu mereka berdua.
"Mamah masak apa sayang," tanya Serena.
"Banyak ayo makan, kita harus menghabiskan agar mama tidak sedih, mamah sudah masak banyak tetapi tidak ada yang memakannya kan kasihan, biasanya saya yang selalu menghabiskan masakan mamah," jawab Adit.
"Ah kalau itu mah kamu senang saja aku juga ingin menghabiskan banyak makanan."
"Hahaha beruntung juga memiliki istri yang banyak makan, pasangan banyak agar anak kita semakin besar dan kuat, seperti ayahnya," kata Adit.
"Jangan panggil saya dong itu sudah biasa, papah atau daddy bagaimana," ucap serena.
"Daddy aku suka pangeran itu, kira-kira anak kita nanti perempuan atau laki-laki ya."
"Aku juga tidak tahu, aku sedikit berharap si perempuan biar mirip dengan," kata Serena.
"Jangan dong sayang anak pertama itu harus laki-laki, nanti kedua baru bisa perempuan."
"Ya terserah yang penting lahirnya sehat tak ada kekurangan sedikitpun," ucap Serena.
"Nah kamu benar, ini aku ambilkan makanan kamu ya makan dengan banyak." Adit mengambil makan sang istri.
Serena tersenyum mendapatkan perhatian yang lebih dari Adit, hal ini yang membuatnya sangat bersemangat menjalani hari-hari nya. Perhatian kecil seperti inilah yang ingin Serena dapatkan setiap harinya.
Di dalam kamar Intan mendapatkan kabar dari ayah mertua jika Justin dan Dika baik-baik saja, menurut sang ayah mertua distin ingin memberikan kejutan pada orang di rumah, tetapi selagi belum mendapatkan kabar langsung dari mereka berdua Intan merasa tidak puas, rasa khawatir tetap ada di dalam dirinya.
"Baik yah terima kasih untuk informasinya." intan merubah kan dirinya ke atas tempat tidur.
Menurut sang ayah mertua mereka berdua akan kembali bulan depan setelah dika benar-benar sembuh, ada sedikit perasaan lega di dalam hati intan. Setidaknya hingga sudah mendapatkan kabar baik jika Dika sudah sadar dari koma nya, proses pemulihan Dika tidak jauh berbeda dari Adit sekitar 2 bulan lamanya.
"Ayo Intan kuat, hanya satu bulan lagi, setelah ini keluarga kamu akan berkumpul seperti sedia kala," ucap Intan sambil menghela nafas panjang.
Hari ini hari kepulangan Elena dari luar negeri, ia sudah benar-benar sembuh seperti sedia kala, tidak terikat buka sedikit pun di wajahnya apapun dia anggota tubuh lainnya. Orang tuanya benar-benar memberikan perawatan terbaik untuk Elena. Mereka tahu Dika sedang tidak berada di indonesia, sama seperti dengan elena sebelumnya saat ini dika sedang berjuang agar cepat sembuh seperti sedia kalah. Elena dan keluarganya dapat mengerti itu dan tidak masalah walaupun pernikahan mereka sempat tertunda sekian bulan lamanya. Mereka tidak ada menyalahkan keluarga dika, mereka percaya semua ini memang sudah menjadi takdir.
__ADS_1
"Ayah aku ingin bermain ke rumah dika," ucap Elena.
"Yasudah pergilah, di sana juga ada adit dan serena, dan jangan lupa hibur salon mamah petualangan."
"Siap yah aku akan menghibur nya aku tahu apa yang mereka rasakan sekarang ini."
"Baguslah apakah mereka tahu kalau kau sudah pulang," tanya Rico.
"Belum hanya saja beberapa hari lalu aku sempat menghubungi adit dan mengatakan jika aku akan pulang sebentar lagi tetapi dia tidak tahu kapan tepatnya aku pulang."
"Bagaimana responnya apakah dia senang ataukah dia kesal kau tidak saat dika pergi keluar negari?"
"Adit sangat senang aku kembali pulang ke rumah, tidak mungkin dia kesal ayah dia tahu aku sedang berobat bukan jalan-jalan."
"Ayah percaya dengan mereka, yasudah pergilah supir akan mengantarkan mu," ucap Rico.
Sebelum pergi helena mengirimkan pesan dulu pada Adit, dia tidak mau saat dia datang adit dan serena tidak ada di rumah. Dan beruntungnya mau Adit, Serena ataupun mamah mertuanya semuanya sedang berada di rumah. Segera meluncur ke rumah mereka bertiga.
"Siapa sayang sepertinya wanita," tanya
Serena
"Iya sayang wanita. Wanita itu bernama Elena salon istrinya Dika."
"Oh Elena sudah kembali ya," tanya serena.
"Sudah sayang hari ini aja kembali dan langsung ingin ke sini.
"Baguslah aku juga ingin mendengar cerita kecelakaan versi dia, apakah sama dengan kamu cerita kan," ucap Serena.
Adit mengerutkan dahi nya, seharusnya Serena tidak boleh bertanya tentang kecelakaan itu, ia yakin pasti Elena sangat trauma dengan kecelakaan itu.
"Sayang jangan bertanya hal seperti itu, bagaimana jika dia trauma, kamu mau menanggung trauma yang dialami. Selagi dia tidak membahas kecelakaan itu jangan pernah membahasnya."
Sesampainya di rumah itu elena langsung masuk ke dalam, iya disambut hangat oleh adit dan serena. Elena dan serena sejenak berpelukan. Saat adit juga ingin memeluk elena tangan istrinya langsung menariknya dengan tatapan tajam.
Seketika Adit langsung mengkerut, hampir saja terjadi perang dunia ketiga, ia hanya refleks aja pengen memeluk Elena juga.
"Bagaimana kabarmu elena kau baik-baik saja kan."
"Aku sangat baik adit bagaimana denganmu," kata Elena.
"Seperti yang terlihat aku juga sangat baik proses penyembuhan ku sekitar 2 bulan lamanya."
"Wah sangat lama sekali, aku hanya sekitar 1 bulan semuanya sudah kembali seperti semula, hanya saja beberapa luka memang sedikit lebih lama," ucap Elena.
"Aku senang melihat mu baik-baik saja sekarang ini," ujar serena.
"Iya serena, aku juga senang lihat suamimu sudah baik-baik saja."
Adit mempersilakan Elena untuk duduk, ada banyak hal yang mereka bahas kecuali tentang kecelakaan karena elena sendiri tidak ada dibahas sedikitpun, sama seperti adit sepertinya elena trauma dengan kecelakaan itu.
Tidak lama elena bergabung dengan mereka semua, ada halangan ya sampaikan pada elena dan juga adit. Hal yang mereka berdua ingin ketahui.
"Apa kabar sayang. Kamu sudah baik baik saja kan mamah sangat senang melihat mu sudah seperti semula." Intan duduk bersama mereka.
"Aku sangat baik mah." Elena memeluk Intan. Mereka berdua berpelukan cukup lama, entah kenapa elena menangis diperlukan itu nafas saat rasa sangat sesak sekali. Intan sebenarnya juga sudah tidak bisa menahan air matanya, beberapa kali ia mengusap ayah matanya agar tidak jatuh membasahi wajahnya.
"Sudah semua yang sudah baik-baik saja kamu tidak perlu khawatir lagi."
"Aku tidak tahu kabarnya mah. Bagaimana keadaannya sekarang, di mana dia berada, dan kapan dia kan kembali. Aku benar-benar sangat mencemaskan ya," ucap Elena.
__ADS_1
"Dia sudah baik-baik saja. Kamu jangan mengkhawatirkan ya lagi, tadi mamah sudah mendapatkan kabar dari kakeknya jika Dika sudah bangun dari tidur panjang nya sejak beberapa minggu lalu."
"Kakek sudah memberikan kabar mah, kenapa mamah tidak memberitahuku." Tanya Adit.
"Ini mamah memberitahumu. Mamah juga baru mendapatkan kabarnya tadi saat mamah berada di kamar, sekarang sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Bulan depan dika dan ayah kalian akan kembali ke sini."
"Aku ingin menghubungi kakek mah," kata Adit.
"Iya kau boleh menghubunginya tapi jangan sekarang, nanti malam sebelum tidur kau belum menghubunginya, jangan bertanya yang aneh-aneh, cukup bertanya keadaan dika dan ayah mu saja. Kalau ada ayahmu kau boleh berbicara dengannya, tapi jangan memaksa berbicara dengan dika. Dia memang sudah sadar tetapi kita tidak tahu apa yang terjadi padanya."
"Iya mah, aku tidak akan kelewatan kok, aku tahu batasan aku di mana."
"Di mana dika berada mah. Aku dan ayahku ingin ke sana," tanya Elena.
"Tidak perlu sayang, ayah merdu kamu tidak akan mengizinkan kalian untuk ke sana. Sampai sekarang saja mereka tidak memberikan kabar apapun, hanya kakek dari Dika dan Adit yang memberikan kabar."
"Ya... begitu, yasudah aku menunggunya di sini saja. Semoga di segera pulang," ucap Elena.
"Pasti dia kan segera pulang, jangan khawatir kan dia lagi. Bukan hanya untuk helena tapi untukmu juga adit, sekarang sudah clear kan, yang terpenting Dika sudah bangun dari tidur panjang nya."
Setelah malam itu semuanya terasa lebih tenang. Sebenarnya intan benar benar kesal dengan justin, kalau dari lama memberikan kabar ini ia dan Adit pasti tak akan terlalu kepikiran. Intan tidak menyiapkan hukum untuk Justin kembali ke rumah nanti.
Sebelum tidur seperti yang sudah direncanakan oleh Adit, Ia langsung menghubungi sang kakek, Ia banyak bertanya tentang Dika di sana pada kakeknya tetapi kakeknya hanya menjawab Ala kadarnya saja. Malahan sang Kakek banyak membahas tentang dirinya, Adit tidak bisa berbuat banyak ia sudah janji pada sang ibu jika ia tidak boleh terlalu memaksakan apa yang ia inginkan.
"Intinya saja kak aku hanya ingin tahu kabar Dika itu saja" ucap Adit.
"Oh itu kakak jelaskan, jika sudah sadar sejak 2 minggu lalu, dan sekarang dia sudah baik-baik saja kau tidak perlu khawatir, tangan yang patah sudah bisa digerakkan seperti semula hanya memerlukan beberapa terapi agar benar-benar bisa normal kembali. Sekarang dia bersama dengan ayahmu di sebuah rumah sakit, kakek saja tidak tahu di mana rumah sakit itu, sudah kan hanya itu yang bisa kakek jelaskan padamu sisanya bukan kapasitas kakek."
"Terima kasih Kak aku sangat lega mendengar semua ini, Oh iya kakek tahu zyan sudah menikah, istrinya sekarang sedang hamil mengandung anaknya, sekarang mereka tidak ada di sini, mereka menetap di Bali," kata Adit.
"Iya tahu dong kan kata yang menjodohkan mereka, hanya saja paket tidak datang saat acara pernikahan mereka. Lalu bagaimana denganmu Apakah kau sudah baik-baik saja kau selalu memikirkan orang lain tetapi tidak memikirkan dirimu."
"Aku sudah sangat baik tanganku sudah normal kepalaku sih tidak sakit bekas luka aku sudah mulai menghilang bekas jahitan ku sudah tertutup oleh rambut," kata Adit.
"Wah sepertinya memang sudah sembuh kakek senang sekali mendengarnya. Ya sudah di sana pasti sudah malam di sini sudah waktunya kakek bekerja, nanti saat dika kembali kakek akan ikut. Kau baik-baik saja di sana jangan terlalu memikirkan yang di sini semuanya sudah aman."
"Iya kek selamat malam eh kalau di sana emang malam," tanya Adit.
"Hahaha tidak ke sini pagi, perbedaan waktu sekitar 11 sampai 12 jam."
"Jika begitu berarti eropa atau amerika dong," tanya Adit.
"Ya seperti itu lah."
Adit mendapatkan teka teki dimana Dika berada tetapi benua Eropa dan Amerika sangat luas, bagaimana mungkin ia bisa mencari Dika jika hanya tau Dika ada di benua itu. Lebih baik sekarang ia fokus dengan istrinya, kandungan istri nya sudah lebih dari 3 bulan, hampir menuju 4 bulan, sekitar 5 bulan lagi Serena akan melahirkan.
"Sayang."
"Iya kenapa, kamu mau apa," tanya Dika.
"Kamu tanya, aku mau apa, kamu bertanya tanya jangan lupa join live ya, huakkk.."
"Sayang.." Adit benar-benar sangat kesal jika Serena sudah seperti ini.
"Hahaha bercanda sayang, aku mau jatah," ucap Serena.
"Hahaha mau jatah, ayo sini aku berikan jatah."
Sudah cantik, seksi dan sangat Mengerti dirinya, bagaimana tidak semakin cinta Adit pada Serena, ia benar-benar puas mendapatkan istri seperti Serena, hal yang paling berharga sekarang adalah Serena dan anak yang ada di kandungan tubuh Serena.
"Enak kan, kamu suka," tanya Adit.
__ADS_1
"Hmmm enak.."