
"Ha! bagaimana bisa? kamu hamil anak aku?" Adit tidak menduga hal ini terjadi.
"Iya lah, anak siapa lagi jika bukan anak kamu, emangnya suami ku ada berapa," ucap Serena.
"Sayang kamu benar-benar hamil, kamu sudah periksa," tanya Adit.
"Belum periksa sih, tapi aku yakin sudah hamil. Semenjak kamu kecelakaan sampai dengan sekarang aku tidak pernah datang bulan lagi, dari situ aku sudah yakin jika aku sedang hamil," jawab Serena.
Adit benar-benar sangat senang mendengar istrinya tengah hamil, ini hadiah yang terindah yang pernah ia dapatkan. Rasa semangatnya untuk sembuh semakin besar saja karena istrinya yang sedang hamil.
Justin dan Intan sendiri sudah menduga jika Serena tengah hamil, dugaan mereka berdua memang tidak meleset dan sudah pasti mereka berdua sangat senang, mereka akan segera mendapatkan cucu dari Adit dan Serena, hal yang paling mereka tunggu selama ini.
"Selamat Serena, jangan lupa periksa ya, setelah Adit benar-benar sembuh kamu bisa periksakan kehamilan kamu," ucap Justin.
"Iya ayah, maafkan Serena karena selama ini Serena menutupi hal ini dari kalian semua, Serena hanya ingin memberitahu kabar bahagia ini untuk pertama kali nya pada Adit."
"Iya sayang, mamah sangat mengerti, kamu jaga kandungan kamu dengan baik, jangan terlalu capek ya," ucap Intan.
Justin dan Intan kembali meninggalkan ruangan itu, dengan kabar kehamilan Serena mereka berdua ingin memberikan Serena dan Adit waktu, pasti banyak hal yang ingin mereka berdua bahas.
"Sayang aku sangat mencintaimu," ucap Serena.
"Aku juga, terimakasih telah menemani ku, kamu tidak pergi disaat aku sedang membutuhkan mu."
"Seseorang yang mencintaimu dengan tulus tidak mungkin melakukan hal seperti itu sayang, aku sangat mencintaimu dan tidak mungkin aku pergi meninggalkan mu," ucap Serena.
"Makasih.." Adit mencium wajah sang istri.
"Sayang jatah.."
"Eh kamu ini ada ada saja, baru juga bangun sudah meminta jatah, sekarang kamu rasakan dulu apa yang tidak enak pada tubuh mu," ucap Serena.
"Ada sayang, anu ku terasah tidak enak, ada apa ya.."
"Hahhaa ada selang untuk jalur kencing mu, jadi jangan berpikir kotor nanti burung mu bangun jadi sakit rasanya," ucap Serena.
Adit tidak paham dengan apa yang Serena katakan, ia melihat burungnya langsung dan memang benar ada sebuah selang kecil yang masuk ke dalam burungnya, pantas saja sejak tadi rasanya tidak enak sekali.
"Ih gila, aku mau di lepas," ucap Adit.
"Hahaha tidak bisa sayang, itu untuk kencing kamu kok," kata Serena.
"Aku sudah sembuh, aku bisa berjalan untuk ke kamar mandi," ucap Adit.
"Belum sayang, jangan aneh aneh ya, kamu itu belum sembuh," kata Serena.
Adit memang belum seratus persen sembuh, ia memang masih perlu perawatan khusus agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Tetapi namanya juga Adit tetap sangat sulit di beritahu yang benar, ia tetap kekeh kalau ia sudah benar-benar sembuh.
"Tangan aku," ucap Adit..
"Tangan kamu patah ssyang, itu di dalam nya ada pan yang membuat tangan mu bisa seperti semula lagi, tapi kamu tidak boleh banyak menggerakkan nya, kamu belum benar-benar sembuh, nanti kalau sudah benar-benar sembuh baru kamu berlatih menggerakkan nya," jelas Serena.
Mendengar penjelasan Serena membuat Adit merinding, berarti bisa di katakan tubuhnya sudah cacat, meskipun begitu Adit bersyukur masih bisa kembali seperti semula ini. Dan yang pasti sedikitpun Adit tidak pernah menyalahkan Dika, walaupun memang semua ini kesalahan Dika yang teledor dalam mengemudi.
Setelah sadarnya Adit semua menjadi lebih baik, keluarga bisa lebih fokus pada Dika. Keluarga juga sudah bebas mendatangi Adit untuk menjenguk nya, Teman-teman nya juga sudah pada datang yang membuat proses penyembuhan Adit jauh lebih cepat.
Waktu terus berlalu, satu minggu setelah itu Adit di perbolehkan untuk pulang ke rumah, sampai sekarang ia belum tau bagaimana keadaan sang kembaran, ia sudah bertanya pada orang orang sekitarnya tetapi jawaban mereka semua tidak ada yang membuatnya puas. Kalau Dika baik baik saja kenapa ia dan Dika tidak boleh bertemu, hanya itu yang ada di dalam pikiran Adit, ia sangat khawatir dengan Dika yang sampai sekarang belum ada kabar.
__ADS_1
"Sayang Dika tidak pergi kan," tanya Adit.
"Tidak dong, kamu jangan khawatir dengan nya, kata ayah kamu kan akan bertemu dengan Dika setelah kamu benar benar sembuh," jawab Serena.
"Lalu kenapa sih Dika tidak ada kabar sama sekali, setidaknya aku ingin berbicara dengan nya, Elena juga tidak ada."
"Elena berada di luar negeri, tangan nya bermasalah dan wajahnya meninggalkan bekas yang sangat menganggu. Demi kebaikannya Elena di bawa ke luar negeri untuk memperbaiki semua itu, jika semuanya sudah lebih baik ia akan kembali lagi. Elena tidak akan meninggalkan Dika, ia tatap akan menikah dengan Dika," ucap Serena.
Memang sebelum Elena pergi, ia sempat berbicara dengan Serena. Elena mengatakan hal itu pada Serena, ia akan kembali dan tetap akan menikah dengan Dika apapun yang akan terjadi, memang sekarang ini ia harus pergi untuk sementara waktu itu.
"Oh begitu, ya ya ya, memang semuanya harus kembali seperti semula hanya," ucap Adit, karena Serena menjelaskan tentang Elena, Adit jadi lupa tentang Dika. Sebisa mungkin Adit tidak banyak mengatakan tentang Dika, sekarang memang sebaiknya Adit fokus dengan kesehatannya, kalau Adit sudah benar-benar sehat, sudah pasti Justin akan menemukan mereka berdua, mana tau dengan Adit bertemu dengan Dika, dapat merespon Dika agar segera bangun dari tidur panjangnya.
Hari ini Justin mendapatkan informasi jika Mark sudah menemukan rumah sakit terbaik diluar negeri, dokter di sana menjamin jika ia bisa membuat kondisi Dika jauh lebih baik, memang peralatan canggih rumah sakit luar negeri tidak din ragukan lagi.
Sekarang ini hanya tinggal mengambil keputusan Justin dan keluarga, apakah mereka akan mengirim Dika keluar negeri atau tidak. Semua benar-benar sangat berat untuk di putuskan.
''Bagaimana Justin, aku sudah mencarikan yang terbaik untuk Dika, dan semua keputusan ada di tangan mu," ucap Mark
"Sayang bagaimana menurutmu, aku sangat bingung sayang, di sana juga ada kakeknya Dika," tanya JUstin yang tidak bisa mengambil keputusan sendiri, ia perlu seseorang untuk membantunya mengambil sebuah keputusan besar ini.
"Kenapa tidak, kita harus mencobanya, kalau di sini tidak mendapatkan perubahan lebih baik kita bawa ke luar negeri saja," jawab Intan.
Justin mengambil nafas panjang, sepetinya memang Dika harus di bawa pergi, Justin yakin apa yang ia dan Intan putuskan sekarang yang terbaik untuk Dika.
"Oke kita bawa ke luar negeri, dokter Dika di sini juga setuju," ucap Justin.
"Untuk pesawat akan datang langsung dari sana, di dalam pesawat Dika juga di awasi langsung oleh dokter yang akan menangani nya, jadi kau dan Intan jangan khawatir. Tapi aku minta kalian berdua jangan pergi semua, salah satu dari kalian berdua saja yang menemani Dika di sana," kata Mark.
"Aku saja, di sana ada ayah ku, aku bisa mengobrol dengannya, sayang kamu di sini bersama dengan yang lainnya, Adit pasti sangat khawatir dengan Dika, kamu tenangkan dia saat Dika masih berada di sana," ucap Justin.
"Sepertinya begitu, mereka berdua harus bertemu walaupun hanya sebentar saja,itu lebih baik dari pada membawa Dika pergi tanpa sepengetahuan Adit, Adit pasti berpikir yang tidak tidak, walaupun aku tau kalau dia bertemu dengan Dika, dia pasti sangat khawatir dengan kembarannya itu."
"Kamu benar sayang, aku minta kamu yang menjelaskan semuanya dengan Adit, aku tidak akan sanggup melakukan hal itu," ucap Intan.
Seperti yang sudah di putuskan mereka mulai bergerak, pertama menghubungi beberapa pihak untuk mengetahui kapan Dika akan terbang, jika sudah tau barulah mereka akan mempersiapkan semuanya dengan baik.
Malam harinya keputusan sudah di ambil, Dika akan terbang Lusa yang akan di jemput langsung dari sana, Justin yang akan menemani Dika di sana sampai Dika sembuh, dan malam ini Justin akan memberitahu semuanya pada Adit, terlihat Adit juga sudah jauh lebih baik, ia sudah tidak perlu di khawatiran lagi.
''Selamat malam Adit," ucap Justin sambil berjalan mendekati Adit.
"Malam ayah."
''Hmmm aku keluar dulu ya sayang." Serena memilih pergi dari sana, ia yakin ada hal penting yang ingin di sampaikan ayah mertuanya.
"Apa kabar sayang, kamu sudah lebih baik kan," tanya Justin.
"Aku sudah baik baik saja ayah, kepala ku sudah tidak pusing dan tubuh ku sudah tidak sakit, tangan ku hanya sedikit sakit saja," jawab Adit.
''Oke kalau begitu, jangan meminta jatah dulu ya, nanti setelah sebulan dari sekarang baru boleh lagi, tangan mu masih belum kuat," ucap Justin.
"Hmmm iya iya, padahal sudan pengen."
"Sabar, hanya libur satu bulan dari sekarang, emang tu burung masih normal apa setelah di tusuk selang," tanya Justin.
"Ya masih dong, ayah ada ada saja, kan sudah di buka, jadi tidak aneh lagi," jawab Adit.
"Hahaha mana tau kan." Justin sengaja ingin membuat suasana ceria dulu sebelum masuk e dalam inti pembahasan, melihat Adit tertawa seperti ini membuat hati Justin sangat tenang, ia bisa melihat Dika dalam diri Adit, apalagi wajah keduanya sangat mirip sekali.
__ADS_1
"Ayah..." Adit mulai merengek, ia benar benar ingin tau kondisi Dika sekarang ini.
Justin sudah paham apa maksud dari Adit, ia duduk di samping Adit dan meletakan kepala Adit di pundaknya, ia sudah siap bercerita sekarang.
"Apa yang kau rasakan tentang Dika sekarang," tanya Justin.
"Tidak baik baik saja, saat mengingat dan menyebut namanya hati ku terasa tidak tenang, jantung ku selalu berdebar, ini bukan cinta tapi rasa khawatir, aku yakin Dika tidak sebaik yang kalian bicarakan, itu sebabnya aku terus bertanya tentang Dika."
"Oke Adit kalau kamu mau tau ayah akan cerita sekarang, memang seharunya ayah cerita sekarang," ucap Justin.
"Cerita ayah, aku sudah sangat penasaran dengan keadaan Dika."
"Sebenarnya kondisi Dika dari awal kecelakaan sampai sekarang belum ada perubahan, ia masih dalam tidur panjang nya karena dia jauh lebih parah dari mu," jelas Justin.
"Dika...." Adit yang mendengar hal itu langsung menangis seketika, rasa khawatirnya selama ini ternyata memang benar.
"Sayang, jangan menangis, ini yang membuat ayah tidak memberitahu mu," ucap Justin sambil memeluk Adit.
"Hiks hiks hiks.. Aku mau bertemu dengannya ayah, aku mau bertemu dengan nya..."
"Iya sayang besok kau bisa bertemu dengan nya, ayah berikan waktu satu hari penuh kau bersama dengannya. Dika akan di bawa keluar negeri untuk menjalani pengobatan lebih lanjut lagi."
"Apa!! kenapa harus ke sana, aku ingin terus bersama nya, kalau dia pergi aku akan menemani nya," ucap Adit.
''Tidak bisa sayang, hanya ayah yang akan pergi dengannya, ingat istri mu sedang hamil dan kamu masih harus beberapa kali kontrol, serahkan semuanya pada ayah sayang, kamu bisa terus berdoa untuk Dika, sejauh apapun kalian berpisah batin kalian berdua tetap menyatu," kata Justin.
Seperti yang Justin duga, walaupun sudah diberikan banyak penjelasan tetap saja Adit ingin ikut, Justin tidak heran karena memang mereka berdua begitu dekat. Setelah mendapatkan sedikit nada tinggi dari Justin baru lah Adit diam. Tetapi bukan diam tidak menangis, ia hanya tidak merengek meminta ikut lagi, tangisannya tetap masih ada.
"Sudah hemat air mata mu, besok kita akan bertemu dengannya, ingat Adit di depan Dika nanti jangan lemah, kau salah satu sumber kekuatannya." Justin pergi meninggalkan Adit, sebenarnya ia tidak tega melihat Adit menangis, pasti perasaan Adit benar benar sangat kacau sekarang ini.
"Sayang..." Serena datang dan langsung memeluk Adit, ia sudah menduga jika ayah mertuanya akan membicarakan masalah Dika sampai Adit menangis seperti ini.
''Kenapa kamu tidak memberitahu ku sayang, kamu sangat kejam sekali pada ku," ucap Adit.
"Maafkan aku, aku tidak memiliki kapasitas untuk menjelaskan masalah ini pada mu sayang, aku hanya bertugas membuat mu tenang," kata Serena.
Di dalam pelukan Serena Adit dapat lebih tenang, tetapi tetap saja pikiran nya terus ke arah Dika.
Justin kembali masuk ke dalam kamar, ia ingin beristirahat setelah seharian mengurus semuanya.
"Sayang bagaimana," tanya Intan.
"Sudah aku bicarakan dan dia ya seperti dugaan kita," jawab Justin.
''Tapi jadi lega kan setelah berbicara dengannya. Sekarang kamu yang harus istirahat," ucap Intan.
"Ehem sepertinya aku belum mengantuk, boleh dong satu ronde," ujar Justin.
"Eh ternyata kamu masih ingat, aku pikir kamu sudah lupa sayang, kamu mau ya, ya sudah ayo, aku tau walaupun kamu sangat lelah kamu perlu mendapatkannya, semenjak anak kita masuk rumah sakit kita jadi jarang."
"Ya mau bagaimana lagi, ah pengaman ku habis," ucap Justin.
Memang rencana mereka untuk mempunyai anak lagi di tunda setelah kecelakaan Dika dan Adit, Justin ingin fokus dengan kedua anaknya sekarang.
"Tidak papa, sekali saja tidak mungkin jadi," ucap Intan.
"Semoga saja." Justin tersenyum sambil mendekati wajah istrinya.
__ADS_1