Dipaksa Menikah Season 2

Dipaksa Menikah Season 2
Mengingat masa lalu


__ADS_3

Setelah itu mereka berdua langsung pulang ke rumah, hari ini Justin benar-benar full senyum, ia sudah tidak sabar membuat istrinya hamil kembali.


"Sayang kenapaa tidak langsung dua saja," tanya Intan.


"Tidak mau, aku tidak akan mau mempunyai dua anak sekaligus, kamu lupa bagaimana dulu saat Dika dan Adit lahir, mereka langsung mengambil perhatian kamu dari ku, aku hanya mendapatkan ampas saja, energi mu full dengan mereka dan habis untuk ku," jawab Justin.


"Hahaha tapi itu asik tau, kamu saja yang terlalu cemburu dengan anak mu," ucap Intan.


Intan jadi ingat saat anak anaknya masih kecil, dulu dari usia 1 sampai 5 tahun Dika dan Adit selalu tidur bersama mereka, hal itu karena kedua anak itu sama sekali tidak bisa tidur kalau tidak bersama kedua orang tuanya. Masa masa itu masa tersulit bagi Justin, hampir 24 jam Intan selalu bersama dengan kedua anaknya, tidak ada waktu untuk sang suami, jangan kan mendapatkan jatah, waktu berdua saja sangat sulit untuk dapat.


Pada masa itu Justin benar-benar frustasi, jatah tidak lancar, waktu berdua tidak ada, hampir saja Justin membuang kedua anaknya pada orang tuanya, agar ia bisa terus bersama dengan Intan tanpa gangguan, tetapi ada suatu ketika saat Justin sakit kedua anaknya yang menemani dan menghibur Justin sampai Justin sembuh, pada masa masa itu lah Justin sadar ia sangat memerlukan buah hatinya, setelah berdamai dengan keadaan Justin dapat menerima kedua anaknya dengan baik, memang kalau sudah bisa menerima semua hal di permudah, seperti Dika dan Adit pada akhirnya mau tidur sendiri setelah 5 tahun bersama orang tua mereka.


Saat membayangkan hal itu Intan hanya bisa tersenyum, ia tidak pernah menyangka kehidupan nya akan seperti ini, mendapatkan penuh cinta seorang Justin, pria yang dulu pelanggan bunga di toko bunga tempat ia bekerja. Sekarang sudah 21 tahun mereka berdua menikah, waktu memang sangat cepat berlalu.


"Kenapa kamu," tanya Justin.


"Aku jadi ingat masa lalu kita mas, kalau aku membayangkan semuanya aku selalu tersenyum," jawab Intan.


"Hahaha aku juga suka mengingat masa lalu kita, benar-benar sangat indah sekali," ucap Justin.


Di rumah Intan langsung menyiapkan makanan sehat untuk sang suami, sama seperti saat ingin pertama punya anak Justin harus memakan makanan sehat agar performanya semakin jos.


"Halo Dika, ada apa," tanya Justin.


"Aku sudah dapat tempatnya ya, aku sewa seminggu," jawab Dika.


"Ya sudah kalau begitu, kau beritahu pada tim dan kau segera kembali ke rumah," ucap Justin.


"Nanti malam kami akan kembali, ini lagi menemani Elena belanja," kata Dika.


"Uang aman," tanya Justin.


"Hehehe lagi dong, sewanya hampir sekian M," jawab Dika.

__ADS_1


"Sudah ayah duga, tidak mungkin kau mengubungi ayah hanya untuk memberitahu tempat, ya sudah nanti ayah kirim," kata Justin.


"Makasih yah, ayah yang terbaik," ucap Dika sambil mematikan sambungan telepon itu.


"Anak mu minta uang," tanya Intan.


"Iyap anak mu," jawab Justin.


"Hahaha anak mu juga sayang, dia berbeda bukan, aku rasa dia memiliki pemikiran tersendiri, berbeda sekali dengan Adit yang ikut saja yang kita katakan," ucap Intan.


"Begini sayang, sifat Adit seperti kamu dan aku gabungan lah. Kalau Dika itu seperti ada sifat kekal ku, tidak suka di atur," jelas Justin.


''Hahaha kamu benar, nah sekarang kamu makan, kamu belum sarapan dari pagi tadi."


Intan menghidangkan berbagai macam sayuran dan ikan tuna sebagai makan siang suaminya, Justin kembali pada masa masa saat ia ingin mempunyai Adit dan Dika dulu.


Di Bali Dika dengan Elena sedang berada di pusat perbelanjaan. Dika ingin mencari hadiah ulang tahun sang mamah yang belum ia Beli, Elena juga ingin mencari beberapa barang yang belum ia miliki.


"Ini bagaimana," tanya Dika.


"Ya sudah aku ambil ini saja, kalau hadiah mahal pasti mamah sudah dapatkan dari yang lainnya, tapi kalau hadiah unik seperti ini aku yakin hanya aku yang memberikannya, mamah pasti sangat suka secara mamah sangat sering belanja bahan makanan di pasar," kata Dika.


"Ide yang sangat bagus, kamu memang sangat paham apa yang mamah kamu perlukan, anak yang berbakti," ucap Elena.


Karena mendapatkan pujian langsung dari Elena, Dika tidak hanya mengambil satu, ia mengambil beberapa tas belanja agar bisa untuk ganti ganti, Dika sudah sangat yakin dengan pilihannya.


"Kamu mau beli apa," tanya Dika.


''Ayo masuk ke toko itu," jawab Elena sambil menarik tangan Dika.


Elena melihat lihat gelang khas pulau Bali, ia ingin membeli beberapa gelang yang menurutnya bagus, Elena memang sangat suka memakai gelang.


"Kamu mau tidak," tanya Elena.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak suka memakai gelang kamu saja yang beli," jawab Dika.


"Mas mau ya, aku ingin kita pakai gelang couple, biar seperti pasangan pasangan menggemaskan lainnya."


Dika mengerutkan dahinya, ini bukan gayanya, tetapi untuk sang calon istrinya sepertinya tidak masalah, sesekali keluar dari Zona nyamannya.


"Satu saja," ucap Dika.


"Makasih sayang." Elena langsung mencari gelang yang pas untuk Dika kenakan.


Melihat Elena bahagia, Dika jadi ikut bahagia, jarang sekali ia bisa seperti ini dengan wanita, saat berpacaran dengan Cilla ia tidak pernah tersenyum lepas seperti ini karena hubungan mereka berdua benar benar terlarang, sekarang barulah Dika dpat merasakan menjalin hubungan dengan sangat bebas dan penuh dengan dukungan.


"Sudah aku bayar dulu," ucap Elena.


"Eh jangan," kata Dika.


"Ha!! jangan kenapa mas, kan kita beli ya harus di bayar dong," ucap Elena.


"Maksudnya jangan kamu yang bayar, kan aku pria ya seharunya aku yang bayar belanjaan kamu."


"Tidak harus begitu juga kali, ini juga murah tidak papa aku yang bayar, aku ingin kamu memakai barang dari uang ku," ucap Elena.


"Kamu yakin," tanya Dika.


"Sangat yakin dong mas," jawab Elena.


"Ya sudah silahkan sayang," ucap Dika.


Dari toko satui ke toko lainnya, Elena tetap seperti wanita pada umumnya, masuk ke banyak toko walaupun belum tentu ada yang di beli, yang terpenting masuk saja dulu, ada yang suka di ambil kalau tidak ada yang suka ya cari tempat lain.


Setelah selesai belanja, mereka berdua langsung kembali ke Vila, mereka harus segera packing karena nanti malam mereka akan kembali ke rumah, tidak banyak barang tambahan, hanya beberapa barang yang mereka beli tadi.


"Sudah sayang, aku bantu ya," ucap Elena.

__ADS_1


"Hehehe iya, kamu tau saja apa yang aku perlukan."


__ADS_2