
"Kok sakit ya," ucap Intan.
"Udah lama tidak aku pakai sayang, jadi sakit," kata Justin.
"Sakit mas, jangan begini."
Justin tersenyum mendengar hal itu, memang rasa nya lebih suka enak dari biasanya, apalagi ia sudah dua bulan tidak memakainya. Mungkin memang faktor itu juga ya membuat Intan merasakan sakit.
"Iya iya.. Kamu perawatan ya," tanya Justin.
"Kamu lupa sehari sebelum kamu pergi kita melakukan perawatan."
"Oh pantes sayang, rasanya sangat enak sekali. Kamu harus perawatan terus menerus ya," ucap Justin.
Setelah pertempuran panjang ini mereka berdua langsung tertidur sambil berpelukan, keduanya sama sama saling merindukan satu sama lainnya. Beruntung sekarang mereka berdua sama sudah kembali bersama sama.
Di kamar Dika merebahkan dirinya ke atas ranjang, ia sangat senang bisa kembali ke rumah. Perjuangan di luar negeri benar-benar berat sekali, Dika sendiri sampai merasa tidak kuat karena sangat menyakitkan. Operasi demi operasi ia jalani, belum lagi terapi tangan yang sempat sulit bergerak karena waktu itu patah.
Walaupun masih menimbulkan beberapa bekas yang cukup menganggu Dika masih bersyukur bisa kembali ke rumah tanpa kekurangan apapun. Ia masih bisa hidup normal kecelakaan besar yang menimpa dirinya.
"Aku hubungi saja dia ya," ucap Dika.
Dika mengambil ponselnya dan langsung menghubungi sang pacar, Dika berharap Elena tidak berpaling darinya.
"Sayang.."
"Sayang.. Ahhh aku senang sekali, aku mendengar suara mu lagi.." ucap Elena.
"Aku sudah kembali, kamu tidak ke rumah ku," tanya Dika.
"Kapan kamu kembali? kamu tidak memberitahu ku, aku sudah sangat merindukan mu." Elena sangat terkejut Dika sudah kembali ke rumah.
"Aku kembali tadi sore," ucap Dika.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku kan aku bisa langsung ke rumahmu, kamu tidak ingin bertemu denganku," tanya Elena.
''Bukan begitu sayang, Hari ini aku ingin fokus dengan keluargaku, Ada banyak hal yang kami bahas nanti kalau kamu datang kamu terabaikan. Nah Besok baru waktu kita berdua, Aku menunggumu di rumah Maaf aku tidak bisa ke rumahmu, aku masih sangat trauma dengan naik mobil."
"Oh begitu, Ya sudah besok aku langsung ke rumahmu, tidak apa-apa aku mengerti kamu yang paling parah dalam kecelakaan itu, aku juga sedikit trauma," ucap Elena.
__ADS_1
"Sayang waktu kecelakaan itu kamu sadar atau tidak? waktu itu kan kamu tertidur," tanya Dika.
"Aku sadar karena kamu berteriak dengan sangat keras, aku sadar saat detik-detik mobil kita masuk ke dalam jurang. Saat mobil kita menabrak sebuah pohon besar yang membuat ku terbentur ke depan dan belakang. Setelah itu baru aku benar-benar tidak sadar sampai dua hari di rumah sakit, itu pun aku masih belum sepenuhnya sadar karena beberapa kali aku keluar masuk ICU," jelas Elena, ia sebenarnya sedikit melas mengingat semua ini, tetapi karena sang pacar yang bertanya ia tidak masalah menjelaskan semuanya.
"Maafkan aku, aku yang membuat kamu seperti ini. Aku benar-benar sangat menyesal, aku sangat teledor sehingga terjadi kecelakaan ini. Jika Waktu Bisa Berputar Kembali aku pasti tidak akan melakukan hal yang membuat kecelakaan ini terjadi," ucap Dika yang sangat menyesal sekali, ia sudah membuat dua nyawa hampir melayang, malah kedua orang itu sangat ia cintai pula.
"Sudah Untuk apa kamu membahasnya lagi semuanya sudah berlalu dan kita sudah kembali ke kehidupan kita masing-masing seperti biasanya, semua hal yang sempat tertunda sekarang sudah bisa kita mulai kembali," kata Elena.
''Sayang aku mau tanya oleh-oleh yang kita beli itu tidak terselamatkan ya? Aku ingin memberikan hadiah yang aku beli untuk mamahku," tanya Dika, sejak kemarin ia bertanya tanya tentang barang itu, ia tidak mungkin tidak memberikan hadiah apa apa pada mamahnya.
"Terselamatkan kok kan mobil kita tidak hancur total atau terbakar, semuanya ada di rumahku Besok aku akan membawanya ke rumahmu, Aku meminta Ayahku untuk mengambil semuanya sebelum mobil di bawah ke kantor polisi, karena aku yakin itu sangat berharga untukmu."
"Gelang yang kamu pakai masih ada," tanya Elena.
"Gelang itu sudah tidak ada sayang, saat aku bangun aku sudah tidak melihat gelang itu. Bahkan aku tidak mengingatnya, karena beberapa hari setelah aku bangun aku benar-benar kehilangan Ingatanku," jawab Dika.
"Gelang itu ada padaku, sebelum aku pergi ke luar negeri untuk menjalani pengobatan di wajah dan tanganku aku mengambil gelang itu dari tanganmu, kenapa aku mengambilnya karena aku takut gelang itu menghilang, itu satu-satunya benda couple yang kita punya."
"Oh begitu, syukurlah kamu mengambilnya kalau tidak pasti benar-benar akan hilang, apalagi saat aku bangun aku benar-benar tidak mengingat apapun, sekarang saja aku baru ingat kalau kita mempunyai gelang couple," ucap Dika yang memang benar-benar lupa.
"Aku sudah mengantisipasinya sebelum hal itu terjadi sayang, Ya sudah ini sudah sangat malam kamu baru saja pulang kamu pasti sangat lelah kan, sekarang kamu istirahat dan besok kita akan ketemu aku akan datang ke rumahmu pagi hari."
Malam ini mereka berdua tidak banyak mengobrol, Dika ingin secara langsung dengan Elena karena pasti memiliki vibe yang berbeda. Begitu juga dengan Elena Iya sudah tidak sabar bertemu dengan Dika yang sudah sangat lama sekali berpisah dengannya.
Walaupun ia berkata ingin istirahat Dika sama sekali tidak bisa tidur, mungkin ini salah satu efek perbedaan waktu yang cukup terasa di tempat ia berobat dengan di rumah ini, jam segini biasanya di sana masih pagi hari, di sini malah sudah malam hari. Hal ini memang biasa terjadi saat orang pertama kali datang ke tempat yang memiliki waktu yang berbeda, hal itu di sebut dengan jet lag.
Jet lag adalah gangguan tidur sementara. Kondisi ini terjadi ketika jam internal tubuh tidak sinkron dengan isyarat zona waktu yang baru. Tanda-tandanya dapat berupa paparan cahaya dan waktu makan.
Dika ingin sekali mengobrol dengan sang adik, tetapi ia yakin Adit sedang sibuk dengan istrinya, tidak enak Jika ia mengganggu Adit. Karena memang tidak bisa tidur, Dika memutuskan untuk mencari referensi tempat pernikahan terdekat dari rumah nya, Ya sudah tidak memiliki impian apapun tentang pernikahannya, sekarang menurutnya yang terpenting ia bisa menikah dengan Elena tanpa ada gangguan apapun. Walaupun pernikahan secara sederhana tanpa tempat impian yang sudah pernah ia cari.
Dika yakin pernikahannya pasti akan diundur cukup lama dari sekarang, banyak hal yang harus dipersiapkan ulang termasuk tempat, pakaian, dekorasi dan lain sebagainya. Persiapan yang sebelumnya sudah benar-benar matang terbengkalai sehingga tidak menyisakan apapun, keluarganya maupun keluarga Elena benar-benar fokus dengan kesembuhan mereka berdua. Kalau ingin cepat menikah pun, pasti mengadakan acara yang sederhana, sebenarnya ia tidak masalah mau sederhana ataupun mewah semua yang tetap sama di matanya, Tetapi kan tidak dengan Elena dan keluarganya, apalagi kalian anak pertama di sebuah keluarga besar, pasti keluarganya ingin yang terbaik untuk Elena Dika tidak dapat memaksakan kehendaknya
Keesokan harinya, pagi sekali Elena sudah meminta sang ayah untuk mengantarkan dirinya Ke rumah Dika, Rico terkejut mendengar jika Dika sudah kembali ia sama sekali tidak tahu jika Dika dan Justin sudah kembali ke rumah. Justin sama sekali tidak ada memberikan dirinya selama dua bulan lamanya. Riko sempat kesal tetapi saat berbicara dengan Intan ia tidak jadi kesal karena istrinya sendiri juga jarang diberikan kabar, syukurnya sekarang mereka berdua sudah kembali ke rumah.
"Sayang kamu dengan sopir saja ya, ayah akan datang menjemputmu nanti malam. Ayah juga akan berbicara dengan Dika dan ayahnya."
"Ayah kalau misalnya Dika membahas pernikahan kami dan ia ingin pernikahan yang sederhana saja jangan mempersulitnya ya, Kami ingin segera menggelar pernikahan kami walaupun secara sederhana, Emang sebelumnya kami persiapkan cukup mewah tetapi karena musibah ini semuanya jadi kacau," kata Elena.
"Kalau itu urusan Ayah dengan ayahnya Dika, Emang kalian tidak bisa ditunda sebulan lagi, apa sudah ngebet sekali," ucap Rico.
__ADS_1
"Kalau aku sih inginnya sekarang hahaha, tidak ya aku terserah ayah saja, tapi kalau Mas Dika aku tidak tau, kami belum ada membahas masalah ini."
"Sudah kalian berdua tenang saja secepatnya kalian berdua akan menikah ayah dan Justin langsung yang akan mengurusnya agar semakin cepat" ucap Rico.
"Siap ayah, sekarang aku pergi dulu bye bye." Elena terlihat sangat senang sekali, jarang sekali Rico melihat Elena sesenang ini sebelumnya.
Dengan perasaan yang senang Elena pergi meninggalkan rumah, memang ini sangat pagi sekali sekitar pukul setengah enam pagi. Entah Dika sudah bangun atau belum, Elena tidak peduli yang terpenting ia sampai di rumah Dika secepat mungkin.
Sesampainya di rumah Dika ia diantar masuk oleh satpam, karena pintu rumah masih terkunci jadi ya tidak bisa sembarangan masuk. Di dalam rumah memang masih sepi sekali, dapur juga masih kosong dan belum ada kegiatan anggota keluarga yang terlihat, hanya terlihat pembantu rumah tangga yang membersihkan rumah ini.
Segera Elena berjalan menuju kamar sang pacar berada, Ia berharap kamar itu tidak dikunci karena Elena yakin Dika masih belum bangun dari tidurnya.
Di depan kamar itu tangannya bergerak membuka gagang pintu, dan beruntungnya kamar itu tidak terkunci, dengan senyuman manis yang terukir Elena membuka pintu kamar itu dan berjalan masuk ke dalam. Matanya fokus pada Dika yang masih terlelap dengan hanya menggunakan celana pendek saja.
Elina rasa Dika sudah jauh lebih berisi dari saat ia koma waktu itu, otot-otot tubuhnya seperti mulai terbentuk kembali. Wajah Dika juga masih tetap sama, masih sangat tampan sekali. Tangan Elena bergerak mengusap wajah Dika, memang terlihat beberapa bekas luka pasca kecelakaan. Jika dibawa ke tempat ia berobat pasti bekas luka itu akan menghilang, tetapi Elena yakin Dika tidak akan mau. Walaupun begitu, begini saja Dika terlihat sangat tampan di matanya, hanya karena bekas luka itu tidak ada yang berbeda dari Dika sekarang dengan Dika sebelumnya.
"Sayang bangun aku sudah datang kamu ingin tidur terus," ucap Elena.
Elena beberapa kali mengusap rambut Dika sambil membisikkan beberapa kata-kata agar sang pacar segera bangun dari tidurnya.
Dika baru tidur beberapa jam lalu, ya sangat sadar jika ada seseorang yang membisikan sesuatu di kupingnya tetapi karena rasa kantuk yang sangat berat suatu itu tidak bisa ia dengar. Sampai tiba wajah Dika terasa sakit karena Elena mencubitnya.
"Sayang bangun kamu ingin aku pulang lagi," Ucap Lena sambil mencubit wajah Dika secara pelan.
"A a a sakit, siapa sih." Secara perlahan Dika membuka matanya
Yang awalnya sedikit langsung terbuka dengan sangat lebar saat melihat wajah Elena di depan matanya. Iya sangat terkejut seseorang yang sangat ia rindukan sudah berada di depan wajahnya.
"Sayang, Sejak kapan kamu berada di sini? Aku sangat terkejut melihatmu datang," ucap Dika.
"Aku sudah datang sejak tadi sayang, kamu saja yang tidur terlalu nyenyak sampai tidak sadar aku usap, aku bisikin, sampai aku cium," ucap Elena sambil tersenyum, memang saat bertemu langsung rasanya benar-benar berbeda.
Dika Dan Elena saling berpelukan, mereka berdua melepaskan rindu yang sangat berat secara bersama-sama, rasanya ingin selalu bersama jika seperti ini. Itu sebabnya Dika ingin segera menikahi Elena.
"Kamu baik-baik saja kan sayang, maafkan aku ya karena aku pernikahan kita tertunda."
"Sudah aku katakan sayang, Jangan terus meminta maaf, memang semuanya sudah menjadi takdir kita, ditunda bukan berarti gagal kan, kita akan tetap bisa menikah baik setelah semuanya sudah lebih baik," kata Elena.
"Kamu benar sayang, secepat mungkin aku akan mengurus pernikahan kita," ucap Dika.
__ADS_1
"Tadi aku sudah membahas hal ini dengan ayahku, dan katanya dia yang akan mengurus semuanya, mungkin karena kamu masih sakit jadi dia mengambil ahli semuanya, aku sendiri sih tidak masalah, Ayah mah pasti juga tidak masalah, kamu tidak masalah kan."