Dipaksa Menikah Season 2

Dipaksa Menikah Season 2
Bertemu dengan pacar


__ADS_3

"Iya aku tidak masalah yang terpenting kita segera menikah," ujar Dika.


"Pakai baju sana kamu tidak dingin apa, Kenapa kamu buka baju kalau tidur itu tidak baik loh," ucap Elena.


"Hah aku tidak pakai baju, Aku sangat malu.." Dika baru sadar akan hal itu.


"Hahaha untuk apa kamu malu kan aku calon istrimu aku juga sudah pernah melihat kamu tidak pakai baju saat kita liburan bersama."


"Sayang itu sangat berbeda dengan sekarang, sekarang aku sudah tidak terlalu berotot seperti dulu, Aku sedang kembali membentuk otot-ototku Walaupun memang tidak boleh berlebihan karena takutnya beberapa tulang ku yang sempat patah kembali rusak," ucap Dika.


"Aku menerima kamu apa adanya, kamu begini saja aku sudah sangat suka," kata Elena yang membuat Dika tersipu malu.


Mereka berdua masih saling berpelukan sampai keduanya benar-benar puas, walaupun sebenarnya tidak akan pernah puas. Dika sangat senang, tidak ada yang berbeda dari Elena, Elena malah terlihat jauh lebih cantik dari sebelumnya.


"Ini masih pagi sekali kamu sudah datang saja."


"Kenapa emangnya kamu tak suka. Pacar kamu datang pagi pagi," kata Elena.


"Tidak begitu sayang, apa katanya ayahmu tadi kamu sudah izin dengan sebelum ke sini," ucap Dika.


"Sudah dong, mana mungkin aku pergi tanpa izin, nanti malam Ayah akan ke sini untuk membahas banyak hal denganmu dan dengan paman Justin."


"Oh aku yakin pasti Ayahmu akan membahas pernikahan kita dan juga tentang kecelakaan itu," kata Dika.


"Mungkin si, sekarang kamu mandi dulu sana, aroma tubuh kamu tidak sedap, aku tidak mau bersama dengan orang yang bau," ucap Elena.


"Hahaha ya aku mandi dulu ya, kamu tunggu aku di sini jangan kemana-mana oke."


"Siap sayang," ucap Elena.


Dika beranjak dari tempat tidurnya dan langsung berjalan ke kamar mandi, pagi ini ia mendapatkan kejutan yang sangat besar sekali. Sedangkan elena mengeluarkan beberapa barang yang dika tanyakan kan kemarin malam. Barang itu berada di dalam tasnya.


Tak lama Dika kembali dengan pakaian sudah lengkap tubuh yang wangi, ia terkejut melihat barangnya ia inginkan sudah bersedia atas tempat tidur.


"Sayang itu tas yang aku tanyakan kemarin bukan, kamu membawanya langsung."


"Iya sesuai janjiku aku langsung membawanya, semuanya masih sangat bagus tanpa tersentuh sedikitpun. Karena tas itu kan berada di dalam koper jadi semuanya aman terkendali," kata Elena.


"Syukurlah, aku jadi bisa memberikan hadiah pada mamahku."


"Mana tangan kamu," ucap Elena.


"Untuk apa sayang," tanya Dika.


"Kamu tidak ingin memakai gelang itu lagi, aku membawanya ini," jawab Elena.


"Oh iya aku lupa, ini tanganku." Dika memberikan tangannya pada Elena.


"Sedikit rusak."


"Tidak papa nanti kalau kita ke bali, kita beli lagi memang terlihat sedikit rusak karena efek kecelakaan itu," kata Dika.


"Semoga saja pernikahan kita tetap berlangsung di Bali ya, tempat yang kita inginkan kemarin itu."


"Semoga saja, Kalau kamu bisa sedikit bersabar pasti tempat itu bisa kita sewa kembali," ucap Elena.


"Aku sudah sangat sabar, sekarang kesabaran ku sudah habis, kalau memang tidak bisa di situ ya tidak apa-apa yang terpenting kita menikah." ucap Dika.


"Iya sayang aku paham. Kata ayah, ayah akan mempersiapkan semuanya dengan cepat dan sudah pasti sesuai dengan harapan kita."


"Semoga saja ya," ucap Dika.


Pukul 07.30 pagi mereka semua berkumpul di ruang makan, sudah banyak makanan yang tersedia di sana semua makanan itu dimasak langsung oleh Intan Yang bangun sejak pukul 06.00 pagi, sesaat setelah Elena masuk ke kamar Dika.


Mereka semua hanya menggelengkan kepala melihat Dika yang sudah bersama dengan Elena di pagi hari ini, mereka tidak tahu sejak kapan Elena berada di rumah ini. Yang terlihat dengan jelas Dika benar-benar bahagia jika bersama sang kekasih.


"Kamu sejak kapan di sini Elena," tanya Justin


"Sejak tadi yah, tadi aku datang sekitar pukul 05.30 pagi, tadi sih belum ada siapa-siapa, Mamah saja belum ada masak," jawab Elena.


"Wah pagi sekali ya, pasti Dika yang memintamu untuk datang di pagi hari seperti ini, memang Dika Dika kau tidak sabar sekali bertemu dengan pacarmu.


"Lah aku pulang Kau Salahkan Adit, tadi malam memang aku meminta Elena untuk datang ke rumah, tapi tidak di pagi hari seperti ini juga, Elena sendiri yang memiliki ide datang di pagi hari seperti ini.


"Ah sangat sulit percaya padamu, Jadi kalian berdua hari ini menghabiskan waktu bersama dong Padahal aku sudah ingin mengajak Dika pergi, tetapi sepertinya Lain kali saja


"Maaf Adit, Bukannya aku tidak mau tetapi aku tidak berani untuk naik mobil, sekarang saja aku meminta Elena untuk datang ke rumah, aku masih sedikit trauma dengan kecelakaan itu yang membuatku enggak naik mobil untuk beberapa waktu ke depan.


"Sudah kalian tidak boleh ke mana-mana untuk beberapa minggu ke depan, semua ini demi kebaikan kalian. Nanti kalau semuanya sudah menjadi lebih baik, sudah tidak pada trauma lagi, kalian baru boleh beraktifitas seperti biasanya. Sekarang ini lebih baik kalian tenangkan dulu diri kalian masing-masing, lakukan hal yang kalian suka tetapi tetap di rumah saja." Ujar Justin.


"Oh iya Elena, Di Mana ayahmu? Dia tidak ke sini kah," tanya Justin.


"Ayah di rumah paman, nanti malam dia akan datang untuk membahas sesuatu katanya.


"Oh begitu ya sudah, Paman juga hari ini memiliki beberapa kegiatan di luar rumah dan memang lebih enak membahas hal penting di malam hari.


"Kamu mau ke mana Mas? Kamu saja baru pulang sudah mau pergi lagi? " Intan mengerutkan dahinya..


"Sayang aku pergi denganmu kok, kamu jangan khawatir ya, Nanti kalau aku beritahu sekarang bukan kejutan lagi dong."

__ADS_1


Dika paham jika ayahnya ingin mengajak sang mamah keluar rumah, sebelum sang Mamah pergi Dika berjalan mendekatinya dan memberikan sebuah hadiah yang ia sudah beli di Bali beberapa bulan lalu.


Intan terkejut melihat hal itu, ia tidak menduga jika Dika memberikan sebuah hadiah padanya, padahal ulang tahunnya sudah lewat sejak lama.


"Apa ini sayang," tanya Intan.


"Hadiah ulang tahun Mamah, Maafkan aku ya mah baru memberikannya sekarang. Sebenarnya aku sudah mempersiapkan ini saat aku di bali waktu itu, tetapi karena kecelakaan itu Aku tidak bisa memberikannya langsung pada Mamah, beruntung Elena menyimpan hadiah ini dan bisa aku berikan sekarang pada mamah," jawab Dika.


"Sayang terima kasih." Intan memeluk Dika dengan erat, dika selalu bisa membuatnya terharu.


"Terima kasih masih mengingat ulang tahun mamah, mamah sangat bersyukur memiliki anak seperti kalian berdua yang selalu memberikan hadiah kejutan setiap tahunnya."


"Iya mah. Sudah menjadi kewajiban kami untuk membuat mamah senang seperti ini," kata Dika.


Intan tidak melihat nominal dari hadiah yang anak-anaknya berikan, yang terpenting semua itu diberikan dengan hati yang tulus, semua hal yang diberikan dari anak maupun suaminya sangat berharga di matanya mau itu mahal ataupun tidak ya sama sekali tidak peduli.


Setelah momen makan siang itu, Elena, Dika, Adit, Serena duduk bersama di lantai atas, mereka berdua menonton televisi sambil mengambil sesuatu yang telah Intan buat. Di sela-sela menonton televisi sudah pasti ada obrolan di antara mereka berempat, banyak hal yang mereka bahas dari pernikahan Dika dan Elena sampai dengan kehamilan Serena yang sudah terlihat membesar.


"Sudah berapa bulan Serena, sudah terlihat sangat besar ya perasaan kalian menikah baru 4 bulan lebih jangan-jangan," tanya Dika.


"Jangan-jangan apa? kau Jangan berpikiran macam-macam, kandungan istriku Baru 4 bulan memang terlihat besar karena anak di dalam situ besar seperti ayahnya," ujar Adit.


"Oh begitu biasa saja dong jangan menyolot begitu kan aku hanya tanya. Dengan saudara kembar sendiri begitu, saat aku pergi pasti kau sedih kan sekarang aku berada di sini kau malah seperti itu."


"Hahaha mana mungkin aku sedih, percaya diri sekali kau Dika. Aku tidak ada sedih sedikitpun," kata Adit.


"Hah apa-apa sayang, Coba katakan sekali lagi Kamu tidak ada sedih, yang setiap hari hampir menangis, yang setiap hari termenung komanya setiap hari mengkhawatirkan Dika itu siapa ya sampai lupa istri sendiri," ucap Serena.


Adit mengerutkan dahinya ternyata istrinya sendiri yang membongkar semua rahasianya, Untung saja dia mencintai Selena kalau tidak sudah habis Serena ia buat. Dika yang Mendengar hal itu hanya bisa tertawa, ia sendiri Memang tidak yakin kalau Adit sama sekali tidak khawatir atau tidak sedih ketika ia pergi, saatnya ke Bali saja Adit begitu tidak ikhlas melepaskannya apalagi sampai berobat berbulan-bulan ke luar negeri, Dika dapat membayangkan Bagaimana ekspresi wajah Adit.


"Apa bilang kau tidak khawatir dan menangis saat aku pergi, Mana mungkin kau seperti itu Adit aku tahu kau, kita sudah bersama-sama sejak kecil, Jangankan aku pergi berbulan-bulan satu hari saja kau sudah mencari ku."


"Hmm begitu saja kok sombong, kalau kau jadi aku pasti aku juga melakukan hal yang sama dan merasakan apa yang aku rasakan. Jadi jangan sok Dika," kata Adit.


"Kalian ini ya, jauh saling merindukan, dekat bertengkar. Terus maunya apa." Tanya Serena.


"Serena Kau seperti tidak tau mereka saja, dekat bau bangkai jauh Wangi Bunga. Tetapi sepertinya kehidupan mereka berdua sangat asyik ya, sedari kecil sudah bersama, ke mana-mana bersama dan melakukan hal yang sama," ujar Elena.


Dengan kompak Adit dan Dika mengerutkan dahi nya, benar benar sangat kompak sekali.


"Sayang, tidak semuanya yang kami lakukan bersama itu asik, terkadang kami juga ingin melakukan suatu hal sendiri. Kamu tahu kami dari taman kanak-kanak, Sekolah Dasar, sekolah menengah pertama, sekolah Menengah Atas, sampai dengan kuliah selalu bersama. Sampai kami dibeli julukan kembaran tak bisa dipisahkan, hal itu benar-benar membuatku malu."


"Kau pikir kau kerja yang malu, aku juga malu. Masih banyak hal yang memalukan lainnya yang malas aku ingat dan malas aku ceritakan," ujar Adit.


"Oh begitu memang sih tidak semua hal dilakukan bersama itu menyenangkan. Lalu kalian kapan nikah," tanya Serena.


"Kapan sayang, itu Serena nanya kapan kita nikah.".


"Dika hari ini ada acara di rumah kita, tepatnya nanti malam. Kau sudah tahu kan."


"Sudah tau, tetapi apa acara nya tidak ada memberitahuku, Emang acara apa," tanya Dika.


"Acara menyambut kepulangan mu dan ayah, akan banyak keluarga besar yang akan datang termasuk Zyan, Cilla dan lain sebagainya.," jawab Dika.


"Oh begitu ya sudah adakan saja, lagi pula tidak mengganggu ku juga aku malah senang banyak orang yang datang. Ngomong-ngomong soal Cilla, bagaimana dia sekarang Apa dia sudah hamil, lahir kami bertemu saat mereka bulan madu di Bali."


"Sudah dong baru saja beberapa minggu lalu mereka memberitahu kami. Sekarang mereka memang sedang dalam perjalanan ke sini untuk menghadiri acara nanti malam," kata Adit.


"Aku dengar Erik juga akan menikah," tanya Dika.


"Berita itu hanya rumor saja, kau tahu dari mana? Padahal rumor itu tidak benar."


"Yang namanya rumor memang tidak benar bodoh, aku tahu dari ayah, ayah pun sepertinya mendengar sekilas saja."


Mereka tidak terlalu lama bersama-sama keduanya berpisah dengan pasangan masing-masing, serena dan Adit memilih untuk keluar, mereka berdua ingin pergi ke mall untuk membeli sesuatu hal yang penting sekali untuk Serena, sedangkan dika dan Elena memilih tidak kemana-mana, mereka berdua masih trauma dengan kecelakaan itu.


"Kalian jadi pergi Kalau jadi aku titip sesuatu," ucap Dika.


"Kirim saja melalui Wa nanti aku lupa," kata Adit.


"Oke hati-hati. Jangan membawa mobil sendiri, pakai sopir saja," ujar Dika.


"Memang aku akan memakai supir Aku juga belum berani membawa mobil sendiri."


Adit dan Serena pun pergi meninggalkan rumah mereka berdua memutuskan untuk pergi ke mall terdekat dari rumah walaupun tidak terlalu besar semuanya ada di sana Jadi mereka tidak perlu pergi terlalu jauh, pesanan Dika juga ada di mall tersebut. Adit sendiri jarang sekali ke mall itu, karena memang tempatnya kurang besar dan luas, tetapi sudah cukup lengkap jika hanya membeli keperluan rumah tangga saja.


"Aku ingin rasa cendol," kata Serena.


"Emang ada susu rasa cendol, kamu jangan aneh-aneh sayang."


"Ada kok kemarin aku lihat di novel-novel ada," kata Serena.


"Itu di novel bukan dunia nyata cuman kamu samakan sayang, kalau ada kamu beli kalau tidak ada Jangan membuat ke rapot oke."


"Kok kamu gitu, kan ada anakmu juga Atau jangan-jangan kamu tidak ingin Anakmu sehat, aku sendiri sih tidak masalah tidak minum susu karena aku tidak suka susu," kata Serena yang dengan mudah terpancing emosi. memang wanita sedang hamil memiliki mood yang tidak stabil.


"Tidak sayang bukan begitu, maksud dari kata tidak merepotkan, kita jangan yang mana kalau tidak ada, cukup di sini saja karena aku tidak boleh keluar terlalu jauh."


"Hmmm...Iya aku mengerti," ucap Serena.

__ADS_1


Setelah selesai membeli beberapa perlengkapan untuk serena mereka berdua membeli titipan dari dika. Dika menitip beberapa cemilan dan susu protein tinggi. Adit rasa Dika ingin kembali membentuk badannya kembali agar kembali bagus.


"Kok punya sekali mas emangnya kamu juga mau." tanya Serena.


"Iya aku juga mau enak saja dia ingin membentuk sendiri, aku juga ingin melakukannya juga lah."


"Aduh sama saudara kembar sendiri saja Irian Bagaimana sih kamu," kata Elena.


"Hahaha emang tidak boleh apa," tanya Adit.


"Tidak papa untuk kamu dan Dika bebas."


Setelah selesai berbelanja mereka berdua Langsung kembali ke rumah, Adit tidak ingin terlalu lama-lama di sana, takutnya Justin tahu dirinya keluar rumah tanpa izin, Ia kan sedang memang sedang tidak boleh keluar rumah.


Justin sendiri sedang mengajak Intan ke rumah sakit, mereka berdua Berkunjung ke dokter kandungan tempat mereka berdua dulu memeriksakan kandungan Intan saat hamil anak pertama. Sistem penasaran Apakah benar istrinya sudah hamil, jika sudah hamil apakah anaknya nanti akan kembar, banyak hal yang ingin Ia ketahui tentang kehamilan istrinya.


Intan sendiri baru tahu ketika sampai di rumah sakit itu, Intan mahalan nafas dengan nafas panjang Karena Justin Tidak ada memberitahunya jika ingin di tempat ini, ia pikir Justin mengajarkan entah ke mana eh ternyata ke rumah sakit ini.


"Kenapa kamu tidak memberitahuku Mas? Kan aku bisa bersiap-siap jika kamu mengajakku ke sini," ucap Intan yang sangat kesal.


"Hehehe namanya juga kejutan sayang, Untuk Apa sih kamu udah siap-siap, ini kan bukan yang pertama kalinya untukmu ini sudah yang kesekian kalinya jadi kamu tenang saja lah."


"Namanya juga wanita pasti ada yang ingin disiapkan sebelum pergi, mana aku memakai pakaian tidak sesuai. Kamu bagaimana sih, Aku kan jadi malu ketemu dokter dengan pakaian seperti ini, Aku pikir kamu mengajakku entah ke mall atau jalan-jalan ke mana gitu, eh ternyata kamu mengajakku ke rumah sakit."


"Eh iya juga ya aku jadi malu membawamu ke rumah sakit dengan pakaian seperti ini," kata Justin.


"Kan sekarang Kamu sendiri yang malu, kamu sih apa-apa tidak dipikirkan dulu, sekarang sudah begini mau bagaimana lagi."


"Hahaha tidak papa sayang aku menerimamu apa adanya, kamu malu aku malu kita pasangan yang sangat sesuai bukan. Jarang-jarang ada pasangan seperti kita," kata Justin.


Intan yang mendengarnya hanya tertawa, sudah 2 bulan lebih ya tidak mendengar celotehan Justin yang menggelikan perutnya, sekarang Justin kembali berulah dan ini memang cukup menyesalkan tetapi juga cukup menghiburnya. Karena tidak ada pilihan lain mereka berdua pun masuk ke dalam rumah sakit dengan pakaian yang tidak sesuai, beberapa kali mereka berdua menjadi pusat perhatian tetapi sifat cuek Justin membuat Intan terbiasa dengan tatapan aneh dari orang orang di sekitarnya.


"Wah wah ini habis bulan madu langsung ke sini sepertinya."


"Dokter bisa saja, kami tidak habis bulan madu, kami hanya habis piknik ya kan sayang," kata Justin.


"Sayang kamu jangan membuatku semakin malu. Dokter, dokter tahu sendiri kan Bagaimana suamiku nah sekarang saya menjadi korbannya," kata Intan.


"Hahaha yang sabar nona Intan memang memiliki suami seperti Mas Justin ini harus lebih sabar, sudah 21 tahun bukan kalian menikah bagaimana apakah menyenangkan memiliki suami seperti Mas Justin."


"Seperti naik roller coaster, hanya itu yang bisa aku katakan," ucap Intan.


"Sayang kamu kok seperti itu sih, seharusnya kamu menjawab Aku sangat senang memiliki suami seperti Justin, suamiku sangat keren, kaya raya, kuat dan dapat membuat mu hamil anak kembar. Bukannya seharusnya begitu dok."


"Hahaha yang mas Justin katakan itu benar. Nona Harus banyak bersyukur memiliki suami seperti ini sangat langka," kata Dokter.


"Dokter benar, sangat langka sekali, Untung saja dia sudah memiliki dua keturunan yang sifatnya hampir sama, jadi dia sudah bukan makhluk yang dilindungi lagi."


"Sayang emangnya aku apa makhluk di lindungi," ucap Justin.


"Tidak ada sayang, oh iya dokter kami datang ke sini ini memeriksa kandungan saya."


"Sudah hamil ya, Perasaan baru beberapa bulan lalu datang ke sini," kata Dokter.


"Sehari pun jadi dok kalau saya yang membuatnya."


"Itu dengar dok apa yang dia katakan. Jadi dokter jangan heran lagi," ucap Justin.


"Wah wah wah sangat keren, Ya sudah ayo ke ruang pemeriksaan."


Intan pun mulai melakukan pemeriksaan, seperti biasanya Justin mendampingi Intan di samping untuk melihat bagaimana anaknya di dalam rahim sang istri.


"Bagaimana dok. Apakah semuanya baik-baik saja sudah berapa minggu."


"Tenang mas Justin semuanya pasti baik-baik saja, kandungan istri masukin sudah masuk ke 8 Minggu, artinya 2 bulan. Janin berkembang dengan sangat baik ini karena sang Ibu mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi, Mas Justin harus selalu memperhatikan asupan makanan yang istri anda makan agar janin berkembang semakin baik," jelas Dokter.


"Kalau itu tenang saja dokter, istri saya tuh sangat pintar memasak dan membuat makanan yang sangat, jadi untuk hal itu it's oke tidak ada masalah," kata Justin.


"Oh begitu pantas saja semuanya terlihat baik-baik saja, dan sekarang yang terpenting jangan sering berhubungan suami istri dulu, kalau bisa ya disetop untuk beberapa minggu ke depan, semua ini demi kandungan istri mas Justin agar tidak terjadi apa-apa, mengingat usia istri anda sendiri sudah hampir menginjak angka 40 tahun yang pasti memiliki lebih besar resiko daripada kehamilan di bawah umur 40 tahun."


"Nah itu dengar Sayang, kamu pulang-pulang dari merantau langsung mengajak nganu, Untung saja tidak terjadi apa-apa kan pada kandunganku," kata Intan."


"Lah kamu sendirian bilang tidak papa, yang aku pikir tidak apa-apa aku mah kalau kamu bilang tidak boleh aku pasti tidak akan melakukannya. Tapi kalau pelan-pelan bukan tidak apa-apa dok, masa aku harus libur beberapa minggu mana Enak," kata Justin.


"Ya memang tidak enak tapi kan demi kebaikan anak mas Justin sendiri, tahanlah beberapa minggu ke depan setelah itu baru boleh bermain pelan-pelan, kalau mau main juga jangan keluar dalam bisa menimbulkan kontraksi. Tapi kalau benar-benar tidak bisa ya bisa dibicarakan baik-baik, mana posisi yang tepat dan nyaman untuk keduanya, semuanya bisa dibicarakan baik-baik intinya."


"Oke dok saya laksanakan," ucap Intan.


"Ih senang sekali, tadi saja saat tidak boleh mendapatkan jatah wajahnya seperti itu, sekarang berubah semringa."


Setelah melakukan pemeriksaan mereka berdua pun pergi meninggalkan rumah sakit, nah kali ini Justin mengajak Intan jalan-jalan. Semua ini agar Intan tidak bosan di rumah, mereka juga sudah lama tidak menghabiskan waktu berdua dan sekarang waktunya untuk melakukan hal itu, lagi pula jalan-jalan bukan hal yang membosankan apalagi bersama pasangan yang sangat dicintai.


Malam harinya, Ayah dari Elena datang ke rumah Dika untuk membahas pernikahan mereka berdua bersama dengan keluarga besar Dika kebetulan malam ini memang ada acara keluarga di rumah Dika, acara sebagai penyambutan kepulangan di Dika dan Justin.


Untuk masalah pernikahan memang hanya Dika dan Justin yang membahasnya, keluarga yang lainnya hanya ikut mendengarkan saja, mereka semua sepakat acara pernikahan dilaksanakan 3 minggu dari sekarang di tempat yang sama sesuai dengan yang Dika dan Elena inginkan yaitu di Bali, Dika sangat terkejut tempat itu dibeli langsung oleh ayahnya Elena, hanya untuk acara pernikahan mereka berdua. Itu menandakan jika memang ia sangat diharapkan sebagai menantu di keluarga besar Elena.


Elena sendiri memang beberapa waktu lalu pernah membicarakan masalah tempat pernikahan ia dengan Dika ia mengadu pada sang ayah jika tempat itu tidak bisa digunakan dalam waktu dekat, Nah mungkin itu yang membuat Riko membeli tempat itu langsung agar bisa dipakai untuk pernikahan anaknya dan Dika. Memang berbeda menikah dengan keluarga yang kaya raya.


Beberapa persiapan seperti gaun pengantin, dekorasi, seserahan dan lain sebagainya akan dipersiapkan langsung oleh Justin dalam seminggu terakhir ini, ia sudah sangat biasa mempersiapkan semua secara mendadak dan sudah pasti dibantu oleh sang sahabat siapa lagi jika bukan mark. Mak sendiri hanya bisa menghela nafas panjang, ia sudah menduganya karena tidak mungkin Justin melakukan semuanya sendiri.

__ADS_1


Mereka semua akan berangkat ke Bali seminggu sebelum acara pernikahan, karena untuk fitting dan dekorasi disiapkan langsung di Bali, jadi di sana mereka melakukan berbagai macam persiapan sebelum hari pernikahan, semua hal mereka bahas termasuk dimana nanti Elena dan Dika tinggal, Ayah Elena meminta mereka berdua untuk tinggal di rumah Elena, tetapi Justin melarang karena seharusnya pihak wanita mengikuti pihak pria, dan Dika ingin tetap tinggal di rumah ini agar sang mamah dan ayah tidak kesepian. Meskipun begitu Bukan berarti ia tidak ke rumah mertuanya, untuk Sabtu Minggu jatah Dika dan Elena menginap di rumah Rico. Dan pada akhirnya mereka sepakat dengan keputusan diambil bersama.


__ADS_2