
Keesokan harinya, Justin dan Adit sudah siap u untuk berubah ke rumah sakit, kemarin Dika tidak di tunggu oleh siapapun karena dalam pengawasan dokter, hari ini sebelum besok terbang keluar negeri, Adit bisa menjenguk Dika.
Mata Adit terlihat bengkak, karena kemarin terlalu banyak menangis, ia sedikit malu dengan orang sekitar nya itu sebabnya pagi ini ia menggunakan kaca mata gelap agar tidak ada yang tau jika matanya sedang bengkak.
"Buka kaca mata mu, di dalam mobil saja pakai kaca mata," ucap Justin.
"Tidak mau ayah, aku tidak mau, aku sangat malu," kata Adit.
"Kau malu kenapa," tanya Justin.
"Mata ku terlihat bengkak aku sangat malu ayah," jawab Adit.
"Kenapa bisa bengkak," tanya Justin.
"Ayah tau sendiri kan tadi malam aku menangis dan hanya menangis sampai aku lelah."
"Hadeh adit adit, kan sudah yah katakan kamu boleh sedih tetapi jangan sampai seperti ini juga. Sekarang kau sendiri kan yang malu," ucap Justin.
"Hehehe namanya sedih yah. Aku tidak bisa mengontrol diriku tadi malam, aku berfikir kenapa harus Dika kenapa tidak aku saja. Dika mau menikah yah, tetapi dia malah terkena musibah seperti ini."
"Jaga ucapan mu Adit, mau kau ataupun dika seharusnya tidak boleh terjadi hal seperti ini. Tetapi sudahlah ini sudah menjadi takdir, semuanya sudah terjadi dan sekarang kita hanya bisa berusaha agar dika kembali seperti semula," ucap Justin sambil mengusap tangan Adit.
Adit hanya diam sambil menundukkan kepalanya, iya masih tidak bisa terima saudara kembarnya menderita begitu dalam. Seperti yang ia pikirkan tadi kenapa tidak dirinya saja kenapa harus Dika.
Justin mengerti apa yang anaknya rasakan, ia pun sempat berpikir hal yang sama seperti yang Adit katakan. Kenapa harus anak-anaknya menderita kenapa tidak bukan dirinya saja, tetapi itu hanya pikiranku sesaat, karena intan cepat menyadarkan dirinya.
"Ayah bagaimana kalau di sana Dika tidak ada perkembangan juga," tanya Adit.
"Adit belum apa apa kamu sudah berkata seperti ini, sudah lah jangan membuat ayah over thinking. Pasti di sana Dika ada perkembangan, semuanya belum di lalui, dan kamu sudah pesimis seperempat ini," ucap Justin.
"Maaf aku tidak termaksud." adit sangat merasa bersalah telah mengatakan hal seperti itu. Bukannya membantu yang malam membuat suasana semakin tidak bagus.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit mereka berdua langsung menuju ke ruangan Dika di rawat. Untuk kali ini tidak bisa sekaligus dua orang yang masuk, untuk masuk kedalam mereka berdua mereka berdua harus bergantian.
"Ayah dulu atau kamu dulu," tanya Justin.
"Ayah dulu saja nanti aku pastikan lama."
"Ya sudah ayah masuk." Justin berjalan masuk ke dalam.
Diluar adit sama sekali tidak tenang, pikirannya sudah kemana-mana sejak tadi, ia sadar kenapa keluarganya merahasiakan hal ini padanya, mungkin inilah yang mereka takutkan, kalau sampai iya tau sebelum sembuh pasti kondisinya akan semakin buruk.
Justin hanya memandang dika yang masih belum mengalami perubahan sedikitpun, hatinya sangat sedih melihat anak pertamanya seperti itu. Justin berharap sekolah membawa dika berobat ke luar negeri dika dapat kembali seperti sedia kala.
"Adikmu akan melihatmu, dia sudah sangat merindukanmu, telah mendengar tentang mu ia hanya bisa menangis, semoga ini bukan pertemuan terakhir kalian."
Justin tidak terlalu lama di dalam sana, ia sudah cukup melihat dika, jika berada lama di dalam sana, rasa sedih di hatinya akan terus bertambah. Sekarang ini ia harus kuat karena kedepannya ia akan terus bersama Dika. Menjadi kuat memang bukan hal yang mudah tetapi bukan berarti tidak bisa.
Adik melihat sang ayah ke luar dan dalam ruangan itu, seperti biasanya di depan adit justin terlihat baik-baik saja, iya masih bisa menyembunyikan semuanya dengan sangat baik.
"Sudah ada apa dengan dahi mu.
"Tidak ada, aku hanya heran kenapa ayah masih bisa menutupi kesedihan ayah di depanku.
"Sudahlah cepat masuk ke dalam, bukan waktunya untuk membahas hal seperti itu.
Sambil menghela nafas panjang adit termasuk kedalam ruangan itu. Ia tidak tahu apakah bisa kuat berada di dalam sana, ia belum tahu seberapa parahnya Dika yang membuatnya harus berobat keluar luar negeri.
Baru melihat Dika dari kejauhan air matanya sudah menetas, ia benar-benar tidak kuat melihat Dika yang tidak berdaya di atas tempat tidur. Berbagai macam alat menempel pada tubuhnya, tubuh Dika juga terlihat lebih kurus dari biasanya.
Sejenak Adit menangis di samping tubuh kembarannya, nafasnya terasa sangat berat, dadanya terasa sesak, air mata dengan deras mengalir di kedua mata angin. Seumur hidupnya ia tidak pernah membayangkan hal ini terjadi pada Dika.
"Dika hiks hiks hiks.."
__ADS_1
Walaupun berusaha untuk tidak menangis sangat sulit untuk Adit tidak menangis, air matanya terus menetes deras tidak terkira, wajahnya memegang tangan Dika yang terasa sangat dingin sekali.
Adit menangis kurang lebih 5 menit lamanya, ia kembali berusaha menahan tangisnya, walaupun terasa sesak Adit berhasil melakukannya..
"Kenapa kau jadi seperti ini Dika, kenapa kau seperti ini," ucap Adit.
"Dika aku ingin kau bangun bangun Dika bangun..."
Adit tidak tau sebelumnya ia jika hampir sama seperti Dika, hanya saja nasibnya lebih beruntung dari Dika. Ia sangat menyesal baru tau semua ini sekarang, kalau saja ia tau sejak ia sadar, ia akan terus di samping Dika.
Adit tidak akan keluar sampai Dika waktunya Dika terbang, ia ingin terus berada di samping kembarannya sampai besok. Agar sang ayah tidak menggunakan Dika memilih mengirimkan pesan pada Justin. Justin yang mendapatkan pesan itu tidak bisa apa apa, ia membiarkan Adit menghabiskan waktu dengan Dika.
Dari pagi sampai Sore Adit tidak bergerak dari tempatnya, ia bahkan tidak makan sama sekali. Ia hanya menatap kembarannya yang sedang tidak bisa apa apa.
Tiba tiba handphone Adit berdering, ia melihat panggilan dari istrinya, agar tidak menunggu Dika. Adit berjalan menjauh untuk menyangkal panggilan itu.
"Halo sayang.."
"Aku di depan, kamu keluar lah, kamu belum makan kan," ucap Serena.
"Iya sayang, aku keluar," kata Adit.
Serena melihat Adit keluar dari ruangan itu, ia langsung mendekati Adit dan memeluknya, ia sadar suaminya benar-benar rapuh sekarang. Sama seperti dirinya dulu saat Adit dalam keadaan koma.
"Makan dulu yuk, aku suapin," ucap Serena.
"Kamu kesini dengan siapa," tanya Adit.
"Dengan ayah, tapi Ayah sedang mengurus keberangkatan Dika besok," jawab Serena.
"Aku boleh menginap di sini," tanya Adit.
__ADS_1
"Boleh sayang, tapi kamu jangan menangis ya, kamu harus kuat," jawab Serena.