Dipaksa Menikah Season 2

Dipaksa Menikah Season 2
Kebahagiaan keluarga besar.


__ADS_3

"Aku sudah tahu kalau Adit tidak mau menganggapnya, kalau Dika sendiri kata dia mereka bertemu di sebuah tempat yang cukup jauh dari sini. Tapi aku tidak tahu di mana tempat itu, Dika tidak memberitahuku, hanya Dika yang tau," ucap Intan.


"Iya sebenarnya sih Dika saat itu sedang bersama. Kami sedang mengerjakan beberapa proyek perusahaan. Nah karena ada beberapa tempat berjauhan kami berpisah. Kata dia mereka bertemu di jalan saat menuju ke arah proyek. Menurutku sih sekitar daerah C."


"Ya sudahlah, yang penting mereka bahagia dengan kehidupan mereka sekarang. Kalau Nabila sendiri sih masih sering bertemu, apalagi saat nabila dan melahirkan mamah sering menemaninya. Nabila kan anak kesayangan mereka," kata Intan.


"Sabar ya, kamu memang tidak kesayangan mereka tetapi kamu kesayangan aku dan anak-anakmu," ucap Justin sambil mencium istrinya.


"Ah kamu bisa saja," ucap Intan yang malu sendiri.


Dua hari setelah hari itu Dika, Justin dan mark pergi bertemu dengan Rico. Justin menyerahkan semuanya kali ini pada Dika, karena Dika yang paling dekat dengan Rico. Rico dengan Justin memang berteman, tetapi tidak terlalu dekat seperti dengan Mark. Agak terasa canggung jika membahas hal penting seperti ini jika mereka berdua tidak sedekat Itu, Nah kalau Dika sendiri kan sangat dekat, jadi terasa lebih nyaman dan enak.


"Oh jadi pemiliknya mertuanya si Dika," tanya Mark.


"Iya paman, Bagaimana mertuaku sangat keren bukan?" Dika benar-benar bangga dengan sang ayah mertua.


"Aku bilang sih bukan mertuamu yang sangat keren, tapi kau yang sangat keren bisa mengambil hatinya, harganya sangat mahal loh bisa-bisanya memberikannya padamu begitu saja."


"Hahaha ya begitulah, namanya Dika," ujar Justin.


"Ah aku jadi malu di sanjung sanjung seperti ini," ucap Dika.


Mark dengan Justin hanya bisa menggelengkan kepala mereka berdua.


Mereka semua bertemu di rumah yang akan mereka tempati. Dika dan yang lainnya sama-sama takjub dengan kemewahan rumah itu, rumah termewah yang berada di sekitar situ. Bahkan Dika rasa lebih mewah dari rumah yang mertuanya sendiri.


"Ayah." Dika langsung memeluk Rico dan mencium tangannya.


"Bagaimana kabarmu Dika, semakin bersemangat saja kau," tanya Rico sambil mengusap kepala Dika.


"Hahaha Iya ayah, anakmu yang membuatku semakin bersemangat," jawab Dika.


"Memang anak ini bisa saja," ucap Rico.


"Halo Rico apa kabar," tanya Justin.


"Kabar baik Justin, Bagaimana denganmu?"


"Sama sepertimu aku sangat baik."


"Ayo kita masuk dulu kita bahas di dalam," kata Rico.


"Ayah Rumah ini sangat besar sekali," ucap Dika.


"Hahaha sangat besar dong namanya dibuat khusus."


Mereka berdua pun masuk ke dalam dan duduk bersama di ruang keluarga, mereka tidak henti-hentinya takjub dengan kemewahan rumah ini.


"Dibuat khusus bagaimana yah Atau memang dibuat khusus untukku," tanya Dika yang terlalu percaya diri sekali.


"Nah kamu tau, Emang rumah ini dibuat khusus untuk kamu dan Elena. Selama Ayah berada di luar negeri bersama Elena, rumah ini sudah dalam proses finishing. Dan ayah pikir kalian akan mau tinggal di sini, tetapi karena kau tidak bisa pisah dari ayahmu ya rumah ini mau ayah jual, tetapi ternyata yang ingin membelinya ayahmu," jelas Rico yang membuat semua orang terkejut. Dika memang sangat spesial.


"Lah berarti rumah ini sebenarnya untukku, ah ayah kenapa tidak bilang waktu itu."


"Untuk apa, toh sekarang kamu juga tinggal di sini bersama dengan Elena," kata Rico.


"Tapi yah apa tidak papa keluarga tinggal juga di sini," tanya Dika.


"Ya tidak apa-apa dong, rumah ini atas namamu sebenarnya, jadi ya terserah kamu, mau kamu masukin siapa saja. Lagi pula besanku sendiri, sangat tidak papa semakin ramai semakin baik. Dan ayah sangat senang kalian pindah ke sini karena kita semakin dekat."


"Nah iya kita semakin dekat, Setiap hari aku akan ke rumah ayah untuk menumpang makan siang," kata Dika.


"Kau memang ya bisa saja membuat ayah senang," ucap Rico.


Lagi dan lagi Justin menggelengkan kepalanya. Bagaimana Rico tidak dekat dengan Dika, Dika saja sangat pintar mengambil hati sang ayah mertua. Berbeda dengannya yang malah musuhan dengan mertuanya sendiri, tetapi semua ini bagus karena apa yang Dika lakukan memang hal yang baik.


"Jadi kalian kapan akan pindah," tanya Rico.


"Minggu depan, banyak hal yang harus kami bereskan, terutama barang-barang dan data data perusahaan yang memang harus pindah ke rumah baru," jawab Justin.


"Untuk data-data itu, tidak masalah sih Justin, kau tinggal untuk sementara waktu. Toh aku juga yang di sana dan aku juga yang hampir mengurus semuanya, kalau hanya pakaian dan barang-barang kecil lainnya mungkin 3 hari juga sudah bisa pindah. Kau pindah aku bersiap-siap untuk pindah juga," ujar Mark.


"Iya sih kau benar. Apakah bisa 3 hari ke depan kamu sudah di sini Rico," tanya Justin.


"Sangat bisa sekali Justin, Nah karena kalian 3 hari ke depan baru akan pindah, malam ini isi rumah ini akan dilengkapi. Karena memang beberapa hal belum masuk ke dalam rumah," kata Rico.


"Kalau untuk itu biar kami saja yang mengurusnya."


"Tindak Justin, bukan apa-apa ya. Kan rumah ini sudah dirancang langsung ada arsitek dan termasuk isi-isinya juga sudah disesuaikan langsung, jadi memang tinggal diisi saja. Nanti kalau semisalnya kamu dan yang lainnya tidak cocok, bisa kalian ganti sendiri dengan bebas. Karena rumah ini memang sudah milik Dika, atas nama Dika juga dari tanah sampai rumah," jelas Rico.


"Wah anakku jadi kaya raya sekarang, sudah punya aset rumah," ucap Justin.


"Hahaha iya dong ayah, Ini semua karena ayah mertuaku yang sangat baik dan luar biasa," kata Dika.


"Dika tapi ingat jangan sebentar kau yang mempunyai rumah. Kau semena-mena dengan orang tuamu, akan ayah merebus kau hidup-hidup," ucap Rico.


"Hehehe tidak mungkin yah, Aku bukan anak durhaka."


Karena beberapa hari ke depan langsung ingin ditinggali, Rico meminta sang manager untuk langsung menyerahkan surat-surat rumah dan tanah ada dika. Dengan senyuman yang semringah Dika menandatangani semua hal yang harus ditandatangani.


"Anggap Ini hadiah pernikahan mu dari ayah," kata Rico.


"Hadiah yang sangat luar biasa ya. Aku sangat suka," ucap Dika


Dika kembali memeluk sanga ayah mertua sebagai ucapan terimakasih dari nya, ia merasa manusia paling beruntung di dunia ini.


Setelah semuanya dirasa selesai mereka langsung pulang ke rumah untuk mulai bersiap-siap, untuk pakaian dan barang-barang harus dibereskan oleh mereka masing-masing. Nah untuk barang-barang lainnya yang sekiranya besar atau sulit untuk dibereskan sendiri, Justin sudah menyewa orang untuk membantu mereka.


Selamat Mark, kau akan kesulitan untuk membereskan semuanya. Kau kan OCD, tidak suka melihat barang berantakan.


"Hahaha santai anak ku 7, 5 sudah bisa membantu ku, jadi tenang saja lah masalah itu, dan lagi aku bisa menyewa orang untuk membantu ku."


"Hahaha iya lah, aku siap siap dulu, dan kau bisa pulang," kata Justin.


"Enak saja kau mengusir ku, ya sudah aku pulang." Segera Mark pergi meninggalkan rumah.


Dika berjalan masuk kedalam kamar nya, ia sangat senang mendapatkan rumah mewah yang sangat ia inginkan.


"Sayang.."


"Hmmm ada apa," tanya Elena.


"Ada yang membuat ku senang hari ini, " jawab Dika.


"Apa yang ayahku berikan padamu mu"


"Hahaha tau saja kamu," kata Dika.


"Ya iya dong sayang, kalau ayah menghubungi ku pasti ayah bertanya tentang mu, dimana Dika, dia baik baik saja kan," ucap Elena.


"Hahaha namanya anak ayah mertua," kata Dika.


"Lalu apa yang membuat mu senang," tanya Elena.


"Ayah dan memberikan rumah dan tanah yang sangat mewah dan luas kepada ku, benar benar untuk ku, sebelum nya ayah ingin memberikan ku rumah untuk tinggal, tetapi karena aku tidak bisa pisah dengan ayah ku jadi ayah mu ingin menjual rumah itu, nah karena aku datang untuk bertanya tentang rumah itu, ayah langsung memberikan nya pada ku, semua surat atas nama ku sayang."


Elena benar-benar sangat senang Dika bercerita dengan semangat, itu tandanya apa yang Ayahnya berikan benar-benar berarti untuk Dika. Ia tidak masalah jika sang ayah memberikan semua itu pada Dika, memang dari pertama sang ayah bertemu dengan Dika. Ayah Elena sudah suka dengan Dika, itu sebabnya Rico selalu mengatakan sabar saat Dika mengalami kecelakaan, ia hanya ingin Dika sebagai menantunya.


"Kamu tidak masalah kan sayang, ayah memberikan semua itu pada ku," tanya Dika.


"Iya aku tidak masalah lah, kamu ada ada saja." Elena tersenyum manis pada Dika.


***

__ADS_1


Beberapa hari telah berlalu, hari ini mereka semua akan pindah ke rumah baru, senja kemarin barang-barang yang sangat diperlukan sudah masuk ke dalam rumah baru, termasuk pakaian dan barang-barang seputar pekerjaan di kantor. untuk barang yang bisa ditinggal mereka tinggal terlebih dahulu, semuanya bisa bertahap. Lagi pula Mark pindah ke rumah lama masih minggu depan.


Mark sendiri juga sangat senang karena mendapatkan rumah gratis yang sangat mewah dah besar seperti ini, rumah yang sangat cukup untuk nya dan keluarga besar nya tinggal. Ketujuh anaknya juga sangat senang mendapatkan rumah baru yang lebih besar dari sebelumnya.


Menikah membagi kamar sesuai dengan keinginan masing-masing, Adit dan Serena memiliki kamar di lantai dua, sedangkan Dika dengan elena memilih kamar di lantai empat, tetapi itu hanya sementara, jika oleh Elena hamil nanti mereka akan pindah juga ke pantai dua. kalau Justin dan Intan sendiri memilih di lantai terdekat yaitu memang lantai dua, karena memang mereka berdua sudah malas naik turun lantai, walaupun menggunakan lift.


Di lantai bawah diisi oleh para pembantu, satpam dan tukang kebun ada rumah yang tidak terlalu sepi. Mereka tidak perlu khawatir tentang privasi karena rumah ini sudah dirancang khusus agar masing-masing lantai tidak terlalu terhubung, jadi privasi mereka masing-masing akan aman.


"Terima kasih ya untuk semuanya," ucap Dika.


"Iya Dika sama sama, kalian yang nyaman tinggal di sini, Semoga apa yang sudah disiapkan cocok dengan kalian semua."


Rico benar-benar sangat senang melihat menantu dan anak nya gembira seperti ini.


"Pasti sangat cocok Rico, Terima kasih untuk semuanya, Terima kasih telah menyayangi anakku seperti kau menyayangi anakmu sendiri. Aku pun akan menyayangi Elena seperti anak ku sendiri," kata Justin.


"Sama-sama Justin, aku memang sangat menginginkan Dika sebagai menantuku, jadi aku pasti memperlakukan dia dengan sangat baik. Terima kasih telah memperlakukan Elena dengan baik juga aku yakin kau dapat melakukannya dan aku sangat percaya denganmu," ucap Rico.


Rasanya memang sangat adem sekali jika semuanya akur, walaupun mereka berdua memiliki sikap dan watak yang berbeda keduanya dapat menyesuaikan dengan baik. Pernikahan Dika dan Elena memang menyatukan dua keluarga besar dengan baik.


"Ayo sayang kamar kita di lantai atas."


"Sombong sekali," ujar Adit.


"Dika jangan macam macam dengan anak ayah ya, segera berikan ayah cucu," kata Rico.


"Iya ayah, siap laksanakan. Bulan depan aku yakin Elena sudah isi."


"Hahaha bagaimana tidak isi, tiap malam hampir di gas," ucap Adit.


"Halah seperti kau tidak saja lah," kata Justin.


"Hahaha kami kan kembar."


"Adit kalau kau belum menikah, paman akan menjodohkan mu dengan anak bungsu paman," kata Rico.


"Hehehe maaf paman aku sudah mempunyai istri yang sangat sempurna. Masa paman mau borong anak anak ayah, ketampanan kami wajib di bagi paman," ucap Adit.


"Hahaha kau bisa saja," kata Rico.


Justin sangat seneng anak anaknya sangat pintar bergaul dengan banyak iran, mereka sama sekali tidak canggung yang membuat masa depan mereka menjadi lebih baik.


Setelah perpindahan itu, semuanya semakin lebih baik, Adit dan Serena sedang asik asik nya bermain dengan baby mereka yang sudah semakin aktif. Walaupun masih berada di dalam perut, mereka berdua sudah merasakan indahnya mempunyai anak.


"Sayang anak kita kamu berikan nama siapa," tanya Serena.


"Aku belum tau," jawab Adit.


"Lah buat anak senang tapi memberikan nama sulit."


"Hahaha nanti aku bahas dengan Dika Sayang aku ingin mempunyai dua anak saja," kata Adit.


"Aku juga tidak mau melahirkan banyak banyak, mempunyai dua anak sudah sangat cukup."


"Tapi sayang apa nanti kita tidak kesepian," tanya Adit.


"Ya tidak lah sayang, kan kita tinggal dengan keluarga kamu yang sangat ramai, bagaimana mungkin bisa sepi."


"Hahaha iya juga ya, aku tidak akan pisah dengan Dika, dan keluarga ku," kata Adit.


''Jangan sampai sayang, keluarga kamu sangat asik, aku yang awalnya jarang bersosialisasi dengan orang sekarang aku sudah sering, memang sangat luar biasa sayang rumah kamu," ucap Serena.


Adit tersenyum lebar keluarga mendapatkan pujian dari sang istri.


***


Sebulan setelah pindah dari rumah, mereka mulai melakukan aktivasi seperti biasa, semua barang sudah masuk ke rumah baru. Semuanya sudah lengkap tanpa kurang apapun.


"Sayang jatah dulu ya, kan periksa nya nanti sore."


"Kamu asik jatah saja, kamu apa tidak bosan."


"Lah bagaimana mungkin bosan, jatah ku saja seminggu terkahir hilang karena kamu mual mual," kata Adit.


"Aku takut mas, nanti kalau anak kita kegenjet bagaimana," tanya Serena.


"Hahaha tidak sayang, kan kata dokter aman sampai kamu melahirkan nanti, yang penting jangan bar bar," jawab Adit dengan begitu manisnya, memang ya kalau ingin harus berbicara begitu manis.


"Pelan pelan," ucap Serena.


Adit tertawa melihat tubuh istri nya yang mulai membesar, hampir semuanya membesar termasuk bagian favorit nya, terlihat sangat padat dan menggoda Adit.


"Kenapa sayang," tanya Serena.


"Kamu sudah semakin membesar ya, berapa berat badan mu sekarang," tanya Adit.


"65, biasa cuma 50," jawab Serena.


"Tidak papa, cantik dan sangat seksi."


Adit mulai menghabiskan apa yang menurutnya enak, kali ini tidak ada toleransi karena mual lagi.


"Sayang asih kamu keluar." Tanpa sengaja Adit meminum nya.


"Ha! jangan sayang, jangan kamu minum tidak boleh."


"Aku tidak sengaja, kok keluar ya. Nanti kita tanya dokter ya," ucap Adit.


Karena beberapa kali asih Serena keluar, Adit jadi tida berani untuk memainkan benda itu. Ia langsung ke bagian intinya saja. Adit sudah diberitahu dokter posisi mana yang aman dan di anjurkan.


"Masih enak ya sayang, kamu the best." Adit bergerak perlahan sesuai dengan irama.


Serena sendiri sudah pasti merem melek di buat Adit. Walaupun Adit bergerak begitu perlahan, Adit menusuk nya begitu dalam, rasanya benar-benar sangat enak sekali. Apalagi ia sedang hamil dan hormonnya semakin tinggi.


"Kamu mau sampai sayang," tanya Adit.


"Iya mas, jangan berhenti.."


"Cepat sekali sayang, aku baru mulai."


"Sayang ganti gaya ya," ucap Adit.


"Iya sayang.."


Adit sedikit menaikan kaki Serena sampai ke atas, dan ia menusuk Serena dari samping. Hal itu membuat Serena menjadi jadi, begitu juga dengan Adit, yang lebih menjadi jadi, setelah seminggu lamanya akhirnya ia bisa bergerak dengan bebas lagi.


"Lagi sayang lagi, dia mau keluar sayang," ucap Adit.


Serena tidak membalas perkataan Adit memang kalau sedang seperti ini Adit suka mengoceh sedangkan Serena lebih suka diam menikmati apa yang suaminya lakukan.


Di kamar lain.


Huekk... Huek... Huek... Elena memuntahkan makanan yang ia makan tadi, perut nya sangat mual sekali dan wajahnya terlihat pucat.


"Sayang kamu tidak papa, kita ke rumah sakit ya."


"Tidak papa, mungkin efek kedinginan." Elena memeluk Dika dengan erat.


"Sayang..." Dika tidak percaya jika Elena tidak papa.


"Kita ke rumah sakit ya, nanti Adit dan Serena juga akan ke rumah sakit, kita sekalian saja. Mana tau kamu hamil sayang," kata Adit.


"Hamil.." Elena mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Iya hamil, kita sudah lebih dari sebulan menikah dan kamu belum ada datang bulan, setiap malam selalu ready."


"Iya mungkin ya, aku sih punya testpack dari mamah, apakah aku coba ya."


"Ya sudah coba saja," ucap Dika.


Elena mengambil testpack yang mamah mertuanya berikan dan mulai memeriksanya. Dika tidak mau membuang kesempatan, ia juga ikut masuk ke dalam kamar mandi.


"Begitu ya caranya," ucap Dika.


"Ya jadi, tidak mungkin di masukan ke dalam."


Tak lama garis testpack mulai muncul dan terlihat dua garis merah. Dika dan Elena sama sama bingung karena mereka berdua belum membaca petunjuk.


"Apa artinya," tanya Dika.


"Aku juga tidak tau, coba kamu baca petunjuk nya."


Mata Dika terbelalak saat tau ternyata dua garis merah berarti hamil. Dengan cepat Dika memeluk Elena dengan erat ia mencium wajah Elena karena begitu senang nya.


"Kamu hamil sayang," ucap Dika.


"Ahkkk aku hamil, aku sangat senang..." Elena tidak kalah senang nya, walaupun perutnya terasa mual.


Suatu kebahagiaan yang amat luar biasa, kehamilan memang hal yang paling di nantikan sekarang suami istri. Begitu juga dengan halnya Elena dan Dika. Apalagi di keluarga ini hanya tinggal mereka berdua.


"Sayang kalau ayah mu tau pasti dia sangat senang mendengar kehamilan kamu," kata Dika.


"Ya jelas dong, ini cucu pertama nya, pasti dian sangat senang dan akan memberikan kita banyak hadiah.


Sore hari nya mereka berempat sudah berada di rumah sakit, pertama Serena yang melakukan pemeriksaan untuk mengetahui jenis kelamin anaknya.


Mereka berganti di periksa, nah untuk yang pertama sudah pasti Serena yang kandungannya sudah sangat besar.


Adit dengan sangat fokus menatap layar monitor, ia sangat penasaran dengan jenis kelamin anaknya, ia ingin pria dan Serena ingin anak perempuan.Tetapi mereka berdua tidak memaksakan kehendak, apa yang diberikan tuhan pasti membuat mereka berdua senang.


"Tidak berbatang pun," kata Adit.


"Iya mas Adit, perempuan anaknya," ucap Dokter.


"Yes perempuan aku menang," kata Serena.


"Hmmm yasudah lah, mau perempuan atau laki laki aku tidak masalah, yang penting sehat."


"Nah benar mas, yang pentin anak kalian berdua sehat. Untuk berhubungan suami istri bisa rutin kalau mau, apalagi jika sudah masuk ke 9 bulan, agar mempermudah jalan lahir."


"Dok kenapa asih istri saya sudah keluar," tanya Adit.


"Tidak papa, itu hal yang normal," jawab Dokter.


"Apa boleh saya minum, tidak sengaja tertelan soalnya."


"Kalau tidak berlebihan tidak papa, jangan sampai aku ayahnya kenyang anaknya mendapatkan sisa."


"Hehehe tidak mungkin dong dok," ucap Adit.


Setelah Adit dan Serena sekarang giliran Dika dan Elena mereka berdua benar-benar penasaran. Mereka sedikit ragu dengan hasil testpack tadi pagi. Sekarang Elena sudah berbaring di atas tempat tidur untuk memeriksakan kandungan nya, mana tau juga anak mereka berdua kembar. Dika sempat berpikir seperti itu.


"Itu janinnya sudah terlihat, kalau dari penuturan mbak Elena, usia janin sudah masuk ke 6 minggu," kata Dokter.


"Syukurlah, aku sangat lega," ucap Dika.


"Apa kembar dok," tanya Dika.


"Tidak mas, tidak kembar hanya ada satu janin," jawab Dokter.


"Mas Dika, jangan berhubungan suami istri yang dulu ya, berikan waktu istri Anda untuk istirahat," kata Dokter.


"I..Iya dok, saya tidak akan melakukan nya." Dika sedikit malu mendengar nya.


Setelah pemeriksaan selesai, mereka berempat memutuskan untuk langsung ke rumah karena kedua orang tua mereka sudah menunggu di rumah. Sesampainya di rumah mereka langsung berkumpul di ruang keluarga.


"Bagaimana sayang," tanya Justin.


"Anakku perempuan yah, akan menjadi primadona di keluarga ini," jawab Dika.


"Lah sama dengan ayah, anak ayah juga perempuan," ucap Justin.


"Lalu bagaimana dengan mu Dika," tanya Adit.


"Mana lah aku tau, baru saja hamil, bagaimana tau jenis kelamin nya," jawab Dika.


"Jadi benar-benar hamil ni," tanya Adit.


"Iya dong benar-benar hamil, emangnya kau saja yang cepat hamil," jawab Dika.


Semua orang merasa senang mendengar kabar bahagia ini, sekarang sudah sangat lengkap sekali, 3 wanita sudah hamil dan 3 pria akan menjadi sang ayah.


Dika juga langsung mengubungi ayah mertuanya untuk memberikan kabar bahagia ini, ia yakin ayah mertuanya sangat senang mendapatkan kabar bahagia ini.


"Halo Dika," ucap Rico.


"Ayah aku mempunyai kabar bahagia untuk ayah dan keluarga di rumah," kata Dika.


"Apa itu," tanya Rico.


"Ayah akan segera mempunyai cucu, Elena bunting ya," jawab Dika.


"Apa!! kau seriuss," tanya Rico.


"Sangat serius yah," jawab Dika.


"Ini benar-benar kabar baik, kamu mau apa dari ayah," tanya Rico.


"Ha!! Hadiah lagi" tanya Dika.


"Mau tidak?"


"Iya mau lah, mana mungkin aku menolak hadiah."


"Ayah aku mau mobil, agar kalau kemana-mana istri ku bisa lebih nyaman," ucap Dika.


"Hahaha ya sudah, besok kau ambil di rumah, sekalian nginap di rumah," kata Rico.


"Makasih ayah, ayah benar-benar luar biasa."


Dika semakin senang mendapatkan hadiah mobil dari sang ayah mertua. Kehidupan nya benar-benar terasa sangat sempurna.


"Sayang aku ingin makan ini," teriak Elena.


Dika memejamkan matanya sejenak, sekarang saatnya untuk mengurus sang istri, ketika hamil memang istrinya akan memiliki banyak permintaan, ia sudah mendapatkan banyak Hadiah dari ayah mertuanya, dan ia harus memanjakan sang istri.


"Iya sayang, apa yang kamu minta" Dika berlari mendekati istri nya.


"Aku ingin memakan kamu sayang, kamu sangat enak seperti nya aku makan," jawab Elena.


"Oh mau jatah, tapi tidak boleh sayang."


"Ih kamu gr, orang aku hanya ingin memeluk mu." Elena mendekati Dika dan memeluk Dika begitu eratnya, ia ingin selalu bersama sang suami.


Dika tersenyum lebar istri nya begitu manja dan menyayangi nya, semua orang benar benar memberikan perhatian lebih padanya.


"Aku bangga dengan diri ku yang sekarang ini," batin Dika, untuk seperti sekarang Dika melewati ujian hidup yang sangat keras sampai hampir kehilangan nyawanya.

__ADS_1


__ADS_2