
Matahari terbit dari arah timur menampilkan semburat merahnya. Senantiasa ikhlas memberikan sinarnya sepanjang hari kepada semua makhluk yang ada di Bumi, tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Ia rela sinarnya selalu dimanfaatkan untuk kepentingan setiap makhluk yang ada di Bumi. Dengan begitu, setiap makhluk yang ada di Bumi dapat tetap bertahan hidup dengan kehangatannya
Sudah satu bulan 2 minggu liora di rawat di ruang VVIP rumah sakit. Malam ini kebetulan hanya arlon, ariani serta sultan yang siap-siaga berjaga. Seharusnya ada abiam, alarick serta keysa dkk. Mereka terpaksa balik ke rumah masing-masing karena waktunya sudah malam juga, arlon yang meminta mereka untuk pulang, pria paruh baya itu merasa tidak enak jika harus merepotkan teman-teman liora untuk menjaga anaknya sepanjang malam.
*Di detik, menit, dan jam yang bersamaan. Ribuan kilometer di rumah sakit terbaik ibu-kota dengan segenap fasilitasnya.
Tulisan hijau di mesin medis berdengking. Arlon dan ariani serta sultan yang setengah terkantuk menunggui tersentak. Buru-buru memeriksa layar hijau yang tergantung di dinding. Berkedip. Naik-turun. Berkedip lagi. Naik-turun lagi. Bergegas memeriksa puluhan belalai peralatan medis yang menghujam ke tubuh pasien cantik di atas ranjang. Semuanya oke. Tidak ada yang salah. Ini benar-benar kejutan setelah sekian lama menunggu. Akhirnya sedikit kabar baik tiba.
Dokter itu berseru antusias. Buru-buru memberitahu keluarga liora yang semalaman telah berjaga untuk dirinya.
Arlon, ariani serta sultan menunggu di luar membiarkan dokter memeriksa keadaan anaknya.
Selang beberapa detik, tiga orang itu dengan wajah panik serta khawatir bergegas mendekat.
"Bagaimana keadaan anak saya?," Tanya arlon dengan suara tegas nan gagah.
"Alhamdulillah pak, bu, pasien sedikit membaik ada perkembangan dari sekian lama mengalami koma," Ujar dokter tersenyum ramah.
"Alhamdulillah," Ucap arlon, ariani serta sultan bersamaan.
Mereka menghela napas lega. Terharu itu lah yang mereka rasakan.
"Kita tunggu sampai besok, jika pasien sudah bisa membuka mata lagi. Kami akan memeriksa ulang perkembangan pasien. Saya pamit undur diri,"Ujar dokter berlalu pergi.
"Baiklah," Ujar arlon.
...*****...
Alarick merogoh handphonenya dalam saku celana. Memeriksa siapa yang mengirim nya notifikasi pesan.
Ia tersenyum riang, membaca pesan dari sultan. Sungguh kabar baik. yang ia tunggu selama beberapa bulan terakhir ini.
"Woii rick, ngapa lo senyum-senyum". Johan menaikkan sebelah alisnya. Alarick langsung mendongak menatap sang empu
"Wah, parah lo rick, liora baru beberapa bulan, koma, lo langsung dapat pengganti liora". Celetuk amanda menabok lengan alarick.
"Awwwss. Sembarangan lo ngomong". Balas alarick masih dengan senyum yang merekah di bibirnya.
"Tuh kan, lo masih senyum. Dahlah cowok semuanya sama aja". Imbuh audrey.
"Gue gak kok drey. Coba aja lo pacaran sama gue, lo bakalan gue perlakuin layaknya ratu". Sanggah johan tersenyum menggoda pada audrey.
"Dih. Ogah. Kayak gak ada cowok lain aja". Balas audrey menatap sinis johan.
"Jangan terlalu menyayangi seseorang kelak kita akan membencinya, jangan pula terlalu membenci seseorang kelak kita akan menyayangi nya". Kata amanda menasehati audrey.
"Liora udah sadar. Kata sultan". Ujar alarick.
"Lo serius?". Tanyaa audrey masih tidak percaya.
"Hmm. Pulang sekolah kita langsung jenguk liora". Balas alarick.
__ADS_1
...*****...
Kini pak qaimuddin guru biologi sudah tiba di depan kelas. Suasana kelas yang di isi oleh para siswa yang asyik bercengkerama, bercanda gurau. Sebagian yang lain sedang asyik bermain handphone serta membaca buku dll.
Menyaksikan kedatangannya, nampak seorang siswa bertubuh gempal berdiri dan mengintruksikan pada teman-teman sekelasnya agar penyudahi aktivitas mereka.
Ketika pelajaran di mulai, siswa-siswi mengikuti dengan antusias, sunyi, mereka fokus mendengarkan pak qai yang sedang menerangkan di depan. tetapi ternyata suasana tersebut tidak berlangsung lama. Satu persatu siswa-siswi mulai kelihatan mereka berbicara satu sama lain. Terutama di bangku johan dan alarick. Johan sedang mengganggu siswi yang duduk di bangku depan bangku mereka.
"Apaansih lo, rese bangat," Gadis yang di ganggu oleh johan dan alarick mendumel kecil. Gadis yang memiliki rambut pirang, wajah sedikit ke bulean. Gadis itu di ketahui yang paling aktif atau bisa di bilang pintar dalam kelas. Serta bermulut cabe.
"Rambut lo wangi," Johan masih memainkan rambut milik safira, ya, nama gadis itu adalah safira teman sekelas johan dan alarick.
"Lo suka kan sama gue?," Tanya safira percaya diri. Menoleh sekilas ke ara bangku belakang. Bangku johan dan alarick.
"Iya fir, johan suka sama lo," Sahut alarick tersenyum devil.
"Maklum, gue kan cantik, tentu banyak yang suka. Termaksud lo berdua, ya kan," Imbuh safira membalikkan badan sepenuhnya.
"Idih," Sinis johan menjauhkan tangannya dari rambut safira.
"Gue udah punya liora, ngapain harus suka sama lo," Ucap alarick tanpa melihat lawan bicaranya
"Apa lo lihat-lihat gue, lo beneran suka kan sama gue," Safira menghiraukan ucapan alarick kembali melirik johan yang masih memperhatikannya.
"Dih amit-amit," Sungut johan menatap sinis safira.
"Baiklah, lo berdua berjodoh, aamiin paling kenceng," Goda alarick tertawa kecil.
"Ihh amit-amit," Balas johan lagi.
Bell istirahat berbunyi.
Koridor kelas di penuhi riuh ramai oleh suara-suara siswa-siswi berseragam putih abu. Beramai-ramai keluar kelas menuju kantin, perpust dan lain-lain.
Rumah sakit pertamina jaya....
"Assalamualaikum om, tante," Salam abiam. Membuka pintu ruangan.
Abiam sengaja pulang cepat hari ini. Ia sengaja membolos. Demi menemui liora yang telah di kabari oleh arlon bahwa liora sudah sadar dari koma. Dia menjenguk liora tanpa sepengetahuan alarick dkk serta barram sekalipun teman sekelas, satu bangku dengan dia.
"Waalaikumussalam, eh ada abiam. Sini masuk," Ujar ariani mengubah posisi menjadi berdiri. Abiam hanya membalasnya dengan senyuman kecil.
"Gimana keadaan lo," Tanya abiam duduk di kursi dekat brankas yang di duduki oleh ariani tadi.
"Lumayan". Balas liora. Mulai sedikit demi sedikit mengeluarkan suara.
"Tante sama om. Balik ke rumah dulu ya, kamu jagain ara dulu. Bisa kan?," Ucap arlon memegang bahu abiam.
"Bisa om," Balas abiam mendongak.
"Al. Sebaiknya kamu pulang saja. Istirahat. Kantong mata kamu sedikit kehitaman itu," Ujar ariani lembut pada sultan.
__ADS_1
Arlon dan ariani memang sangat menyayangi sultan. Mereka sudah menganggap sultan sebagai anak nya sendiri. Bagaimana tidak, sultan dan liora sudah bersama-sama sejak kecil. Sudah pasti sangat dekat dengan orangtua liora begitupun liora sangat dekat dengan mami nya sultan.
"Iya tante," Ujar sultan beranjak dari duduknya di sofa ruangan. Lalu mendekati brankas liora.
"Jagain sahabat gue,"Ujar sultan menepuk pelan bahu abiam. Cowok itu hanya meresponnya dengan anggukan.
"Gue pulang dulu. Kalau butuh sesuatu lo bisa hubungi gue," Sambungnya lagi. Menatap liora kemudian mencium pucuk kepala sahabat kecil nya itu.
Abiam yang menyaksikan perlakuan sultan terhadap liora. Ia hanya menelan ludahnya susah payah. Bagaimana bisa sultan melakukan hal tersebut di depan arlon dan ariani tanpa raut wajah takut sedikitpun. Itulah yang abiam pikirkan.
Jangan kaget ketika sultan melakukan hal tersebut. Jika di tanya ia takut atau tidak melakukan hal tersebut di depan arlon serta ariani. Jawabannya tentu saja dia tidak. Malah menganggapnya biasa saja. Arlon dan ariani juga tidak masalah akan hal itu. Mereka tahu jika sultan sangat menyayangi putri mereka sejak kecil. Mereka tidak kaget melihat perlakuan sultan pada putrinya. Memang mereka saling menyayangi satu sama lain. Layaknya saudara kandung. Adik-kakak kandung.
Pertanyaanya, mengapa sultan tidak pernah seposessif seperti ini jika saat di depan alarick dkk. Karena ia masih memikirkan perasaan alarick. Ia tidak ingin teman-temannya berpikir yang tidak-tidak tentang dia dan liora.
...*****...
"Lo dekat bangat sama sultan," Imbuh abiam menatap liora di brankas.
"Sultan sahabat gue sejak kecil sampai sekarang. Dia itu posessif bangat tahu, semua hal yang menyangkut gue," Sahut liora.
"Lo sayang gak sama sahabat lo itu?," Abiam mulai sedikit memberanikan diri bertanya.
"Bangat, sayang bangat sama dia. Al itu kayak papa gue. Laki-laki kedua yang menyayangi gue dan lindungi gue sejak dulu sampai sekarang. Gk ada yang bisa gantiin posisi dia sekalipun gue udah punya pacar,"Jelas liora.
"Al? Bukannya Nama pacar lo, Al juga. Kok bisa sama," Bingung abiam. Masih mencerna perkataan liora.
"Hahaha. Kak abiam lucu bangat sih," Ucap liora tertawa pelan. Menertawai raut wajah kebingungan dari abiam.
"Kok, ketawa sih,"Ucap abiam menaikan sebelah alisnya. Walau di dalam hati. Ia senang, ingin berteriak kencang saat melihat senyum dan tawa liora sedekat ini. Apalagi gadis itu tertawa karena dirinya.
"Kak abim bingung ya, kenapa nama sahabat gue dan pacar gue sama," Ucap liora.
"Iyaa. Otak gue seketika ngelag,"Balas abiam. Mereka berdua sama-sama tertawa dalam ruangan itu.
"Sebenarnya, nama sahabat gue itu sultan, lo juga tentu tahu nama panggilan dari teman-teman juga panggilnya sultan. Tapi gue pengen manggilnya Al karena nama tengah dia itu Aldi jadi ya gue panggil aja dia Al. Sebagai tanda gue cewek satu-satu nya yang bisa manggil dia pake nama Al biar beda dari yang lain aja,"
"Lalu, kalau nama pacar lo?," Abiam kembali bertanya.
"Kak abiam juga tahu kan. Kalau teman-teman manggil nya rick atau alarick. Dan kebetulan nama dia alarick jadi gue manggil dia dengan nama Al. Karena gue mau. Cowok yang gue suka, yaitu dia. Bisa menjadi laki-laki tulus, menyayangi perempuannya dan mencintai perempuannya dengan sangat. sama seperti papa dan sultan. Nama sultan kan, sultan aldi putra, sedangkan nama papa arlon alter garcia. Nama tengah papa juga kan Al sama kayak alarick dan sultan,"
Dua laki-laki kesayangan gue. Sangat menyayangi tiga perempuan. Yaitu. Gue, mama, dan maminya sultan," Ujar liora seakan merasa bangga memberitahukan hal itu pada abiam.
Mamanya sultan itu sahabat papa gue, jadi papa juga sangat menyayangi mami nya sultan. Apalagi setelah kepergian papanya sultan.
Abiam merasakan sesak seperti ada batu yang menghantam dadanya, ia sedikit merasa kecewa dengan penuturan liora. Gadis yang ia cintai dengan amat ternyata sangat mencintai laki-laki lain.
Apakah dia bisa menggantikan posisi alarick sebagai laki-laki ketiga di hati liora setelah sultan dan arlon. Apakah dia harus mengubur dalam-dalam perasaannya pada gadis ini. Apakah ia harus benar-benar berteman dengan liora tanpa harus melibatkan perasaan lebih dari sekedar teman biasa pada gadis ini..
Susah, sungguh. Ia juga bingung harus melakukan apa?, ia tidak ingin egois, jika kebahagian liora ada pada alarick. Ia akan berusaha mengikhlaskan orang yang di cintainya bahagia bersama orang lain.
Ini bukan perkara mengikhlaskan dengan mengubur perasaan dalam-dalam. Tetapi cara mencintai dengan tulus itu bukan berarti harus memiliki nya seutuh. Namun mencintainya dengan cara membuatnya bahagia dengan cara orang lain.
__ADS_1
..."Masalah yang kalian hadapi tidak pernah istimewa, banyak orang di luar sana yang mempunyai hal sama. Selalu ingat bahwa kita tidak selalu sendirian"...
..._Salam kenal dari cewek lemot, Aubrey Fathia Pelangi_...