
..."Senyummu puisi indah tanpa suara"...
..._Alarick Zalman Maheer_...
...----------" "----------...
Liora dan ketiga sahabatnya berniat belanja di mall sekalian makan dan jalan-jalan, liora walaupun ia kaya, tapi liora bukan cewek yang hobi belanja, ia lebih suka menghabiskan waktunya di dalam kamar dengan membaca novel, atau belajar.
Waktu yang telah di janjikan pun tiba liora sudah bersiap di depan rumahnya menunggu jemputan dari sahabatnya Audrey. Mereka sepakat pergi ke mall menggunakan mobil milik audrey.
Selang beberapa saat kemudian ketiga sahabatnya pun tiba di depan rumahnya dengan sebuah mobil berwarna merah.
"Ra, ayok, takutnya keburu hujan," Ujar Amanda yang berada di kursi depan, samping kursi pengemudi.
"Hadehh, lambat bener jalan lo, ra, kayak siput cepat dikit napa," Ucap Audrey.
"Apa'ansih," Ucap liora dengan nada ketus seraya masuk dalam mobil.
Kedua sahabatnya Audrey dan Amanda tidak bosan-bosan nya berbicara, memang kalo sudah ketemu sesama bar-bar begini topik yang di bicarakan pun tak akan ada habis nya bagi dua sahabatnya ini. Kecuali keysa yang duduk di sampingnya. Sahabatnya yang satu ini memilih diam dari pada banyak bicara tidak ada manfaatnya apalagi membicarakan hal-hal yang tidak penting.
Selama perjalanan hanya ada suara audrey dan amanda yang mengisi keheningan di antara liora dan keysa di dalam mobil tanpa mereka sadari. Mereka telah sampai di mall tempat tujuan utama mereka.
"Udah sampai. Ayok turun gayss," Ujar Audrey yang berlalu turun dari mobilnya yang di ikuti oleh ketiga sahabatnya.
Keempat gadis tadi langsung memasuki mall mencari baju-baju yang di sukai mereka kecuali liora dan keysa. Mereka hanya menatap sekilas baju-baju di sana. Mereka tidak berminat membeli baju karena yang mereka pikirkan untuk apa membeli baju banyak-banyak jika ujung-ujungnya di jadiin koleksi di lemari pakaian doang. Lagipula baju-baju mereka berdua masih banyak dan masih muat untuk mereka pakai.
"Key, kayaknya kita berdua salah cricle deh," Ujar liora menatap keysa.
"Mungkin," Balas liora santai.
"Kapan lagi kalian akan ke mall, kalau gak di ajak dan di bujuk sama kita," Ujar Amanda menoleh ke arah liora dan keysa yang masih berdiri diam melihat pergerakan kedua sahabatnya sedari tadi yang sibuk memilih-milih baju sesuai karakter mereka sendiri.
"Masih banyak gak, belanjaan kalian?" Tanya liora dengan wajah lesuh.
"Ya ampun, ra. Baru aja nyampe dan kita baru mulai milih baju loh. Cepat bangat lo mau pulang ra, gak asyik bangat deh," Ucap Audrey.
"Ck! Terserah deh, kalo bisa cepetan gue mau cari novel," Balas liora berdecak.
"Sabar, ra, gramedia nya gak bakalan kemana-mana kok," Ujar Amanda meyakinkan liora.
"Hmmm," Liora membalas dengan deheman kecil.
Di sela-sela mereka tengah sibuk mencari baju-baju liora memperhatikan seorang cowok yang wajahnya sudah tidak asing lagi baginya. Dan ya liora melihat Abiam yang sedang kebingungan mencari baju juga. Bukan hanya ia saja yang melihat Abiam tetapi Cowok itu juga tidak sengaja melihat liora, tatapan mereka bertemu hingga liora sendiri yang memutuskan tatapan itu. Gadis itu mengerutkan keningnya bingung saat Abiam berjalan ke arah ia dan sahabatnya.
"Hai," Sapa Abiam menghampiri liora.
"Hmm," Balas liora canggung.
"Kamu adik kelas yang kemarin masuk ke kelas kita kan?" Tanya Abiam seraya tersenyum tipis.
"Iyaa," Ucap liora.
"Ke sini sama siapa?" Tanya lagi Abiam basa basi.
"Teman," Jawab liora jutek.
"Pantasan aja Barram kepincut sama ni cewek. Ternyata menarik dan penuh tantangan juga," Batin Abiam sambil senyum-senyum sendiri.
"Kesambet apaanih cowok senyum-senyum sendiri," Ujar liora dalam hati.
"Ra, udah, ayok kita cari novel lo," Ajak Amanda.
"Loh, ini siapa ra?" Tanya Audrey menatap bingung Ke arah Abiam.
"Kakak kelas kita," Ujar liora acuh.
"Ihh, kok senyum-senyum sendiri sih. Kak!" Panggil Audrey melambaikkan tangannya di depan wajah Abiam.
"Hellow!" Ujar Audrey lagi.
"E-eehh kenapa-kenapa," Kaget Abiam.
"Kakak kenapa senyum-senyum sendiri, kesambet ya," Sahut amanda.
"G-gaakk kok siapa yang senyum salah lihat kali," Ujar Abiam membela diri.
__ADS_1
"Ya udah kita duluan ya kak," Ucap Audrey ramah.
"Liora," Panggil Abiam.
"Kenapa?" Tanya liora dengan ekspresi wajah dingin.
"Gue boleh ikut kalian gak," Ujar Abiam.
"Boleh kok boleh," Balas Audrey.
"Okee kalian mau kemana lagi," Ucap Abiam bertanya.
"Gramedia kak," Balas Audrey lagi.
Setelah dari Mall mereka berlima memutuskan untuk pergi ke Gramedia habis itu ke cafe. Sesampainya di gramedia, mereka masuk melihat-lihat beragam banyak judul novel yang ada di rak.
Abiam sedari tadi terus melirik dan menatap kagum ke arah liora. Ia kagum pada sosok gadis di sampingnya ini, jika kebanyakan cewek lebih milih berbelanja pakaian atau gak aksesoris wanita jika berada di mall tapi berbeda dengan liora gadis ini justru lebih senang ke tokoh novel.
"Lo suka bangat sama novel," Tanya Abiam.
"Iyaaa," Balas liora acuh.
"Dinginn bangat," Ujar Abiam dengan kekehan kecil.
"Namanya juga ada AC," Kesal liora
"Tapi Lo, lebih dingin dari pada AC," Ucap Abiam menatap bola mata coklat milik Liora.
"Ngapain ke sini," Ujar liora memutar bola matanya malas.
"Cari novel," Balas Abiam singkat.
"Emang kakak suka baca novel," liora yang mulai penasaran.
"Gak," Ucap Abiam.
"Teruss?" Liora bingung.
"Gue mencoba buat masuk ke dalam dunia novel mulai mencoba membaca novel," Balas abiam.
"Kenapa," Liora bertanya dengan satu alisnya terangkat.
"Ohh bagus sih, pasangan yang sefrekuensi," Ucap Liora yang mulai tertarik dengan topik pembicaraan mereka.
"Itu judul novel nya apa?" Tanya Abiam menunjuk novel yang ada di tangan liora.
"Ini judul novel nya. Batas waktu," Ujar liora memperlihatkan novel tadi ke arah Abiam.
"Masih ada gak. Gue mau coba baca pasti ceritanya bagus bangat ya kan," Ujar Abiam dengan mata berbinar.
"Masih ada kok, nih," Ujar liora memberikan novel kepada Abiam.
"Next time, kalo mau cari novel kasih tau gue ya," Ujar Abiam antusias.
"Okee. Kalau gak lupa," Balas liora tersenyum tipis.
"Maniss," Ucap Abiam tanpa sadar.
"A-apaa!" liora kaget mendengar ucapan cowok di samping nya ini.
"Ehh gak ada apa-apa kok, gue pulang dulu ya! Sampai ketemu besok di sekolah," Ujar Abiam tersenyum sumringah.
Liora hanya membalasnya dengan anggukan seraya menatap kepergian Abiam sang kaka kelas nya yang ia ketahui Abiam adalah teman sebangku Barram ketos di sekolahnya....
"Hei," Ucap keysa menepuk pundak liora.
"Aduuh apaan," Jawab liora kaget dengan tepukan keysa pada pundaknya.
"Udah selesai, nyari novelnya," Tanya Audrey.
"Udah, ayok kita ke cafe," Balas liora.
"Kakak kelas yang sama lo tadi, mana, ra?" Tanya Amanda.
"Pulang duluan dia," Kata liora.
__ADS_1
"Yah, padahal tadi gue mau modus dekatin dia," Ujar Amanda lesuh.
"Dihhh, kayak cakep aja lo mand, pacar lo mau di kemanain tuh," Ujar Audrey tak habis pikir dengan sahabatnya satu ini.
...******...
"Kalian mau pesan apa," Tanya Amanda membuka suara.
"Gue Capuccino yang panas aja," Ujar Audrey.
"Gue Red velvet aja," Lanjut Liora lalu melirik ke arah Keysa.
"Gue samain sama liora," Ucap Keysa.
"Kalian tunggu ya, biar gue ke sana," Ujar Amanda. Kenapa amanda yang harus pergi memesan bukan pelayan sendiri yang akan menghampiri mereka. Alasannya karena amanda memang sering ke sini untuk mampir sekedar memesan makanan atau minuman terlebih ia juga sangat mengenal baik pelayan-pelayan bekerja di sana. Tapi cuman satu yang ia tidak tahu bahwa pemilik cafe ini yaitu Abiam sendiri kakak kelas mereka.
Ketika mereka di sibukkan dengan urusan masing-masing tanpa di sadari pesanan mereka pun datang, setelah pelayan cafe memberikan pesanan mereka. Liora dan ketiga sahabatnya tidak lupa berterima kasih kepada pelayan yang sangat ramah itu.
"Eh, ra itu bukannya Alarick ya," Ujar Audrey memicingkan pandangannya pada arah tempat duduk alarick dkk.
"Lo salah lihat kali drey," Ucap Liora tanpa melihat ke arah pandang sahabatnya.
"Eh ogeb, beneran itu cowok lo sama sultan dan johan juga," Lirik Audrey kesal pada liora yang masih tidak percaya pda apa yang di lihatnya.
"Mana sih," Imbuh Liora mencari-cari keberadaan kekasihnya.
"Ngapain sih mereka ngikutin kita," Liora mendengus kesal.
"Cowok lo pasti mantau lo ra, secara kan alarick itu cowok posessif apa-apa harus bareng dia terus, kayak bocil aja," Celetuk Amanda.
...*****...
Malam ini, menjadi jadwal kunjungan Alarick ke rumah liora kekasihnya, walaupun dengan modal nekat laki-laki itu tetap kekeuh ingin berkunjung dan bertemu dengan orangtua liora di rumah gadisnya. Walau kenyataan menampar nya bahwa hubungan mereka tidak di ketahui oleh kedua orangtua liora terlebih kedua orangtua liora hanya mengetahui bahwa mereka cuman sekedar teman satu sekolah tidak lebih dan yang pastinya tidak akan di setujui karena orangtua liora menginginkan anaknya hanya fokus pada pendidikannya untuk meraih masa depan yang cerah suatu saat nanti.
Liora membukakan pintu setelah alarick tiga kali menekan bell. Mengangguk pelan, menyilahkakan alarick masuk.
Sepertinya malam ini, semesta berpihak kepada laki-laki pemilik wajah menyenangkan itu, ia beruntung kali ini karena kedua orangtua liora sedang keluar kota dan gadis itu terpaksa meminta pada sahabat-sahabatnya untuk menginap di rumah untuk menemaninya.
"Al. Kamu ngapain ke sini malam-malam," Celetuk Liora.
"Aku membawakan sesuatu buat kamu," Alarick tersenyum sambil menatap berbinar-binar. Gadis itu terlihat cantik mengenakkan baju terusan bermotif hijau selutut. Rambut panjang dibiarkan tergerai indah.
Gadis itu sekilas menatap Alarick yang bersemu merah. Alarick masih berdiri di bawah bingkai pintu, seperti menyembunyikan sesuatu. Melihat tangan Alarick di balik-badannya.
"Apa?" Liora bertanya pendek.
Alarick sungguh-sungguh menjulurkan setangkai bunga matahari serta boneka kelinci kesukaan gadis nya.
Gadis itu hanya menatap datar. Tidak ada ekspresi sedikitpun, ya meskipun mereka berdua sudah berstatus sebagai sepasang kekasih tetapi tidak merubah sikap dingin dan jutek nya kepada alarick. Tidak ada seruan riang apalagi pelukan berterima kasih. Menerima bunga dan boneka itu dengan diam, entah mengapa malam ini gadis itu merasa badmood. Menyibak badannya, menyilahkan alarick masuk.
Alarick menggigit bibir menyumpahi johan dalam hati, lihatlah gara-gara menuruti kalimat sahabatnya satu itu dia jadi malu seperti ini.
Alarick duduk di kursi panjang dekat dapur menunggu gadisnya sibuk dengan masakannya. Sementara Alarick takzim menatap.
Satu setengah jam berlalu. Gadis itu mengangkat makanan yang telah matang. Menyajikan dan membawanya ke ruang makan.
Alarick melangkah mengikuti.
Senyap. Alarick menyendok makanan yang sudah di sajikan tadi. Rasanya sangat lezat persis seperti masakan mama nya yang ia rindukan akhir-akhir ini. Gadis itu meletakkan piringnya yang kosong.
Diam. Menunggu menit-menit jadwal kunjungan berlalu.
Alarick menelan ludah. Mengusap rambutnya sebelum berangkat disisir rapi sepuluh kali. Dia harus mencoba, bisik separuh hati alarick. Ia tak tahan dengan keheningan ini. Ia ingin mengajak gadis nya bicara tapi ia juga takut di amuk oleh liora yang ia tahu gadisnya itu dengan keadaan mood yang tidak baik.
Apa salahnya? Sudah beberapa kali ia memikirkan cara untuk mengembalikkan mood gadisnya. Apakah ia harus mengajak liora ke suatu tempat yang indah, itu juga bagian dari rencananya. Kalau liora menolak? Setidaknya ia sudah berusaha untuk gadisnya. Jemarinya gugup.
Alarick berdehem. Gadis itu mengangkat wajahnya. Bersitatap sejenak.
"Ra...aku tahu satu menit tiga puluh detik lagi aku harus pulang, tapi," Alarick mencoba tersenyum, seharusnya percakapan ini tidak sulit, bukan?
"Kamu mau ikut sebentar sama aku. Ada tempat yang ingin aku tunjukkan," Alarick menunduk saat mengatakan kalimat itu. Ia takut akan respon gadisnya.
Ah sial! Kenapa nyali nya jadi menciut gini jika sudah berurusan dengan gadisnya....
Gadis itu ingin sekali tertawa keras melihat raut wajah kekasih nya yang gelagapan, antara takut dan gugup jika bersama dengannya. Dengan keadaan mood yang entah mengapa ia juga tidak tahu. Mungkin karena kedatangan tamu bulanannya. Begitulah kira-kira!...
__ADS_1
Liora menatap datar, dahinya sedikit terlipat.
"Maksud aku, malam ini kota sedang di adakan pasar malam. Kamu tahu malam ini juga bulannya terang... Kamu mau kan ikut sebentar ke tempat yang baik untuk melihat semuanya... Hanya sebentar kok ra.. Setengah jam deh. Nanti aku antar kamu pulang," Alarick menggigit bibir menatap gadis itu.