
..."Hari ini hujan, tapi, tolong sampaikan kalau di sini cuacanya panas, agar mereka tidak banyak tanya dan mau tahu yang bukan urusannya"...
..._Afra Rainey Keysa_...
...----------" "----------...
Hujan turun deras. Amat deras. Badai malah. Kota yang tidak tersentuh berkah langit selama dua bulan, malam ini digantang hujan tak terperikan. Petir menyambar menyilaukan mata. Guntur menggelegar menciutkan nyali. Angin berderu-deru, membuat satu-dua pohon nyiur di jalan bertumbangan.
Tidak ada yang mau berada di luar dalam cahaya seburuk ini. Orang-orang memilih meringuk di sofa, tempat tidur dan di kamar-kamar yang hangat bersama keluarga masing-masing.
Tapi Alarick, sultan, abiam dkk tidak. Di sana tidak ada arlon serta ariani. Orangtua liora sedang berada di luar kota untuk menangani perusahaan yang beberapa hari di tinggalkan oleh arlon. Perusahaannya mengalami masalah. Orangtuanya hanya datang membawakan barang-barang liora tadi. Mereka tidak membutuhkan semua cuaca buruk ini.
Alarick bahkan berpikir liora akan ingin membuka matanya, bukan, bukan untuk sekedar melihat mereka yang menjenguk nya tetapi untuk menikmati hujan yang amat membasahi kota. Mereka menjenguk liora dari waktu sepulang sekolah tadi hingga sekarang.
Andai gadis nya sudah pulih. Liora pasti akan senang amat senang menyaksikan rinai hujan yang berlomba-lomba untuk membasahi ibu kota. Ia tahu gadis itu sangat menyukai rinai hujan. Itu sebabnya ia ingin gadisnya bangun dari tidurnya yang cukup lama. Ia berharap semoga dengan turunnya hujan menjadi keajaiban untuk gadis itu agar membuka matanya kembali.
Alarick tersenyum pedih. Meratapi kenyataan tentang gadis nya. Bukan hanya ia saja. Bahkan teman-teman yang lain juga pun merasakan hal sama.
"Ra, hari sudah malam, kamu menutup mata sudah dua minggu, kamu masih belum ingin membuka mata, malam ini hujan ra, andai kamu bangun, kamu pasti senang menyaksikan rinai hujan malam ini,"
"Ayok bangun ra, aku kangen sama kamu, kangen senyum kamu, kangen sikap cuek kamu, kamu gak kangen sama aku ya?" Alarick berucap seraya menangis mengecilkan suaranya agar tidak di dengar oleh teman-temannya di luar.
Ia tidak tahu saja, jika teman-temannya memperhatikan ia di dalam. Mereka mengetahui alarick menangis terlihat dari bahu alarick yang bergetar.
"Kasian alarick, dia nangis terus, di kelas tadi dia juga gak bisa fokus sama pelajaran," Imbuh johan menatap prihatin punggung alarick lewat kaca ruangan liora.
"Liora betah bangat ya tidurnya," Sahut amanda. Ia merasa khawatir dengan keadaan sahabatnya.
"Kita tetap berdoa untuk kesembuhan liora. Dia pasti bisa melewati semua ini," Ujar johan kembali duduk di kursi.
"T-tapii gue takut, takut liora gak akan bangun lagi," Ucap audrey. Dan sempurna saat bulir pertama air mata audrey jatuh, seketika petir menyambar terang menyilaukan. Di susul guntur menggelegar mengaduk-aduk perasaan.
"Sttt, lo gak boleh ngomong kayak gitu, liora pasti bakalan sembuh, percaya sama gue, sama yang di atas juga," Johan menarik audrey dalam pelukannya berusaha menenangkan gadis berhidung mancung serta rambut yang kecoklatan.
"Mungkin ini adalah cara tuhan membersihkan dosa-dosa liora. Kita hanya bisa bersabar dan berdoa," Lanjutnya.
"Tadi sore, aku melihat benda yang kemarin, kamu impikan, cepatlah sembuh dan aku akan membelikannya untuk kamu," Ujar alarick menangis lagi.
__ADS_1
Urusannya malam ini amat sederhana, ia rindu senyum dan tawa gadis penyuka boneka kelinci ini. Ia ingin gadis nya memberikan perhatian untuk dirinya lagi. Maka kuasa langit seketika menjawabnya. Dengan amat sederhana pula.
Karena ketahuilah.... Malam ini dan juga sepanjang malam ini, kota selalu turun hujan lebat ketika gadis penyuka rinai hujan itu terbaring lemah dengan infus serta alat medis lainnya di sekujur tubuh.
"Aku ada bawain bunga matahari buat kamu. Bunga matahari nya indah, ra, sama kayak kamu," Ujar alarick menyimpan bunga matahari di samping brankas liora.
"Aku pulang dulu ya, besok aku ke sini lagi," Mencium punggung tangan liora.
Tidak mungkin ia menginap di sini, apalagi hubungannya dengan liora tidak di ketahui oleh arlon maupun ariani. Ia ingin menginap, tapi takut ariani serta arlon mencurigai kehadiran ia yang menjaga liora. Orangtua gadis nya akan kembali malam ini untuk menjaga liora.
Alarick beranjak keluar ruangan.
"Kalian pulang saja," Ucap sultan. Setelah hujan mereda
"Istirahat, besok juga kita akan sekolah," Sambungnya.
"Siapa yang akan menjaga---" Keysa bertanya.
"Liora akan baik-baik saja. Gue yang akan jagain dia, lagi pula om arlon sama tante ariani juga bakalan kembali malam ini...." Sultan memotong kecemasan, tersenyum lagi.
"Oke, kalau ada apa-apa, lo langsung kabarin kita," Sahut abiam.
"Bagaimana keadaan liora," Tanya mami audrey.
Maminya sudah mengetahui liora kecelakaan. Karena sebelum mereka pergi balapan, mereka berpamitan terlebih dahulu kepada mami nya audrey. Audrey juga sudah menceritakan awal mula kejadian itu.
"Liora, masih belum sadar mih," Sahut audrey. Fika hanya mengangguk mengiyakan.
"Kamu istirahat," Ujar fika maminya.
"Iya mih, audrey ke atas dulu," Balas audrey melenggang pergi.
"Al, kamu kemana saja, baru pulang jam segini," Bukan, bukan mama alarick yang bertanya melainkan papa nya. Pria paruh baya itu tiba-tiba mengalihkan pandangan alarick.
"Papa ngapain ke sini," Alarick bertanya tanpa menjawab pertanyaan dari riko.
"Kalau papa nanya itu, di jawab, bukan malah bertanya balik!!" Timpal riko.
__ADS_1
"Gak ada urusannya sama papa," Balas alarick, masih terlihat santai tanpa menoleh sedikitpun ke arah riko.
Alarick mengedarkan pandangannya mencari sosok mama, mungkin mama nya di kamar, ia tentu tahu mama nya tidak akan sudi bertemu atau bertegur sapa dengan pria brengsek ini.
"Mama kamu pasti tidak becus, mendidik kamu, lihat saja ini, jam segini baru pulang ke rumah. Keluyuran tidak jelas," Sindir riko.
"Bukan mama yang gak becus mendidik Al, tapi papa yang gak becus jadi orangtua!!" Sungut alarick meninggikan suaranya.
Mama nya terkejut mendengar suara alarick, ia ingin keluar tetapi ia juga muak melihat muka mantan suami nya yang tidak tahu diri itu.
"Berani kamu meninggikan suara sama papa, Al," Suara tegas dan gagah membentak Alarick. Pria paruh bayah itu berdiri.
"Katakan saja pah, tujuan papa ke sini apa?" To the point alarick yang mulai berucap pelan.
"Papa ke sini cuman mau melihat keadaan kamu," Balas riko kembali duduk di sofa.
"Kemana aja papa selama ini?" Ujar alarick menatap papa nya. Ada terbesit rasa kecewa, sakit yang alarick rasakan ketika mendengar penuturan papa nya. Kemana saja pria paruh bayah itu selama ini, hingga bertanya kabar nya saja tidak pernah. Kenapa baru sekarang, saat ia sudah muak dengan semua ini.
"Al, jangan kekanak-kanakan kamu, kamu tahu sendiri papa sudah punya istri dan anak-anak baru papa,"
"Lalu, dengan adanya anak istri baru papa, papa lupain, dan ninggalin aku gitu aja, papa lepas tanggung jawab sebagai sosok ayah untuk putra nya gitu aja. Papa seketika lupa dengan peran papa sebagai sosok ayah yang baik, sosok ayah yang selalu ada dan jagain putranya," Alarick mengepalkan tangannya kuat-kuat. Menahan bulir air mata yang ingin keluar.
"Apa papa tidak memikirkan, bagaimana susahnya mama ngerawat, ngejagain, membesarkan aku sampai aku sedewasa, dan setegar ini, sendirian tanpa campur tangan seorang suami brengsek seperti papa!!"
"Pah, alarick gak minta banyak dari papa, Al cuman pengen pelukan hangat, bermain bersama, bercanda ria dengan papa seperti anak-anak yang lain,"
"Al rindu, pelukan papa yang dulu. Kemana pelukan hangat yang dahulu aku dapatkan sewaktu kecil. Tapi semuanya hilang entah kemana," Sambung nya terkekeh menahan sesak pada dadanya. Tidak. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan papa nya. Ia harus terlihat tangguh layaknya tidak ada beban apapun yang ia tanggung.
Riko seketika terdiam, mematung, mendengar ucapan putra semata wayang nya bersama istri pertama. Ia tidak bisa berkata-kata lagi, lidah nya terasa kelu untuk mengeluarkan suara lagi.
"Papa tahu, papa salah, tapi kamu harus bisa menerima semua ini alarick," Ucap riko berjalan mendekati alarick.
"Walaupun papa begitu, tapi papa tetap sayang sama kamu," Riko memegang kedua bahu putranya.
"Tidak perlu berpura-pura menjadi seorang ayah yang selalu sayang sama anak nya, jika sekian lama papa tidak pernah menemui ku, jika papa tidak ingin menemui mama, setidaknya, papa bisa menemui aku sendiri tanpa kehadiran mama,"
"Asal papa tahu, saat aku teringat tentang masa kecil aku yang penuh dengan kebahagiaan, dan berbanding terbalik dengan keadaan aku sekarang ini. Aku coba untuk tetap bersabar dan menerima kenyataan, aku harus menghadapi semuanya sendiri, tanpa sosok ayah, dewasa tanpa sosok ayah itu menyakitkan pah," Alarick mengeluarkan semua unek-unek yang dia pendam selama ini.
__ADS_1
Daun yang jatuh, tak membenci angin. Begitu juga perasaan anak pada ayahnya. Alarick tidak sedikitpun membenci riko. Hanya, ia kecewa sangat kecewa terhadap keputusan serta perlakuan riko terhadap ia dan mama nya selama bertahun-tahun.
"Kalau boleh minta, aku juga gak mau jadi anak broken home, yang kurang kasih sayang dari sosok ayah. Aku juga pengen kayak anak-anak lain. Yang bisa dapat kasih sayang yang penuh dari papa nya. Tapi, mau gimana lagi, ini udah jalannya," Tambah alarick, tertawa hambar menatap papa nya yang masih terdiam mencerna kata kata yang ia lontarkan barusan.