
..."Kisah kita adalah salah satu contoh dari banyaknya kisah yang berakhir tak bahagia"...
..._Alarick Zalman Maheer_...
...----------" "---------...
Senja kembali di bungkam luka, jalanan dekil semakin penuh kerikil. Hanya air mataku yang punya euforia entah harus menyerah atau pasrah. Lelah ragaku memungut rasa menyuarakan sendu yang menjadi lara. Mengerami lirih-lirih jiwa pada takdir yang membunuh cinta.
Bait aksara selalu meracau berderap mengabarkan luka melangkah tanpa arah, berlari lepas tanpa batas lalu hancur karena tak pantas. Bukan berarti aku bebas apalagi lepas. Hanya mencoba untuk terlihat kuat meski sebenarnya benar-benar sekarat.
Sore ini liora sudah menghubungi alarick agar bertemu dengannya di sebuah pantai, tujuan untuk membicarakan baik-baik tadi saat di sekolah.
Sore yang indah. Pantai itu ramai oleh pengunjung pasangan muda-mudi. Keluarga-keluarga muda dengan balita mereka. Orang-orang tua juga pengunjung yang sendirian termasuk alarick, cowok pemilik wajah menyenangkan itu sedang menunggu kedatangan liora seorang diri. Dia berharap apa yang di lihat nya tadi di sekolah adalah sebuah kesalah pahaman, meskipun sedikit kecewa dengan gadis itu, ia tetao berusaha berpikir positif.
Langit menyemburat merah. Awan putih tipis terlihat ikut memerahm laut beriak kecil. Buih ombak menjejak pasir. Pelan. Berdebur. Burung camar melenguh dari kejauhan, beranjak pulang. Gumpalan awan putih tipis mengambang. Terlihat kemerah-merahan.
Alarick berdiri takzim, menyambut kedatangan gadis penyuka boneka kelinci itu. Ombak membasuh ujung-ujung celana. Alarick menatap cakrawala di kejauhan. Semua ini terasa begitu cepat.
Alarick menyambut liora bukan lagi dengan senyuman yang merekah di bibir cowok itu. Ia menatap kecewa pada liora, lalu mengarahkan pandangannya pada seseorang yang sedang berjalan di samping gadis itu.
Alarick mengusap muka kebasnya. Cowok itu sekian lama terdiam dengan tatapan kosong, akhirnya beringsut mundur. Air laut meninggi. Pasang. Senja semakin memerah. Alarick menyapa gadis itu.
"Hai," Sapa nya pada liora, tidak ada lagi senyum yang merekah di wajah menyenangkan itu.
"Aku kasih waktu 5 menit, setelah itu kita langsung pulang," Bukan, bukan liora yang berucap melainkan ellard. Ya ternyata seseorang yang di maksud tadi adalah ellard, cowok itu datang bersama dengan liora di pantai.
"El, please jangan buat aku tertekan," Lirih liora mengarahkan pandangannya pada ellard.
"Pilih, hubungan kamu di ketahui papa kamu atau ikutin semua kata aku," Bisik ellard pada liora. Gadis itu kembali terdiam tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain mengikuti permainan cowok berparas kebulean itu.
Flashback on
Liora bergegas keluar rumah, dia sudah memberitahu mama nya bahwa dia akan ke rumah keysa sebagai alasannya. Jika memberitahu yang sebenarnya ariani tentu tidak akan mengizinkan gadis itu pergi, ia terpaksa berbohong.
Di perjalanan menuju pantai, mobil liora tiba-tiba mogok di perjalanan sepi, untung saja entah kebetulan atau kesengajaan ellard tiba-tiba datang menghampirinya,
__ADS_1
"Mobil kamu kenapa?" Tanya ellard setelah keluar dari mobil.
"Mogok," Balas liora cuek.
"Aku bantuin, kamu naik mobil bareng aku aja, nanti mobil kamu aku panggilin montir," Ujar ellard seraya memeriksa mobil liora.
"Gak usah, aku bisa sendiri," Tolaknya.
"Emangnya kamu mau kemana?" Ellard menghiraukan penolakkan dari liora.
"Ketemu alarick," Jujur liora. Jika tidak begini cowok itu akan semakin gancar bertanya padanya.
"Aku anterin," Ellard menarik tangan liora agar masuk dalam mobil.
"Aku gak suka di paksa," Pinta liora bergegas ingin meninggalkan ellard. Tapi lebih dulu tangannya di cekal oleh cowok itu.
"Kamu punya dua pilihan, pilih pergi sama aku, atau papa kamu akan tahu kebohongan kamu," Ujarnya dengan wajah menyebalkan.
"El, kamu gak bisa egois gini," Ujar liora pelan.
"Brengsek kamu. El, aku benci sama kamu, aku gak kenal sama diri kamu yang sekarang," Liora memukul dada ellard. Cowok itu hanya diam tak menghindar sedikitpun
"Maafin aku, ra, aku lakuin ini karena aku sayang sama kamu, aku gak mau kehilangan kamu," Batin ellard. Merasa bersalah.
Flashback off
"Senja memang indah ya. Ra, tapi sayangnya ia hanya datang sesaat," Alarick berbasa basi, tidak ingin langsung pada inti obrolan mereka. Ia masih ingin berlama-lama dengan gadis di sampingnya ini. Meskipun hari ini mungkin akan menjadi terakhir kali nya ia bisa bersama dengan liora.
"Al, tahukah kamu, mengapa kehadiran senja selalu di tunggu?" Liora mengarahkan pandangannya pada alarick.
"Kenapa?" Alarick menautkan dahinya bingung.
"Karena senja selalu di nanti untuk melepas letih dari para penghuni bumi. Dan meskipun sesaat ia akan selalu menjanjikan sebuah kata kembali," Jelas liora kembali menatap senja yang indah menyapa nya.
"Kenapa manusia tidak bisa seperti senja?
__ADS_1
"Karena manusia adalah raga yang bisa menemani, namun pada suatu waktu, ia juga bisa meninggalkanmu pergi," Pungkas liora.
"Seperti kamu, contohnya," Alarick terkekeh hambar menoleh ke arah liora di sampingnya.
Gadis dengan rambut panjang, hitam pekat yang di gerai indah itu terdiam sejenak. Berusaha mencerna kata alarick barusan.
"Kalau kamu di tanya tentang apa yang kamu takuti selain tuhan, kamu akan jawab apa?" Alarick kembali bertanya.
"Kehilangan," Jujur liora. Entah mengapa perasaannya tidak enak, kenapa cowoknya tiba-tiba menanyakan soal sensitif seperti ini.
"Tetapi ada yang lebih buruk dari pada kehilangan itu sendiri," Tutur alarick menghadap sepenuhnya ke arah liora.
"Apa?"
"Menjalani hari-hari setelah kehilangan, melepaskan, mengikhlaskan," Alarick mengusap lembut punggung tangan gadis itu. Liora menatap dalam manik mata cowok itu.
"Kenapa orang-orang takut akan kehilangan?" Alarick terus saja melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat liora merasa tersudutkan merasa bersalah pada cowok itu.
"Karena ada rasa memiliki," Sahut liora menatap setiap inci wajah menyengkan milik alarick.
"Jika aku pergi, apakah kamu merasakan kehilangan?" Alarick menaikkan sebelah alisnya.
"Gak akan. Al" Jawab liora tanpa ragu.
"Kenapa begitu?"
Liora membentuk sebuah senyuman kecil. Lalu meraih tangan alarick kemudian berkata. "Karena kamu gak akan pernah melakukan itu," Liora berucap penuh keyakinan.
"Aku titip ya?" Alarick beranjak dari duduknya kemudian liora pun sama.
"Apa?"
"Kenangan," Jelas alarick lalu tersenyum hangat pada gadis itu.
"Untuk apa? Bukannya kamu masih di sini?" Liora semakin di buat bingung.
__ADS_1
"Berjaga-jaga, karena manusia bisa saja hilang tapi kenangan akan tetap tinggal," Alarick berucap seraya mengusap-usap rambut belakang liora.