Distilasi Alkena

Distilasi Alkena
Bab 34. Katastrofe


__ADS_3

..."Untuk apa dia menanti pelangi jika bermain dengan hujan saja sudah menyenangkan?"...


..._Alarick Zalman Maheer_...


...----------" "-----------...


"Kalau bukan cewek murahan apalagi? Kalau udah murahan ya murahan aja gak usah membela diri lo," Pungkas amanda menatap nyalang ke ara liora.


"Amanda lo udah keterlaluan, liora sahabat lo!!" Sultan tiba-tiba bersuara dengan wajah datar sebagai ciri khas nya.


Amanda berbalik badan mengarahkan pandangannya pada sultan. "Lo belain dia tan? Alarick juga sahabat lo bukan liora aja, lo jangan belain orang yang bersalah!!!" Cicit amanda lantang.


"Mand, kita dengarin penjelasan dan kebenarannya dari liora dulu, jangan menghakimi dia kayak gini," Ujar sultan pelan agar masalah tidak semakin rumit.


Amanda menaikkan sebelah alisnya. "Kebenaran, penjelasan? Apa yang dia lakuin di depan alarick di depan kita semua yang ada disini. Apa itu belum cukup buat lo menyimpulkan sebagai kebenarannya, gue tahu liora sahabat lo dari kecil, tapi lo harus bisa adil, kalau yang salah tetap salah!!" Amanda semakin tak bisa mengontrol emosinya.


"Jika masalah tidak ada jalan keluar terpaksa kita yang keluar untuk jalan-jalan," Jokes johan.


"Bisa serius gak sih lo," Celetuk audrey sinis.


"Suasananya lagi tegang drey, sekali-sekali butuh humor receh buat meredamkan suasannya," Jelas johan menoleh ke arah audrey yang berdiri sejajar dengannya.


"Mand, biarin liora selesaiin masalahnya sama alarick dulu, kita gak berhak ikut campur," Imbuh keysa.


"Iya, mand, biarin mereka selesaiin berdua," Tambah audrey terlihat khawatir, takut kedua sahabatnya akan saling membenci satu sama lain.


Amanda kembali menatap liora dan ellard secara bergantian. Ia mengerutkan keningnya memutar bola mata malas melihat mata liora yang tampak mulai berkaca-kaca. "Topengnya bagus, cocok juga buat nyari muka beli dimana. Ra?" Ujar amanda.


"Amanda udah!!" Suara serak itu milik alarick. Kemudian cowok itu menghampiri liora dan membawa gadis itu keluar kantin tetapi satu tangan liora di cekal oleh ellard.


"Lo mau bawa liora kemana?" Ellard semakin kuat mencekal tangan gadis itu.


"Lepasin, bukan urusan lo," Balas alarick menatap nyalang ke arah ellard. Kali ini tatap cowok itu benar-benar berbeda, tidak ada lagi tatapan teduh darinya yang biasa teman-teman dan murid-murid di sekolah lihat seperti biasannya.


"Liora pacar gue, lo gak boleh bawa dia tanpa seizin dari gue," Ujar ellard sangat percaya diri sekali cowok ini. Ya walaupun hubungannya dengan liora dulu tidak ia setujui saat gadis itu memutuskan hubungan sepihak.


Bugghh.

__ADS_1


Murid-murid dan teman-teman alarick mendadak meringis menyaksikan aksi alarick barusan.


Alarick membogem rahang ellard secara tiba-tiba, cowok itu sudah sangat banyak bersabar terhadap apa yang dilakukan ellard dan gadisnya. Tapi kali ini kesabarannya sudah tidak ada lagi, ellard memang harus di beri pelajaran agar cowok itu tidak semakin menjadi-jadi.


"Sialan lo!!" Ellard yang ingin membalas bogeman alarick kalah cepat dengan johan dan sultan yang menghalanginya.


...*****...


"Kamu sadar bahwa sikap kamu akan melukai aku kan? Lalu kenapa kamu melanjutkan. Ra?" Alarick berujar pelan ada suara tertahan darinya.


"Al, mau aku jelasin pun, kamu gak akan paham alasannya!" Cicit liora mata yang tampak berkaca-kaca.


"Kamu tahu betul kan, aku sangat mencintai kamu, sayang sama kamu, tulus sama kamu, tapi kamu selalu berhasil mengecewakanku dengan segala sikap dan perlakuan kamu yang secara terang-terangan di depan mata aku. Ra," Tutur alarick suara cowok itu mulai bergetar.


"Kamu sendiri kenapa mau bertahan kalau tahu, bahwa bersama aku hanya menyuburkan luka dan kecewa?" Ujar liora menatap lama wajah alarick.


Alarick menggeleng pelan, bukan ini jawaban yang ingin ia dengar dari gadis penyuka boneka kelinci ini. "Oh ternyata selama ini aku hanya cinta sendirian, ternyata bagi kamu hanya bahan bercandaan??" Tatapan kecewa yang alarick berikan pada liora. Gadis itu hanya membisu.


"Maksud kamu?" Liora kembali menatap alarick setelah beberapa saat terdiam.


"Iya, kalau kamu juga mencintai aku, harusnya kamu paham mengapa aku bertahan meski kamu bisa hanya menyakiti aku begitu saja---"


"Berbicara mengenai sikap kamu akhir-akhir ini seakan mengujiku untuk tetap memperjuangkanmu atau meninggalkan kamu," Sambung alarick.


Liora membulatkan matanya tak percaya, dari mana alarick tahu sati kebohongan itu. Apakah sultan yang memberitahunya atau alarick mendengar sendiri percakapannya dengan sultan dalam kamar.


Alarick dan dan liora terdiam selama beberapa menit. Mereka saling sibuk dengan pikiran masing-masing satu sama lain. Liora berpikir keras dari mana alarick tahu tentang kebohongan yang ia sembunyikan sedangkan alarick terdiam dengan bayang-banyang mendengar ucapan liora tempo hari.


Flashback on...


"Posisi toiletnya dimana?" Tanya alarick pada laskaar----Sepupu liora.


"Lo naik ke lantai dua, di sisi kiri ada kamar liora," Jelas laskaar di angguki oleh alarick.


Alarick berjalan ke arah toilet, ia mengurungkan niatnya ke tujuan awal, ia mencoba mendekat ke arah kamar liora kemudian mengernyitkan dahinya bingung mencoba mendengarkan percakapan antara sultan dan liora di balik pintu.


Ra, gue mau nanya serius sama lo," Ujar sultan.

__ADS_1


"Mau nanya apa?"


"Lo beneran suka sama alarick?"


"Gak, lo tahu sendiri, Al, kalau gue gak gampang suka sama cowok, apalagi alarick baru gue kenal," Terang liora tak ingin lagi menyembunyikan kebohongan lagi.


"Jadi, maksud lo, nerima alarick buat apa?"


"Gue ngerasa kasihan aja sama dia, makanya gue terima," Balas liora. "Tapi, gue bakalan belajar buat suka sama dia," Lanjutnya.


Sultan menggelengkan kepalanya pelan. "Alarick cowok baik, ra, lo jangan nyakitin atau kecewain dia, cukup papa nya aja, lo jangan jadi orang kedua yang kecewain dia," Ujar sultan menasehati liora.


"Iya," Balas liora singkat.


Flashback off..


"Al a-aku memang belum suka dan cinta sama kamu, tapi aku lagi berusaha buat suka sama kamu," Tutur liora mencoba menjelaskan.


"Ra, beri tahu aku dimana aku bisa membeli lupa? Dimana aku bisa mendapatkan ekspresi wajah aku yang dulu dan bagaimana aku bisa kembali seperti aku yang dulu," Pinta alarick memandang datar gadis itu. Liora hanya bisa menunduk tak berani sejengkalpun bersitatap dengan wajah menyenangkan milik alarick.


"Jawab. Ra!! Desak alarick menggoyangkan bahu liora yang masih terdiam.


"Al, kamu sungguh aku ingin mempertahankan segalanya bahkan jika bukan kamu yang menjadi titik akhir aku nanti," Ujar liora mengadahkan pandangannya pada alarick.


Alarick tertawa hambar menjauhkan tangannya dari bahu liora lalu berkata. "Basi. Ra," Ujarnya membuang pandangan ke sembarang arah.


"Aku tidak tahu kenapa dari banyaknya lelaki yang kamu pilih untuk dihancurkan adalah aku. Di antara ratusan yang pernah kamu temui aku yang menjadi sasaran tembak mati kamu---"


"Komedinya adalah kamu tahu bahwa aku telah hancur oleh berbagai keadaan, alih-alih mengobati nyatanya semakin membuat aku kacau---" Alarick mengepalkan tangannya kuat-kuat, matanya sudah terlihat memerah menahan bulir air mata yang akan membasahi pipinya.


Katakan saja alarick cowok lemah, tetapi memang itu kenyataannya dia cukup berantakan dan hancur selama ini di sebabkan oleh papa nya---Riko, dan sekarang di tambah oleh liora---perempuan yang ia sudah anggap sebagai rumahnya perempuan kedua setelah mama nya yang harus ia cinta dengan tulus.


"Kamu tahu aku tidak aman, lalu kenapa kamu hancurkan aku secara perlahan. Ra," Alarick berujar getar, lalu menonjok tembok di sebelahnya.


Liora kaget langsung mendekati dirinya ke arah alarick.


"Al, jangan sakiti diri kamu sendiri," Pinta liora bulir air mtanya sudah lolos membasahi pipi gadis berjacket itu.

__ADS_1


"Pergi. Ra," Ujar alarick pelan. Liora menggeleng tak ingin mengikuti perintah alarick lalu gadis itu meraih tangan alarick tetapi cepat di tepis oleh cowok itu.


"Aku bilang pergi, gak usah sok perhatian, pergi!!!" Liora terlonjat kaget mendengar bentakan alarick, baru pertama kali liora mendapat bentakan dari cowoknya, selama mereka menjalin hubungan alarick selalu berucap lembut dan pelan terhadapnya. Tapi kali ini bukan sosok alarick yang ia lihat tetapi orang lain. Sosok alarick sekarang dihadapannya sangatlah asing, tatapannya, juga begitu asing terhadapnya.


__ADS_2