
..."Layaknya pohon, suatu saat, aku akan tumbang karena seleksi alam"...
..._Alana Liora Gantari_...
...----------" "----------...
Hari ini adalah hari kedua, liora di rawat di rumah sakit terbaring lemah dengan infus serta alat medis lainnya yang memenuhi tubuh mungil nya. Bokap, nyokap nya sudah mengetahui kabar kecelakaan putri semata wayang mereka. Hingga sang papa dan mama memutuskan untuk menjaga nya di rumah sakit. Papa nya sampai membatalkan kesempatan kerja sama dengan rekan bisnis nya.
Bukan hanya ariani dan arlon saja yang menjaga liora. Namun ada abiam juga yang setia menjaga liora, semalaman. Arlon sudah menyuruh nya pulang untuk istirahat tadi malam, tetapi laki-laki itu menolak. Ia tetap kekeuh ingin menjaga liora.
"Abiam, bangun nak," Ucap ariani pelan membangunkan abiam karena ia tahu hari ini abiam akan bersekolah.
"Tante," Sahut abiam dengan suara berat.
"Kamu pulang saja ya, hari ini kamu harus masuk sekolah, biar tante sama om yang jagain liora," Ujar ariani lembut.
Laki-laki itu hanya menggeleng pelan. "Gak tante, abiam masih pengen jagain liora,"
"Baiklah, kalau gitu, tante sama om pulang sebentar. Sekalian ngambil barang-barang liora,"
"Tante titip liora, ya," Lanjut ariani.
"Om sama tante, hati-hati di jalan," Sahut abiam menoleh ke arah ariani dan arlon
Keadaan mama alarick sudah cukup membaik, sehingga bisa di pulangkan ke rumahnya. Kemarin Sultan dkk tidak bisa menghubungi alarick karena dia sengaja mematikan handphone miliknya agar dia bisa fokus pada kesembuhan mama nya. Ia sangat panik, khawatir hingga tidak ada pikiran tentang orang lain. di pikirnya hanya keadaan mama nya.
Ia baru saja mengaktifkan handphonenya. Ia mengerutkan dahinya ketika, banyak panggilan tak terjawab dari Sultan dkk.
"Tumben sultan dan yang lainnya nelpon sampai sebanyak ini," Bingungnya.
Ia menuruni anak tangga untuk menghampiri mama nya berpamitan ke sekolah.
"Mah, Al ke sekolah dulu ya," Ucap sultan sesampainya di kamar mama nya.
"Kamu sarapan di sekolah aja ya, maafin mama belum bisa buatin sarapan buat kamu hari ini," Mamanya berucap dengan suara lembut.
"Gpp mah, ya udah, kalau gitu Al berangkat dulu, mama jangan lupa minum obatnya, Al gak mau mama kenapa-kenapa lagi," Ujar alarick yang masih terbesit rasa khawatir.
"Hati-hati sayang, jangan ngebut," Balas mama nya, alarick langsung mencium kedua pipi mama kesayangannya.
...*****...
Bell masuk pun telah berbunyi menandakan jam pelajaran pertama telah di mulai.
"Rasa nya kurang, tanpa kehadiran liora bareng kita," Ucap amanda terduduk di bangku nya bersama keysa.
"Kita jengukin dia nanti," Sahut keysa.
"Lo lihat, audrey jadi lebih banyak diam hari ini. Dia masih ngerasa bersalah sama kejadian kemarin," Amanda melirik sekilas ke arah bangku tempat audrey dan liora duduki.
"Assalamualaikum," Salam----Guru bahasa indonesia bu laily
"Waalaikumussalam bu," Sahut mereka bersamaan.
"Bu laily makin hari makin cantik, seksi, gemoy bangat sih," Goda luken teman sekelas mereka.
__ADS_1
"Hahaha," Ketawa semua siswa di kelas.
"Aduhh, jadi malu saya," Ujar bu laily malu-malu.
"Bu laily yang cantik dan baik hati. Kita tidak usah belajar ya bu," Ujar luken tanpa tahu malu.
"Enak aja, kamu puji saya cuman karena gak pengen belajar. Lebih baik kamu pulang saja!" Ujar bu laily melototkan matanya.
"Eh busettt," Kaget luken mengusap dadanya.
"Diam kamu, baiklah, saya akan mengabsen terlebih dahulu,"
Setelah selesai mengabsen siswa-siswi lain, sekarang giliran nama liora yang telah di sebut.
"Alana Liora Gantari," Absen bu laily
"Bu, liora izin," Ucap amanda mengangkat sebelah tangannya.
"Dia izin kenapa, apakah ada keterangan yang pasti?" Kata bu fatma.
"Liora masuk rumah sakit, kecelakaan kemarin bu," Sahut amanda lagi.
"Innalillahi," Kaget bu laily.
Teman sekelas yang lain juga tengah membicarakan tentang kecelakaan dan keadaan liora.
Pelajaran pertama selesai pada 5 menit yang lalu. Waktu yang telah di nantikan oleh Siswa-siswi. Mereka berhamburan keluar kelas menuju kantin.
"Liora gak masuk?" Tanya alarick pada ketiga sahabat gadis nya tengah terduduk satu meja dengannya dkk.
"Kenapa gak masuk," Alarick bertanya lagi.
"Lo kan pacarnya, ngapain lo nanya kita," Sungut amanda terlihat menahan amarah.
"Gue gak tahu, makanya gue nanya sama kalian!" Celetuk alarick jengkel.
Bughh.
Suara tonjokkan dari sultan pada rahang alarick. Semua siswa kaget, langsung menoleh pada sumber suara.
Alarick yang tidak siap menerima tonjokkan secara tiba-tiba dari sang pelaku, kepalanya menoleh ke samping.
"Apa-apaan lo!" Alarick menyeringai bingung, menyeka darah di sudut bibir nya.
"Lo berstatus sebagai pacar nya liora, sahabat gue, kenapa bisa lo gak tahu dimana dia," Emosi sultan menarik kerah baju milik alarick.
"Ara dimana sekarang?" Tanya alarick masih mengontrol emosi nya.
"Pacar macam apa lo, keadaan cewek sendiri, lo gak tahu!"
"Gue tanya sama lo, Liora pacar lo atau pacar abiam," Tanya sultan masih memegang kerah baju alarick.
"Pacar gue," Balas alarick, ia bingung ada apa dengan sultan, mengapa sahabat nya bisa semarah ini.
"Ck! Abiam yang bukan siapa-siapanya liora aja bisa tahu, keadaan liora gimana. Sedangkan lo? Apa yang lo tahu tentang keadaan liora hah!!" Mata sultan memerah, urat-urat lehernya menonjol menahan emosi.
__ADS_1
"Maksud lo apa sih, gue gak ngerti," Alarick tidak paham dengan semua yang di ucapkan oleh sultan.
"Asal lo tahu, kemarin liora mengalami kecelakaan dan lo, lo gak tahu tentang hal itu. Sahabat gue terbaring lemah di rumah sakit lo pun gak tahu," Jelas sultan menatap tajam alarick.
Deg.
Tubuh alarick seketika langsung membeku mendengar penuturan itu. Ia merutuki dirinya, dia sungguh laki-laki bodoh, laki-laki tidak becus untuk gadis nya.
Sultan melepas cengkramannya pada kerah baju alarick. Ketika melihat cowok itu terdiam membeku. Alarick berusaha mencerna dengan baik kata kata sultan tentang liora tadi..
"Gue beneran gak tahu, liora kecelakaan," Elak alarick.
"Gimana lo gak tahu, nomor lo aja susah di hubungin," Sahut Amanda.
"Liora di rumah sakit mana?" Alarick bertanya.
"Rs pertamina jaya," Ujar audrey.
Alarick buru-buru keluar kantin, menuju kelasnya mengambil tas, lalu berlari ke arah parkiran sekolah. Untung saja gerbang sekolahnya terbuka. Ia dengan cepat melajukan motor nya menuju tempat tujuan.
"Eh-eh, aduh, kamu mau kemana," Panggil pak satpam.
"Dasar anak muda, jaman sekarang sekolah cuman ngabisin duit orangtua," Celoteh nya saat motor alarick melaju cepat.
...*****...
"Permisi, saya mau nanya, ruangan pasien cewek yang bernama alana liora gantari, yang mengalami kecelakaan kemarin, dimana ya?" Tanya alarick sopan.
"Sebentar saya cek dulu,"
"Pasien bernama Alana liora gantari, berada di ruang inap no 05," Jawab dokter.
"Terimakasih," Ujar alarick, berlangkah pergi.
Sesampainya di ruang rawat liora. Ia di suguhkan dengan pemandangan yang membuat hati nya terasa sakit, sesak, dan menyesal. Ia merasa gagal jadi cowok yang baik, yang selalu ada untuk perempuannya.
Pintu ruang rawat terbuka lebar. Menampakkan alarick yang tengah memperhatikan gerak gerik abiam terhadap gadisnya.
"Gue boleh masuk?" Tanya alarick.
Abiam membalikkan badannya menoleh pada sumber suara.
Abiam hanya menganggukkan kepalanya tanda membolehkan alarick masuk. Ia ingin melarang alarick menjenguk liora, tapi ia juga tidak boleh egois, biar gimanapun alarick pacarnnya liora. Alarick lebih berhak terhadap gadis itu. Ia hanya teman, ya, hanya sekedar teman dan tidak lebih. Ia sadar akan hal itu.
Abiam keluar, saat alarick menduduki kursi dekat brankar milik liora.
"Apa yang kamu rasakan sekarang? Aku benar-benar tidak bisa melihatmu terbaring lemah seperti ini," Ujar alarick mengusap pipi liora.
"Berjuanglah untuk sembuh, selama itu pula aku akan mendampingi mu dan mengawasi kamu," Lirih alarick meneteskan air matanya.
"Maafin aku," Ia mencium punggung tangan liora. Yang terlihat kaku, dingin.
"Maafin aku karena baru tahu tentang keadaan kamu, kemarin, aku bawa mama ke rumah sakit, ra, mama pingsan di kamar mandi, karena kebanyakan minum obat penenang. Makanya aku gak bisa angkat telpon dari sultan dan teman-teman yang lain. Aku panik ra. Aku khawatir mama kenapa-kenapa, jadi aku sengaja menon-aktifkan hp aku. Karena aku cuman pengen fokus sama keadaan mama waktu itu," ALarick berusaha menjelaskan walau ia tahu tidak akan mendapatkan respon apapun dari gadis nya.
"Setiap hari aku selalu memikirkan keadaan kamu maupun mama, aku sangat khawatir, aku cuman punya kamu dan mama, cepatlah sembuh, aku tahu kamu kuat," Ucap alarick lalu mencium pucuk kepala liora.
__ADS_1