Distilasi Alkena

Distilasi Alkena
Bab 26. Tentang sebuah kronologi perasaan


__ADS_3

..."Sebuah fakta yang menghancurkan asa, mengandung duka"...


...----------" "----------...


"Dok, gimana keadaan putri saya?" Tanya arlon tampak khawatir.


"Liora tidak apa-apa, untung saja cepat di tangani," Sahut dokter rian-----dokter pribadi keluarga garcia.


"Sukurlah kalau begitu," Ucap arlon merasa lega.


"Pastikan liora meminum obatnya secara rutin, jika tidak penyakit nya akan kembali kambuh terus menerus," Kata dokter rian yang mendapat anggukan dari arlon dan ariani maupun laskaar.


"Tan, lo mau kemana?" Alarick bertanya pada sultan.


"Rumah ara," Balas sultan tanpa menghentikan langkahnya.


Sultan kembali menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya menoleh ke arah alarick dan johan.


"Lo mau ikut?" Sultan bertanya.


Alarick hanya mengangguk-anggukan kepalanya,"Gue ambil tas dulu," Ujar lalu masuk dalam kelas.


...*****...


"Pengen bangat gue jambak, mak lampir tadi," Geram amanda terlihat kesal.


"Gue kira, liora gak punya penyakit," Kata audrey yang masih tidak percaya.


"Fitrahnya tidak ada manusia yang sempurna, setiap manusia punya kekurangan begitupun liora," Simpul amanda.


"Iya juga sih," Ucap audrey.


"Drey, lo beneran gak suka sama johan?" Tanya amanda menaikan sebelah alisnya.


"Kenapa jadi bahas itu sih," Dengus audrey malas.


"Jawab dulu, suka atau gak?" Desak semakin penasaran.


"Gak," Sahut audrey menekuk wajahnya.


"Alasannya?" Keysa bertanya serius.


"Dia bukan tipe gue, gue mau nya, ganteng, pintar, kaya, baik, setia, gak prik kayak dia," Ujar audrey.

__ADS_1


"Itu artinya, sama aja lo mau cari manusia yang sempurna, tipe lu terlalu tinggi," Celoteh amanda.


"Gak usah terlalu berlebihan, lo mau cari cowok sesempurna gitu, jangankan di bumi, di bulan saja tidak ada," Timpal keysa tak habis pikir dengan sahabatnya satu ini.


Di kediaman keluarga garcia..


Di dalam rumah megah itu tampak ada seorang cowok seumuran liora tengah berduduk santai di sofa, seraya memainkan handphonennya.


"Las," Panggil sultan ketika sudah berada di rumah milik keluarga garcia.


Laskaar menoleh ke arah sumber suara. "Lo bolos?" Pertanyaan laskaar pada sultan.


"Gak," Balas sultan. "liora mana?"


"Di kamar," Sahut laskaar bangkit dari duduknya memasukan handphon-nya ke dalam saku calana.


"Tante, om," Ucap sultan setelah membuka pintu kamar milik liora.


"Al," Sahut liora menoleh ke arah sultan yang tersenyum berjalan mendekati nya di kasur.


"Lo gak papa?" Raut wajah khawatir milik sultan.


"Gue gak papa, lebay bangat sih lo," Kata liora tersenyum geli.


"Tante sama om turun dulu ya," Arlon berucap seraya melirik istrinya.


"Di bawah ada alarick sama johan," Ujar sultan memperbaiki posisi duduknya.


"Mereka ngapain ke sini?" Tanya liora.


"Jengukin lo lah, pe'a" Sahut sultan kesal.


"Santai dong," Liora berucap sambil terkikik geli.


"Lo, jangan bikin gue khawatir terus ra, gue gak bakalan maafin diri gue sendiri kalau lo sampai kenapa-napa," Ujar sultan dengan raut wajah serius.


"Gue gak bakalan kenapa-napa semasih lo ada di samping gue, jagain gue terus ya," Liora menatap dalam manik mata teduh milik sultan.


Sultan mengulas senyum tipis menatap liora. "Gue janji bakalan jagain, lindungin dan selalu ada buat, lo," Kata sultan mengusap lembut punggung tangan liora.


"Dan akan selalu mencintai lo sampai di titik akhir hidup gue nanti," Lanjut sultan berucap dalam hati.


...*****...

__ADS_1


"Kalian teman sekolah nya ara dan sultan?" Arlon berjalan ke arah johan dan alarick yang sedang duduk bersama laskaar.


"Iya, om," Ucap alarick.


"Ya sudah kalau begitu, bi inem, tolong buatin makanan atau minuman untuk mereka," Intruksi arlon pada pembantu yang berumur 52 tahun itu. Lalu melenggang pergi menuju ruang kerja nya.


"Baik tuan," Ujar bi inem bergegas ke dapur.


"Lo berdua beneran teman liora dan sultan?" Tanya laskaar memastikan. Tentu saja dia bertanya seperti itu karena baru kali ini ada cowok yang berani menginjakkan kakinya di rumah ini selain ia dan sultan.


"Iya, gue temannya sultan dan liora, tapi alarick pacarnya liora," Sahut johan keceplosan tanpa memikirkan konsekuensi nya.


"Apa?!


"Aduhh, nih mulut gak bisa di ajak kerja sama bangat sih," Johan merutuki diri nya. Menutup mulut.


"Dia cuman bercanda, gak usah di ladenin," Elak alarick masih bisa mengatur kegugupannya.


"Lo beneran, pacarnya ara sepupu gue?" Laskaar menatap alarick seakan meminta penjelasan.


"Gak,"


"Jujur aja, gue gak bakalan ngasih tahu om arlon kok," Ujar laskaar berusaha meyakinkan alarick.


"Iya, gue pacar nya," Final alarick menghela napas gusar.


"Jangan sampai lo berani-berani nyakitin ara, lo akan berurusan sama gue maupun sultan," Laskaar berbisik pelan.


"Gue sayang dan tulus sama liora, gak mungkin gue nyakitin orang yang gue cinta," Balas alarick.


...*****...


"Ra, gue mau nanya serius sama lo," Ujar sultan.


"Mau nanya apa?"


"Lo beneran suka sama alarick?"


"Gak, lo tahu sendiri, Al, kalau gue gak gampang suka sama cowok, apalagi alarick baru gue kenal," Terang liora tak ingin lagi menyembunyikan kebohongan lagi.


"Jadi, maksud lo, nerima alarick buat apa?"


"Gue ngerasa kasihan aja sama dia, makanya gue terima," Balas liora. "Tapi, gue bakalan belajar buat suka sama dia," Lanjutnya.

__ADS_1


Sultan menggelengkan kepalanya pelan. "Alarick cowok baik, ra, lo jangan nyakitin atau kecewain dia, cukup papa nya aja, lo jangan jadi orang kedua yang kecewain dia," Ujar sultan menasehati liora.


"Iya," Balas liora singkat.


__ADS_2