Distilasi Alkena

Distilasi Alkena
Bab 27. Astrophile


__ADS_3

..."Semoga semesta selalu memperlakukanmu dengan baik"...


..._Alarick Zalman Maheer_...


...----------" "----------...


Laskaar mengulurkan tangannya membuka knop pintu kamar liora, di dalam terdapat liora dan sultan sedang berbicara seraya tertawa.


"Tan, teman lo nungguin di bawah tuh dari tadi," Ucap Laskaar yang tiba-tiba muncul dari arah pintu.


Sultan dan liora menoleh ke arah sumber suara. "Gue hampir lupa, keasyikan ngobrol sama makhluk kicik ini," Pungkas sultan terkekikik geli.


Liora yang mendengar itu hanya bisa melototkan matanya pada sultan.


"Lucknat memang lo, Al," Serobot liora.


"Heh, gak boleh ngomong kasar, ara!!" Tegur Sultan dan laskaar hampir bersamaan.


"Maaf, keceplosan," Cicit liora pelan.


"Pacar lo datang, malah gak di samperin," Celoteh Laskaar berjalan ke arah kasur milik liora duduk di samping gadis itu.


"Hah?!" Panik liora gelagapan.


"Lo, tahu dari mana, liora punya pacar?" Tanya sultan mulai resah.


"Dari cowok nya langsung lah," Sahut laskaar santai.


Liora dan sultan mendengar itu, hanya bisa menelan ludahnha susah payah. "Kaar, jangan kasih tahu papa ya, pleasse!" Liora memohon dengan puple eyes nya.


"Tenang aja, rahasia lo, aman sama gue, tapi kalau cowok lo coba-coba nyakitin lo, dia akan berurusan langsung sama gue!" Tekan laskaar.


Liora hanya menganggukan kepalanya pelan, ia paham maksud laskaar, sepupu nya itu sangat menyayanginya sama seperti sultan dan arlon terhadapnya.


"Suatu saat, mungkin bukan alarick yang kecewain dan nyakitin gue, melainkan gue sendiri yang bakalan kecewain dia, kaar," Ujar liora dalam hati.


...*****...


Kembali ke sekolah...


"Anterin, gue ke toilet dong," Ajak amanda pada keysa. Hari ini kelas mereka masuk pelajaran bahasa inggris----Bu fatma.


"Okee," Balas keysa singkat.


"Manja bangat sih, pake ditemenin segala," Celetuk iqbal sang ketua kelas.


"Diam lo! Emang lo mau temenin gue?" Serobot amanda melirik sinis ke arah iqbal yang sedang memegang pulpen di bangku samping bangku amanda.

__ADS_1


"Gue cowok woi! Bisa-bisanya lo ngajak gue," Celetuk iqbal.


"Makanya gak usah banyak omong sama gue," Semprot amanda memutar bola matanya malas.


"Oke, sampai sini ada yang di pertanyakan?" Tanya bu fatma----Guru bahasa inggris.


"Gak ada ya?-----Oke gak ada," Ujar bu fatma.


Amanda langsung mengangkat tangannya. "Bu, kami mau izin ke wc bu," Ujar amanda.


Bu fatma mengarahkan padangannya ke arah amanda. "Oke selanjutnya-----Mau ngapain?!" Bu fatma bertanya.


"Narik uang bu!!" Sahut amanda kesal.


Teman-temannya hanya bisa menahan tawa melihat kelakuan random amanda.


"Ya, buang air lah bu, ngapain lagi coba!!" Ujar amanda ketus.


"Oh ya, silahkan-silahkan, jangan lama-lama ya," Ujar bu fatma.


"Iya bu..yuk key," Amanda beranjak dari duduknya.


"Eh tapi, emang bisa narik uang di toilet ya?" Polos audrey bertanya pada teman di belakang nya.


"Haduhh, hummm," Depresot helena yang di tanya oleh audrey.


Di jalan menuju toilet...


"Weh-weh-weh ada cewek," Ujar cowok di tengah koridor.


"Cewek, piw-piw," Goda cowok yang satu nya lagi.


"Ih apasih?" Amanda melirik malas ke arah perkumpulan cowok-cowok itu.


"Gak usah di ladenin," Ujar keysa dengan wajah datarnya seraya terus berjalan beriringan ke amanda.


"Woi, sombong amat sih!!"


"Ih anjirrt, ngeselin bangat deh!!" Kesal amanda.


"Mau kemana nih dek?"


"Ih-ih mau gue geplak tuh kepala lo," Celetuk amanda menoleh sebentar.


"Aduh, jangan sombong dong sama kakak kelas,"


"Oii-oiii," Cowok-cowok itu semakin gancar menggoda amanda dan keysa.

__ADS_1


Amanda yang sudah di tahan lagi, membalikkan badannya sepenuhnya, menatap cowok-cowok itu.


"Eh, kutu kupret, diam lo anj!!" Semprot amanda manatap tajam kakak kelas nya.


Cowok-cowok tadi langsung gelagapan, mendengar semprotan dari mulut cabe dari amanda. Mereka manggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Mau gue laporin BK lo semua!!" Ancam amanda.


"Mand..." Ujar keysa melirik manda sekilas.


"Sorry key, keceplosan," Cicit amanda melirik keysa.


...****...


Malam harinya alarick terbangun dari tidurnya, pukul sebelas malam, entah kenapa malam ini ia tidak bisa tidur rasanya sangat aneh. Seperti merasakan firasat buruk yang akan menimpanya esok hari. Cowok pemilik wajah menyenangkan itu beranjak dari kasur nya kemudian menuju balkom kamar miliknya.


Dia menatap langit-langit malam, bintang-bintang yang amat cantik menghias langit malam. Cowok itu memejamkan matanya menghirup udara dingin malam ini. Nyaman dan ketenangan itulah yang ia rasakan.


Alarick memang senang melihat langit, bulan, malam dan seisinya, kalian juga yang suka melihat langit dan seisinya seperti alarick pasti akan merasakan hal yang sama, apalagi jika tahu arti dari benda-benda yang ada di langit.


"Andai malam ini dan malam-malam selanjutnya, gue bisa menikmati indahnya suasana keindahan bintang, bulan, dan langit bersama liora," Alarick terkekeh dengan ucapannya sendiri. Mengingat hubungannya dengan liora seperti bukan orang yang berpacaran pada umumnya. Jika tidak berbohong atau menyembunyikan hubungan mereka, ia tidak akan bisa bertemu dengan liora.


Tok-tok..


Alarick menoleh dari arah pintu, mendengar pintu kamar di ketuk oleh silvia-----sang mama.


"Masuk aja mah," Ujar alarick masih duduk di balkom kamar.


Cekleekkk. Pintu kamar terbuka menampakkan sosok wanita yang alarick sayang amat sayang.


"Kenapa belum tidur sayang," Cicit silvia pelan saraya menghampiri alarick.


"Al, gak bisa tidur mah," Sahutnya menatap sang mama.


Silvia tersenyum mendengar ucapan sang putra, ia mendekat mengusap rambut anaknya penuh kelembutan dan cinta.


"Tidur ya, mama temanin Al," Ujar silvia mengambil bantal diletakkanya di paha.


Alarick menyahut meletakkan kepalanya di atas paha sang mama, cowok itu mendongak menatap wajah damai mamanya lalu bertanya----


"Mah, apa cinta sejati itu ada?"---


Silvia terdiam sejenak, bingung harus menjawab apa kemudian wanita paruh bayah itu mengangguk menatap sang anak.


"Tentu, dia ada,"


"Lalu, mengapa aku tidak mendapatkannya---?"

__ADS_1


"Bukan tidak mendapatkannya, namun belum, karena takdir ingin memilihkan yang terbaik untuk putra mama ini," Ujar silvia seraya mengusap-mengusap rambut alarick.


"Tapi, tidak ada yang bisa mencintai aku setulus mu, mah," Alarick tersenyum lalu memperbaiki posisinya menjadi duduk.


__ADS_2