Distilasi Alkena

Distilasi Alkena
Bab 21. Di sebatas saling


__ADS_3

..."Aku akan terus bersabar bahkan sampai kesabaran itu sendiri merasa lelah dengan kesabaranku"...


..._Alarick Zalman Maheer_...


...----------" "----------...


Malam terang, Langit bersih tak berselaput awan. Bintang tumpah mengukir angkasa, membentuk ribuan formasi. Angin malam membelai rambut. Lembutm menyenangkan menelisik, bernyanyi di sela-sela kuping.


Di kediaman keluarga Garcia, abiam mendatangi rumah liora menepati perkataannya tadi di sekolah dengan membawa bunga matahari, dan novel. Abiam memasuki rumah megah milik liora dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


Ting-ting.....


Suara bell rumah yang sengaja di letakkan di tembok pagar rumah megah tersebut.


"Pak, bukain pintu nya," Ujar abiam dari balik kaca mobil sport miliknya.


"Baik, tuan," Sahut bodygoard bergegas membuka gerbang berukuran tinggi dan lebar.


"Ada orang di dalam?" Tanya abiam.


"Ada tuan," Balas salah satu bodygoard.


"Assalamualaikum," Salam abiam sambil memegang paperbag dan setangkai bunga matahari di tangannya.


"Waalaikumussalam, eh ada abiam," Sahut Ariani berjalan ke arah abiam.


"Liora nya ada tante?" Tanya nya to the point.

__ADS_1


"Ada, kamu duduk dulu, biar tante panggilin ara," Ucap ariani melenggang menaiki anak tangga.


Tokk-Tokk-Tokk


"Ara, di bawah ada abiam datang," Ujar ariani setelah mengetuk pintu.


"Iya, mah, ara turun bentar lagi," Balas liora menyimpan novel nya di rak lalu beranjak turun dari kasurnya.


Beberapa menit kemudian. Liora turun dengan memakai baju warna biru selutut dan celana panjang di atas mata kaki.


"Kak abiam, lama ya nunggunya," Ujar liora tak enak.


"Santai aja kali, ra," Balas abiam tersenyum.


"Ohya, nih gue bawain lo, bunga matahari sama novel," Abiam memberikan sebuket bunga matahari dan satu paperbag.


"Kak, gak usah repot-repot beliin aku kayak gini," Liora berucap pelan lalu duduk di sofa samping abiam.


"Maksudnya?" Liora menaikkan sebelah alisnya.


"Waktu lo koma kemarin, gue janji sama diri gue sendiri setelah lo siuman dan kembali membaik gue bakalan beliin lo novel," Terang abiama.


"Dan sekarang, gue udah tepatin janji gue itu," Lanjutnya.


"Makasih banyak, kak abiam," Liora tersenyum manis.


"Non muda, di luar ada teman non muda, katanya teman satu sekolah non," Salah satu bodygoard memberitahu liora.

__ADS_1


"Siapa pak? Laki-laki atau perempuan?" Tanya gadis itu. bingung siapa orang yang bertamu itu.


"Laki-laki, non muda,"


Liora berjalan keluar menuju pintu rumahnya lalu membuka pintu.


"A-alarick," Ucap liora terbata-bata. takut alarick semakin salah paham dengan kedatangan abiam di rumahnya malam-malam.


"Kok, kamu kaget sih liatin aku?" Alarick mengerutkan dahinya.


"Siapa yang datang, ra," Abiam tiba-tiba datang menghampiri liora.


Alarick tercekat. Menatap kecewa, menggeleng pelan. Menelan ludahnya susah payah. laki-laki itu berdiri di bingkai pintu.


Liora pun lebih tercekat lagi. Sama sekali tidak menduga alarick akan menemui nya malam ini. Tanpa memberitahu nya terlebih dahulu.


"Al," Liora mencoba menggapai tangan alarick. Tetapi lebih dulu di tepis oleh alarick.


Senyap, tidak ada jawaban. kaki Al seakan lemas memaksa kakinya tetap berdiri, liora bergetar sedangkan abiam panik, ia khawatir alarick semakin salah paham padanya. Alarick tersuruk lari keluar dari pekarangan rumah liora meninggalkan gadis itu bersama abiam yang masih terdiam membeku.


Mendadak waktu terasa berjalan lambat.


*Hujan turun deras. Amat deras. Alarick memacu cepat motornya. Pikirannya berkecamuk mengingat kejadian tadi. Ia terus melajukan motornya cepat tanpa melihat kesana-kemari, tanpa mempedulikkan kendaraan lain yang berlalu lalang. Alarick menghentikan motornya di sebuah pantai.


Ia tidak peduli malam ini hujan, petir, ia tidak peduli akan hal itu. Hatinya sekarang seakan di tusuk beberapa duri.


Alarick mengeluh dalam. Dia meratapi kenyataan yang harus di terimanya. Dia tidak butuh penjelasan. Tidak. Apa yang di lihatnya kemarin, tadi, sudah menjelaskan semuanya. Sikap perhatian yang abiam berikan pada liora dan gadis itu tidak menolaknya sama sekali sudah cukup membuat nya mengerti di balik semua itu.

__ADS_1


Dan sempurna saat bulir air mata alarick jatuh, seketika petir menyambar terang menyilaukan. Di susuk guntur menggelegar mengaduk-aduh perasaan. Sempurna ketika air mata itu meresap di atas tanahmu, langit entah dari mana datangnya sontak berkepung oleh awan hitam. Bagai ada yang amat jahil menuangkan tinta higam ke dalam beningnya kolam. Gelap-gulita.


Langit indah terusir sudah. Bintang-gemintang lenyao tak berbekas. Di gantikan angin kencang menderu-deru yang membuat deretan pohon nyiur di pantai meliuk-liuk. Semuanya amat mendadak. Datang begitu saja. Dan sekejap turun dengan lebatnya. Membasuhi kota jakarta.


__ADS_2