
..."Yang paling layak untuk menguatkan di saat tidak ada yang menguatkan adalah diri sendiri"...
..._Astrid Rahadian Amanda_...
...----------" "----------...
Bell pulang berbunyi nyaring mengalihkan perhatian seluruh siswa-siswi di SMA Cempaka Putih. Waktu yang mereka nantikan telah tiba, waktu untuk mengistirahatkan diri mereka setelah seharian belajar.
"Kita langsung latihan basket?" Tanya johan sembari berjalan beriringan bersama alarick.
"Iya, lo ajak sultan, kalian tunggu aja di lapangan," Kata alarick.
"Terus, lo mau kemana?" Johan bertanya.
"Gue ke toilet dulu," Ujar alarick melenggang pergi.
"Tan, woee," Johan menghampiri sultan yang baru saja keluar kelas. Di sana juga masih ada liora dkk.
"Alarick mana?" Imbuh sultan.
"Lagi di toilet, katanya kita di suruh duluan ke lapangan," Johan merangkul pundak sultan.
"Yaudah, ayok," Ajak sultan kemudian menoleh ke arah liora.
"Lo, pulang sama teman-teman lo, hari ini gue latihan basket gak bisa nganterin lo," Ucap sultan.
"Iyadeh," Sahut liora.
"Kalian hati-hati bawa mobilnya, gak usah ngebut, jangan sampai liora kenapa-napa," Peringat sultan.
Dilain tempat....
Terlihat lima gadis sedang berjalan menelusuri koridor kelas XI, mereka tampaknya sedang membicarakan sesuatu hingga tertawa sambil berjalan beriringan.
"Awwssh," Ringis salah satu dari kelima gadis tadi.
Seketika tawa mereka terhenti, keempat temannya terdiam menatap sosok yang tidak sengaja di tabrak oleh salah satu temannya.
"Siapa sih yang nabrak gu----" Ucapan gadis itu terhenti ketika mendongak melihat siapa pelaku yang tidak sengaja menabraknya.
"Lo gpp?" Tanya laki-laki itu.
"Gue gpp, sorry," Ucap gadis itu.
"Hum," Balas laki-laki tadi.
"Ganteng bangat," Ucap salah satu dari mereka tanpa sadar. Seraya mencubit lengan teman disampingnya.
__ADS_1
"Lebay lo," Celetuk satu teman nya yang lain.
"Mata lo katarak. kia," Imbuh nada tidak terima dengan ucapan tazkia.
"Hey," Ucap alarick membunyikan jari tengah dan jempol nya pada gadis itu yang tidak sengaja menabraknya tadi.
"Ya," Sahut gadis itu. Tersadar dari lamunannya.
"Boleh kasih gue jalan?" Alarick bertanya sebab dia tidak bisa ke toilet karena posisi kelima gadis tadi seakan tidak memberikan tempat untuk murid-murid lain berjalan.
"O-ohh iyaa," Balas gadis itu.
"Tunggu," Ucapnya lagi. Lalu berjalan mendekati alarick.
"Nama lo siapa?" Tanya amira, ya gadis tadi adalah amira kakak kelas alarick yang di kenal sebagai ratu bullying sekaligus anak dari kepala sekolah di sekolah itu.
"Alarick Zalman Maheer, kelas X MIPA 3,"Jawab alarick lengkap.
"Nama Gue, Amira Faresya Cantika. Kakak kelas lo," Ujar amira tersenyum. Mungkin saja gadis itu merasa tertarik pada alarick.
"Okee," Balas alarick melenggang pergi menuju toilet.
"Tadi, gue gak mimpi kan ketemu cowok ganteng," Ujar Nada menatap keempat temannya.
"Gak," Balas tazkia.
"Drey, anterin gue di Jl. Bintaro Raya," Ujar amanda
"Jalan di rumah lo kan bukan di situ," Audrey berucap bingung.
"Ikutin aja kata gue. Lo juga bakalan tahu nanti," Sahut amanda melihat kaca jendela mobil.
"Oke," Balas audrey.
Liora satu mobil bersama keysa sedangkan amanda bersama audrey. Rumah liora dan keysa satu arah makanya mereka pulang secara pisah dengan mobil audrey.
"Mand, nanti temanin gue beli kue sama hadiah, buat mami gue," Ujar audrey seraya tersenyum sambil menyetir.
"Oke, kabarin aja nanti," Balas amanda dengan raut yang sulit audrey artikan.
"Lo kenapa mand?" Audrey mencoba bertanya.
"Gue gak apa-apa," Balas amanda merubah raut wajah santai.
"Lo mau nunggu disini, Atau ikut gue?" Amanda membuka pintu mobil.
"Kita ngapain ke sini?" Audrey bertanya balik.
__ADS_1
"Ketemu sama orang yang gue sayang, orang yang berarti dan segalanya bagi gue," Balas amanda tersenyum kecut.
"Pacar lo?" Tanya audrey menoleh seraya berjalan beriringan bersama amanda.
Seketika audrey mengerutkan keningnya bingung melihat nama yang tertera dibatu nisan di dekat amanda yang terduduk di dekat tiga batu nisan tersebut.
"Ini makam siapa mand?" Audrey semakin bingung melihat akhir dari nama yang tertera di ketiga batu nisan tersebut. RAHADIAN sama seperti nama tengah amanda.
"Mama, Papa, dan abang gue," Ucap amanda lirih.
"A-aapaa?" Audrey semakin di buat bingung oleh ucapan amanda barusan.
"Mah, hari ini hari ibu tanggal 22 desember tepat pada hari dimana abang angga dan aku juga di lahirkan oleh wanita hebat dan tangguh seperti mama..." Amanda menahan tangis nya.
Audrey tertegun mendengarnya, ternyata amanda memiliki kembaran laki-laki pula. Ia bertanya-tanya jika ini makam kedua orangtua amanda lalu siapa laki-laki dan wanita paruh bayah yang sering amanda panggil sebagai mama papa di rumahnya.
"Kata orang-orang hari ini adalah hari ibu sangat spesial sekali...Begitukah mah? Lantas apa yang harus aku lakukan mah, tolong beritahu aku..." Amanda mengusap batu nisan mama nya. Seraya tersenyum pedih meratapi nasib nya.
"Bila aku mengunggah serangkaian kalimat di media sosial, membelikan mama kue, memberikan mama hadiah seperti yang audrey lakuin ke mama nya. Apakah mama bisa membaca nya, apakah mama bisa meniup lilin kue nya, apakah mama bisa menerima hadiah pemberian amanda di sana?"
"Mah, pah, abang, amanda harap tuhan memberitahu seberapa besar rindu amanda pada kalian dan menyampaikan berjuta rasa cinta, juga terimakasih dan maaf yang tak terhingga..." Amanda mendongak menahan agar air matanya tidak jatuh. Lalu menghela nafas pelan.
"Mah, Lihatlah putri kecilmu tumbuh dengan baik di bumi ini, meski sosok yang telah melahirkannya ke bumi, telah pergi..." Tangis amanda satu bulir air akhirnya merekah, menggelayut di pelupuk mata.
Pelan kristal air itu bergulir menggelinding. Membentuk parit di pipi. Membentuk gurat kemilau di lesung. Tetes air itu terdiam sejenak di dagu. Menumpuk membesar. Kemudian dalam gerakan lambat yang pilu terlepaskan perlahan. Deras menghujam tanah makam di dekatnya.
"Mah, apa aku telah menjadi anakmu yang hebat? Kuharap mama bangga menatapku dari sana sambil berkata, Tentu, itu anak hebatku yang sangat kuat persis seperti aku ibunya
Kemudian mama tertawa dengan bangga di atas sana..." Amanda mendongak menatap langit.
"Mah, terimakasih telah menjadi mamaku. Hari ibu bagiku adalah setiap waktu dan hadiahnya ku beri melalui perantara doa, ya, mah, semoga semua itu sampai pada mama," Amanda menyeka air matanya. Lalu mendekati batu nisan abangnya.
"Bang, Tahun ini masih seperti tahun-tahun kemarin, manda harus ngerayain ulang tahun dan tiup lilin sendirian tanpa abang,"
"Maafin manda ya, lupa bawa kue nya di makam abang,"
"Hai pah, apa kabar? Sudah terhitung tahun kalian pergi, aku semakin dewasa, dan menua. Maksudku bukan benar-benar tua, pah, namun umurku saat ini tidak bisa lagi dibilang pantas untuk merengek perihal kepergian papa. Aku sudah harus ikhlas dan percaya bahwa papa, mama dan abang sudah bahagia di sana meskipun tanpa aku di sini," Manik indah itu berkaca-kaca sembari mengusap batu nisan sang papa.
"Ohiya, aku selalu titipkan rindu lewat doa. Semoga kalian senang. Ya! Dan papa gak usah khawatir tentang aku, manda sudah bisa tertawa dengan lelucon-lelucon sederhana dari sahabat-sahabat manda. Mereka orang-orang baik, pah, sangat baik. Mereka selalu ada buat manda..."
"...."
"Sering-sering datang ke mimpi manda ya,"
"Manda, pamit pulang dulu," Amanda mencium ketiga batu nisan itu. Lalu beranjak pergi.
"Mand, lo harus kuat ya," Audrey menguatkan amanda. Terlihat mata sahabatnya bengkak akibat terus-terusan menangis sedari tadi. Gadis itu juga ikut menangis mengetahui sisi rapuh dari sahabatnya..
__ADS_1
Siapa sangka, seorang amanda gadis periang, dan cerewet itu ternyata memiliki masa kelam tentang keluarganya. Audrey baru melihat sisi lain dari amanda hari ini. Ia tidak menyangka amanda akan menyembunyikan hal seperti dan memendam nya sendirian tanpa berbagi cerita kepada ketiga sahabatnya.