Distilasi Alkena

Distilasi Alkena
Bab 18. Titik balik


__ADS_3

..."Jadi diri sendiri aja susah, apalagi mau jadi hak orang lain"...


..._Abiam Nerendra Chairill_...


...----------" "----------...


"Hai, Ra," Sapa abiam menghampiri liora di kantin.


"Kak abiam, tumben ke sini?" Pertanyaan pertama yang di lontarkan liora, menautkan kedua alisnya bingung.


"Gue boleh gabung?" Tanya abiam meminta persetujuan liora dkk.


"Boleh dong, kak," Sahut amanda riang.


"Mau ngapain, lo, ke sini," Sewot alairck menatap sinis abiam yang duduk bersebelahan dengan liora. Kini posisi gadis itu di apit oleh dua laki-laki tampan, primadona SMA Cempaka Putih.


"Al, gak boleh gitu," Sanggah liora menatap tajam alarick.


"Lo, udah makan?" Pertanyaan basa basi dari abiam menoleh ke arah liora.


"Ud----"


"Liora udah makan, lo gak usah sok caper sama cewek gue," Alarick memotong ucapan liora. Laki-laki itu terlihat menahan emosi.


"Rick, aku gak suka sama sikap kamu, yang kayak gini," Ucap liora pelan. Gadis itu masih bersabar memaklumi sikap dari cowok nya.


"Cowok mana, yang bakal diam aja, ketika ceweknya dikasih perhatian sama cowok lain, Ra," Ujar alarick sedikit meninggikan suara nya.


"Terlalu posessif itu, gak baik buat hubungan, Al," Balas liora tak kalah meninggikan suara.


Teman-temannya maupun alarick tersentak, kala mendengar nada suara liora yang seakan membentak alarick.


"Abiam, lo mending pergi aja," Ucap sultan. Bukan bermaksud mengusir tetapi agar tidak semakin memperkeruh masalah.


"Ra, Gue pergi dulu, nanti gue ke rumah lo," Ucap abiam yang mengundang amarah sekaligus pertanyaan dalam benak alarick.


"Okee," Balas liora pelan.


Alarick menonjok meja kantin tempat mereka makan. Lalu beranjak ingin keluar kantin dengan nafas yang memburu. Ingin sekali dia menonjok habisan-habisan wajah sok caper milik abiam.


"Al," Panggil liora mencekal tangan alarick. Gadis itu mendongak menatap wajah alarick yang berbias merah karena rasa kesal yang bertumpuk-tumpuk.

__ADS_1


"Lepas," Ucap alarick menghempas kasar tangan liora. Berlalu pergi meninggalkan liora dkk. Mereka tercenga melihat sikap alarick ketika marah. Begitupun murid-murid yang ada di kantin.


"Lo, sih ra, gak mikirin perasaan alarick," Celetuk amanda yang sedari tadi terdiam.


"Salah gue di mana coba? Gue sama kak abiam cuman temanan doang, gak lebih," Sahut liora tak ingin di salahkan.


"Cewek memang gak mau kalah, sekalipun kesalahannya sudah di depan mata," Sindir johan beranjak keluar kantin mengikuti alarick.


"Gue samperin alarick dulu," Ucap sultan mengikuti langkah johan.


"Lain kali jangan di ulangi lagi," Imbuh keysa dengan wajah datar nya.


"Lo harus hargai perasaan, alarick, ra. Wajar dia bersikap seperti tadi, karena dia takut kehilangan lo," Tambah audrey.


Liora terdiam, mencerna ucapa-ucapan dari teman-temannya.


"Yok, ke kelas," Ajak amanda.


...*****...


Mereka berempat berjalan di koridor sekolah menuju kelas nya. Beberapa tatapan kagum, sinis, serta tatapan tidak suka dari beberapa siswi di sekolah, ralat, kecuali kaum adam.


"Rick, lo, gak mau ke kelas?" Tanya johan, yang barusan datang bersama sultan menghampiri alarick di roftoop.


"Gue, gak ikut, bolos aja," Balas alarick tanpa menatap kedua sahabatnya.


"Gue juga kalau gitu," Sahut johan duduk di samping alarick.


"Gue ikut kalian aja," Tambah sultan mendaratkan bokongnya di kursi samping alarick dan johan.


"Kenapa, lo ikutin kita?" Tanya alarick alis nya terangkat.


"Pengen aja," Balas sultan memejamkan matanya menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya.


Ketika mereka asyik mengobrol, tiba-tiba handphone alarick berdering. Lalu laki-laki itu melihat sekilas nama seseorang yang tertera di layar ponsel nya. Alarick langsung mematikan handphonennya agar tidak di ganggu lagi oleh sang papa.


Siapa lagi, kalau bukan riko, papa nya alarick. Apalagi yang ingin pria paruh baya itu inginkan setelah meninggalkan ia dan mama nya sewaktu ia berumur 6 tahun. Sekarang tiba-tiba muncul lagi setelah sekian lama pergi. Miriss bukan...?


"Rick, are you okay?" Kini sultan kembali bertanya pada alarick, sahabatnya itu melihat raut wajah alarick yang tiba-tiba berubah sendu.


"Gak apa-apa," Jawab alarick yang mengerti maksud dari pertanyaan yang di lontarkan sultan.

__ADS_1


"Membohongi dunia, berlindung dibalik kata 'gapapa', memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja. Mau sampai kapan pakai topeng yang sama terus?" Sultan berucap pelan.


"Gue, kapan bahagianya ya, tan, han?" Lirih alarick sembari menatap lamat-lamat langit biru di atas roftoop. Akhirnya ia nyerah juga, ia tidak mungkin bisa pura-pura terlihat baik-baik saja di depan kedua sahabatnya karena mereka cukup tahu bagaimana seorang alarick zalman maheer.


"Terkadang sesuatu terlihat begitu rumit untuk di gapai, karena itu yang menjadi patokan kita. Ketika menilai sesuatu..."


"Lo ngeluh, soal kebahagiaan, tapi lo tidak menyadari masih banyak manusia di luar sana yang lebih-lebih tidak bahagia di banding lo, lo masih beruntung masih punya nyokap...!" Sambung sultan.


"Yang di atas, menciptakan akal untuk manusia, agar mereka bisa berpikir, padahal di jalankan terasa begitu sederhana terbuka satu persatu, jalan yang ternyata selama inilah yang lo butuhkan. Dan sampai pada titik, lo akan berterimakasih, karena ujian itu nantinya takan pernah sebanding dengan kebahagiaan lo, yang menemukan titik terang atas segala masalah-masalah dan kesedihan yang lo rasakan sekarang...!" Johan menambah.


"Tapi... Bagaimana gue bisa bertahan dengan semua ini, gue capek, gue lelah, sampai-sampai gue sering nangis setiap malam, cengeng, memang, begitu lah kenyataannya..." Ujar alarick.


"Manusia pasti ada titik lelah serta rapuh nya. Lo cowok, tapi lo nangis, itu bukan berarti lo lemah, ataupun, lo cengeng, melainkan, lo cowok kuat. Jangan munafik, lo hanya manusia, lo juga butuh pelukan wajar saja kalau merasa lelah," Sahut johan.


"Sesekali teriaklah pada dunia bahwa lo 'sedang tidak baik-baik saja'..." Lanjut johan menepuk pelan bahu alarick. Laki-laki itu sibuk menyikapi baik-baik setiap kosa kata dari kedua sahabatnya.


Ia merasa bersyukur setelah kehilangan sosok super hero yang seharusnya ia banggakan dan ceritakan di depan teman-temannya malah menjadi luka paling amat dalam untuknya.Tuhan mengirimkannya dua sahabat yang selalu ada di saat dia terpuruk dan amat baik.


"It's okay, not to be okay, sometimes..."


"Terlepas dari itu, lo hebat, tak gentar meski sendirian memendam masalah. Pround of you!" Sultan berusaha menguatkan dan meyakinkan alarick.


...*****...


"Lalu, bagaimana menurut kalian, jika gue akhiri hubungan dengan liora. Apakah itu keputusan yang tepat?" Alarick mencoba bertanya agar ia mendaptkan titik akhir dari permasalahan hubungannya dengan liora.


"Kenapa?" Johan mengerutkan keningnya.


"Lo, mau nyerah perjuangin sahabat gue?" Tanya sultan tepat sasaran.


"Tidak, mengakhiri suatu hubungan, bukan berarti mengakhiri semuanya, bukan berarti tidak ingin memperjuangkannya lagi. Tetapi gue lakuin ini karena gue sayang dan cinta sama liora, bukan dengan cara memilikinya bukan dengan memaksa dia untuk ikutin keinginan gue selalu,"


"Kalian, cukup paham, maksud gue, gue gak mau sampai om arlon dan tante ariani tahu tentang hubungan gue sama liora. Gue gak mau liora kena imbas nya..."


"Ya, walaupun cara gue terkesan bisa dengan mudah bikin liora kecewa dan benci sama gue, tapi ini lah yang terbaik buat gue maupun dia," Alarick berucap tanpa menampilkan ekspresi apapun kecuali tatapan datar.


"Manusia tetaplah manusia. Sebaik apapun ada kalanya ia menyakiti sesempurna apapun ada kalanya ia mengecewakkan..." Ujar sultan paham atas perkataan alarick.


"Tidak akan ada hubungan antar manusia yang selalu berjalan mulus, baik-baik saja. Yang ada hanyalah mereka yang lebih banyak mengedepankan toleransi dan pemakluman. Don't blame anyone for our expectations," Jelas Johan lagi-lagi menambahkan.


"Udahlah, gak usah sedih-sedih lagi. Berasa udah jadi orang paling cerdas gue, kata-kata gue deep bangat gak sih, hahaha," Tawa johan di ikuti oleh suara tawa sultan dan alarick.

__ADS_1


__ADS_2