
..."Seringkali jatuh cinta bukan hanya berisi gembira dan tawa, tapi juga tersusun atas kecewa dan air mata"...
..._Johansyah Prayoga Daneswara_...
...----------" "----------...
"Rick, woee, berhenti," Johan mencoba menghentikan alarick dari motor. Ia tidak sengaja melihat alarick membawa motor dengan kecepatan tinggi juga tatapan kosong dari sahabatnya itu.
"Lo, mau mati hah!" Ucap johan keras seraya membawa motornya, ia khawatir pada sahabatnya tidak biasanya alarick seperti ini.
Sesampainya di sebuah pantai alarick dan johan langsung turun dari motor mereka masing-masing
Bugh.
Johan tba-tiba menonjok rahang alarick. Laki-laki itu hanya terdiam tidak memberi respon apapun, tidak juga merasakan sakit akibat tonjokan dari johan.
"Lo kenapa hah!!" Johan menarik kerah baju alarick.
"Apa yang terjadi?" Johan mencekeram erat lengan baju alarick.
Johan sedari tadi tidak mengerti asal muasal masalah masalag membujuk alarick agar pulang karena malam ini hujan sangat amat deras, apalagi posisi mereka sekarang sedang di pantai, suara ombak, angin malam yang menelusuk menerpa kulit mereka. dingin itulah yang di rasakan mereka tetapi alarick tidak peduli akan hal itu.
Alarick berteriak, lalu mengacak rambutnya, "Rick sekarang kita pulang," alarick membentak johan. Muka menggentarkan itu membuat johan membeku.
Johan ketakutan beranjak saat tetes air hujan pertama jatuh menghujam pantai. Dan alarick sudah sedari tadi menangis di bawah hujan deras itu. Matanya tidak basah, tidak terlihat sebab di tutupi oleh air hujan. Tapi tangisan itu tidak terdengar amat memilukan.
Petir menyambar sekali lagi. Alarick terduduk lemas di pesisir pantai. Badaannya sekuyup hatinya.
Bukankah dia amat mencintai liora? Bukankah kebersamaan mereka selama ini menyenangkan? Memberikan kebahagiaan yang tidak pernah di rasakannya. Seaneh apapun pola hubungan mereka, alarick merasakan indahnya perasaan mencintai seorang gadis.
"Han, kenapa jatuh cinta harus sesakit ini?" Alarick menoleh menatap sahabatnya.
"Itu karena lo, hanya mendapat jatuhnya saja," Sahut johan menatap lamat-lamat ombak di pantai.
"Lalu, kapan gue merasakan cintanya?" Alarick bertanya lagi. Seraya terkekeh kecil.
"Sampai orang yang lo cintai itu selesai dengan cinta nya yang lain. Lo tahu rick, sekeras apapun lo ingin menjadi tokoh utama di dalam ceritanya, lo tetap tidak lebih hanya figuran tanpa peran," Johan berucap memejamkan matanya.
__ADS_1
"Lo, lagi ada masalah sama liora," Tanya johan.
"Iya," Balas alarick singkat.
"Kenapa? Masalah apalagi," Johan lagi-lagi bertanya.
"Abiam datang ke rumah liora, tanpa sepengetahuan gue, dan dia dengan mudahnya masuk dan bercengkerama dengan orangtua liora sepertinya hubungan mereka sangat dekat, tidak seperti gue, gue ke rumah liora aja harus alasan dengan sebutan teman," Alarick terkekeh menahan sesak.
"Sialan," Umpat johan. Sudah dia feeling abiam akan merusak hubungan sahabatnya.
"Kita pulang sekarang, gue nginap di rumah lo," Ujar alarick beranjak mendekati motornya.
"Kenapa lo gak pulang?"
"Gak mungkin gue pulang dengan keadaan kayak gini. Mama gue bakalan khawatir," Balas alarick menyalakan motornya.
...*****...
"Al, dengarin penjelasan aku dulu," Liora mengejar alarick dari arah parkiran sampai menuju kelas.
"Penjelasan apa lagi?" Alarick bertanya dengan nada santai.
"Ra, gue gpp, kalian kan temanan, gue juga gak mau jadi cowok posessif," Ujar alarick sambil tersenyum getir.
"Al, jangan kayak gini. Aku gak mau kamu kayak gini, kita selesaiin masalah baik-baik ya," Liora memegang tangan alarick, laki-laki itu langsung melonggarkan tangannya pada tangan liora.
"Gue ke kelas dulu," Alarick pamit berjalan meninggalkan liora yang masih terdiam.
"Ra, lo, kenapa lagi sama alarick?" Tanya audrey duduk di bangku sebelah liora, di depan mereka ada amanda juga keysa.
"Alarick salah paham, soal kak abiam datang ke rumah gue tadi malam,"
"Lo ada hubungan apa sama kak abiam?" Keysa bertanya.
"Nah, ini yang mau gue tanyain dari kemarin-kemarin," Imbuh amanda.
"Gue sama kak biam, gak ada hubungan apa-apa,"
__ADS_1
"Kita cuman temanan, kak abiam itu anak dari rekan bisnis papa gue, dan papa gue suruh kak abiam selalu jagain dan lindungi gue," Jelas liora.
"Kenapa gitu? Bukannya lo punya banyak bodygoard?" Audrey masih bingung.
"Gue gak mau di jagain dan di awasi sama bodygoard, yang ada nanti gue dijadiin topik pembicaraan di SMA ini, bakalan di cap sebagai anak manja sama mereka," Terang liora.
"Gue sih, bodo amat, tutup telinga gak usah dengarin mereka," Celetuk amanda.
"Beda pemikiran lo sama liora," Celoteh keysa.
...*****...
"Pinjam handphone lo bentar," Barram meminjam handphone abiam.
"Buat apa?"
"Pinjam bentar," Barram langsung mengambil handphone dari tangan abiam.
"Lo pegang handphone gue bentar, gue mau ke Toilet,"
"Oke,"
Kembali ke liora dkk...
"Lo udah jelasin semuanya sama alarick?" Keysa bertanya pelan.
"Gue udah berusaha jelasin sama dia, tapi tetap gak bisa," Lirih liora.
"Kalau lo, siap menjalani sebuah hubungan lo juga harus siap melewati beberapa tantangan dalam hubungan," Kata amanda.
"Jika lo menjalani hubungan yang sudah lama, akan menjadi bosan dan segala kekurangan pasangan lo akan lebih terlihat saat itulah, akan muncul orang ketiga yang tampak lebih baik dan kilau..."
"Tapi lo jangan tergoda. Seperti fatamorgana di gurun pasir. Sebab karena waktu yang akan menjelaskan dengan baik ketulusan seseorang, niat baik dan tujuan-tujuannya," Sambung amanda.
"Ketika hubungan yang lo bilang baik itu dipaksa berakhir misalkan, sebenarnya, lo hanya sedang di selamatkan tuhan dari orang yang tidak baik. Namun itu tidak serta merta mengartikan bahwa apa yang tidak bersama lo sekarang. Itu adalah seseorang yang tidak baik," Keysa berucap panjang. Baru kali ini es batu kulkas berjalan itu berbicara panjang seperti ini.
"Ia tetap baik, hanya saja untuk sekarang, ia bukanlah seseorang yang baik bagi lo, karena jika bagi tuhan. Dia adalah seseorang yang baik, maka keadaan tak memisahkan kalian," Tambahnya
__ADS_1
"Lo gak usah khawatir, kalau alarick memutuskan hubungan sama lo. Berarti lo harus bisa pahami kalimat pertama tadi," Audrey Berucap seraya tersenyum.
"Alarick, cowok baik, gue yakin dia bakalan bisa maafin dan dengarin penjelasan dari lo," Amanda Berucap.