Distilasi Alkena

Distilasi Alkena
Bab 7. Gadis penyuka boneka kelinci dan bunga matahari


__ADS_3

..."Jika aku dan kamu tidak bisa bersama suatu hari nanti, setidaknya tuhan pernah menitipkan bahagia atas hadirmu dalam kisahku"...


..._Alarick Zalman Maheer_...


...---------" "---------...


Alarick sudah mengatakannya. Tinggal menunggu jawaban dari gadis penyuka boneka kelinci tadi.


Gadis itu hanya diam, Alarick menghela napas. Susah sekali mengembalikkan mood gadis nya, apakah semua cewek akan seperti ini jika moodnya sedang tidak baik. Jika memang benar! Hufft sangat sulit untuk laki-laki memahami mereka. Jam berdentang sembilan kali.


"Tidak apa-apa kalau kamu enggak mau," Alarick tersenyum.


"Baiklah. Sudah waktunya...Aku harus pulang ya, ra," Ujar nya sekali lagi.


Alarick berdiri pelan. Kecewa padahal ia sudah merencanakannya jauh-jauh hari. Jika ia tahu akan jadi begini nasibnya. Ia pasti tidak akan mengikuti saran dari johan. Sangat melelahkan. Entah apa yang sesungguhnya dipikirkan gadis itu. Tapi Alarick bisa merasakan sesuatu di hatinya sendiri. Tidak seperti biasanya gadisnya terdiam seperti ini...


"Tidak lama, kan?" Liora mendadak berbicara.


Alarick yang berdiri di depan pintu menoleh.


"Hanya setengah jam. Promise," Alarick mengangguk senang.


"Tunggu sebentar," Liora itu melangkah masuk ke dalam.


Alarick mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi.


Mereka berjalan bersisian keluar dari halaman rumah.


Melewati jalanan yang terang-benderang. Lampu-lampu hias jalanan memadati penjuru kota. Malam ini rembulan bersinar elok di angkasa. Bintang-gemintang tumpah mempesona.


Inilah rencana Alarick. Mengajak gadisnya naik ke lantai 16 kontruksi gedung. Gadis itu menurut. Diam sepanjang perjalanan. Mereka tiba di lokasi gedung lima menit kemudian. Alarick membimbing gadisnya menaiki anak tangga ragu-ragu saat melakukannya pertama kali. Tidak semua lantai gedung itu di beri penerangan. Makanya terlihat remang. Liora ketakutan dan gemetar saat di lantai dua. Karena gadis itu sangat tidak suka dengan kegelapan. Al setelah menelan ludah, gemetar menawarkan tangannya menjadi pegangan liora. Menggenggam lengan Alarick, hati Alarick sungsang berlipat-lipat merasakan jemari-jemarinya yang halus dan lembut.


Saat mereka tiba di lantai 16. Liora melihat puluhan lilin. Lilin-lilin yang diletakkan di lantai dan di sekitar mereka. Memesona liora tertegun.


Alarick menelan ludah, tersenyum,"Indah, bukan?"


"Liora hanya mengangguk lemah,"


Alarick membimbing tangannya menuju tubir gedung di situ ia meletakkan dua buah kursi kayu. Menyilahkan gadisnya duduk.


"Sebentar... Tunggu..." Alarick mengambil jam gantung di saku celananya. Sempurna. Rencana sempurna. Mereka tiba tepat waktu. Sepuluh detik lagi persis pukul 21.15.


"Sepuluh... Sembilan... Delapan..." Alarick yang masih berdiri menghitung mundur. Tersenyum menatap gadisnya yang duduk di sebelahnya. Gadis itu menatap Al tidak mengerti.


"Empat... Tiga... Dua... Satu... Ya..."


SYYUUUIIIT! B-U-M!


SYYUUUIIIT! B-U-M! B-U-M!


Suara kembang api malam ini di hadapan mereka. Di atas gedung kota. Lima kembang api raksasa serentak melesat ke angkasa. Berdebum. Membentuk tarian cahaya yang indah mempesona. Membuat terang-benderang.


Pertunjukkan yang hebat. Lampu-lampu rumah dan gedung-gedung besar terlihat berkilatan dari kejauhan. Selusin kembang api melesat lagi. Berputar-putar. Berpilin. Sebelum meledak menjadi ratusan bola api kecil-kecil di angkasa, yang kemudian meledak sekali lagi. Rembulan bundar dan bintang-gemintang menjadi latar pertunjukkan. Sempurna.


Al duduk di kursi sebelah liora. Gadis itu demi menatap pemandangan itu, tersenyum amat manis. Tidak ia tidak menatap Al. Ia sibuk menatap pemandangan di hadapan mereka. Tapi bagi Al itu sudah cukup, ini pertama kalinya liora tersenyum begitu riang saat bersamanya. Selama ini wajah misterius itu hanya menatapnya datar.


"Indah bukan?" Alarick bertanya pelan.


Gadis itu menoleh. Tersenyum. Mengangguk. Alarick menahan gugup tidak kuasa bersitatap dengan wajahnya.


Alarick berdehem. Gadis itu menoleh lagi.


"Kamu tahu..." Al tersenyum, mengusap rambut gadisnya.


Liora hanya menunggu.


"Kamu tahu, aku senang sekali setiap bertemu dengan mu..." Alarick menggigit bibir.


"Kunjungan malam seperti barusan amat menyenangkan bagiku. Setiap kali pulang dari tempatmu, perasaanku jauh lebih senang di bandingkan saat berangkatnya,"


"Hmm, gombal," Ujar Liora mencubit perut Alarick.


Alarick kehilangan kata-kata. Terdiam. Wajahnya kebas matanya beku bersitatap. Aduh. Dia bahkan belum mengatakan kalimat pemungkasnya. Baiklah biarlah kali ini ekspresi mukanya yang entah seperti apa mengatakan semua perasaan itu


"Ya allah, aku mohon jangan pisahin aku lagi dengan orang yang aku sayang untuk kedua kalinya. Aku sangat menyayangi liora. Semua boleh pergi asal jangan mama dan liora, aku gak mau musim sedih tahun ini jadi lebih panjang," Batin alarick.


"Ra, boleh aku tahu satu kejujuran dari kamu?" Alarick mulai bertanya menghadap ke arah liora


"Boleh," Liora tersenyum menggenggam erat tangan alarick


"Dulu sebelum aku kenal sama kamu, sebelum kamu masuk dalam kehidupan aku. Aku sempat bertanya pada diriku sendiri. Entah pada capter keberapa aku akan menemukan seseorang yang mengerti,"


"Mengerti bahwa aku pribadi yang suka mengeluh, mudah tertawa, menyukai rinai hujan, tapi aku benci petir, tentang aku yang suka bulan, tapi takut kegelapan, tidak menyukai susu coklat, penyuka boneka kelinci, bunga matahari, menyukai lagu sampai jadi debu serta suka sekali di peluk,"


"Mengerti bahwa aku tidak baik-baik saja bahkan tanpa aku mengatakannya, menemukan seseorang yang memberikan rasa tenang, sekaligus aman di saat aku di dekatnya. Seseorang yang hanya dengan mendengar suaranya aku tersenyum. Seseorang yang bangga dengan wanita sejuta kurang seperti ku, setidaknya sekali selama aku ada di dunia," Jelas liora tersenyum manis kepada alarick.


"Dan saat ini, aku telah menemukan sosok seperti itu. Sosok laki-laki yang menjadi impian ku sewaktu dulu. Apa kamu ingin tahu siapa sosok itu?" Tambah liora.


Alarick tersenyum menanggapinya. "Siapa?" Tanya nya.


"Kamu," Balas liora.


"Aku?" Alarick menautkan keningnya. Menatap lamat-lamat gadis di hadapannya mencoba mencari kebohongan dari penuturan liora.


"Iyaa, kamu adalah sosok laki-laki itu. Aku bersyukur bisa di pertemukan sama kamu, laki-laki sabar dan tulus terhadap ku setelah papa dan sultan," Tutur liora.


"Bukan cuman kamu yang bersyukur, aku juga merasa laki-laki paling beruntung memiliki gadis penyuka boneka kelinci seperti di hadapan aku ini," Ujar Alarick menatap lekat wajah gadis di hadapannya.


"Jangan tinggalin aku, ya," Sambungnya.


"Gak akan, Al," Balas liora tersenyum.


"Semoga, kamu gak kayak dompet atau anting lama aku ya..." Pungkas liora menatap cowok pemilik wajah menyenangkan di hadapannya.


"Memangnya kenapa?" Alarick bertanya.


"Kalau sudah hilang, aku gak bisa nemu, giliran sudah punya gantinya, yang hilang malah muncul," Jelas liora.


"Bicara soal hilang, bukannya sejak awal itu tentang yang terlupakan?" Sahut alarick.


"Atau melupakan..." Sambung liora tersenyum kecil.


Pukul 21.45, liora beranjak pulang, mengingat bahwa ketiga sahabatnya akan menginap di dirumahnya malam ini.


Sesampainya di depan rumah liora. Gadis itu turun dari motor tidak lupa pamitan pada alarick. Ia berjalan dalam diam menuju rumah besar nya.


"Ra, ada pesan dari Alarick Zalman Maheer untuk kamu,"


"Katanya gini, Selamat malam kamu yang dekat dan tak jauh. Yang menyelusup ke mimpi sepi. Bermimpilah untuk malam ini dan biarkan sang mentari menjemput dengan pancaran sinarnya yang hangat di pagi hari". Ucap Alarick sedikit keras,"


"Iyaa, selamat malam juga," Respon liora dengan senyum mengembang.


Sementara tanpa sepengetahuan Al, liora mengintip dari sela-sela tirai jendela melepas kepergiannya.


Saat tubuh Al hilang di halaman rumahnya, gadis itu riang menyambar setangkai bunga matahari dan boneka kelinci di atas meja, pemberian Alarick tadi.


Malam itu ia berbaring dengan setangkai bunga matahari dan boneka kelinci di pelukannya. Sambil menunggu kedatangan ketiga sahabatnya.


"Yuhuuuu, Lioraa," Teriak Amanda.


Ia tahu jika tidak ada kedua orangtua liora mereka akan bebas melakukan apapun di rumah itu. Toh liora juga gk bakalan marah pada ketiga sahabatnya itu..


"Lioraa...Lioraaa," Tambah Audrey ikut berteriak.


"Ini rumah bukan hutan," Ujar Keysa sinis.


"Es kutub diem deh," Balas Amanda berjalan menaiki anak tangga menuju kamar liora.


"Tuh anak mana sih, nyuruh kita ke sini dia nya gak ada," Sahut Audrey.


"Lioraa I"m coming bestiee," Suara Amanda seperti toa masjid.


"Astagaa pantasan gak nyaut dari tadi, ternyata udah pules tidurnya," Ucap Amanda membuka pintu kamar liora.


"Kerjain ah," Jahil Amanda.


"Jangan mand kasian, liora tidurnya pules bangat lagi," Cegah Audrey.

__ADS_1


"Gak usah rusuh," Ucap keysa merebahkan tubuhnya di samping liora.


"Ra, bangun aelaahh," Ujar Audrey membangunkan liora.


"Hmm, apasih ganggu orang tidur aja," Balas liora dengan suara berat dan mata yang masih tertutup.


"Dihh, kita udah datang ke rumah lo ya, ra, bangun gak," Kesel Amanda menggoyangkan tubuh liora.


"Loh, kapan kalian ke sini?" Liora bertanya bingung.


"Tiga tahun, yang lalu," Ketus Amanda.


"Hahaha maaf deh, gue gak tahu, soalnya gue ngantuk bangat tadi. Lama nunggu kalian datang," Ucap liora duduk memperbaiki posisi nya.


"Btw, lo habis dari mana. Ini juga bunga matahari sama boneka kelinci nya dari siapa?" Tanya Audrey yang tidak sengaja melihat boneka kelinci dan bunga matahari yang di peluk liora tadi.


"Oh, ini dari Alarick," Balas liora merasa bangga.


"Benaran, ra, seriously?" Tanya Amanda girang.


"Sumpahh iri gue, ra, ternyata alarick bisa se sosweet gitu," Ujar Audrey merasa iri.


"Kalian laper gak?" Tanya liora menatap ketiga sahabatnya.


"Laper sih, tapi gue mager," Ucap Audrey dengan nada malas.


"Perlu gue bawain pake kursi roda gak drey," Celetuk Amanda.


"Gak, yok kita makan," Ajak Audrey berlalu turun menuju ruang makan.


"Yang punya rumah siapa, yang ngajak siapa, yang jadi tamu siapa," Omel Amanda mengikuti langkah ketiga sahabatnya.


Setelah selesai makan malam, keempat gadis itu melangkah menuju kamar liora, merebahkan tubuh mereka pada posisi masing-masing. Kasur liora sangat muat untuk menampung keempat gadis itu malah masih ada ruang untuk satu orang lagi.


"Gayss jangan dulu tidur," Amanda mencegah ketiga sahabatnya.


"Bangun-bangun gak ada yang boleh tidur duluan," Sambungnya lagi.


"Kenapa lagi sih mand," Ujar liora bertanya kesal terhadap sahabatnya.


"Kita main truth or dare dulu, baru tidur gimana, setuju gak," Ucap Amanda antusias.


"Setuju gue," Balas Audrey bangun kemudian duduk menghadap sahabat-sahabatnya.


"Terserah kalian deh," Balas liora malas.


"Lo key gimana?" tanya amanda melirik keysa.


"Okee," Balas keysa.


...*****...


Hari ini adalah hari dimana liora akan mengikuti olimpiade matematika bersama barram. Gadis itu sedikit gugup karena baru pertama kali nya ia mengikuti olimpiade matematika apalagi menurutnya kemampuannya dalam bidang matematika tidak terlalu memungkinkan untuk membuat mereka memenangkan olimpiade dan membawa pulang piala untuk sekolah mereka.


"Gak usah gugup gitu, relax aja. Kamu gak sendiri ada aku juga," Ujar barram menenangkan liora.


"Iyaa kak," Balas liora ia masih cemas, takut tidak akan membanggakan nama sekolahnya.


"Ayok kita ke ruangan pak dion," Ajak barram langsung menarik tangan liora menjauh dari kelas.


"Assalamualaikum," Ucap liora dan barram serentak.


"Waalaikumussalam. Silahkan masuk liora, barram," Ujar pak dion


Liora dan barram langsung duduk pada kursi yang ada di dalam ruangan itu.


"Bagaimana, kalian sudah siap," Pak dion memastikan.


"Kita sudah siap pak," Jawab Barram melirik liora.


"Okee, kalau begitu kita berangkat sekarang," Ujar pak dion berlalu keluar ruangan.


"Ra, Fighting!" Ucapan semangat dari ketiga sahabatnya ketika melihat liora keluar dari ruangan.


"Ra, semangat ya, semoga berhasil," Ujar Sultan tersenyum tipis.


Alarick berjalan menghampiri liora, memberi celah antara barram dan liora... Barram yang mendapat kedatangan Alarick melirik sinis ke arah cowok itu.


"Udah makan?" Tanya alarick.


"Udah," Balas liora tersenyum.


"Nanti aku nyusul ke sana, semangatin kamu biar ara nya aku semangat 2X lipat dari ini," Ucap alarick sedikit keras sengaja agar bisa di dengar oleh barram di sebelahnya.


"Iyaa udah, aku berangkat dulu ya," Ucap liora mengacak gemas rambut alarick.


"Hati-hati, sama kadal di sebelah kamu!" Peringat alarick pada liora yang semakin menjauh.


...*****...


Pengumuman...Di mohon untuk siswa-siswi peserta olimpiade matematika agar segera menuju ruangan yang telah di siapkan oleh panitia² perlombaan olimpiade.


"Ra, ayok kita masuk,"Barram langsung menarik tangan liora agar masuk ke dalam bersamanya. Tanpa mendengar persetujuan dari liora.


"Bagaimana, apakah kalian sudah siap?" Tanya panitia olimpiade.


"Siapppp!" Balas peserta olimpiade bersamaan.


"Baiklah silahkan kalian duduk di tempat yang tersedia bersama partner masing-masing,"


"Yang mengikuti lomba olimpiade matematika tingkat nasional ada lima sekolah masing-masing dua siswa-siswi yang mewakili sekolah mereka,"


"Sebelum kami memulai olimpiade nya, penonton atau orangtua dll bisa memberikan dukungan serta semangat untuk anak-anak atau siswa-siswinya yang sedang mengikuti olimpiade,"


SMA Labschool kebayoran


SMA Gonzaga


SMA Kanisius


SMA Sampoerna Akademik


SMA Cempaka Putih


"Kalian sudah siap?" Panitia mengulang pertanyaan yang sama.


Baik untuk soal pertama..


Panitia mulai membacakan soal. Soal pertama sampai soal empat puluh delapan. Soal-soal yang di bacakan tadi sudah ada sebagian yang di berhasil di jawab oleh SMA Cempaka, mereka meraih point berseri dengan SMA Gonzaga.


Sedangkan 3 SMA yang lain berada pada posisi jauh dari point kedua SMA itu.


"Soal ke empat puluh sembilan," Ujar panitia.


Diketahui x dan y merupakan penyelesaian dari sistem persamaan 3x - 2y \= 4 dan -4x + 3y \= -2. Nilai dari 2x + y \= ....


Tetttt....


Bunyi tombol yang telah di pencet oleh seseorang yang diketahui orang itu adalah liora. Ia gugup menjawab soal tadi, ia mengela nafas pelan dan mengangkat suaranya.


"Ya, silahkan SMA Cempaka segera menjawab," Ujar panitia.


"Jawabannya 26," Jawab liora sedikit ragu-ragu.


"Bagaimana para juri? Apakah jawaban dari SMA Cempaka benar?" Panitia bertanya.


Juri saling melirik satu sama lain seolah meminta persetujuan benar atau tidaknya jawaban tadi. Dan mereka menganggukan kepalanya menandakan jawaban dari liora adalah benar.


"Yah benar sekali," Balas Juri olimpiade.


Liora dan Barram bernafas lega, ketika jawabannya dikatakan benar oleh juri. Barram tersenyum tipis melirik ke arah liora.


"Point kali ini di raih oleh SMA Cempaka lagi. Tinggal satu soal lagi dan akan di tentukan SMA mana yang berhasil meraih piala dan berhasil menjawab soal terakhir,"


"Nilai rata-rata ulangan siswa kelas XII otomotif adalah 75. Jika sampingan baku nya 5,4 maka koefisien variasinya adalah....?"


Lagi-lagi tombol berbunyi pada meja SMA Cempaka, liora yang mengetahui jawabannya seketika melirik barram, ia langsung menyodorkan kepada barram kertas jawaban yang ia tulis. Ia ingin menjawab tapi lebih ia memberikan barram kesempat untuk menjawabnya walaupun jawaban nya dari dia sendiri.

__ADS_1


"Lo aja yang jawab," Ujar liora seakan memberikan perintah.


"Gak, lo aja ra," Balas barram menggeser kertas ke arah liora.


"Jawab aja, jangan buang-buang waktu," Ujar liora membujuk barram.


"Okee," Ucap barram menghela napas.


"Silahkan SMA Cempaka berikan jawabannya," Ujar panitia.


"Ara semangatt lo pasti menang," Ucap alarick dkk serta mama, papa liora sedikit berteriak.


"Jawabannya 7,2," Ujar Barram.


"Bagaimana para juri, jawaban dari soal terakhir apakah benar?" Tanya panitia menatap para juri.


"Benar!" Jawab juri.


"Point terakhir di capai oleh SMA Cempaka, baiklah, untuk point paling tinggi di raih oleh SMA Cempaka, point kedua di raih oleh SMA Gonzaga, point ke tiga di raih oleh SMA kanisisus, point keempat di raih SMA Sampoerna Akademik dan point terakhir di raih oleh SMA Labschool kebayoran," ucap panitia memberikan pengumuman.


"Yesss, kita menangg ra," Ucap barram tidak sengaja memeluk liora.


"Kak lepas," Ucap liora memberontak.


"M-maaff ra, gue terlalu semangat," Barram langsung melepaskan pelukannya.


"Modus bangat lo sama cewek gue," Sinis Alarick dengan tatapan tidak bersahabat.


"Congrats ya ra," Sahabat-sahabatnya memberikan selamat.


"Thank you," Ujar liora memeluk ketiga sahabatnya.


"Gue kira lo gak bisa jawab soal-soal tadi ra," Ujar Audrey dengan cengiran.


"Lo ngeraguin kemampuan otak gue," Liora memutar bola matanya malas.


"Sayangg, selamat ya, mama papa bangga bangat sama kamu," Mama liora memeluk putrinya sangat erat.


"Ma, lepasin, leher ara kecekik ihh," Dumel liora.


"Aduh sayang, maaf mama gak sengaja, sengaja juga gpp kan," Ucap mamanya santai.


"Terserah mama deh," Balas liora malas.


"Mama doang nih yang di peluk, papa gak?" Arlon berjalan mendekati putrinya.


"Papa juga dong," Liora langsung memeluk papanya.


"Selamat ya sayang, pertahankan prestasi nya, jangan pacaran dulu harus fokus sekolah," Pesan arlon mencium pucuk kepala putrinya yang masih berada dalam dekapanya.


"Loh, om dan tante gak tahu liora pa... Hmmptttt," Audrey tidak jadi melanjutkan ucapannya kala amanda dengan cepat membekap mulut sahabat lemot nya itu.


"Ada apa?" Arlon menautkan kedua alisnya bertanya.


"Hehehe gk ada apa-apa kok om. Oh ya kita balik duluan dulu ya om tante, liora," Balas amanda lalu segera menarik tangan Audrey. Ingin sekali dia mencabik-cabik ginjal sahabatnya ini, karena kesal ia tak menghiraukan audrey yang sedang berontak ingin di lepaskan tangannya.


...*****...


"Mulut lo lemas bangat sih drey, kesal gue sama lo tahu pengen gue mutilasi lo," Kesal Amanda.


"Ya, maaf tadi gue keceplosan," Balas audrey merasa bersalah.


"Rick, lo pacaran sama liora gak ngasih tahu mama, papa nya?" Tanya Amanda sedikit merasa penasaran.


"Iyaa," Balas alarick singkat.


"Kenapa?" Tanya Keysa mulai mengeluarkan suara.


"Liora gak mau kalau sampai mama, papanya tahu dia pacaran, takut papa nya marah, dan kecewa sama dia. Soalnya dia udah janji sama papa nya, gak bakalan pacaran sebelum lulus sekolah," Jelas alarick melanjutkan menyeruput minumannya.


"Aduh bakalan rumit sih, kalau kayak begini," Ringis audrey.


"Itu alasan dibalik, kenapa sikap cuek dan dingin liora terhadap lawan jenis nya, karena dia gak mau ngelibatin perasaan sama cowok, sekalipun cowok itu ganteng, kaya, pintar dll. Gue udah dekat sama ara dari kecil dan gue juga tentu tahu gimana om arlon kalau lagi marah. Makanya lo pacaran sama ara harus siapin mental dan kesabaran aja hadapin hubungan kalian tanpa restu orangtuanya," Ucap Sultan menambahkan.


"Pesan gue cuman satu, jangan sampai om arlon tahu, jangan sampai lo bikin ara nangis," Sultan melanjutkan.


"Hmmm," Alarick hanya membalas dengan deheman kecil.


"Audrey nanti pulang sama gue ya, mama katanya kangen sama lo," Ucap Johan lembut.


"Iyaa," Balas audrey cuek. Ia tidak bisa menolak jika johan sudah membawa-bawa nama mama nya.


"Gue mencium ada bau-bau cilok nih," Ujar Amanda menatap penuh tanya pada objek di depannya.


"Cinlok bukan cilok!" Koreksi audrey.


"Nah, tuh lo tahu, berarti benar dong, kalian lagi pdkt ya, cieee," Goda Amanda mencolek dagu sahabatnya.


"Gak ya!" Audrey melototkan matanya.


"Dihh, lo pikir gue takut sama ekspresi lo melototkan mata kyak begitu. Kayak mbak kunti," Ujar Audrey


"Ya iyalah, lo gak takut, secara lo sendiri kan setan nya," Celetuk Johan.


"Tapi, gue beneran serius nih, lo berdua lagi pdkt atau udah pacaran?" Selidik Amanda menaik turunkan alisnya.


"Doain aja mand, semoga gue cepat-cepat jadian sama audrey. Iya gak drey," Johan menatap penuh binar kepada audrey.


"Ngimpii lo!" Geram audrey.


"Tapi lo gak ngasih jampi-jampi kan sama audrey," Imbuh Alarick.


"Belum sih, tapi nanti kalo cinta gue di tolak sama audrey, santet bakalan bertindak," Ucap johan tanpa dosa.


Audrey melototkan matanya dengan ungkapan johan, tidak habis pikir, bisa-bisanya ia di sukai oleh cowok gila seperti johan.


"Nah, ini baru sohib gue, mainnya langsung pake santet, lanjutkan gue dukung," Ujar alarick seraya tertawa kecil.


...*****...


Liora dan barram kembali ke sekolah untuk melanjutkan proses belajar. Mereka berdua berjalan beriringan di koridor sekolah tanpa mengeluarkan suara satu sama lain.


"Lo kamu kemana ra?" Tanya barram.


"Kantin," Balas liora cuek.


"Liora," Panggil seseorang dari kejauhan lalu menghampiri dirinya dan juga barram.


"Gimana olimpiade nya tadi, lancar?" Tanya Abiam tanpa menatap barram yang ada di samping liora.


"Lancar kok kak," Balas liora tersenyum.


"Sejak kapan lo akrab sama liora," Barram menatap tak suka pada abiam.


"Dari kemarin, waktu kita ke gramedia bareng," Ujar Abiam. Sengaja memberitahu.


"Gramedia, bareng? Lo aja baru lihat liora satu kali, kok bisa ke gramedia bareng," Barram meminta penjelasan pada abiam.


"Gak sengaja ketemu," Balas liora berlalu pergi meninggalkan dua laki-laki yang saling menatap tajam satu sama lain.


"Sok asik bangat lo sama liora," Sinis Barram.


"Santai bro. Lo suka kan sama liora?" Abiam bertanya.


"Iya kenapa, lo juga suka sama dia?" Barram bertanya balik.


"Iyaa," Balasnya santai.


"Tapi, tenang aja, kita bakalan bersaing secara sehat gak pake adu fisik. Gimana, lo mau?"


"Oke, lo lihat aja nanti siapa yang akan liora pilih. Lo, atau gue, atau bahkan dia tetap memilih alarick," Balas Barram tersenyum miring.


"Maksud lo?" Abiam mengerutkan dahinya.


"Mau gue kalah sekalipun bersaing sama lo, lo gak akan bisa bersaing sama alarick, karena liora cuman suka nya sama alarick mereka juga pacaran. Lo kapten basket, pasti tahu kan dia juga anggota baru dalam tim basket. Apalagi dia sebagai calon kapten basket yang bakalan gantiin posisi lo," Ucap Barram memanas-manaskan, kemudian berlalu pergi meninggalkan abiam yang masih diam bergeming di tempat.


"Kenapa gue bisa suka sama cewek yang sudah ada pemiliknya," Batin Abiam meringis menyuaraki kekalahannya.

__ADS_1


__ADS_2