Distilasi Alkena

Distilasi Alkena
Bab 17. Metafora Waktu


__ADS_3

Sang ketua kelas melenggang pergi mengambil tugas teman-teman yang lain. Kemudian menyerahkan kepada pak john. Guru killer itu menghitung jumlah buku. Tunggu, ternyata buku kurang satu. Harusnya ada 38 buku, tapi buku yang di serahkan hanya ada 37 buku.


Pak john memandang satu persatu murid di kelas seakan bertanya, siapa yang telah berani tidak mengumpulkan tugas.


"Siapa yang tidak mengumpulkan tugas yang saya berikan!". Suara menggelegar itu milik pak john.


"S-syaa pak". Ujar johan gugup mengangkat sebelah tangannya.


"Johan, kamu ini mau jadi apa hah!, malas sekali, padahal ini sudah dari minggu lalu saya berikan. Keluar dari kelas sekarang!". Guru itu tidak bisa mentolerir kesalahan barang sedikitpun.


"Hormat bendera sekarang juga, sampai jam pelajaran saya selesai". Baru saja johan sampai di depan pintu. Pak john kembali bersuara.


...*****...


Johan sudah berdiri hormat, di tengah lapangan. Yang benar saja mata pelajaran fisika hampir tiga jam, johan harus berdiri di sini selama jam pelajaran itu berakhir.


"Sial". Johan mengumpat dalam hati. Pasalnya cuaca hari ini lumayan terik, meskipun masih pagi.


Pandangan johan terhenti pada seorang murid berjalan ke arahnya. Lalu memberikan sebotol air mineral pada johan.


"Makasih drey". Ucap johan seraya tersenyum menerima air pemberian audrey


"Hum". Audrey berjalan kembali ke kelas nya.


Seseorang yang dimaksud tadi adalah audrey. Gadis itu tidak sengaja melihat sultan sedang di hukum di tengah lapangan.  Dengan cuaca sangat panas ini. Ia tadi izin ke toilet tapi tidak sengaja melihat sultan. Jadi ia berinisiatif memberikan sultan sebotol air mineral sebab ia tahu laki-laki itu tengah kehausan.


Tidak berselang lama kepergian audrey, tiba-tiba pak arsyid menghampiri johan.


"Kamu di hukum kenapa, johan?".


"Saya lupa bawa buku tugas fisika, pak". Jawab johan jujur sambil menunduk.


"Mau jadi apa nanti nya, kalau begini terus. Tidak disiplin". Pak arsyid berjalan meninggalkan johan.


Hukuman untuk johan sudah berakhir. Ia sudah berada di kelasnya. Menemui alarick yang masih membereskan buku-bukunya.


"Gimana hukumannya?, seru gak". Ucap alarick yang sudah selesai membereskan bukunya.


"Seru, bapak mu, gue kepanasan selama tiga jam di lapangan". Celetuk Johan.


"Gue gak punya papa". Ujar alarick seketika wajahnya berubah datar.

__ADS_1


"Maaf rick, gue keceplosan". Johan merasa bersalah telah menyebutkan hal sensitif bagi alarick.


"Hmm". Dehem alarick.


...*****...


Seperti umumnya remaja di kota besar, anak muda


terperangkap dalam keanifan gaya hidup kawula muda. Salah satunya adalah gaya hidup yang memanjakan cinta terhadap lawan jenis. Mereka sadar betul. Bahwa setiap nafas di media massa, setiap detak jantung kehidupan kawula modern terutama di kota metropolitan seperti ini. Selalu memaksa mereka untuk menjadi jauh lebih dewasa dari usia mereka sesungguhnya. Termasuk dalam mencoba mengenali cinta, lalu terjebak dalam jerat-jeratnya yang menyiksa. Tapi banyak di antara mereka memandangnya begitu indah dan memesona.


Kalau ada gadis yang layak membongkar hati mereka, mengeluarkan isi dada mereka, lalu menghiasinya dengan kerinduan terhadap nya.


Justru itu membuat gadis tampak beda di mata mereka. Karena itu pula ternyaya diam-diam rasa suka terhadap seorang gadis menyelinao ke dada mereka. Rada suka itu lambat laun mulai menjajah kebebasan mereka. Mereka mulai menyukai nya lebih dari sekedar sebagai teman biasa, tapi sebagai perempuan yang punya tempat khusus dalam hatinya. Entahlah, apa kosa kata yang cocok untuk menyebut perasaannya itu. Ini lah deskripsi tentang johan yang mencintai audrey bukan sekedar sebagai teman biasa tetapi lebih dari itu.


Bila di tanyakan kepada alarick maupun sultan, maka jawabannya memang sesederhana itu: itulah cinta, Kawan...!


Johan memandang audrey dari kejauhan. Memandang dengan ketulusan dan penuh cinta.


"Hati-hati han, lo sudah mulai terserang virus cinta...". Peringat alarick yang mengerti arah pandang johan.


"Entahlah..."


"Maksud lo?". Johan bingung menatap sultan.


"Gue gak melihat audrey terkesan sedikit pun pada lo. Sementara cara lo memandang dia sangat mudah di tafsirkan. Lo memang menyukainya, tapi bodoh jangan". Terang Sultan sambil menyeruput minumannya di meja kantin.


"Wanit itu pemalu...". Imbuh Alarick.


"Tapi rasa suka sulit disembunyikan. Bila seseorang perempuan sudah menyukai laki-laki, mereka lebih payah menyembunyikan perasaannya ketimbang kita kamu lelaki". Jelas alarick.


"Siapa yang peduli? Toh gue gak pernah mengundang perasaan apapun ke hati gue. Soal gue mencintai audrey juga gak pernah menjadi obsesi gue..."


"Rasa gue itu datang sendiri tanpa di cari, lo berdua juga sama kayak gue, cuman bedanya, gue satu cewek yang beda dengan kalian. Dari pada kalian satu cewek yang sama..."


Alarick dan sultan menelan ludah. Mendengar ucapan johan barusan. Yang menyudutkan mereka berdua karena telah sama-sama menyukai wanita yang sama.


"Lagi pula, gak ada yang aneh bila seorang remaja laki-laki menyukai perempuan. Apalagi perempuan seistimewa audrey". Jujur johan mengeluarkan semua isi kepala yang ia pikirkan.


Rasa suka itu kian hari kian tumbuh, tersemai, tanpa johan memupuknya sama sekali. Sudut pandang nya padangnya pada audrey mulai beralih seinci demi seinci. Dari sekedar memandang dan mengagumi parasnya. Hingga mulai mencermati keindahann ragawinya, dari sekedar mengetahui bahwa audrey adalah perempuan dengan segala tingkah lucu dan jutek nya, hingga menyadari bahwa audrey juga gadis yang cantik rupawan. Setidaknya menurut johan.


"Hai". Sapa Liora.

__ADS_1


"Sini duduk". Ajak alarick membersihkan bangku kantin sebelahnya


"Kapan keluar dari rumah sakit?". Tanya alarick.


"Kemarin". Jawab liora sedikit menggulung lengan jacket yang di pakainya.


"Kenapa gak kasih tahu aku". Ucap alarick menatap lamat liora.


"Lupa". Balas liora singkat.


"Kamu mau makan apa? Biar aku pesanin". Tanya alarick merubah posisinya menghadap sepenuhnya ke arah liora.


"Aku udah sarapan, Al". Balas liora sedikit pelan.


"Serasa, cosplay jadi nyamuk, kita". Ujar amanda.


"Eh btw, gue dengar dari anak-anak di kelas lain. Sekolah kita bakalan ikut tanding basket ya,". Ucap audrey.


"Iya, rabu minggu ini, tanding sama SMA Gonzaga". Sahut Alarick. Ia tahu karena dia anggota dalam tim basket apalagi ia menjadi calon kapten basket.


"Tempat pertandingannya dimana?". Tanya liora.


"Di sini, di sekolah kita". Jawab Alarick lalu menatap kedua sahabatnya.


"Lo berdua, mau gak, gabung ke tim basket". Tawar alarick.


"Oke, gue mau". Ucap johan kemudian menoleh ke arah sultan.


"Hum, gue ikut kalian aja". Sahut sultan dengan wajah datar.


"Tapi, gimana sama ekskul musik lo". Liora bertanya pada sultan.


"Gampang, latihan musik juga belum di konfirmasi". Balas sultan.


Liora sangat tahu impian terbesar sultan yaitu tentang musik. Sahabat nya itu sangat terobsesi sekali pada musik. Laki-laki itu dari dulu sampai sekarang bercita-cita menjadi seorang penulis lagu, serta ingin memiliki bakat yang lebih dari alm ayah nya pernah ajarkan dulu.


Ia juga ingin meneruskan cita-cita sang ayah, dulu ayahnya pernah bilang, ingin sekali melihat dirinya bermain musik dengan handal seperti ayahnya. Terutama bermain piano.


..."Jadi diri sendiri aja susah, apalagi mau jadi hak orang lain"...


..._Sultan Aldi Putra Sanjaya_...

__ADS_1


__ADS_2