Distilasi Alkena

Distilasi Alkena
Bab 37. Ambisi alarick


__ADS_3

..."Aku sudah bisa di katakan dewasa sekarang, meski di mata mama aku adalah anak kecil selamanya. Sungguh aku takut dia keburu tua, sebelum aku sempat membanggakannya"...


..._Alarick Zalman Maheer_...


...----------" "----------...


"Ara sarapan pagi dulu sayang, ajak anna sama cilla juga," Ujar ariani mengetuk pintu kamar liora.


"Iya mah, bentar lagi kita turun," Sahut liora dari dalam kamar.


"Gue belum belajar ya ampun, si anna ini yang bikin kita begadang semalaman," Celoteh cilla sembari mempersiapkan buku-bukunya.


"Malah nyalahin gue lo, dahlah cepat nanti kita telat," Ujar anna membuka knop pintu.


"Pagi om, tante,"


"Pagi pah, mah,"


"Ayok segera sarapan," Kata arlon mempersilahkan liora, anna dan cilla.


Setelah selesai sarapan ketiga gadis itu bergegas berangkat menggunakan mobil milik cilla.


Di jalanan pagi itu sangat lah ramai kendaraan berlalu lalang sehingga menimbulkan kemacetan,  bunyi klakson beberapa kendaraan, sinar matahari yang cukup terik menyambut mereka di sana, di tambah lampu merah pun membuat beberapa anak sekolah menyumpah serapahi kemacetan pagi ini.


"Bisa telat nih kita," Ujar johan di balik helm seraya melihat benda arloji berwarna hitam di pergelangan tangannya.


Sesampainya di sekolah alarick, sultan dan johan memasuki area parkiran untuk memarkirkan motornya masing-masing.


Untung saja waktu mereka tiba di sekolah bertepatan dengan bell masuk telah berbunyi sehingga mereka bisa mengikuti ujian semester kenaikkan kelas.


Akhirnya, ujian akhir semester pun di mulai, hari demi hari yang begitu berat harus di lalui pelajar untuk kenaikan kelas kebanyakan pelajar terlihat begitu resah, takut jika nanti nya mereka tidak bisa mengisi lembar jawaban dari soal-soal ujian nanti. Begitu pula yang di rasakan alarick, sangat berbeda dengan johan cowok receh itu malah santai saja tanpa memusingkan dirinya karena bagi dia menyontek adalah hal yang memudahkan dirinya, jika ada jalan yang mudah, kenapa harus mencari jalan yang sulit. Begitulah kira-kira isi kepala johan!


Alarick tampak begitu hati-hati setiap mengerjakan soal ujian. Tampak dia berpikir keras untuk mengerjakan soal ujian itu sebab tadi malam dia tidak sempat belajar karena teman-temannya terus saja mengajaknya bermain game, bernyanyi dan membicarakan hal-hal random lainnya sehingga membuat mereka semua begadang semalaman.


Setelah ujian berakhir, Alarick tak tampak senang dia sedikit resah, siang itu dia duduk bersama kedua sahabatnya di kursi depan kelas.


"Rick, kok lo tampak lesu gitu?" Sapa sultan duduk di sebelahnya.


Alarick sejenak memandangi sahabatnya itu. Dia berusaha tersenyum di tengah keresahannya.


"Gue ngerasa kesulitan ngerjain soal ujian tadi, gue khawatir jika nilai gue anjlok." Kata alarick.


"Ah, lo rick. Jangan kelewat lesu gitu dong gue lihat sih lo udah usaha. Ingat usaha tidak akan menghianati hasil," Johan terdiam sejenak, dia memandang ke atas langit.


Alarick dan sultan keheranan melihat sikap johan. Mereka memandang johan yang tengah memandang lurus ke depan, alarick melambaikan tangannya ke wajah johan.


"Woii, malah diam lo, lihat bidadari? Tanya alarick.


Johan dan sultan tertawa riang. "Yee mana ada bidadari yang ada nenek lampir di sekolah ini. Gue liat tuh langit sore, bikin hati gue adem,"


"Ya elah, langit-langit gitu aja lo pantengin, mending lo belajar," Sahut sultan sembari membaca buku yang ada di tangannya.

__ADS_1


...****...


Terdengar suara misterius dari perut anna, kedua sahabatnya terkikik geli. Anna dan pricilla sengaja nyamperin liora di kelas karena mereka tahu kedua sahabat liora tidak ada yang ingin berbicara ataupun sekedar menyapa liora.


"Lo lapar an, padahal tadi udah sarapan." Kata cilla keheranan.


"Tadi sama sekarang beda, sekarang cacing di perut gue pada konser nih, ke kantin yuk gue laper nih," Ujar anna memasang wajah memelas.


Kedua perempuan itu tampak berpikir sejenak, tanpa memberikan kesempatan pada cilla dan liora, dia menarik tangan kedua sahabatnya. Membuat kedua perempuan itu pun mengalah.


"Ih, pake mikir segala. Udah kalian ikut gue aja ntar gue traktir deh, mumpung gue lagi baik hati." Ajak anna mereka sambil berjalan menyusuri koridor kelas menuju kantin.


"Itu yang kalian sebut sahabat? Nyapa kalian aja gak," Ujar amanda getir. Setelah melihat punggung liora menghilang di balik pintu kelas. Sebenarnya ada perasaan sesak saat dirinya dan liora tidak saling sapa, saling tatap satu sama lain. Membuat dia merasa bersalah atas apa yang di ucapkannya kemarin pada liora. Persahabatan mereka benar-benar terasa asing sekarang.


"Gue gak tahu lagi harus gimana. Amanda juga terlalu gegabah ngambil tindakan, tanpa ingin mendengar alasan dari liora." Audrey sudah benar-benar pasrah. Amanda pun terdiam.


"Kita gak boleh asing harus sahabatan selamanya," Pungkas keysa.


Di kantin...


"Hai, apa kabar?" Sapa abiam tiba-tiba datang ke arah liora dan kedua sahabatnya.


"Hai kak, seperti yang kak abiam lihat, gue baik-baik aja," Ujar liora antusias. Sudah beberapa minggu mereka tidak berkomunikasi.


"Kak abiam kemana aja? Tiba-tiba muncul," Tanya liora sembari menyeruput minumannya.


"Gue sibuk bangat. Ra, akhir-akhir ini bokap gue tugasin buat selesaiin bisnis di perusahaannya." Jelas abiam duduk di bangku kosong sebelah cilla.


"Oh, ini kak abiam, asyik kok orangnya." Liora memberitahu anna dan cilla.


"Hai, gue abiam," Sapa abiam tersenyum ramah mengulurkan tangannya pada cilla. Lalu beralih ke anna.


"Cilla,"


"Anna, kak,"


"Audrey, amanda sama keysa mana. Ra? tumben gak barengan, biasanya nempel terus sama lo," Seru abiam lalu mengerutkan keningnya bingung.


"Mereka di kelas," Ujar liora dingin.


Ujian pun telah selesai murid-murid bergegas keluar kelas.


"Itu bukannya cowok yang main basket lawan tim sekolah kita kemarin kan?" Tanya amanda melihat laskaar, andre fajar dan rayyan sedang berdiri di dekat motor mereka menggunakan seragam sekolah.


"Hum," Balas audrey tanpa minat memandang.


"Ciee ndre, gercep bangat jemput mantan pdkt nya," Goda cilla yang menghasilkan gelak tawa dari teman-temannya.


"Mana helm nya cepat!!" Titah anna yang tidak ingin berlama-lama di goda oleh sahabat kurangajar nya itu.


Andre pun segera memberikan helm nya pada anna kemudian mengikat jaketnya pada pinggang ramping gadis itu. Agar paha nya tidak terlihat.

__ADS_1


...*****...


"Mamah," Panggil alarick menghampiri silvia di dapur..


"Kenapa. Al?" Tanya silvia sembari mencuci buah-buahan di sana.


"Gak papa, cuman mastiin mama gak kenapa-kenapa," Ujar alarick mencium pipi mamanya sebelah.


Silvia melenggang ke arah meja makan membawa buah-buahan dan pisau kecil lalu menyimpan di meja makan.


Anak dan ibu itu sama-sama terduduk di meja makan itu. Alarick yang terus saja memperhatikan setiap aktivitas mama nya sembari tersenyum.


"Mama jangan ninggalin. Al, ya tolong temani aku terus," Kata alarick menyimpan kedua tangannya di atas meja.


Silvia menghentikan aktivitasnya mengupas buah kiwi lalu menatap sepenuhnya ke arah sang putra.


"Mama akan tetap ada di samping. Al, mana mungkin mama tega ninggalin putra kesayangan mama ini. Kecuali sampai tuhan akhirnya menyuruh raga mama untuk kembali pada sang pemilik alam semesta ini," Silvia tersenyum hangat kepada sang putra.


Alarick mengambil buah kiwi menggunakan garpu yang sudah di kupas dan da di iris oleh silvia.


"Kiwi nya warna merah," Alarick menatap buah kiwi sejenak lalu melahapnya.


"Katanya, kiwi merah kaya vitamin," Ujar silvia sambil terus mengupas buah.


"Manis sekali. Hari ini pelayanan istimewa untukmu," Tambah silvia.


"Terimakasih mama," Ujar alarick sambil mengunyah buah kiwi.


"Mama.... Tiba-tiba aku punya ambisi." Alarick menopang dagu di atas meja.


"Ambisi apa?"


"Aku akan belajar sampai titik darah penghabisan untuk dapat nilai tertinggi di ujian kenaikan kelas ini," Alarick berseru antusias. Menegakkan tubuhnya kembali.


silvia tertawa kecil. "Tidak perlu sampai setinggi itu. Al, secukupnya saja jangan terlalu berambisi sayang" Ujarnya.


"Aku akan tetap mencoba, aku ingin membuat nama mama bangga di sebut oleh orang-orang. Siapa tahu ada yang kebetulan mendengar tentang nilai tertinggi ku dan nama mama saat di sebut oleh mereka."


"Siapa?" Silvia terkekeh.


"Mama pasti tahu orang yang meninggalkan kita, entah apa kah itu bisa membalaskan dendamku," Alarick sembari mengambil lagi buah kiwi.


Silvia sontak terdiam sejenak. Wanita itu menelan ludahnya susah payah.


"Mama... Aku ingin makan sayur asam untuk nanti malam," Kata alarick mulutnya di isi oleh buah kiwi.


Silvia mengangguk tersenyum. " Baiklah, mama buatkan ya." Silvia menyimpan pisau.


"Rasanya enak?" Tanya nya kemudian melahap buah kiwi yang sudah di iris nya tadi.


"Makan yang banyak," Lanjutnya beranjak.

__ADS_1


__ADS_2