Distrik The Guardian Angel

Distrik The Guardian Angel
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Hasan mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir asap putih, di luar terdengar suara langkah beberapa orang yang hendak memasuki ruangan tersebut.


“huft ini tidak berjalan sesuai rencana awal, kalian tolong tetap diam disini aku akan mengurus sesuatu yang harus aku urus. Ku harap kalian mempercayai ku setelah kejadian ini” hasan keluar dari asap yang tak kunjung hilang di sekitarnya.


Diluar dugaan wujud Hasap tetap seperti manusia, hanya saja terkadang wujud hasan seperti menghilang dari pandangan untuk beberapa saat. Tempat sabeni dan kawan-kawannya berdiri kini berubah, mereka sudah berada di bagian dalam Rumah tua yang tadi mereka masuki dan tidak ada lagi roh disekeliling mereka.


“hey kalian bertiga mau sampai kapan berdiri saling memunggungi seperti itu” sabeni berucap sambil berjalan menuju sebuah lukisan.


****


“hey apa kalian yakin mendengar sesuatu dari dalam rumah tua ini” seru pria berbadan kekar


“iya tadi kami berdua mendengar suara seperti ledakan dari dalam rumah itu komandan” seru seorang pria yang menggunakan topi baja.


“ah kenapa harus pada saat kita yang menjaga pelabuhan, kalian semua sudah taukan mengenai sejarah rumah tua itu” ucap pria yang berbadan kekar.


“tentu saja komandan, tapi raja memerintahkan kita untuk mengawasi rumah tua itu bukan ?” jawab pria berbadan tinggi


“baiklah mari kita mengechecknya” ucap pria berbadan kekar.


Ke lima orang tersebut berjalan dengan sangat berhati-hati memasuki halaman rumah tua yang terletak di ujung lorong kecil tersebut. jika dilihat secara sepintas rumah itu hanya mempunyai total luas 200 Meter namun mereka yang memasukinya tidak pernah ada satupun yang kembali.

__ADS_1


Mereka berlima saling pandang ketika hendak membuka pintu rumah tersebut, tidak ada satupun dari mereka yang berani menyentuh gagang pintu rumah tersebut. sedangkan matahari sudah mulai tenggelam dari singgasananya.


“kenapa kalian berdua diam saja, cepat buka pintu rumah ini apakah kalian menunggu sampai matahari benar-benar tenggelam baru membuka pintu ini” pria berbadan kekar membuka suaranya memecah keheningan.


Sementara dua pria yang tadi melapor mendengar suara ledakan dari dalam rumah menelan ludah mereka, keringat mulai membasahi kening mereka berdua. Sudah menjadi rahasia umum bahwa rumah tua tersebut lebih menyeramkan dimalam hari dan banyak suara-suara aneh yang keluar dari rumah tersebut.


Kedua orang tersebut mulai ragu untuk membuka pintu rumah tua tersebut dan menyesali aksi mereka yang melaporkan bunyi ledakan yang mereka pikir dari dalam rumah, mereka melaporkan kepada komandan mereka dengan harapan mendapatkan hadiah dan memasuki rumah tersebut bersama ratusan prajurit lainnya.


Diluar dugaan komandan mereka memilih untuk menyelidikinya hanya menggunakan pasukan yang berpatroli di sekitar lorong tersebut yang hanya beranggotakan lima orang. Kedua prajurit tersebut kembali saling pandang meratapi kesialan diri mereka.


“hey sampai kapan kalian saling pandang seperti dua sejoli yang sedang kasmaran” hardik komandan


“kriiieeeet”


Pintu terbuka separuh dan seketika itu pula hawa dingin yang tidak biasa merembes keluar dari dalam rumah tua tersebut. kelima orang yang berada diluar seketika itu pula merinding ketakutan.


“ko...komandan...ap...apakah kita haaa...harus masuk” Prajurit yang tadi membuka pintu dengan gagah berani menjadi ciut nyalinya ketika hawa yang tidak manusiawi keluar dari dalam rumah tersebut.


Komnadan mereka memperhatikan bagian dalam rumah tersebut dengan seksama dari luar, sepanjang pengelihatan dia hanya ada perabot tua dan ruangan-ruangan gelap tanpa cahaya.


Dari kejauhan terdengar bunyi suatu benda jatuh ke bawah, kelima orang tersebut langsung mengigil ketakutan. Kelima orang yang bertugas berpartoli adalah lima orang veteran perang yang dikenal dengan keberanian mereka dimedan pertempuran dan sudah melewati berbagai macam pertempuran hidup dan mati. Tapi ketika mereka ingin memasuki rumah tua dihadapan mereka keberanian yang selama ini mereka banggakan hilang seperti di telan bumi.

__ADS_1


“kita harus masuk dan memeriksa rumah ini” seru sang komandan dengan suara lantang sambil melangkah memasuki rumah tua.


Ke empat prajurit memaksakan diri mereka untuk melangkah kedalam rumah tua, karena mereka tidak ingin menjadi disertir karena tidak mematuhi perintah langsung dari atasan mereka.


Hukuman bagi para disertir adalah kematian dan jasad mereka akan di tenggelamkan ke laut lepas dengan kaki yang di kasih pemberat.


Ketika mereka semua memasuki rumah tua, dari atas mereka muncul beberapa kalelawar yang terbang keluar rumah. Rombongan kalelawar tersebut terbang keluar dan menjatuhkan lampu gantung yang berada tepat di atas mereka. Kelima prajurit tersebut menghindari lampu yang jatuh dari atas dan ketika lampu tersebut membentur tanah terdengar suara ledakan kecil


“Bum”


Kelima bohlam lampu pecah dan berhamburan di lantai. Komandan segera melihat kearah atas tempat lampu tersebut semula tergantung dan komandan tersebut melihat banyak kalelawar yang sedang tidur di atas langit-langit rumah yang bolong.


“baiklah kita kembali keluar, suara yang kalian dengar kemungkinan berasal dari para kalelawar di atas sana yang menjatuhkan benda-benda tua seperti yang tadi kita lihat.”


Komandan tersebut berkata sambil melihat anak buahnya menunggu respon mereka.


Tanpa menunggu lebih lanjut keempat prajurit tersebut segera keluar dari rumah tua, mereka takut komandan mereka berubah fikiran dan ingin menyelidiki kedalam rumah tersebut. komandan patroli hanya bisa menarik nafas lega setelah melihat anak buahnya tidak ada yang memprotes keputusannya.


“hey kalian berdua cepat tutup pintu itu kembali, aku tidak mau aura aneh ini menyebar ke seluruh pelabuhan” komandan patroli menunjuk dua prajurit yang tadi melapor kepadanya mendengar suara ledakan dari rumah tua tersebut.


Kali ini kedua prajurit tersebut tidak ragu, mereka segera menutup pintu rumah tua tersebut dan segera menyusul komandan mereka yang telah lebih dulu keluar dari halaman rumah tua.

__ADS_1


__ADS_2