
Hari ini adalah hari senin. Minggu di mana anak anak menjalani ujian sekolah. Begitu juga dengan sekolah Lia yang juga mengadakan ujian pertengahan semester.
Selama ujian pertengahan semester, anak anak di pulangkan lebih awal dari sekolah.
Siang ke sore kemudian berganti malam lagi dan berlanjut pagi hingga kembali siang.
Hari demi hari berlalu.
Tak terasa Ujian Tengah Semester usai dengan singkat. Setelah ujian berlalu dengan cepat, anak anak kembali belajar seperti biasanya.
Minggu depan adalah pengambilan raport Mid Semester. Orang tua akan di panggil berkumpul di sekolah dan manghadiri pertemuan yang diadakan di kelas masing masing.
Tentunya, siswa merasa agak tertekan dalam kondisi seperti ini. Ketika mengetahui bahwa nilai Ujian tidak terlampaui atau di bawah KKM, maka di sinilah para ibu ibu akan menunjukkan skill berbicara mereka kepada anak anak mereka.
Hari ini, tanggal 31 September adalah hari pengambilan raport di sekolah Lia. Semua orang tua siswa di harapkan dapat hadir dalam pengmabilan raport ujian semester ini.
"Liaaa.... Bangun nakk..." jerit mama Lia membangunkan Lia.
"Iyaa maa..." balas Lia.
Lia segera bersiap siap untuk pergi sekolah bersama dengan mamanya dan diantarkan oleh papanya.
Selesai sarapan, keluarga itu langsung menuju begasi mobil dan mengunci rumah mereka kemudian pergi menuju sekolah.
Sampai di sekolah papa Lia meninggalkan Lia dan mamanya karena akan pergi bekerja di kantor.
"Papa jalan dulu ya Lia, maa..." pamit papa kepada Lia dan mamanya.
"Ah, iya paa..." balas mama Lia.
"Hati hati ya paa..." sambung Lia.
Lia segera mengajak mamanya untuk pergi ke kelasnya dan langsung mengikuti pertemuan dengan Wali kelas.
"Maa... ayo ke kelas Lia..." ajak Lia.
"Iya nak..." jawab Mama.
Ketika sampai di kelas, bu Rossa mengatakan bahwa yang boleh masuk ke kelas hanya orang tua saja sedangkan siswa di persilahkan untuk menunggu di luar.
"Maa... mama masuk saja ya. Soalnya yang di bolehkan masuk hanya orang tua saja." jelas Lia kepada mamanya.
"Ohh, iya nakk. Lia baik baik di luar ya." balas Mamanya.
"Liaaa...." jerit Leah memanggil Lia di depan kelas mereka.
"Ahh, Leahh..." jawab Lia.
"Mana mamamu?" tanya Lia kepada Leah.
"Ohh, mama udah di dalam kelas." balas Leah kepada Lia.
"Ya sudah, kita nunggu di sini saja ya..." kata Lia kepada Leah.
"Oh, Oke..." jawab Leah.
Lia dan Leah cukup gugup memikirkan nilai raport mereka. Lia takut nilainya akan terganggu. Lia mencoba untuk menyingkirkan rasa khawatirnya itu.
Ia tak sengaja melihat mamanya berbincang akrab dengan wanita yang duduk di bangku sebelah mamanya.
Wanita itu cantik dengan rambut tipis hitam kecoklatan. Di tambah dengan gaun kuning cerah panjang yang ia kenakan, wanita itu terlihat sangat sempurna.
Awalnya Lia tak terlalu memperdulikan wanita yang berbincang akrab dengan mamanya itu. Tapi tidak lama kemudian, lagi lagi ia dikejutkan dengan peristiwa kecil.
"Orang tua Andra Claryon..." panggil Bu Rossa
Wanita cantik yang tadinya sempat berbincang akrab dengan mamanya Lia maju menghampiri bu Rossa di meja guru.
Lia sedikit terkejut kalau ternyata wanita itu adalah mamanya Andra.
Lagi lagi, hal ini membuat Lia semakin merasa bahwa semua ini seperti kejadian yang telah di rencanakan. Semuanya terjadi layaknya film yang telah ditentukan skenarionya.
"Liaaaa..." seru Leah memanggil.
"Ahh, i..iiyaa leah." jawab Lia kaget.
"Kamu kenapa? kok kelihatanya sedang kebingungan?" tanya Leah.
"Ah, enggak. Aku hanya terkejut melihat mamanya Andra." jawab Lia.
"Accciiieee... lagi liatin mama mertua ya?" balas Leah sambil mengejek Lia.
"Ssttt, kamu ngomong apa sih. Jangan kuat kuat, nanti kalo Andra denger gimana? kan jadi malu aku..." kata Lia kepada Leah
"Heheheh, iya deh." balas Leah.
__ADS_1
"Kalian lagi ngapain?" tanya Andra tiba tiba muncul di antara Lia dan Leah.
"Waduh ada Andra, gimana nihh.... dia denger nggak ya apa yang di bilang sama Leah." kata Lia dalam hati dengan ekspresi panik.
"Eeh, Andra. Kami sih lagi nungguin mama kami." balas Leah kepada Andra.
"Ohh, aku juga." kata Andra singkat.
"Ehh, Lia nanti sore kamu kemana?" tanya Andra pada Lia.
Hal ini jelas membuat Lia terkejut dan membuat ia menjadi semakin gugup saat menjawab pertanyaan Andra.
"Hm..m... gak kemana mana." jawab Lia
"Nanti sore, aku datang ke rumah ya. Aku jemput kamu buat ke taman. Gimana?" tawar Andra.
Lia semakin terkejut. Tangan dan kakinya kedinginan dan berkeringat.
"Ehm...mm.. iya deh." jawab Lia sambil tersenyum tipis.
Tidak lama, seorang wanita dengan gaun kuning cerah datang menghampiri mereka bertiga.
"Andra..." panggil wanita itu.
"Ahh, mama..." balas Andra.
"Maa, perkenalkan dulu. Ini teman Andra, yang ini Lia dan yang ini Leah." kata Andra pada mamanya.
"Haii tantee..." sapa Lia kepada mama Andra dengan ramah.
"Haii tantee..." sapa Leah juga.
"Ooh, Hai Liaa... Hai Leah... kalian temen deket Andra ya?" tanya mama Andra
"Ah, nggak kok tante. Kita cuma temen satu kelas aja." jawab Lia.
"Ohh, ya sudah. Kalau begitu tante jalan dulu yaa..." balas mama Andra.
"Oh, iya tante." balas Lia dengan ramah.
"Liaa... jangan lupa nanti sore ya." kata Andra kepada Lia.
"Ahh, iya..." jawab Lia dengan sedikit gugup.
Lia masih tidak percaya ketika Andra mengajaknya ke taman sore nanti.
"Liaa ayo pulangg..." kata Mama Lia sambil memegang sebuah Raport.
"Ahh, iya maa... Leah aku pulang dulu yaa..." pamit Lia kepada Leah.
"Ah, iya Lia, hati hati ya ..." balas Leah.
"Leahh, tante jalan dulu yaa..." kata mama Lia pada Leah.
"Iyaa tante..." jawab Leah.
Lia dan mamanya pulang dengan jalan kaki. Papanya Lia tidak bisa menjemput Leah dan mamanya karena masih bekerja di kantor.
Sesampai di rumah Lia menceritakan tentang Andra kepada mamanya.
Lia juga meminta izin kepada mamanya nanti sore untuk pergi ke taman bersama Andra.
"Maa..." panggil Lia.
"Iya sayang..." jawab mamanya
"Nanti sore, Lia boleh pergi gak?" tanya Lia.
"Loh, mau kemana sayang?" tanya mama Lia.
"Begini ma, Andra mengajak Lia untuk jalan jalan pergi ke taman nanti sore. Boleh gak ma?" tanya Lia gugup.
"Ohh, di Taman mana?" tanya mama Lia.
"Hanya taman di dekat komplek ini saja ma." jelas Lia.
"Ohh, boleh saja nak. Tapi jangan pulang malam malam yaa..." tegas mama Lia.
"Ahh, iya ma..." jawab Lia dengan senang.
Lia segera pergi ke kamarnya. Selesai mengganti baju, ia turun ke bawah untuk makan siang. Setelah selesai makan siang, Lia kembali naik ke atas untuk melihat hasil raportnya.
Tidak ada nilai yang di bawah KKM. Semua mata pelajaran terlampaui. Lia tak pernah berharap untuk menjadi juara di kelasnya, melainkan ia selalu bersyukur dengan nilai yang di dapatnya.
Setelah melihat nilai raportnya, Lia masih memikirkan sejumlah kejadian yang terjadi tadi pagi di sekolah.
__ADS_1
Di tambah lagi dengan Andra yang mengajaknya untuk pergi ke taman sore ini. Memang Lia merasa senang ketika Andra mengajaknya pergi ke taman. Tapi, ia juga merasa aneh saja ketika seorang anak yang terkenal cuek dan dingin itu tiba tiba mengajaknya keluar bersama.
"Liaa.... turun nak. Ada Andra di luar...." kata mama Lia.
"Ahh, iya ma..." jawab Lia.
Lia bergegas turun dan menemui Andra di ruang tamunya.
"Eh , Andra... ayo jalan." kata Lia kepada Andra.
"Iyaa, tante kami jalan dulu yaa ..." pamit Andra pada mama Lia.
"Hati hati ya Andra, Lia..." balas mama Lia.
"iya ma, Lia jalan dulu ya..." balas Lia lagi.
Mereka pergi berjalan bersama menuju Taman. Saat sedang di jalan, mereka tidak membicarakan apapun.
Tidak terasa, Lia dan Andra sampai di taman.
Mereka duduk berdua di sebuah kursi panjang yang ada di taman.
"Liaa..." panggil Andra.
"Iya, Andra.." jawab Lia.
"Ada suatu hal yang ingin ku bicarakan denganmu." kata Andra secara perlahan.
"Oh, ngomong aja." jawab Lia.
Andra memberikan sebuah kertas yang lusuh kepada Lia.
"Inii..." kata Andra sambil memberikan kertas itu.
"Apa ini?" tanya Lia.
"Lihat saja..." jawab Andra.
Ketika membaca isi kertas itu, Lia kaget. Ternyata itu adalah kertas ungkapan masalah yang sempat ia buang dengan sebuah logam pada malam hari itu.
"Lohh, kok bisa sama kamu?" tanya Lia kaget.
"Tak sengaja mengenai punggung ku." jawab Andra
"Aduhh, Andra aku minta maaf yaa... aku nggak sengaja." jelas Lia.
"Sudah, gak apa apa. Kamu suka menulis di kertas lalu membuangnya begitu saja?" tanya Andra.
"Ahh tidak Andra. Itu hanya ketika aku menghadapi kesulitan dalam hidupku saja." jelas Lia lagi.
"Ohh, sekali lagi aku minta maaf soal Fransiska." kata Andra kepada Lia.
"Sudahlah, tak apa apa." balas Lia.
"Liaa ..." panggil Andra lagi.
"Iya..." jawab Lia.
"Kau tau? sejak lama aku menyukaimu." ungkap Andra kepada Lia.
"Hah? kamu bercanda?" tanya Lia tidak percaya.
"Apakah wajahku menunjukkan bahwa aku bercanda?" tanya Andra sambil menatap Lia dengan serius.
"Kalau begitu, lalu apa?" tanya Lia lagi.
"Mau jadi teman dekatku?" tanya Andra.
"Hah? kamu ini aneh... hahah" balas Lia.
Lia semakin merasa tertekan dengan keadaan Andra. Dia tidak mengerti maksud Andra yang ingin dia menjadi teman dekatnya.
"Tidak ada yang aneh Lia. Aku serius." ucap Andra.
"Hmm, ya sudah deh. Mulai sekarang aku adalah teman dekatmu dan kamu adalah teman dekatku." balas Lia menerima tawaran Andra.
Karena tak ingin melewati kesempatan maka Lia menerima tawaran Andra sebagai teman dekatnya. Lia merasa senang akhirnya Andra bisa lebih dekat lagi dengannya.
****
Setelah hari itu hubungan mereka makin dekat saja.
Tapi, semua tidak berjalan lancar seperti yang dibayangkan dan tidak berhenti di sini saja.
Dalam kehidupan selalu ada saat susah dan saat senang. Seperti halnya, tidak semua jalan di dunia ini mulus dan tidak memiliki lobang. Begitu juga dengan langit yang tidak selalu biru cerah. Kadang kala ada juga menjadi abu abu, mendung dan hujan.
__ADS_1