
"Tok tok tok" ketukan pintu di kamar Lia.
"Non, nyonya suruh untuk turun di bawah buat sarapan." kata bibik Anie pembantu di rumah nenek.
Lia di kejutkan dengan suara bibik Anie yang memanggil disertai ketokan pintu.
"Baik bii..." jawab Lia dari dalam kamar.
Bik Anie adalah pembantu di rumah nenek Lia yang sudah lama bekerja.
Lia segera turun untuk mandi dan segera sarapan.
Selesai mandi, Lia mendatangi mama,papa,dan neneknya di ruang makan keluarga.
"Pagi maa, pagi pa, pagi nek.." sapa Lia.
"Pagi sayang..." jawab Mama Lia.
"Sudah mandi cucu nenek?" tanya nenek Lia.
"Sudah nekk..." jawab Lia.
"Ayo sarapan... setelah itu kita pergi jalan jalan..." sambung papa Lia.
"Baik pa." jawab Lia
Setelah sarapan, keluarga itu pergi jalan jalan di sekeliling bali.
__ADS_1
"Anie, jaga rumah ya..." kata nenek Lia sebelum berangkat.
"Iya nya..." jawab bibik Anie.
Pemberhentian pertama, mereka pergi ke Pantai Pandawa.
Dinamakan Pantai Pandawa karena diambil dari kasus cerita Mahabharata, dimana para Pandawa dikurung dalam Goa Gala-Gala oleh Kurawa.
Tiba tiba, Lia teringat sesuatu. Lia lupa membawa ponsel. Sialnya, ia baru menyadari itu setelah sampai di pantai Pandawa.
Lia mencoba untuk tetap terbiasa tanpa ponsel dan headset. Lia menikmati pemandangan di pantai Pandawa. Pantai dengan laut yang biru cerah serta pasir yang yang bersih sangat memanjakan mata pariwisata.
Ini alasan mengapa papa Lia mengajak keluarganya untuk pergi ke pantai ini. Terlihat sederhana namun sangat memanjakan mata.
Tidak terasa, jam menunjukkan pukul tiga sore.
Sepanjang perjalanan, yang dipikirkan Lia hanya Andra. Ia tidak menikmati liburan di bali untuk kali ini.
"Cucuk nenek kenapa murung?" tanya nenek Lia di dalam mobil saat perjalanan pulang.
"Ah, gak apa apa nek." balas Lia
"Kenapa? bosan di Bali?" tanya neneknya lagi.
"Enggak kok nek. Malahan senang banget bisa ketemu nenek." jawan Lia dengan senyum.
__ADS_1
"Biasa lah bu, anak remaja. Masa masa galau bu, hahahah." sambung mama Lia
"Kamu dulu juga gitu toh, san." balas nenek.
Sampai di rumah, Lia langsung ke kamar dan mengambil ponselnya. Ia berharap akan dapat notif dari Andra. Tapi, semua tidak seindah yang di harapkan.
Andra tidak memberi kabar apapun, bahkan aktif di Instargam pun tidak. Di Instagram Andra terlihat bahwa terakhir aktif 2 hari yang lalu. Tentu saja, Lia cemas.
Lia takut sesuatu akan terjadi kepada Andra. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain mengambil kembali buku novel dari Andra. Selain itu, Lia juga mengingat momen momen yang indah saat di Bangka bersama Andra.
Momen di mana ia dengan Andra duduk di taman yang tak jauh dari rumahnya.
Momen di mana anak kecil yang menjadi isyarat Andra untuk mendekatinya.
Momen di mana ia mengobati memar di wajah Andra saat Andra bertengkar.
Selalu ada setiap celah celah yang mengingatkan Lia dengan Andra. Dan bahkan ia lupa, bahwa untuk cemas dia tidak memiliki hak apapun. Tiba tiba, Lia berpikir wajar saja jika Andra tidak mengabarinya. Dia hanyalah seorang teman dekat saja dan Tidak lebih dari itu.
Untuk menenangkan diri, Lia mencoba untuk keluar mencari udara segar di halaman rumah neneknya yang cukup luas.
Lia duduk di halaman sebelah sambil menikmati indahnya senja di sore hari. Lagi dan lagi, ia teringat dengan Andra.
Momen di mana mereka duduk berdua di taman saat pulang sekolah di sore hari.
"Kenapa jadi sedih begini?" ujar Lia dalam hati.
"Sabar Lia sabar! Kamu harus kuat! Bentar lagi juga balik lagi di bangka! Gak perlu cemas! Masih banyak waktu!" kata Lia menenangkan dirinya sendiri.
__ADS_1