Ditakdirkan Bersama

Ditakdirkan Bersama
Mencoba untuk ingat.


__ADS_3

1 minggu telah berlalu sejak nenek Lia tiada. Makin hari makin hampa rasanya bagi Lia untuk menjalani hidupnya. Namun satu yang selalu menjadi semangatnya, yaitu mama dan papanya yang sekarang ada di sisinya.


Sore hari, ia pulang dari kantor dan bersiap siap untuk pergi ke kampus. Jam menunjukkan tepat pukul 6 sore dan saatnya Lia berangkat ke kampus kemudian kembali lagi ke rumah. Begitulah keseharian Lia setiap hari. Ketika akhir pekan tiba maka tiba juga saatnya untuk meliburkan diri. Dan ketika akhir pekan berakhir, ia akan melanjutkan kembali kerja dan kuliahnya seperti biasa.


Tidak seperti biasanya kali ini sebelum pulang ke rumah selesai kuliah, Lia dan Nadya mampir sebentar di sebuah cafe yang tak jauh dari kampusnya karena sudah lama tak mampir di cafe itu.


Ia dan Nadya memesan secangkir kopi untuk di minum kemudian duduk bersantai di situ.


Tiba tiba seorang lelaki yang merupakan senior dari kampusnya menghampiri ia dan Nadya di cafe itu.


"Heii... boleh aku gabung?" tanya lelaki itu.


"Eh, boleh..." balas Nadya sambil tersenyum.


"Kenalin, aku Nathan." kata lelaki itu.


"Kalau aku Nadya." balas Nadya.


"Kalo yang ini siapa?" tanyanya seraya melihat ke arah Lia.


"Oh, aku Lia." kata Lia dengan sedikit senyum.


"Kalian belum pulang? Udah malam ni." kata Nathan.


"Belum. Kami masih mau bersantai sejenak di cafe ini." jawab Nadya.


"Lia kok diem aja?" tanya Nathan.


"Enggak." jawab Lia singkat.


Momen pada saat itu sangat canggung. Sepertinya Nathan, senior di kampus itu tertarik dengan Lia. Ia mencoba untuk mendekati Lia.


Namun entah kenapa, Lia tidak bisa membuka hati untuk lelaki lain. Bukan hanya Nathan yang mencoba mendekatinya. Ada banyak lelaki sebelum Nathan. Lia selalu merasa bahwa ia seakan akan sudah menjadi milik orang lain.


Itu alasan kenapa Lia tidak berniat sama sekali mendekati lelaki lain apa lagi membuka hati.


***


Sampai di rumah, Lia kelelahan dan beristirahat. Lia bosan dan tidak tahu sampai kapan Amnesianya akan sembuh. Ia cukup lelah dengan semua keadaan yang selalu membuat kepalanya sakit setiap kali mencoba mengingat sesuatu.


Saat ingin tidur tidak sengaja ia menjatuhkan ponselnya di bawah ranjang kasurnya.

__ADS_1


Lia mencoba meraih ponselnya. Namun bukan ponsel yang ia temui melainkan sebuah kotak yang lumayan besar.


Penasaran dengan isi di dalam kotak itu, ia mencoba untuk membuka kotak itu dan melihat ada apa di dalamnya.


Namun, tiba tiba saja mamanya mengetok pintu kamarnya dan memanggilnya.


Ia tak jadi membuka kotak itu dan kembali menyimpannya di bawah ranjang kasurnya.


"Sebentar maa..." kata Lia sambil membuka pintu.


"Ada apa ma?" tanya Lia.


"Tidak. Mama hanya memastikan bahwa kamu sudah pulang atau belum. Soalnya mama tidak lihat kamu sudah pulang." kata mamanya.


"Oh begitu. Yasudah, Lia mau istirahat dulu ya ma. Lia capek kerja sama kuliah." kata Lia


"Iya nak..." jawab mamanya kemudian pergi dari depan kamar anaknya.


Tiba tiba ia sadar dengan ponselnya yang terjatuh di bawah ranjang kasurnya. Ia mencoba meraih ponselnya dan akhirnya mendapatkan ponsel itu.


Tidak sengaja ia melihat kotak yang tadinya ingin ia buka. Tapi karena kelelahan dan matanya sudah mengantuk jadi dia memutuskan untuk tidak membuka kotak itu sekarang. Ia mengangkat kotak itu dan meletakkannya di atas lemari bajunya.


***


"Lia... apa kau lupa dengan ku?" tanya lelaki yang tak jauh darinya.


Lia mencoba untuk mendatangi lelaki itu untuk bertanya sesuatu kepadanya. Tapi, semakin ia mencoba untuk mendekati semakin jauh jarak lelaki itu. Jauh dan semakin jauh hingga tak terlihat lagi.


"Hahhh!!" jerit Lia membuka matanya.


"Ternyata hanya mimpi." kata Lia.


Jam menunjukkan pukul 6 pagi dan wajah Lia penuh dengan keringat yang bercucuran. Lagi lagi ia mimpi tentang seorang lelaki itu lagi.


Ia mencoba turun ke dapur untuk mengambil segelas air untuk di minum. Saat ke dapur, ia bertemu dengan mamanya.


"Pagi ma..." sapa Lia.


"Pagi sayang... tumben pagi banget bangunnya." kata mamanya.


"Iya..." kata Lia.

__ADS_1


Setelah meneguk segelas air ia mencoba memberanikan diri untuk bertanya kepada mamanya tentang mimpi itu.


"Ma..." panggil Lia.


"Iya sayang..." jawab mamanya.


"Boleh Lia bertanya sesuatu?" tanya Lia.


"Boleh sayang..." jawab mamanya.


"Sebenarnya selama ini, Lia selalu bermimpi seorang lelaki dengan taman yang sama sekali tak Lia ketahui. Apakah mama tau tentang itu?" tanya Lia.


Mamanya di kagetkan dengan pertanyaan itu. Tentu saja ia sadar kalau lelaki itu adalah Andra yang merupakan teman dekat anaknya. kemudian mamanya mencoba menjelaskan semuanya secara perlahan.


"Sebenarnya sebelum kecelakaan, kamu punya seorang teman dekat laki laki. Kamu menyukai dia waktu itu. Tapi, tidak tahu sekarang dia ada di mana. Semenjak kita pindah di bali, anak itu tidak pernah terlihat lagi." jelas mamanya.


Lia mencoba mengingat semuanya itu. Kepalanya mulai sakit dan ia merasa pusing.


Ingatannya mulai menggambarkan sesuatu. Ia melihat seorang lelaki yang ia temui di suatu bus, kemudian ia melihat seorang lelaki di taman itu sedang duduk bersamanya dan ia melihat tubuhnya tertabrak oleh mobil. Semua bayangan itu bercampur aduk sehingga membuat kepalanya sangat sakit.


"Aww..." jerit Lia kesakitan setelah mengingat semua itu.


Walau belum mendapatkan gambaran jelas siapa lelaki itu sebenarnya, namun perlahan ia mulai mengerti dan merasakan kalau sebelumnya ia mempunyai hubungan istimewa antara dia dan lelaki itu.


"Kenapa kepalamu sakit lagi??" tanya mamanya agak kepanikan.


"Iya ma..." kata Lia.


"Kalau belum bisa jangan di paksakan nak..." kata mamanya sambil memegang bahunya.


"Maa.... kalo Lia boleh tahu, siapa nama lelaki itu?" tanya Lia.


Mamanya sedikit ragu untuk menjawab pertanyaan Lia. Mengingat Andra adalah seseorang yang cukup penting dalam hidup Lia sebelumnya, ia takut jika ia menyebut nama Andra akan membuat Lia merasa sakit di bagian kepalanya dan pingsan lagi. Ia rasa belum saatnya untuk memberi tahu tentang nama Andra kepada anaknya itu.


"Maa... kenapa diam?" tanya Lia.


"Enggak kok. Mending kamu siap siap untuk kerja hari sudah mulai siang. Nanti kamu terlambat." kata mamanya menghindar.


Lia menyadari kalau mamanya menghindar dari pertanyaan yang ia tanyakan soal nama lelaki itu. Ia mengabaikannya kemudian pergi bersiap siap untuk bekerja.


Walau mengabaikan itu, rasa penasaran dalam hatinya menggebu gebu. Ia sangat ingin tahu siapa sebenarnya sosok lelaki yang selalu muncul hampir di setiap waktu dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2