
Saat sedang fokus bekerja di suatu perusahaan Lia terkejut dengan nada dering ponselnya. Ini masih pagi, tapi tiba tiba saja mamanya menelpon. Karena ingin tahu ada apa, maka ia mengangkat telepon dari mamanya. Awalnya ia pikir ada sesuatu yang tertinggal.
"Hallo ma.. kenapa telpon?" tanya Lia saat mengangkat telepon.
"Liaa... kamu pulang dulu nakk..." jawab mamanya dengan terisak isak menangis.
"Lho, mama kenapa nangis ma?" tanya Lia panik.
"Nenekmu sudah meninggal." jawab mamanya sambil menangis dengan kuat.
Mendengar kabar itu dalam sekejap Lia merasa dikejutkan dengan kabar itu. Padahal malam sebelum pagi ini, Neneknya terlihat biasa saja bahkan lebih sehat dari pada biasanya. Tentu ia tidak menduga hal ini akan terjadi dengan cepat.
Baru saja ia akan mengingat semua hal tentang neneknya namun begitu cepat Tuhan menjemputnya. Masih ada banyak pertanyaan dalam hatinya mengenai neneknya itu.
Setelah mendapat kabar itu, Lia segera meminta izin kepada atasannya kemudian pulang untuk melihat neneknya.
"Nenekk... aku pulangg..." ucapnya dalam Hati sambil menangis saat mengendarai mobil.
Saat sampai di rumah, ia terkejut melihat ada banyak orang bersamaan dengan tenda tenda di depan rumahnya.
Ia berlari dengan kencang menghampiri neneknya. Ketika tiba di depan pintu rumah, ia mendapati sebuah peti kayu coklat dengan sebuah bingkai foto di atas peti itu.
__ADS_1
Di dalam bingkai itu terdapat sebuah foto neneknya dengan paras wajah yang cantik dan lesung pipit yang menghiasi wajah neneknya.
Rasa duka menghiasi suasan hati Lia saat itu. Ia terkejut dan juga sedih ketika melihat raga neneknya yang sudah berada dalam peti mati.
Ia menangis terisak-isak begitu juga dengan mamanya yang memeluknya saat itu. Waktu berlalu dengan cepat, belum sempat lagi ia mengingat kembali bagaimana sosok nenek yang sebenarnya. Memang sekilas ia nampak sudah tau siapa neneknya, Tapi masih banyak memori yang terpendam tentang neneknya. Namun apa daya jika yang di atas sudah berkata waktunya pulang.
Tanpa menunggu waktu yang lama, selesai beribadah langsung saja neneknya di makamkan. Ini adalah saat terakhir Lia melihat neneknya. Walau belum sempat mengenal dengan jelas tapi dalam lubuk hatinya berkata bahwa neneknya adalah sosok yang sangat ia sayangi selama ini.
Selesai memakamkan jenazah neneknya, tiba tiba ia merasa sakit kepala yang sangat berlebihan. Lagi lagi ia mendapat gambaran jelas di pikirannya tentang dia dan neneknya. Tidak seperti biasanya, gambaran itu semakin banyak sehingga membuat kepalanya sakit sekali.
Karena sudah tak tahan, tubuhnya mulai tumbang dan penglihatannya mulai buram. Ia pingsan di dekat daerah perkuburan neneknya.
Papanya langsung menggendong dia kemudian membawanya ke dalam mobil.
Sesampai di rumah, Lia bangun dari pingsannya. Ia mulai merasa bingung kenapa ia ada di rumah.
"Ma..." panggil Lia dengan nada lemah.
"Kamu sudah bangun nak?" tanya mamanya agak panik.
"Kenapa Lia di sini?" tanya Lia kebingungan.
__ADS_1
"Tadi kamu pingsan saat di pemakaman nenekmu." kata mamanya.
"Oh iya. Tadi Lia sempat mendapat sejumlah ingatan yang kembali pulih. Lia ingat bahwa nenek pernah mengatakan dalam kondisi apapun Lia tak boleh sedih dan harus bahagia selalu. Lia juga ingat ketika Lia memeluk nenek saat ingin pulang ke bangka." jelas Lia kepada mamanya.
"Oh yaa? Kalau begitu baguslah. Ingatanmu sudah mulai pulih secara perlahan." kata mamanya dengan legah.
"Apa kepalamu masih pusing?" tanya mamanya.
"Tidak ma..." jawab Lia.
Beberapa hari setelah neneknya tiada Lia selalu merasa ada bagian yang kurang dari keluarganya. Bahkan terkadang jika tak sadar ia masih mengucapkan selamat pagi kepada neneknya di ruang makan. Apalagi ketika melihat kursi goyang yang pernah diduduki oleh neneknya ia selalu merasa bahwa neneknya berada di situ.
Malam hari, saat memegang liontin di lehernya ia merasakan sesuatu tentang neneknya. Lagi dan lagi ia mendapat gambaran di dalam ingatannya. Ingatannya mengatakan bahwa liontin itu adalah pemberian neneknya. Selain itu, Lia juga melihat serta mendengar neneknya pernah berkata kepadanya bahwa ia harus menjaga liontin itu dengan baik.
Kepalanya mulai sakit ketika mengingat hal itu. Penglihatannya mulai kabur dan buram.
Setelah mengalami sakit kepala yang cukup berlangsung lama, akhirnya ia mendapatkan lagi sebagian pikiran yang terlupakan. Ia ingat dimana saat neneknya sedang duduk bersantai di kursi roda kemudian memanggil dia dan memberikan sebuah liontin untuknya.
Karena tak ingin terlalu memikirkannya dengan keras, ia memutuskan untuk beristirahat dan masuk ke kamarnya.
Hari hari ia jalani tanpa neneknya cukup berat. Tapi, jika sudah waktunya untuk neneknya pulang ia tidak bisa berkata apa apa. Ia hanya bisa menerima semua keadaan dengan lapang dada.
__ADS_1