
2 jam berlalu dan belum juga ada kabar dari dokter. Mama dan papa Lia sangat khawatir kalau sesuatu yang buruk akan menimpa Lia. Tiba tiba saja mereka di kejutkan dengan hadirnya Leah dan Andra.
"Tantee gimana keadaan Lia??" tanya Leah kepanikan.
"Belum ada kabar dari dokter Leah.. Tante juga cemas..." kata mama Lia.
"Tante, Andra minta maaf ya." kata Andra sambil menunduk.
"Andra.... tante kan sudah bilang. Tidak ada yang salah tentang kejadian ini. Semua ini sudah menjadi jalannya. Jadi jangan salahkan dirimu nak..." jelas mama Lia dengan lemah lembut.
Tiba tiba dokter keluar dari ruang kamar Lia. Langsung saja, mama Lia dan papanya datang menghampiri dokter.
"Dokk gimana keadaan anak saya??" tanya papanya dengan panik.
"Tenang dulu pak. Anak bapak sudah melewati masa kritisnya." kata dokter.
"Syukurlahh..." kata mama Lia dengan legah.
"Tapi, ada beberapa hal yang perlu saya jelaskan. Tolong ibu dan bapak ikut ke ruangan saya." kata dokter.
Mama Lia dan papanya mengikuti dokter ke suatu ruangan. Sedangkan Andra dan Leah menunggu di luar.
"Begini pak buk, anak bapak dan ibu diduga akan mengidap Amnesia Disosiatif. Ini di akibatkan karena benturan yang cukup keras di kepalanya sehingga mengganggu saraf ingatan di otaknya." jelas dokter di ruangan itu.
Mama Lia menangis dan shock dengan apa yang di katakan dokter tentang penyakit yang menimpa Lia. Ia takut bahwa Lia tidak akan mengingat dirinya lagi sebagai orang tuanya.
"Lalu apakah anak saya tidak akan ingat dengan kami orang tuanya dok?" tanya papa Lia dengan panik.
"Kalau itu saya belum tahu pak. Soalnya penyakit ini hanya kesulitan dalam mengingat informasi seseorang dan tidak tahu apakah ananda akan lupa atau ingat dengan kalian. Jadi dalam kondisi seperti ini bisa saja dia tahu siapa kalian namun tidak ingat nama kalian atau sebaliknya." jelas dokter.
"Lalu pengobatan apa yang bisa menyembuhkan anak saya dok?" tanya mamanya sambil meringis menangis.
"Ibu tenang dulu. Penyakit semacam ini bisa di sembuhkan secara perlahan dengan psikoterapi. Ibu cukup bawa di rumah sakit sesuai jadwal yang nantinya akan saya tentu kan." jelas dokter.
"Selain itu dok? Apakah ada alternatif lainnya?" tanya papa Lia.
__ADS_1
"Ada pak. Kalian sebagai orang tua bisa membantu ananda untuk mengingat setiap peristiwa yang di lupanya." kata dokter.
"Baiklah dok." jawab papa Lia dengan lemas.
Mereka keluar dari ruangan itu dan tak hentinya mama Lia menangis. Leah dan Andra terkejut melihat mama Lia yang menangis tersendu sendu.
"Tann, apa yang terjadi?" tanya Leah cemas.
"Li..Li..Lia diduga akan mengidap Amnesia Disosiatif..." jawab mama Lia tersendu sendu.
"APAAA??!" teriak Leah terkejut di iringi dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Tante yang sabar ya tan... Kita doakan Lia cepat sembuh..." kata Leah sambil memeluk mama Lia.
"Iya Leahh..." kata mama Lia dan memeluk Leah.
Sementara Andra sangat terkejut ketika mendengar bahwa wanita yang sangat ia sayangi mengidap penyakit Amnesia Disosiatif. Seketika hatinya hancur dan ia terus menerus merasa bersalah. Ia merasa dirinya sangat tak berguna. Saat itu rasa sedih bercampur kesal menyelimuti suasana hati Andra.
Setelah beberapa menit berlalu mereka mendapat kabar dari perawat bahwa Lia sudah sadar.
Tentu saja yang pertama kali masuk adalah orang tua Lia. Mama dan papanya masuk menghampiri dia. Sedangkan Lia, ia mulai kebingungan ketika melihat mama dan papanya.
"Lia... ini mama nakk..." kata mama Lia sambil menangis.
"Iya nakk... ini papa..." sambung papanya.
"Ka..kalian ke..kenapa? Kenapa aku di sini? Dan siapa Lia?" tanya Lia dengan suara lemah.
"Kamu anak ku. Aku mama mu dan ini papa mu. Lia itu adalah namamu." jelas mamanya sambil memegang pipinya.
Tiba tiba, Lia merasa sakit di bagian kepalanya. Dia mencoba mengingat apakah kedua orang yang sekarang di depannya adalah orang tuanya atau tidak.
"Aww..." jerit Lia kesakitan.
"Kenapa nak? sakit yaa?" tanya papanya cemas.
__ADS_1
"Iyaa ... " balas Lia dengan lesu.
Melihat itu mamanya semakin sedih dan menangis.
Setelah merasa sakit, barulah ia ingat dengan wajah orang tuanya. Tapi ia masih kebingungan dengan dirinya.
"Sekarang aku ingat, kalian adalah orang tua ku..." kata Lia.
Mendengar hal itu, Mamanya sedikit terkejut dengan apa yang di katakannya. Mamanya memanggil dokter dan bertanya dengan apa yang telah terjadi.
Dokter terkejut dengan perkembangan yang begitu cepat.
Dokter menjelaskan bahwa itu memang hal yang biasa. Perkembangan pikiran Lia mulai pulih secara perlahan. Namun, Lia masih harus di rawat dan harus menjalani terapi dengan rajin.
Mendengar apa yang di katakan dokter mama dan papa Lia sangat senang.
Tapi, bagaimanakah dengan Andra dan Leah?
Apakah kelak Lia masih akan mengingat Andra? Dan Leah sahabatnya?
Setelah mama dan papanya keluar, mereka memperbolehkan Andra dan Leah untuk masuk. Tapi, mamanya menegaskan untuk tidak banyak bertanya dulu dengan Lia.
"Lia...." panggil Andra dengan berlinang air mata.
"Lia... bagaimana keadaanmu?" tanya Leah.
"Aku baik baik saja. Tapi, siapa kalian?" tanya Lia kebingungan melihat Leah dan Andra.
"Biar ku jelaskan. Aku adalah Leah sahabat masa kecil mu. Dan ini adalah Andra teman dekatmu." jelas Leah.
Lagi lagi Lia merasa kepalanya kesakitan saat mencoba untuk mengingat. Namun, kali ini ia belum mendapat gambaran jelas di pikirannya tentang Leah dan Andra.
"Bisakah kalian meninggalkan aku sendirian terlebih dahulu?" tanya Lia dengan lemas.
Mendengar perkataan itu, Andra menangis dan tak kuat melihat Lia. Ia keluar dan pergi dari rumah sakit. Dengan rasa bersalahnya ia berlari dab terus berlari. Sementara Leah kebingungan dan sedikit sedih mendengar apa yang di katakan oleh Lia. Tidak lama, ia keluar meninggalkan Lia sendiri di ruangan itu.
__ADS_1