
Jam menunjukkan pukul jam 4 sore. Saatnya Lia dan mama papanya akan kembali ke kampung halaman.
Sama seperti saat akan pergi ke Bali, perasaan Lia bercampur antara sedih dan senang. Ia senang akan kembali ke bangka dan bertemu Andra. Tapi ia juga sedih akan meninggalkan neneknya di Bali.
"Bu, kami pamit dulu ya." kata mama Lia.
"Ibu baik baik ya di bali..." sambung papa Lia.
"Nek, Lia pulang dulu ya :( " kata Lia kepada neneknya dengan raut wajah sedih.
"Kalian hati hati ya. Tidak usah khawatirkan ibu, Ibu akan baik baik saja di sini." jawab nenek Lia dengan senyum yang indah.
Entah mengapa, Lia tidak ingin jauh dari neneknya. Rasa cemas selalu menghantui pikirannya. Entah apa yang ada di pikirannya, tapi ia merasa kalau ini adalah pertemuan terakhir dengan neneknya.
Kembali air mata jatuh membasahi pipinya saat melihat senyum neneknya yang indah.
Lia memeluk neneknya dengan erat sebelum berangkat ke bandara.
"Nekk, berjanjilah nenek akan baik baik saja." kata Lia sambil memeluk neneknya.
"Iya sayang. Kamu juga harus janji gak boleh sedih dengan keadaan apapun." kata neneknya sambil melepas pelukan dan mengelus kepala Lia.
"Lia jalan dulu ya nek." kata Lia sambil menarik kopernya.
Neneknya tidak menjawab dan tersenyum melihat Lia dan keluarganya saat akan naik ke mobil.
__ADS_1
Saat dalam perjalanan ke bandara Bali Lia menatap ke arah jendela mobil. Ia melihat gambar yang ada dalam Liontin yang di pakai di lehernya. Lagi dan lagi, air mata jatuh tanpa sadar dan membasahi pipinya.
"Lia kok nangiss sihh..." kata mamanya sambil memeluknya di dalam mobil.
"Lia takut sesuatu akan terjadi kepada nenek ma..." kata Lia seraya menyandarkan kepala di dada mamanya.
"Sayang, kamu gak boleh mikir yang aneh aneh... Kamu harus yakin nenek akan baik baik saja. Percaya kepada mama bahwa nenek kamu akan sehat sehat saja..." kata mamanya.
"Iya maa..." jawab Lia.
Tiba tiba ponsel Lia berdering.
"Drrttt ddrttt..." getar ponsel di dalam tas Lia.
Lia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelpon. Tidak di sangka, itu adalah Andra. Hal ini sedikit menghibur dirinya.
"Kamu sudah di bandara?" tanya Andra.
"Belum.. ini masih dalam perjalanan ke Bandara." jawab Lia.
"Ohh, aku kangen nih." kata Andra.
"Hm..." balas Lia gugup.
"Kamu gak kangen aku?" tanya Andra.
__ADS_1
"Iya aku kangen." jawab Lia singkat.
"Sudah gak sabar ya?" tanya Andra.
"Hmm iya nih." jawab Lia.
"Tenang, besok kita sekolah. Nanti aku jemput ya ke sekolah. Gimana?" tanya Andra.
"Hemm, okee." jawab Lia.
"Aku tutup telponnya ya ..." kata Andra lagi.
"Oke..." balas Lia.
Selesai berbicara dengan Andra perasaan Lia menjadi agak legah dan tidak cemas lagi.
Percakapan singkat yang lagi lagi membuat Lia semakin senang saja. Lia semakin yakin bahwa Andra memang ditakdirkan bersama dengannya. Kian hari kian indah saja kisah cinta mereka.
Dulunya mereka seperti orang yang tak mengenal satu sama lain. Tapi siapa sangka bahwa sekarang mereka akan sedekat ini.
Lia dan orang tuanya tiba di bandara Bali. Setiba mereka di sana langsung saja pesawat akan terbang ke Bangka. Dengan cepat mereka membawa koper dan menuju tempat lepas landas pesawat dan segera masuk.
Lia sudah tidak sabar lagi untuk menemui Andi kelak besok. Tapi, di tengah tengah rindu itu Lia juga memikirkan neneknya. Dan bahkan ia masih penasaran dengan Amplop putih yang sempat ia temukan di kamar neneknya.
2 jam berlalu akhirnya keluarga itu sampai di Bangka. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Lia langsung saja mengganti baju dan berbaring sejenak di kasurnya. Setelah itu, Lia menyiapkan buku sekolahnya untuk besok. Dia sangat terburu buru karena ingin istirahat lebih awal agak besok tidak kesiangan.
Menit demi menit berlalu. Tanpa sadar ia terlelap dan tidur dengan nyenyak.