
Saat sedang bersantai dengan neneknya di ruang tamu, Lia dikejutkan dengan orang yang mengetok pintu rumahnya.
"Sebentarr..." teriak Lia seraya membukakan pintu.
"Heiii Lia..." sapa Nadya, teman kampusnya.
"Haiii Nadya... kok kamu gak bilang sih mau datang..." sambut Lia dengan ramah.
"Marii masuk dulu ..." suruh Lia.
"Enggak usah Lia... begini, aku mau ajak kamu di pantai... Kan kamu selama pindah di bali belum pernah main ke pantai... lagian kamu juga capek kan kerja sama kuliah teruss..." jelas Nadya.
"Hmm, oke deh. Aku siap siap dulu ya. Kamu masuk dulu tunggu aku." kata Lia
"Okee..." jawab Nadya sambil masuk dan menunggu Lia.
Setelah beberapa menit bersiap siap, Lia keluar dengan mengenakan baju Bali kesukaanya. Kemudian, ia pamit dengan mama dan neneknya di rumah lalu pergi ke pantai dengan Nadya.
"Ayo Nadya..." ajak Lia.
"Ayo..." jawab Nadya.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mereka sampai di sebuah pantai yang sangat indah.
Saat sampai di pantai, Lia merasa sudah pernah mengunjungi pantai ini sebelumnya. Padahal ia tidak mengetahui apapun soal pantai itu.
"Ayo Lia kita ke sana..." ajak Nadya untuk pergi ke tempat duduk di sekitar sana.
"Ayo..." kata Lia seraya mengikuti Nadya.
Saat melihat pantai itu dengan jarak yang cukup dekat, lagi lagi ia seperti melihat bayangan ia dengan keluarganya yang bersantai di pantai itu.
"Hm, Nadya." panggil Lia.
"Iya Lia ..." jawab Nadya yang sedang menikmati angin sepoi sepoi di pantai itu.
"Kalau aku boleh tau, ini pantai apa?" tanya Lia.
"Ohh, pantai ini namanya Pantai Pandawa." balas Nadya.
__ADS_1
Saat mendengar kata "Pandawa" dari mulut Nadya entah kenapa tiba tiba kepalanya sakit dan ia mulai pusing. Bayangan yang di pikirannya semakin menggambarkan dengan kuat sosok ia dan keluarganya yang sedang bermain di pantai itu.
"Aduh..." jerit Lia kesakitan sambil memegang kepalanya.
"Loh kamu kenapa??" tanya Nadya kepanikan.
"Enggak kok, aku enggak apa apa Nad. Ini hal biasa. Kamu kan sudah tau." kata Lia.
"Pikiran kamu?" tanya Nadya.
"Iya..." balas Lia.
"Kamu tunggu di sini dulu, aku beli minum sebentar. Kamu jangan kemana mana ya ..." kata Nadya.
"Iya ..." jawab Lia.
Nadya adalah sosok teman yang tidak jauh berbeda dengan Leah, sahabat Lia yang dulu.
Nadya adalah sosok yang lembut dan pengertian sama seperti Leah. Hanya saja, paras wajah mereka yang berbeda.
"Ini kamu minum dulu..." kata Nadya seraya menyerahkan air minum.
Setelah meminumnya ia merasa rasa sakit di kepalanya agak meredah.
"Gimana? Masih sakit? Kalau masih sakit aku antar kamu pulang ya..." kata Nadya sedikit cemas dengan Lia.
"Sudah agak mendingan kok." jawab Lia.
"Huhh... syukurlah." kata Nadya dengan legah.
Mereka cukup bersenang senang di pantai itu. Setelah cukup lama berada di pantai, Nadya mengajak Lia untuk pulang.
"Lia ayo pulangg, ini sudah mulai sore..." kata Nadya.
"Ayo..." jawab Lia.
Nadya mengantarkan Lia kemudian ia pulang ke rumahnya.
Lia cukup merasa senang dengan akhir pekan minggu ini. Tidak lupa setelah pulang dari pantai, ia mencoba untuk menceritakan kepada mamanya tentang bayangan yang ia dapat di pantai itu.
__ADS_1
"Ma...." panggil Lia.
"Eh kamu sudah pulang? Gimana seru gak?" tanya mamanya.
"Sudah ma. Ke pantai memang sangat menyenangkan. Tapi bolehkah Lia menanyakan sesuatu kepada mama?" tanya Lia.
"Boleh sayang ..." jawab mamanya.
"Apa sebelumnya kita pernah pergi ke pantai Pandawa?" tanya Lia.
Pertanyaan itu cukup mengejutkan mamanya. Dengan perlahan, anak perempuannya itu mulai mendapati ingatannya kembali.
"Hm, biar mama ceritakan. Dulu, sebelum kamu kecelakaan kamu pernah pergi ke Bali bersama mama dan papa saat libur sekolah. Nah, saat berlibur kamu pernah pergi ke pantai Pandawa bersama mama, papa, dan nenek. Saat itu nenekmu belum sakit sakitan." jelas mamanya.
Lagi lagi ia merasa pusing dan sakit di bagian belakang kepalanya.
"Kamu kenapa? Kepalamu sakit lagi?" tanya mamanya sedikit panik.
"Hmm, iya ma..." kata Lia.
"Kalau tidak bisa ingat, jangan di paksakan Lia nanti kamu kesakitan." kata mamanya agak panik.
Setelah merasa sakit kepala yang cukup, akhirnya sebagian kecil dari ingatannya kembali. Ia ingat saat liburan ke Bali bersama keluarganya waktu itu.
"Ah, Lia sudah ingat ma..." kata Lia.
"Bagus lah kalau begitu nak..." balas mamanya senang.
Perlahan dan perlahan Lia mulai mendapati kembali ingatan dan kenangan yang hilang karena sebuah kecelakaan.
Namun, ia masih belum bisa mengingat dengan jelas siapa sosok lelaki yang hampir setiap malam datang dalam mimpinya.
Ia juga belum bisa mengingat jelas bagaimana hidupnya yang dulu.
Ada banyak perubahan dalam hidupnya. Lingkungan hidupnya yang dulu jauh berbeda dengan lingkungan sekarang tempat ia tinggal. Hal ini membuat ia kesulitan untuk menemukan sejumlah ingatan yang hilang.
Selain perbedaan lingkungan, ada banyak kesibukan yang membuat dirinya tidak memiliki waktu untuk mengingat kembali hidupnya yang lama.
Ingatan mungkin hilang. Namun, perasaan dalam lubuk hati yang paling dalam tidak bisa hilang begitu saja. Walau tidak bisa mengingat apa yang terjadi, kamu akan merasakan hal yang tidak asing dengan hal yang tidak bisa kamu ingat.
__ADS_1