
"Riiing...." bunyi bel istirahat.
"Anak anak saatnya istirahat." kata bu guru.
"Baikk buu..." jawab murid serentak.
Semua murid pergi ke kantin untuk membeli jajanan. Tapi tidak dengan Lia. Seperti biasa, Lia selalu membawa bekal yang telah di persiapkan oleh mamanya. Jarang sekali anak itu mengunjungi kantin. Lia hanya akan mengunjungi kantin ketika tidak membawa bekal.
"Liaa.. aku mau ke kantin. Kamu mau nitip?" tawar Andra.
"Ah, gak usah. Kalau mau aku bisa beli sendiri nanti." tolak Lia.
"Baiklah, aku pergi ke kantin dulu ya." balas Andra.
Semua berjalan seperti biasanya. Lima belas menit setelah Andra pergi ke kantin tiba tiba terdengar suara keramaian dari lapangan upacara.
"Liaaa ... Andra dipukul sama kakak kelas..." kata Leah dengan panik kepada Lia.
Seketika Lia terdiam dan tidak bisa berbicara karena kepanikan. Lia dan Leah bergegas ke lapangan upacara di tengah keramaian.
Untungnya, pak satpam datang dan meleraikan perkelahian itu.
"Sudahhh!!! Semuanya bubarr!!!" tegas pak satpam.
Kerumunan di tengah lapangan membubar. Semua siswa di sekolah kembali ke kelas masing masing. Begitu juga dengan Lia. Sambil menatap cemas Andra, ia kembali ke kelas dengan berjalan perlahan.
Saat kembali ke kelas, semuanya kembali normal. Pelajaran di lanjutkan hingga sore. Jam menunjukkan waktu tepat pukul 15.30 pm. Saatnya anak anak pulang ke rumah masing masing.
"Riiiiinggg...." dering bel pulang.
"Anak anak, sampai di sini pembelajaran kita hari ini. Semoga bermanfaat." kata pak guru.
"Iyaa pakk..." jawab murid serentak.
Lia dengan cepat mengemasi barang barangnya. Setelah itu, ia bergegas kembali pulang ke rumah bersama sama dengan Leah.
"Liaaa..." panggil Andra.
Panggilan Andra membuat langkah Lia berhenti.
"Iya ada apa?" jawab Lia sambil membalikkan badan ke belakang.
"Pulang aku antar ya." kata Andra
"Oh, oke." jawab Lia.
"Liaa, kalau begitu aku jalan dulu ya dah..." kata Leah kepada Lia
"Iya, hati hati ya..." balas Lia.
Andra mendatangi Lia dan mengajaknya ke parkiran untuk mengambil motor terlebih dahulu. Saat hendak berjalan menuju parkiran, Lia selalu memperhatikan luka memar di wajah Andra.
__ADS_1
"Apa tidak sakit memarmu itu? Tidak diobati?" tanya Lia khawatir.
"Tidak. Ini hanya luka kecil saja." balas Andra.
"Lia, nanti kita mampir sebentar di taman boleh kan?" tanya Andra.
"Mau apa di sana?" tanya Lia.
"Aku hanya ingin duduk bersamamu seperti saat kita jogging di pagi hari waktu itu." jelas Andra.
"Oh, baiklah. Tapi jangan terlalu lama ya." jawab Lia.
Andra menggonceng Lia dengan motor Ninjanya yang biasa ia pakai ke sekolah. Saat naik motor, Lia meminta Andra untuk berhenti di toko dekat persimpangan.
"Andra, nanti berhenti di toko depan ya." kata Lia
"Oh, oke." jawab Andra.
Lia membeli betadine, kapas, dan handsaplast untuk mengobati luka memar di wajah Andra.
Selesai dari toko, Lia dan Andra melanjutkan perjalanan ke taman.
Saat sampai di taman, mereka langsung duduk di kursi panjang yang ada di bawah pohon.
Sambil menikmati indahnya senja di sore hari, Andra menceritakan kejadian yang terjadi tadi siang di sekolah. Sedangkan Lia mengobati memar Andra.
"Sini biar ku obati dulu memar di wajahmu itu." kata Lia sambil mengambil alat yang di belinya tadi.
"Udah diemm..." potong Lia ketika Andra hendak menolak.
"Aww ...." jerit Andra kesakitan.
"Aduh maaf... sakit ya?" tanya Lia.
Andra terdiam memandang Lia.
"Ada apa? Kenapa wajahku aneh ya?" tanya Lia kepanikan.
"Enggak kok. Kamu kelihatan lucu kalo lagi panik." ungkap Andra.
"Ihh, kamu bisa aja. Lagian kenapa sih bisa sampai berkelahi sama anak kelas XII?" tanya Lia kesal.
"Tadi aku tak sengaja menyenggolnya ketika ingin kembali ke kelas. Tidak tahu kenapa
tiba tiba saja ia langsung menyerang ku dengan tinju nya. Karena emosi jadi aku menendang perutnya." jelas Andra kepada Lia.
"Ohh begitu. Sudahlah. Lebih baik kita kembali ke rumah masing masing. Sekarang sudah jam empat lewat." kata Lia kepada Andra.
"Baiklah." balas Andra.
Andra mengantarkan Lia pulang. Saat di depan pagar rumah Lia, Andra pamit pulang dengan Lia.
__ADS_1
"Lia, aku pulang dulu ya." pamit Andra.
"Iyaa, hati hati. Nanti memarmu itu jangan lupa di obati." jawab Lia.
"Iya cerewett..." balas Andra sambil tersenyum manis.
Lia tersenyum dan segera masuk ke rumah.
"Maa... Lia pulang." sapa Lia kepada mamanya.
"Tumben hari ini pulangnya agak telat sayang." jawab mama Lia.
"Iya ma... tadi Andra mengajak Lia pergi ke taman sebentar untuk mengobati memar di wajahnya." jelas Lia kepada mama.
"Loh... kenapa bisa memar?" tanya mama Lia.
"Tadi Andra di pukuli dengan anak kelas XII hanya karena tidak sengaja menyenggolnya." jelas Lia lagi.
"Ohh, begitu. Sekarang memarnya sudah mendingan?" tanya mama Lia.
"Sudah agak mendingan." jawab Lia
"Ma... Lia naik ke atas dulu ya. Mau mandi soalnya." kata Lia.
"Yasudah." jawab mamanya.
Lia naik ke atas dan segera mengambil handuk kemudian mandi. Selesai mandi Lia terpikir oleh memar Andra.
"Dari pada khawatir terus menerus, lebih baik aku tanya saja." pikir Lia.
Lia mengambil ponselnya kemudian mengirim pesan DM di Instagram Andra.
Walau sekeliling tubuhnya sakit, Andra merasa senang dengan perhatian yang ditunjukkan Lia. Hal ini membuat mereka semakin dekat.
Begitu juga dengan Lia. Tidak tahu apakah harus cemas atau senang dalam menghadapi kejadian hari ini.
Lagi lagi, Lia merasakan semua ini seperti direncanakan.
Selama sekolah, ada banyak pria yang mengincar Lia dan mencoba untuk mendekati nya.
Tapi, Lia tidak bisa membuka hati untuk pria lain selain Andra seorang.
Hati Lia di kuasai oleh Andra seorang. Layaknya Bulan di malam hari yang menerangi bumi dan tidak membiarkan satu kegelapan pun untuk masuk.
Apakah masa masa selanjutnya akan tetap menjadi masa terindah Lia dan Andra? Atau nantinya hanya akan menjadi kenangan saja?
Tidak ada yang pernah tahu kedepannya bagaimana. Apakah akan menjadi tetap menjadi masa terindah atau bisa saja menjadi kenangan yang nantinya akan dirindukan.
Semua ini adalah Rahasia Tuhan.
__ADS_1