Ditakdirkan Bersama

Ditakdirkan Bersama
Sebuah pohon kenangan.


__ADS_3

Mama dan papanya sedang menghadiri acara alumni bersama teman SMA mereka.


Hanya ada tiga orang di rumah itu. Lia, neneknya, dan bibik Anie.


Karena merasa bosan di rumah, Lia mencoba untuk keluar berjalan jalan di lingkungan rumah neneknya.


Lia duduk di tempat ayunan yang bergantung di pohon besar yang daunnya sangat lebat. Tiba tiba, neneknya menghampirinya dan duduk di kursi panjang tidak jauh dari ayunan Lia.


"Kamu senang dengan ayun ayun ini ya?" tanya nenek Lia.


"Ah, iya nek. Lia bosan di kamar terus." jawab Lia.


"Cucu nenek sudah besar sekarang." ujar neneknya lagi.


Lagi lagi, Lia di buat bingung dengan perkataan neneknya. Semakin hari semakin aneh saja. Tapi, Lia mencoba untuk mengabaikannya dan tetap berpikir postif.


"Coba lihat pohon yang ada di sebelah kamu" kata neneknya.


Lia melihat pohon itu dan menemukan sejumlah kata. Ada dua nama orang terukir dengan jelas di kulit pohon itu. Nama yang terukir adalah 'Dahlia' dan 'Sanjaya' serta dikelilingi bentuk ukiran hati di sekitar pohon itu. Nama itu adalah nama nenek Lia dan kakeknya.

__ADS_1


"Siapa yang mengukir ini nek?" tanya Lia.


"Dulu, saat nenek dan kakekmu masih pacaran kami sering bertemu di pohon ini. Belum ada rumah ini pada waktu itu. Dulunya ini adalah taman yang sangat indah. Di sinilah saat saat nenek dan kakekmu melepas rindu ketika sudah lama tidak bertemu." jelas neneknya.


Lia terkejut dengan apa yang diceritakan oleh neneknya. Tiba tiba, terlintas di pikirannya soal Andra. Lagi dan lagi, Lia merindukan Andra. Melihat pohon itu dan mendengar apa yang di ceritakan oleh neneknya, Lia ingat dengan tempat duduk di taman itu yang kerap ia kunjungi dengan Andra.


"Nekk..." panggil Lia.


"Iya sayang..." jawab neneknya.


"Boleh Lia bertanya?" tanya Lia.


"Tentu. Kenapa tidak." balas neneknya.


"Tentu saja iya." jawab neneknya.


"Apakah nenek pernah berpisah dengan kakek sebelumnya?" tanya Lia lagi.


"Pernah. Saat itu ibu nenek mencoba untuk menjodohkan nenek dengan orang lain." balas neneknya.

__ADS_1


"Lalu apa yang terjadi?" tanya Lia.


"Tapi, takdir berkata lain. Orang yang ingin dijodohkan dengan nenek bertengkar dengan ayah nenek karena satu permasalahan besar. Dan perjodohan itu di batalkan dalam sekejap." jelas neneknya.


"Bagaimana dengan kakek?" tanya Lia.


"Ya, lagi lagi takdir berkata lain. Tidak sengaja kakekmu bertemu dengan ayah nenek di sebuah perusahaan. Kakekmu bekerja di perusahaan ayah nenek dan menjadi anak buah kesayangan ayah nenek. Sehingga, kami di jodohkan dan menikah." balas neneknya.


"Apakah sebelumnya ayah nenek belum pernah melihat kakek?" tanya Lia.


"Tidak. Karena waktu itu nenek berpacaran secara diam diam." balas nenek Lia.


"Oh begitu." seru Lia.


Neneknya tersenyum melihat Lia. Dan entah kenapa begitu melihat neneknya tersenyum, Lia merasa senyumnya itu sangat berbeda dengan biasanya.


Neneknya masuk ke rumah sedangkan ia tetap duduk di ayunan dekat pohon itu.


Lia mengambil sebuah batu kerikil yang tajam dan mengukir namanya dan Andra di pohon besar itu. Berharap kelak suatu saat nanti dia dan Andra juga akan ditakdirkan bersama seperti nenek dan kakeknya.

__ADS_1


Tiba tiba, ia teringat akan neneknya lagi. Neneknya sudah cukup tua dan sakit mulai menyerang tubuh neneknya. Mengingat hal itu, membuat Lia cemas.


Tidak ada yang bisa dia lakukan selain berdoa dan berharap agar neneknya tetap baik baik saja.


__ADS_2