Ditakdirkan Bersama

Ditakdirkan Bersama
Ayunan membawa sejarah.


__ADS_3

"Pagi pa, ma, nek." sapa Lia di pagi hari kepada keluarga kecilnya.


"Pagii sayangg..." balas Mamanya seperti biasa.


"Eh, dayang udah bangun." kata neneknya dengan senyum manis.


Pagi Lia di Bali, cukup di hiasi dengan keharmonisan dalam keluarganya yang sederhana.


Berharap selalu bisa berkumpul bersama neneknya terus menerus setiap hari. Tapi, apa daya. Neneknya tidak bisa pindah. Rumah itu sudah menjadi peninggalan kakeknya.


Nanti jika kelak neneknya akan pulang di hari tua, maka yang meneruskan adalah cucu satu satunya. Siapa lagi kalau bukan Lia. Wanita remaja yang sekarang sedang jatuh cinta.


"Nek." kata Lia dengan singkat.


"Iya cucuk nenek yang paling manis?" jawab neneknya.


"Apa tak bisa kalau nenek pindah di bangka?" tanya Lia.


"Tidak sayang. Nenek harus jaga rumah ini. Rumah ini adalah satu satunya peninggalan kakek kamu. Nanti kalau nenek pulang di hari tua, kamu yang akan di sini." balas neneknya sambil memegang pipi Lia.


"Bu, jangan ngomong gitu. Masih pagi." sambung mama Lia.


"Iya nek. Lia agak kurang enak dengernya." kata Lia.


"Hahahah, kalian ini sedang mencemaskan nenek ya?" tanya neneknya dengan senyum manis.


"Sudah. Ibu jangan terlalu banyak berpikir. Ayo sarapannya di habiskan." balas mama Lia.


Selesai sarapan, Lia berjalan di halaman rumah neneknya yang cukup luas. Cukup lelah jika harus mengelilingi halaman rumah itu. Saat berjalan, Lia melihat seorang anak kecil. Ya, lagi dan lagi. Ia teringat dengan anak kecil yang di kirim oleh Andra untuk memberikan bunga kepadanya.


Saat hendak mengelilingi halaman rumah neneknya, ia melihat ada ayunan di bawah pohon yang cukup besar.


Untuk menghilangkan rasa bosannya, ia duduk di ayunan itu. Sambil memikirkan Andra, tiba tiba ponselnya bergetar.


"Drrrrtttt...." getar ponsel.


"Eh," Lia terkejut.

__ADS_1


"Unknown number is calling..." kalimat yang tertera di ponsel Lia.


"Angkat gak ya?" pikir Lia.


"Angkat deh."


Lia mengangkat telepon itu.


"Halo?" kata Lia dengan perlahan.


"Hai..." sapa Lelaki di telepon itu.


"ANDRAAAA..." jerit Lia terkejut bercampur senang.


"Kurcaci kangen aku?" tanya Andra.


"Banget." jawan Lia.


"Ehhh, gak gak." Lia keceplosan.


"Duh, udah kangen masih gak mau ngaku nih?" gombal Andra.


"Sama aku juga." balas Andra.


"Gimana liburan di Bali? Enak gak?" tanya Andra.


"Enak sih, tapi aku bosan di sini. Kamu gimana di Bangka? Kamu udah sehat belum?"


"Seperti biasa aja. Aku sudah sehat sekarang." balas Andra.


"Oh, syukurlah kalau begitu." balas Lia menghela nafas.


"Kamu lagi apa?" tanya Andra


"Lagi duduk di ayunan." jawab Lia


"Pasti sepi ya." balas Andra.

__ADS_1


"Iya. Kok kamu tau?" tanya Lia.


"Kan gak ada aku di samping kamu. Heheh." jawab Andra sambil tertawa tipis.


"Ih, kamu ge'er banget sih." balas Lia.


"Yaudah, aku tutup dulu ya." kata Andra.


"Eh, mau kemana?" tanya Lia.


"Kenapa? Masih kangen?" tanya Andra.


"Iya." jawab Lia singkat.


"Kalau kamu kangen, inget ini. Aku selalu ada di dekat kamu. Seperti udara yang ada di sekeliling kamu." jelas Andra.


"Hmm, iya deh." jawab Lia


"Kalau gitu, aku tutup dulu ya." kata Andra


"Iya." balas Lia.


"Lia..." panggil Andra lagi.


"Iya?" jawab Lia.


"Aku sayang kamu." kata Andra.


Lia dikejutkan dengan kata kata itu sehingga ia terdiam dan tidak bisa berkata apa apa.


"Aku tutup dulu ya. Kamu jangan nakal." kata Andra lagi.


"Iya." jawab Lia dengan singkat.


Andra menutup teleponnya. Lia sangat senang, akhirnya lelaki yang ia sukai sedari sejak duduk di bangku SD kini mengatakan kalau dia menyayangi Lia.


Tentu saja Lia sangat senang dan merasa bahagia. Walau percakapan mereka di ponsel hanya berlangsung sementara, tapi rasa bahagia berlangsung hingga berhari hari.

__ADS_1


Sekali lagi, Rahasia Tuhan tidak ada yang tahu. Semua tidak berhenti di sini saja. Mereka belum menemukan letak takdir yang sebenarnya. Ini hanya setengah perjalanan.


__ADS_2